Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 14 : Orang itu Lagi


__ADS_3

'kenapa dengan gadis ini?' Vano membelalakkan mata dan membuat muncung mulut tanpa ia sadari. David mendekat lalu membisik agar tuan Devano untuk segera masuk "tuan, di dalam klien sudah menunggu anda. Apakah meetingnya boleh di mulai? Kita tidak bisa membiarkan mereka menunggu" vano membuka kantong jasnya paling dalam lalu meletakkan ponselnya "baiklah" David membuka kan kenop pintu dan Vano menyusul untuk masuk.


"Baik, mari kita mulai meetingnya...."


"Sebagaimana diketahui bahwa perusahaan keduanya akan melakukan bisnis terkait peluncuran... bla bla bla" David membuka pertemuan itu sekaligus mempresentasikan rencana bisnis projek itu dengan baik, cukup meyakinkan dan menarik. Kolega dari bisnis mereka tampak mengerti kemana arah rencana bisnis mereka. Cukup memberi keuntungan satu sama lain.


"Bagaimana?" Vano kembali mengajukan pertanyaan untuk bekerja sama setelah hasil perusahaan mereka di presentasikan.


"Bravo!! Cukup menarik... Saya sebagai manager mewakili perusahaan kami akan segera menjadi investor dalam kerja sama bisnis ini. Direktur telah menyetujuinya, sebelumnya kami telah berhubung dengannya melalui ponsel dan mengirimkan hasil presentasi dari perusahaan bapak" lalu keduanya menjabat tangan.


Usaha yang tidak sia sia 'direktur yang bodoh! Dia hanya mengirimkan seorang manager untuk melakukan pertemuan ini dan bersiap jadi investor? Jelas perusahaannya hanya mendapatkan keuntungan sangat sedikit' Cihhh! Vano membuat senyum smirknya berulang.


✨✨✨


Dengan terburu-buru dan mengendap, Siska berusaha untuk berlari mencapai daun pintu agar dia bisa keluar tanpa sepengetahuan bi Lina. apa yang harus dia lakukan jika bi Lina menyadari keberadaannya yang tidak di rumah? Tiba tiba saja pertanyaan itu terbesit dan menghentikan langkahnya yang ingin segera keluar.


Dengan melongo ke arah dapur "bi Lina, maafkan aku. Tapi aku harus benar benar keluar. Aku tidak bisa di rumah saja" lalu perlahan kakinya meninggalkan apartemen.


Keinginan dirinya untuk pergi ke kelab memengaruhi hebat dirinya lagi. Karena kebiasaan, dia harus keluar. Apa pun itu!


Siska menghembuskan nafas "Pak! Pak!" Sambil melambai lambaikan tangannya di samping trotoar jalan ke arah taxi.


Buru buru masuk "kita ke kelab X pak sekarang"


"Baik nona"


✨✨✨


Siska keluar dari taxi "nah ini uangnya pak" melihat kelab dari luar saja, dia merasakan sensasi baru di hidupnya 'akhh aku kembali hidup setelah beberapa hari berada dalam apartemen' batinnya berkata begitu sambil menoleh ke arah lengannya yang masih terbalut perban putih.


Merindukan suasa kelab selama beberapa hari, reflek kakinya membawanya ke dalam. Masalah kesehatannya tidak akan dia pedulikan. Toh, palingan ada dokter lagi yang akan memberikan perawatan terbaik. Pikiran gadis itu begitu.


Satu, dua, tiga botol telah di habiskannya sendirian. Gadis yang kuat buat minum bukan? Dalam sekali tegukan dia menghabiskan hampir setengah dari satu botol "yuhhhhh!!" Berteriak kuat kuat dan bergabung dengan orang orang lainnya.


Waktu terus berjalan... sudah mau empat jam berada di dalam kelab. Siska masih tidak merasa bosan dan ingin berlama lama terus. Jarum jam sudah menunjukkan jam 21:00. Gejala kontraksi mabuk masih belum dia rasakan dan terus menerus membuka mulutnya untuk meneguk alkohol, menikmati malam dalam kelab.

__ADS_1


Tubuhnya kesana kemari "awww" seseorang menyenggol kasar lengannya.


"Hei! Kalo jalan pake mata dong... nabrak orang sembarangan aja" lalu menatapnya, mulutnya menganga "ka...kamu?" menatapnya lagi lebih menyidik dan kemudian Siska membuang mukanya ke arah kiri dan bergemetaran.


'bagaimana itu bisa dia?' batinnya. Dengan cepat Siska membalikkan badan dan meraih tasnya yang sembarang ia letakkan di atas meja.


Laki laki itu mengejarnya "hei girl... mau kemana?" Menarik tangan milik Siska "aww" spontan Siska merasakan sakit di bagian lengannya.


