Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 42 : Membalas Pernyataan Cinta


__ADS_3

Berbeda dengan apa yang sedang David kerjakan. Di dalam apartemen, Vano sedang mengadu kesibukannya di dalam ruang kerjanya di apartemen tersebut. Berbagai file dan dokumen yang di tutup bukanya di atas layar komputer. Vano memang benar benar sibuk, biar pun itu bukan di perusahaan sekali pun.


Melihat hal itu, Siska memberanikan dirinya mengendap masuk.


"Vano..." Ucapnya


Vano menaikkan alis mata tanpa melihat siapa yang memanggilnya itu. Dari suaranya saja, dia tau kalo itu adalah Siska, Vano sungguh mempunyai chemistry yang kuat dengan gadis itu.


"Iya ada apa?" Terus menyibukkan kesepuluh ujung jari jemarinya berkutat mengetik di atas papan keyboard komputer.


Melihat reaksi Vano hanya begitu saja Siska agak mendengus kesal 'huff sebegitu pentingkah pekerjaannya dari ku?!' terus mendengus dalam hati. Eitss ... Tapi Siska ga terlalu menampakkan hal itu kok hehehe.


"Siska?" Panggil Vano lagi karena tidak ada kunjung kata kata keluar dari mulut gadis itu.


"Emm ehh" Siska terbata "iya?"


Vano menghentikan aktivitas jari jarinya di atas papan keyboard dan memutar kursi di mana ia duduk membelakangi layar monitor komputer dan kini menghadap Siska langsung. "Ada apa?" Bertanya dengan suara lembut namun penuh kejantanan.


Kelihatan saja, Siska mulai bingung entah harus apa yang ingin dia bilang kepada Vano. Tidak mungkin ia mengatakan kalo ia hanya iseng saja datang ke dalam ruangan itu.


Kakinya membawanya masuk ke dalam sebab alasan karena laki laki itu. Itu kan ... kalo udah suka pasti selalu begitu hehehe. Ouhh Siska 😅


"Aku ... aku ..." 'duh harus mau bilang apa?' Siska kebingungan sendiri sambil terus berucap dalam hati.


"Aku cuma ... Ehh, ada banyak debu yang menempel di meja ini. Aku akan membersihkannya, itu aja kok hehehe" terkekeh. Mencari dalih alasan lain.


Vano memiringkan kepalanya. Dengan gadis itu berkata begitu, apa ia percaya begitu saja? Tentu tidak dong.


"Kenapa melihat ku seperti itu?" Siska menggigit bibir bawahnya sambil terus berusaha membuat Vano percaya bahwa dia datang ke dalam ruangan itu hanya untuk bersih bersih saja.


"Kau yakin hanya ingin bersih bersih saja?"


Vano menatap wajah Siska sambil tersenyum


dengan kekehan juga. "Hmmm? Yakin??"


Siska mengangguk dengan percaya diri "iyaa"

__ADS_1


"Hahahaha" Vano tertawa gemas, bagaimana meja itu ada debu. Sedangkan bi Lina membersihkan ruangannya tiap hari hingga kelihatan bersih dan rapi. Astaga Siska!


Vano menarik lengan gadis itu hingga tubuhnya duduk di atas pangkuan kakinya membelakangi dirinya. Siska sontak kaget dengan posisinya itu yang tiba tiba saja berubah.


"Van ..." Berusaha melepaskan dirinya.


"Sttt" jari telunjuk Vano sudah menempel di bibirnya hingga Siska menghentikan ucapan dan gerakannya untuk melepaskan dirinya dari tangan Vano yang sudah merangkul seluruh sisi pinggang nya.


Entah berapa selang waktu keduanya hanya diam saja, Vano sangat menikmati posisi itu hingga terus melemparkan senyum smirk khasnya ke arah Siska yang jelas membuat Siska tak kuasa tahan diri. Detak jantungnya tak berdenyut seperti biasanya, malah sebaliknya berdetak lebih kencang dan kencang. Apa yang terjadi? Ahh ... Sepertinya Siska akan mati meleleh jika posisi itu terus menerus berlanjut seperti begitu.


Sebelum Vano menyadari hal itu, dengan cepat Siska menoleh ke arah lain memilih untuk tak membalas tatapan mata hitam pekat mengkilat itu. Yaa, mata yang di miliki oleh pria tersebut, pria yang entah mengapa tiba tiba Siska mengaguminya dan mau memilikinya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Tatap aku sayang, kenapa menoleh ke arah lain? Bukannya kamu datang ke sini untuk melihat ku hmmm?" Ujar Vano


Makin parah 'duhh! Bagaimana dia bisa menebak seperti itu?' menggigit bibir bawahnya.


