
Hanya dua menit berselang, Dina selesai menyiapkan pesanan Coffee cake David. David mengulurkan tangannya menerima kue itu.
"Terimakasih" sembari memberikan card kredit yang ia punyai, lalu beberapa saat Dina kembali mengembalikannya kepadanya.
"Mbak?" Otomatis Dina memutarkan pandangan lagi menghadap pria itu, mengalihkan pusat fokus nya dari Coffee machine yang ia pegang "saya lihat, tangan mbak masih belum terlalu sembuh. Mohon di terima obatnya mbak" sebuah kantong plastik keresek yang berisi berbagai macam obat oles, David memberikannya kepada Dina.
"Maaf?"
David menghela nafas 'ini perempuan kenapa terus sok pura pura tidak tau'
"Saya sangat merasa bersalah sekali kemarin mbak, karena saya tangan mbak jadi begini" menatap tangan milik Dina.
"Saya mengambil obat ini?" Tidak lagi menunggu anggukan kepala dari David, dengan tangan tangkas yang satu Dina meraih obat dalam plastik keresek itu semua.
Dia sangat terganggu akan karena hal itu, jika dia membiarkan pria itu terus lama di hadapannya. Bisa bisa dia akan di laporkan oleh pengawal yang tengah memantaunya kepada Rafael. Bahwa ada orang lain yang berlama lama dengannya, apa lagi itu adalah seorang pria.
"Makasih pak, jika tidak ada yang mau bapak bilang lagi. Saya akan kembali bekerja. Permisi"
"Baiklah. Terimakasih buat cake nya" walau penuh dengan rasa heran David meninggalkan meja barista tersebut lalu keluar 'aneh sekali. Kenapa dengan dia?'
✨✨✨
Esok harinya ....
Cahaya berkas sejuk mentari pagi memasuki ruangan apartemen yang besar itu. Dimana Vano dan Siska tinggal dalam satu atap.
Masih terlalu pagi, hingga hanya mereka berdua yang masih berada dalam apartemen itu tanpa kehadiran bi Lina sebagai ART di situ.
Siska menggeliat dari dalam selimut mendengar suara petir yang tiba tiba saja mendadak berguntur tanpa ada peringatan terlebih dahulu. Sinar mentari pagi itu tiba tiba saja hilang, di gantikan dengan kalang kabut awan hitam.
Saking takutnya dengan petir, tangan Siska meraba apa saja dan memeluk semua apa yang tangannya dapatkan. Siska memeluk lebih erat dan terus membuat lirih suara yang sedikit kaku karena takut. "Aaaaaa ... Please, jangan berguntur lagi ... Kumohon" sesekali tangannya yang satu melepaskan dari benda yang ia pegang dan kembali melakukan hal itu lagi secara berulang.
Tapi ... Tunggu! 'apa? Bagaimana guling ini begitu berbeda dari biasanya? Aneh' Siska menyadari ada kesalahan dengan benda yang ia peluk sekarang. Tapi apa?
Pelan pelan Siska membuat tangannya bergerilya kemana mana. Memastikan bahwa benda itu adalah sungguh guling. Semakin aneh! Itu sepertinya sebuah dada bidang milik pria.
Ttrittt! Barulah siska sadar dengan semuanya. Parah parah!!! 'OMG! aku ada di kamar ini lagi?' Siska melirik ke samping tempat tidur yang di sebelahnya, dengan ragu ia membuat asumsi terlebih dahulu sebelum membuka selimut itu mastikan itu apa?!
'apa itu Vano. Benda yang ku anggap guling dan aku ... aku juga memeluknya tadi?' aaaakhaaa!! Siska bersikukuh dalam hati berharap itu bukan VANO.
"Come on Siska, itu cuma sebuah guling. Okay? Jadi tenang ... Huf huf huf" memberanikan diri membuka selimut itu dengan hati hati.
Slakkk!!
__ADS_1
Itu adalah Vano, lebih parahnya dia sudah terjaga dari tadi. Cepat cepat Siska membalikkan badannya membelakangi Vano.
"Kenapa sayang?"
"Sayang jidatmu!! Jangan panggil aku sayang tau!"
Vano cuma tertawa jenaka saja melihat Siska yang membuat ekspresi wajah manyun di depannya. Menarik tangan gadis itu masuk ke dalam selimut yang ia pakai juga. Otomatis keduanya berada dalam selimut yang sama.
"Apa yang kamu lakukan?" Wajah Siska memerah seketika sembari mengibas ngibas kan kakinya ke atas agar tubuhnya bisa bergerak dan keluar dari selimut itu. Tapi sayang, tangan Vano terlalu kuat mencengkram erat selimut tersebut. Siska tidak bisa keluar!
