Tunanganku Seorang Direktur

Tunanganku Seorang Direktur
Part 39 : Terimakasih


__ADS_3

Malam hari yang sudah menunjuk kan jam 19:22. Mata pria yang bernama David masih menerawangkan matanya kemana mana di langit langit plafon kantor perusahaan dimana ia berkerja. Perusahaan ANGKARA GRUP.


"Haaahhhh!" Menarik nafas panjang dan membaur bersama udara dingin yang terasa sejuk saat malam itu. Satu tangannya meraih sebuah remote pengontrol suhu AC ruangan itu. Bahkan langsung otomatis mematikan pendingin ruangan tersebut.


Matanya kini beralih ke arah ponselnya yang ada di atas meja. Diam diam matanya kerut dengan membaca pesan yang terpampang di sana.


💌 Vano


Saya melupakan sesuatu di atas meja ku. Tolong ambilkan dan segera bawa ke apartemen.


Dengan berat langkah, kaki David yang tidak biasanya seperti itu kini perlahan meninggalkan kursi dan ruangan ia bekerja itu menuju ruangan sang direktur tuan muda Devano, untuk mengambil sesuatu barang yang terlupakan oleh atasannya tersebut.


***


Setelah mendapat kan sesuatu tersebut, David segera menuju ke pelataran parkir perusahaan dan melajukan mobilnya di atas jalan raya beraspal hitam dengan tujuan ke apartemen atasannya. Yaaa aparteman Vano.


~


"Tuan? Apa ini dia?? Memberikan barang tersebut kepada Vano (*ehh tentang apa barang itu ... Author juga tidak tau yaa hehehe. So, anggap saja itu adalah flashdisk yang berisikan tentang database perusahaan ANGKARA GRUP).


Vano mengambil itu dari tangan David "iya" lantas setelah itu, David membalikkan badan setelah memohon ijin untuk pergi. Vano memberinya ijin tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Kembali ke perusahaan, sepertinya David akan kembali mengambil lembur malam ini lagi. Besok adalah jadwal yang padat bagi dia dan atasannya itu (*tuan Devano). Beberapa klien akan mereka temui secara langsung dan tidak bisa di ambil alih dan di gantikan oleh manager bawahan.


Sebisa mungkin David membuat dan menyusun scejudel tanpa ada lagi review ulang begitu pun dengan beberapa berkas untuk persiapan persentase besok di depan klien yang sebagiannya sedang di review ulang dan di tekan oleh Vano di dalam apartemen.


"Huahhh!!!" Meremas jari jarinya yang begitu kaku akibat terlalu lama di layangkan di atas papan keyboard komputer serta tablet PC Android. Susun ini itu, ketik ini itu ... Akhirnya selesai juga "huahhh" David menutup katup mulutnya menguap, jam sudah menunjukkan 23:05. Tak terasa mau lima jam dia sudah berkutat dalam pekerjaannya malam itu.


Dia berdiri dari kursi kerjanya dan keluar menutup pintu rapat rapat setelah salah satu tangannya memastikan saklar lampu sudah di turn off. Lalu pergi menuju tempat parkir mobil ....


David menganga lebar seketika dari mulutnya yang sedari tadi menguap, hanya saja David masih mengupayakan agar dia bisa menyetir dengan baik. 'itu ... Bukankah itu gadis yang kemarin?' batin David 'tepat. Tidak salah lagi, itu pasti dia' meyakinkan diri bahwa yang di lihatnya itu adalah gadis yang kemarin, Dina. Tapi anehnya, sedang apa gadis itu di sana apa lagi dengan beberapa pria di sekelilingnya.


David menghentikan perlahan bahkan mendadak rem mobilnya.


Terus memperhatikan setiap apa yang terjadi di sana, di tempat gadis itu dan beberapa pria yang sedang bersamanya.


"Kalian mau apa? Tolong, kali ini saja ... Jangan bawa aku ke rumah utama tuan Raf ... Huhuhu hikss" seketika tangisan Dina dari sana pecah. Sepertinya dia sedang memohon belas kasih agar tidak di paksakan untuk di bawa lagi ke hadapan Rafael.


Tapi apa daya, tidak sedikit pun salah satu dari banyak pria yang mengelilinginya itu (pengawal bayaran Rafael) tak memperdulikan permohonannya. Hingga tangan Dina pun di pegang kuat dan tubuh gadis itu dengan mudahnya di seret di dalam mobil.


Itu sepertinya sebuah pemaksaan, dengan segera David turun dari mobilnya dan menghampiri tempat yang ada di depannya itu.


"Hei!! Kalian mau apakan gadis itu?" Tangan David tangkas memukul bahkan meninju bahu salah satu dari pria tersebut dari belakang. Lantas semua orang beralih perhatian kepadanya termasuk Dina yang matanya telah terlihat sayup karena basahan air mata dari dalam mobil. David pun menyadari hal itu.