"Kau terlalu percaya diri berasumsi seperti itu!" Siska membantah sedangkan Vano puas terkekeh gemas melihat Siska yang terus membantah sedangkan dari wajahnya saja ia tidak bisa berbohong. Sandiwara macam apa itu? Huh! Dasar Siska yang tidak jago main akting wkkwkw


"Enggak hahaha" Vano terus tertawa. Seketika Siska kesal dengan Vano yang sedari tadi tertawa. Sama sekali tidak peka dengan keinginannya datang ke situ. Yaaaa walaupun tebakannya tadi sih udah pas.


Mulut Siska mendongkong kesal dan segera melepas tangan yang melingkari area pinggangnya dan berdiri "cihh! Makan tu tawaan mu, biar puas!" Segera berbalik ingin cepat keluar dan sampai pada daun pintu.


Astaga! Yang terjadi malah sebaliknya. Siska tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya hingga ia terjatuh dan terlengkap di atas dada bidangnya Vano. Lebih parahnya lagi, wajah mereka benar benar dekat ... Begitu sangat dekat.


DEG!!!!


hati Siska tak menentu, seketika mukanya kembali berwarna merah muda. Uohh panas!


Vano pun tak menunjukkan gerakan untuk mengangkat tubuh Siska ke atas dari atas dada bidang miliknya, begitu pun dengan Siska.


Lama dan lama ...


Vano menaikkan kepalanya yang membuat bibir keduanya hampir bertemu. Siska tak menunjukkan ekspresi untuk menolak gerakan itu. Malah berharap agar bibir itu mencapai pucuk bibirnya. Hahahaha Siska udah di mabuk cinta sekarang!


DUP!! dalam hitungan detik selanjutnya, bibir keduanya menyatu. Saling membelai bibir masing masing, terus bermain main menikmati setiap sela sela bibir satu sama lain. Scene kiss yang paling sweet banget. Ini adalah pertama di mana Siska membalas ciuman itu dari Vano tanpa ada penyesalan. Bahkan mengharapkan nya.

__ADS_1


'huff huff huff' nafas keduanya pun tersengal sengal dan berhenti sejenak. Kemudian saling melemparkan senyum.


Vano mengangkat tubuh Siska dan berdiri dari kursi tersebut. Sedangkan Siska membiarkan hal itu saja.


Vano mengubah posisi mereka, pelan pelan menaikkan tubuh Siska di atas meja samping komputer kerjanya. Dan segera kembali lagi menutup mulut gadis itu dengan mulutnya juga. Melanjutkan ciuman yang penuh adegan sweet itu.


Keduanya sungguh menikmatinya. Siska menempatkan tangannya di bagian belakang kepala Vano sedangkan Vano terus menghimpit tubuhnya hingga membuat Siska terbaring di atas meja tersebut. Keduanya menghentikan ciuman tersebut. Vano menatap Siska lama dengan penuh arti.


"Aku mencintaimu Siska. Siska Amelia Duckwill" membelai rambut Siska dengan lembut. Siska tersenyum, mungkin dia tidak bisa lagi terus memendam perasaan yang sedang ia alami saat ini. Lebih baik mengaku saja dan berkata jujur, apa salahnya juga Vano kan adalah tunangannya.


"Aku mencintaimu juga Vano. Love you too" dengan malu malu Siska mengucap kan kata kata itu. Vano pun tersenyum, merasa menang. Gadis itu akhirnya membalas pernyataan dari cintanya.


"Apa? Tidak terdengar. Coba ulang sekali lagi!" Berpura pura mengkorek isi telinganya.


"I LOVE YOU VANO, DEVANO PUTRA ANGKARA"


ucap Siska jelas hingga membuat dirinya salting sendiri dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Vano menggelengkan kepala tertawa gemas. Segera tangannya melepaskan tangan Siska yang dari tadi menutupi wajah kecilnya itu. Tanpa ada kata kata lagi yang di lontarkan keluar, Vano cepat mendarat kan bibirnya lagi di atas bibir milik Siska. Siska pun membalas ciuman itu lagi.


~


✨✨✨


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like dan komennya ya readers!


biar author lebih semangat lagi buat up date eps novelnya tiap hari^


salam hangat author 🤝


love you all ❤️❤️❤️❤️


Happy Reading~


.

__ADS_1


__ADS_2