Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 72 : Full happynes


__ADS_3

Singkat cerita. Sudah dua bulan Siska siap lahiran. Semenjak baby boynya lahir, Vano sebagai suami dan ayah semakin protektif. Ia berusaha mungkin bisa membagi waktunya dengan baik di perusahaan dan untuk keluarganya itu.


Sebelumnya juga, acara syukuran atas kelahiran anak mereka telah digelar. Tapi bedanya, kali ini mereka lebih memilih untuk menggelar acara tanpa harus mengundang orang banyak atau partner kolega bisnis seperti sebelumnya. Siska dan Vano lebih memilih menggelar acara sederhana di rumah saja dan yang menghadiri hanya keluarga dan kerabat serta teman teman dekat saja. Bukan tidak mau jika acara untuk anaknya itu digelar dengan acara besar nan mewah. Tapi terlalu berlebihan juga itu tidak baik. Begitulah pola pikir mereka, semenjak mereka sudah menikah kehidupan keduanya sangat benar benar berubah. Di tambah dengan teman teman baik yang ada di sisi mereka ya, itu adalah David dan Dina.


Dan keduanya pun sepakat memberikan nama untuk baby boy mereka adalah Reika Putra Angkara, itulah namanya. Dan semua orang memanggil dengan nama Rei.


***


"Masih belum tidur hubby?" Tanya Siska sembari menenen Rei yang mulai terlelap tidur di pinggir tempat tidur. Vano yang terbaring di tempat tidur pun terduduk yang selaras dengan Siska.


"Belum sayang, ga bisa tidur aja"


"Loh gitu?"


Siska menggeleng kepala lalu kembali fokus menenen Rei.


"Uhh! Jadi iri"


"Hubby ... maksudnya apa?" Siska kembali melirik ke arah Vano dengan tatapan tanya.


"Kapan aku punya jatah di nen*n sama kamu. Iya, aku berdosa jika iri dengan anak sendiri. Tapi semenjak Rei lahir, jatahku semakin berkurang. Sainganku sudah ada" ucap Vano dengan nada gelayut manja. Hehehe ucapan Vano tadi bukan serius ya, tapi dia juga ingin dimanja oleh istrinya, dia sudah kangen.


"Akh hubby! Ada ada aja deh, masa sama anak sendiri iri"


Vano mengecup pipi gembul Rei yang perlahan lahan tidur itu, tapi dengan bibir yang masih mengisap susu dari put**g ******** Siska. Yang suskes membuat Vano ingin segera berganti tempat.


"Sayang__"


"Apa hubby? Sttt diam bentar dulu. Entar Rei kalo bangun lagi bagaimana?" Ucap Siska memotong ucapan Vano, seraya tangannya menurunkan piyama tidur yang ia kenakan tanpa bra setelah memastikan Rei telah tidur.


Siska kemudian membaringkan Rei dengan hati hati di dalam box bayi yang tak jauh dari tempat tidur mereka, dan kembali ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya dengan selimut. Tanpa memikirkan apa pun lagi, termasuk Vano yang masih duduk termangu di pinggir ranjang.


"Sayang kok tidur sih?"


Siska melirik suaminya itu sekilas "kenapa?"


Vano kini mengganti posisi menyelaraskan badannya ikut terbaring di atas tempat tidur. Memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Aku mau minta jatah, boleh ya sayang?"


"Udah malam hubby, bagaimana kalau Rei akan terbangun karena tingkah kita?"


"Tapi__" Vano mengeratkan dan semakin menempelkan tubuhnya dari belakang tubuh Siska "aku ..."


"Kapan kapan ya hubby, aku juga sudah ngantuk"


Vano frustasi sekali mendengar penolakan isterinya itu, padahal ia sudah tidak tahan dan sudah uring uringan tersiksa. Semenjak istrinya nifas hingga melahirkan ia telah lama puasa.


Vano menghembuskan nafas dengan kasar saja dan mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya.

__ADS_1


"Hubby ...?"


"Biarkan seperti ini saja" ucap Vano memejamkan mata sebagai pelampiasan atas permintaan hasrat yang tak tersalurkan itu.


Siska merasakan bagian ke******** suaminya itu ******** dari belakangnya. Sampai tak tega melihat Vano yang sudah sangat tersiksa batinnya dan telah berpuasa cukup lama.


Lalu Siska membalikkan badan menghadap wajah Vano yang terpejam merem lalu mengecupnya sekilas. Vano pun membuka mata.


"Kenapa sayang?"


Siska membuat garis senyum "kamu sangat tersiksa hubby, maafkan aku. Jika kamu mau kamu boleh melakukannya sekarang"


Mendapati lampu hijau dari Siska, tanpa ada ini itu. Vano segera mencium bibir istrinya itu dengan lahap dan lihai, mengganti posisinya menjadi berada di atas. Mulai menggerilya kan tangannya kemana mana. Di area sensitif istrinya la yaa.


"Pelan pelan hubby. Rei nanti akan bangun" ucap Siska di tengah tengah des***** yang kian kini tidak kuat menahannya akibat permainkan nakal tangan Vano.


"Iya sayang, aku akan pelan pelan kok" balas Vano tak luput dengan kecupan ciuman di bibirnya. Bagaimana tidak mungkin? Jika Rei akan bangun, pasti Vano sendiri yang akan kena batunya. Jatahnya pasti tertunda lagi nantinya. Itulah yang Vano pikirkan.