"Lepaskan ga? Aku akan teriak!!"
"Wuahahha" Vano malah makin menjadi jadi dengan tawa jenakanya "tapi bukankah posisi ini begitu nyaman untuk kita kan? Sayang ..."
"Lepaskan! Aku akan teriak!"
"Stttt" Vano menempelkan jari telunjuknya di pertengahan bibir yang di miliki oleh Siska "jika kamu berteriak ... Apa kamu tidak tau orang orang akan berpikir apa?" Vano lagi lagi memuluskan aksinya. Bagaimana ada orang yang akan mendengar kan teriakan Siska jika ia melakukannya, jelas jelas mereka berada dalam apartemen pluss suara rintik kan hujan yang sedang turun.
Siska membungkam mulutnya dengan kedua tangannya "ga mau tau! Lepaskan aku pria mesum Cihhh ...!!"
Drikkkk srekkk !!!!
Suara guntur makin lama makin membuat Siska takut. Reflek tangannya melingkar di pinggang Vano yang di sambut senang oleh pria itu.
"Kamu benar benar menikmatinya kan?"
Senyum smrik Vano terlempar ke arah Siska
"apaan?"
"Cckckk ... Aku menikmati posisi ini sayang"
Bola mata Siska membulat sempurna 'what!! Bagaimana aku memeluknya. Akhh dasar payah!' Siska mengutuki dirinya sendiri, dengan cepat melepaskan tangannya walau agak susah karena Vano sempat menahannya
"Kamu mau melakukannya dengan ku?"
"Apaan?! Kau jangan aneh ..."
'mmppp ahh' "apaan yang kamu lakukan?" Nafas Siska terengah karena mulutnya di lahap sempurna oleh Vano.
"Mencium mu" kembali melakukannya dengan mode sangat buas. Siska terpaku diam menikmati ciuman itu. Wajahnya kembali memerah. Sepertinya ciuman pria itu sedang memanjakannya sesaat. Entah kenapa Siska mau membalas ciuman itu.
Vano makin memperdalam ciumannya yang telah mendapat kan kode lampu hijau dari gadis itu. Keduanya saling beradu mulut layaknya perang lidah. Semakin lama, ciuman itu mendarat ke bagian leher ... Bermain dan berlama di sana ...
__ADS_1
'mmpp' 'mmppp' 'mmmppp' nafas keduanya sampai terengah engah.
Seketika Siska sadar dengan apa yang ia lakukan. Mungkin saja ia akan kembali mengutuki dirinya lagi dari kesekian kalinya. Kenapa dia malah membalas ciuman itu.
Akhhhh!
Ia segera mendorong tubuh Vano ke depan dengan sekuat tenaganya hingga ciuman itu lepas. Jika tidak, bisa bisa keduanya akan hilang kendali.
'akhh Siska!! Bagaimana kamu melakukannya. Apa yang terjadi dengan mu!!!'
"Kenapa kamu malah mencium ku???"
"Bukannya kamu telah membalasnya" Vano tersenyum puas.
Merasa malu ... Entah bagaimana wajah yang di miliki oleh Siska saat itu. Segera kakinya membawanya turun dari tempat tidur dan keluar sebelum pria itu menyadari sikapnya yang tengah malu akibat dari ciuman itu tadi.
"Ahh sayang ... Mau kemana? Aku masih mau um um annn"
"Dasar pria mesum!!" Siska kini sudah berada di daun pintu dan segera keluar "satu lagi, jangan panggil panggil aku dengan sebutan 'SAYANG' you know?!" Segera berlalu menarik kenop pintu ke bawah.
***
"Bagaimana aku bisa tidur lagi di kamar itu?" Siska menghentak hentakkan kakinya di atas sofa setelah keluar dari kamar itu. Bingung sendiri bagaimana dia bisa tidur di tempat itu lagi.
Author POV~
Flash back on (sesudah pulang dari restoran, kencan kedua Vano dan Siska).
Vano memarkir mobil yang mereka tunggangi dengan sempurna di lobi apartemen. Segera keluar membuka kan pintu untuk gadis itu, Siska.
Ternyata gadis itu tengah ter tidur, dengan sekali angkat ... Tubuh kecilnya di bawa masuk oleh Vano hingga ke dalam apartemen. Malam itu, Vano membaringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur miliknya. Membiarkan gadis itu tidur, setelah itu dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu (*mandi). Lalu kembali di atas tempat tidur dan menelentang kan tubuhnya untuk tidur bersebelahan dengan Siska.
Keduanya pun tidur bersama hingga sampai pagi hari kembali terjaga.
~
✨✨✨
Bersambung ...
.
.
__ADS_1