"Jangan tarik tarik! Jangan ikuti aku!"


"Why? Kenapa?"


"Kamu laki laki yang punya niat jahat dengan ku pas..." Mulut Siska membungkam mengucapkan kata terakhir dan menarik nafas panjang "tinggalkan aku segera! Jangan mengikuti ku"


"Tenang dulu gadis, santai saja. Aku tidak lagi ada niat buruk untukmu" meyakinkannya


"boleh kita berteman?" mengangkat tangannya sejajar bagian perut dan melemparkan senyum.


Siska menatap laki laki itu lama, dalam matanya benar saja menggambarkan tidak ada niat buruk darinya.


Dengan mantap Siska meraih tangan itu dan menjabatnya "Siska"


"Nama yang cantik girl" Siska memaksakan untuk tersenyum "Rafael" keduanya melepaskan tangannya masing masing "kuharap kita bisa berteman dengan baik"


Siska mengangguk dan terus menerus melemparkan senyum ke arah Rafael. Nama laki-laki itu adalah Rafael.


"Mau minum bersamaku" tawar Rafael disertai kekehan yang cukup membuat Siska tertegun dan...dan "candaaaa, aku tahu kamu sudah lebih duluan banyak minum tadi" Siska mengangguk dan menoleh ke arah belakang (dia membelakangi jalan) "kamu enggak pulang?"


"Iya, ini mau pulang. Gue duluan dulu"


"Biar aku antar? Bagaimana? Mau?"


Siska menggeleng, merasa was was saja. Dia masih tidak terlalu percaya dengan Rafael. Laki laki yang masih belum lama ia kenal. Apalagi laki laki itu.... 'ahh bodoh! Siska kenapa harus berpikir begitu?' batinnya.


"Tidak usah" kembali melemparkan senyumnya "aku bisa sendiri, aku akan naik taxi aja. See you" meninggalkan Rafael yang mematung di depan pintu kelab.

__ADS_1


✨✨✨


Terlihat raut wajah yang cemas sekaligus panik di wajah wanita paruh baya itu, bi Lina. Apa yang harus di katakan kepada tuan Vano jika mengetahui Siska tidak ada dalam rumah?


"Non Siska? Non... Non Siska ada di mana?" hampir setiap sudut apartemen dia tidak mendapatkan keberadaan gadis itu "aku berada dalam masalah besar. Bagaimana ini?"


Menggigit bibir bawahnya "apa aku harus menelfon Pak David?" Sepertinya sama saja, jika dia memberi tahu David otomatis tuan Vano juga akan tahu.


"Aduhh gimana ini? Non siska juga kenapa nekat keluar? Lengannya masih sakit"


"Bibi! Aku udah pulang" terdengar kenop pintu di putar dan mendapatkan Siska yang tengah masuk.


Detik itu, bi Lina baru bisa menarik napas lega


"Non dari mana saja? Hampir saja membuat bibi tidak tenang dan panik"


"Hehehe maaf bi, tadi aku cuma keluar bentar kok"


"Tapi non, non Siska kan sedang sakit. Apa yang harus bibi bilang dengan tuan Vano jika beliau tahu nona keluar dari apartemen lagi" meraba lengan Siska dengan lembut "bibi pasti akan kena marah dan di pecat"


"Maaf bi, tapi aku tidak terbiasa di dalam apartemen terus" bi Lina mengangguk dan mengerti maksudnya "Oia bi, tentang hari ini. Bibi jangan kasih tau samanya (Vano) kalo aku keluar"


"Tapi non Siska janji, jangan keluar keluar sembarangan lagi. Tuan Vano telah melarangnya, bibi tidak bisa terus menerus berbohong dengan tuan"


"Iyah deh bi, Iyah" ucap Siska terpaksa "udah bi ya... Aku mau mandi, keburu orang itu (Vano) kembali lagi" mencium bajunya yang dari tadi bau alkohol.


Bi Lina tahu kalau Siska habis minum minum, berniat ingin agar siska lebih baik tidak usah minum dulu. Tapi, tidak mungkin dia mengaturnya, dia hanya ART di dalam apartemen itu, lalu mengangguk saja "iya non"


"Non, bibi mau pulang dulu ya, ini sudah malam" lalu wanita paruh baya itu pulang meninggalkan Siska sendiri dalam apartemen. Dia terpaksa pulang telat malam ini, seharusnya dia sudah tidak ada dalam apartemen pada jam sore tadi, hanya karena ulah Siska dia pulang lama hari ini.


"Iyah bi"


✨✨✨


Bersambung....

__ADS_1


Happy Reading guys😘😘😘😘


__ADS_2