Setelah permainan nakal tangan Vano serta berbagai kecupan kecupan, pelan pelan tubuh keduanya pun menyatu. Mengarungi nikmat indahnya cinta di malam itu, hingga sampai penghujung penyatuan. Betapa indahnya cinta mereka yang kembali menyatu malam itu.


***


Pagi hari kembali menyambut semua insan yang terlelap dan kembali terjaga dari lelapnya dunia mimpi. Begitu juga dengan Vano dan Siska. Mereka bangun dan kembali terjaga dari tidur masing masing.


"Morning sayang" ucap Vano mengecup bibir Siska sebagai morning kiss.


"Morning too hubby. Udah pagi, segera siap siap untuk berangkat ke perusahaan" ucap Siska "aku akan menengok Rei dulu apa sudah bangun apa enggak" Siska segera beranjak dari tempat tidur, alhasil Vano menahan tangannya.


Kyiaa! Siska kaget barusan "mereka menikah hari ini?"


"Iya sayang"


"Kenapa aku baru dengar?"


Vano menggaruk kepalanya yang tidak gatal "maaf sayang, sebelumnya David dan Dina sudah memberi tahu tapi aku kelupaan memberi tahunya"


"Tuh kan hubby!"


"Maaf sayang" Vano memelas wajah takut membuat mood istrinya itu pagi pagi hancur.


"Iya deh iyaa. Dimana acara nikahnya diadakan?"


"Katanya sih di gereja YYYYYYYYY"


"Ohh, yaudah siap siap dulu aja ya. Aku mau menenen Rei dulu, kasihan dia sudah bangun"


"Baik sayang"


Semuanya pun siap siap untuk pergi ke acara nikahan David dan Dina.

__ADS_1


***


Mobil yang membawa Siska dan Vano pun berhenti di pelataran gereja tempat acara nikahan David dan Dina di gelar. Di waktu yang sama, semua orang memandang fokus ke arah mereka setibanya di dalam. Semua orang kagum akan keserasian kedua pasangan itu. Begitu cantik dan maskulin.


Beberapa sorot kamera pun yang diam diam mengambil gambar mereka tengah fokus kepada mereka. Vano dan Siska hanya tersenyum tidak mempermasalahkannya. Sudah terbiasa dengan hal itu.


Keduanya pun kembali melangkahkan kaki di tempat mempelai pengantin. Tampak di sana dua wajah yang sangat mereka kenal tersenyum ke arah mereka. David dan Dina.


"Selamat Din, akhirnya acaranya sukses juga" ucap Siska seraya tersenyum memeluk sahabatnya itu.


"Makasih Ka, iya. Akhirnya hari ini tiba juga"


Seraya juga dengan Vano yang memberi ucapan kepada David maupun Dina. Keempatnya pun saling berbalas pujian yang menghangatkan hati masing masing.


"Rei ga di bawa ka?" Tanya Dina.


Siska menggeleng "belum Din, sudah di titip sama grandmanya (mommy). Mommy terus ngeyel untuk menggendong cucunya"


Lantas keempatnya pun tertawa bersama. Setelahnya acara berlangsung dengan baik, hingga ke penghunjung acara yaitu sesi foto-foto.


Semuanya pun senang, tak kalah senangnya dengan David dan Dina yang akhirnya menikah hari itu.


***


Begitulah akhir dari semuanya, semuanya hidup bahagia. setelah banyak masalah, salah paham yang terjadi. Tapi setelahnya menemukan jawaban dari masalah yang telah terjadi.


Dimana Vano dan Siska yang saling membenci dulu, tampak tak menyukai satu sama lain. Akhirnya di takdirkan untuk bersama. Cinta tumbuh di antara mereka, cinta menguatkan hati mereka untuk tetap bersatu. Hingga ikatan suci mengikatkan mereka, kelahiran sok sok bayi (Rei) pun di antara mereka semakin menghangatkan suasana keluarga kecil mereka.


"Aku senang sayang bisa membentuk dan mengarungi bahtera rumah tangga bersama mu. Aku tidak menyesalinya suatu saat nanti" ucap Vano kala mereka sedang berada di tepi pantai saat itu.


Siska menatap indah mata itu, mata hitam pekat milik suaminya "aku juga begitu hubby"


Keduanya pun tersenyum, mereka duduk di atas pasir pantai, menikmati sejuknya alam dengan syukur.


Siska menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, memejamkan matanya.


"I love you hubby never never never and never stop. I always loving you"


Vano mengecup kening milik wanitanya itu dengan lembut penuh kasih sayang "I love you too sayang. Love you so much"


Begitulah akhirnya, mereka akan tetap seperti itu. Hingga batas waktu yang tidak akan pernah habis nantinya. Meski tidak akan ada yang menjamin selamanya kehidupan cinta mereka akan baik baik saja, di rentang itu pasti ada unek unek kecil yang hadir. Tapi cinta itu akan tetap abadi!


-Jika kisah cinta dimulai, percayalah bahwa cinta itu akan abadi seterusnya-


*Devano Putra Angkara


*Siska Amelia Duckwill


END

__ADS_1


__________________________________________


__ADS_2