Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 6 : Jangan Pergi, Tetap Bersamaku


__ADS_3

Vano tersenyum tak karuan sambil duduk di atas kursinya bekerja, tampak itu bukan hanya senyum smirk nya saja yang sengaja di buat-buatnya. Layar komputer yang ada di atas meja kerjanya menjadi saksi perubahan wajah Vano yang jarang-jarang tersungging senyuman.


Entah kenapa kejadian semalam membuatnya sedikit berpengaruh dengan moodnya yang sekarang. Dia di kenal dingin, tapi untuk perasaannya yang sekarang dia tidak tau.


Tiba-tiba saja gadis itu membuatnya... Ahh bagaimana pun Vano tidak tau mengapa tiba-tiba saja sesuatu yang lain muncul dalam dirinya. Pikirannya selalu tentang kejadian semalam dan terus semalam, dia benar-benar tidak fokus dengan pekerjaannya sekarang.


~


Vano menyetir dengan extra hati-hati sambil sesekali menoleh ke arah gadis itu, Siska. Yah kehadiran gadis itu yang belum cukup lama di pertemukan dan di jodohkan dengannya sudah membuatnya risih.


Tanggung jawabnya bukan hanya untuk perusahaan sekarang, gadis itu sekarang adalah bagian dari tanggung jawabnya juga.


Vano memang tidak suka menganggapnya begitu, tapi tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, kalau pun bukan karna orangtuanya. Vano akan mantap menolak perjodohan yang tiba-tiba itu, apalagi dengan gadis yang ia tidak suka.


*Uhhgrrr... Siska melenguh dari tidurnya karena terlalu banyak alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya.


Sesekali Vano memperhatikan wajah kecil milik gadis itu, keinginan untuk menyeka rambut yang berantakan menutupi wajah gadis itu muncul begitu saja.


Tapi... "Tidak-tidak, Vano apa yang kamu pikirkan?" Desisnya dalam hati memalingkan pandangannya ke depan*.

__ADS_1


Selama 1 jam menyetir, akhirnya mobil yang di tumpangi keduanya sampai di lobi apartemen. Siska masih tidak sepenuhnya sadarkan diri, terpaksa Vano membawa dan membopong tubuh Siska di kedua lengannya.


Hati-hati Vano membuka pintu apartemen setelah keluar dari lift yang menuju ke lantai atas. Vano memasukkan beberapa digit angka untuk membuka pintu apartemennya.


Arkhhhhh... Siska melenguh untuk kesekian kalinya di dalam dengkapan Vano "apa aku harus menidurkannya di sini saja?" Ucap Vano dalam hati berniat untuk menidurkan Siska di atas sofa ruang tamu sendirian mengingat perjanjian yang sudah mereka buat sebelumnya.


"Ahh tidak-tidak, jangan di sini" Vano kembali mengangkat tubuh kecil Siska untuk di bawa di kamarnya. Malam ini, dia akan tidur di sofa saja. Hati-hati dia menurunkan tubuh Siska di atas tempat tidur dan menyelimutinya.


"Hei gadis bodoh, malam ini aku berbaik hati denganmu. Kau akan tidur di sini saja. Menyusahkan orang saja" Vano membalikkan tubuhnya untuk keluar


"*Jangan pergi" tiba-tiba tangan kecil Siska memegang kedua tangannya dengan mata yang masih tertutup "tetap bersama ku..."


Urghhh... Siska melenguh lagi sambil berucap.


Dengan mata yang tertutup, Siska meracau berbagai kata-kata ia lontarkan keluar, tidak peduli apa pun.


Tangannya spontan menarik tangan milik Vano hingga terjatuh, wajah mereka benar-benar dekat. Vano berusaha untuk bangun, tapi tangan Siska memeluknya erat hingga Vano terbaring di sampingnya*.


"Hei gadis gila! Lepaskan tanganmu dari tubuhku"

__ADS_1


Urghhh Siska makin memeluk tubuhnya sambil melenguh, Vano tidak bisa apa-apa, dia menyerah untuk berdiri dan memilih untuk tidur di situ saja. Toh, kalau pun dia bangun, dia pasti akan tidur di sofa ruang tamu. Lagian itu hanya untuk malam ini.


✨✨✨.


Vano terbangun dari tidur nyenyaknya. Jam sudah menunjukkan angka 06:58. Hati-hati Vano mengawaskan tangan Siska yang memeluk pinggangnya dan pergi menuju kamar mandi meninggalkan Siska yang masih terbuai oleh tidur.


*Dia sarapan sendirian sesudah itu akan berangkat ke kantor sendirian. Tapi... gadis itu akan sendirian dan masih belum makan apa-apa dari semalam.


Perasaan peduli muncul di dalam dirinya, dia memasak makanan untuk pertama kalinya lagi selah lama tidak memasak dengan bahan-bahan dapur yang ada ala kadarnya.


Karena Vano lebih sering memesan makanan dilevery, oleh sebab itu stok barang-barang kebutuhan dapur terbatas. Tak lupa juga dia menyiapkan minuman madu untuk gadis itu agar efek alkoholnya cepat reda. Entah ada angin apa yang membuat Vano tiba-tiba peduli dengan keadaan gadis itu*.


Setelah semuanya siap, Vano mantap melangkahkan kakinya di atas lantai apartemen menuju lift. Satu tangannya disibuk kan menulis pesan singkat


💌Vano send to David


Saya akan pergi sendiri ke kantor, kamu tidak usah menjemput saya. Tugasmu sekarang, carikan ART yang dapat di percaya untuk menjaga gadis itu agar dia tidak kemana-mana lagi.


💌 David

__ADS_1


Baik tuan, saya akan segera melaksanakannya


Tak sampai beberapa detik, David membalas pesan dari atasannya itu.


__ADS_2