"Cihh!! Sepertinya ada yang ingin mau berurusan dengan masalah baru"


David sama sekali tidak menunjukkan sikap yang takut bahkan kedua bola mata jelas menantang semua pria yang berhadapan dengannya sekarang. David menghitung semua jumlah mereka, cckkk ternyata cuma enam orang saja.


"Lepaskan gadis itu ku bilang!!!" David memerintah.


"Hahahaha" salah satu dari enam pria itu tertawa terbahak mendengar ucapan David yang menantang. sepertinya dia adalah ketua dari keenam di antara mereka "lihat ... Dia siapa sampai bisa memberikan perintah untuk kita?"


Terkekeh sinis yang di ikuti oleh pria yang lainnya, kecuali dengan Dina yang masih terisak oleh tangisannya di dalam mobil.


Tidak ada pemberitahuan lampu biru terlebih dahulu, tak tanggung tanggung David langsung melayangkan tangannya ke wajah wajah yang ada di depannya itu. Sekaligus empat orang terpelanting ke bawah tanah.


Casaaassaaa huahhh! Cckckk David juga membalas kekehan itu bahkan lebih sinis. Sambil mengusap tangannya ke tangannya yang satunya yang ia punyai (mode ala high five).


"Maju sini" David kembali menantang lagi, tantangan tangannya itu di sambut kasar oleh satu pria yang lainnya lagi. Breukkkk!! Plakkk! Tubuh pria itu juga terpelanting ke tanah oleh David. Total telah lima orang yang ia reguk dalam hitungan dua menit. Woww ... Tak di sangka sangka, David juga jantan dalam perkelahian.


Ketua dari kelompok pria itu tak tahan geram dan emosi, grup mereka begitu telah di permalukan oleh David. Satu tonjolan di buatnya mendarat mengenai pipi milik David.


Pufff !! David menyeka sisi bibirnya yang mengeluarkan darah akibat tonjok kan tersebut lalu terkekeh dan menatap pria arogan yang ada di depannya.


"Ini bukan tempat permainan mu, lebih baik cari tempat yang lain saja hahaha" pria itu berkacak pinggang di depannya "tidak usah cari masalah dengan kami! Atau kami akan membuat hidup mu sengsara hah??!!" Menarik kerah baju yang di kenakan oleh David.


Pelan pelan tangan David melepaskan tangan itu dan menyungging kan senyum smrik sebelum itu. Brukk!

__ADS_1


Satu pukulan darinya lagi membuat pria arogan itu juga ikut terpelanting ke lantai.


Waktu itu di manfaatkan oleh David untuk membuka pintu mobil dari luar. Di dalam, Dina yang dari tadi mengemis ingin keluar wajahnya sungguh kusut oleh air matanya.


David mengulurkan tangannya, tapi gadis itu ragu untuk menyambut uluran tangan itu. Hingga akhirnya dia sendiri yang membawa tubuhnya keluar dari dalam mobil itu.


Hiks hiks sedikit terisak dan berusaha menyeka air mata yang mengalir dari matanya.


"Kau tidak apa apa?" Tanya David


Dina menggeleng "tidak. Terimakasih atas bantuan mu pak" hiks hiks huhuhu


"Tapi ..."


"Terimakasih, permisi"


Gadis itu berusaha menghindar darinya "nona?" Dengan cepat David meraih dan menahan tangannya sehingga membuat langkahnya terhenti.


"Kau sungguh tidak apa apa?"


"Emmm" melepaskan tangan David.


"Sekarang kamu mau kemana nona. Biar saya antarkan saja, malam malam begini tidak aman bagi seorang gadis untuk berkeliaran"


"Tidak usah, terimakasih" menunduk kan kepala.


"saya bisa mencari taxi sendiri"


"Taxi? Yakin?"


"Emmm"


"Nona, ini sudah hampir dini hari. Tidak mungkin ada supir taxi yang masih bekerja"


Mendengar itu, Dina terdiam sejenak. "Baiklah"


"Hei! Sampai kapan kamu akan berdiri mematung di situ?" Ucapan David mampu membuyarkan lamunan Dina yang mematung.


"Ohh. Maaf" Dina masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, sesaat keduanya saling diam. Satu pun tidak ada kata kata yang pantas di lontarkan keluar.


"Terimakasih"


David menoleh "Emm ok. Sama sama"


"Tapi kenapa nona bisa bersama dengan ..."


Belum lagi David mengucapkan semua kata katanya, matanya menangkap gadis itu memelas wajahnya. Dengan pikiran yang masih banyak pertanyaa, David mengurungkan saja niatnya. Sepertinya gadis itu masih tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi 'ahh David! Kenapa kamu harus penasaran dengan hidup seseorang?'


"Baiklah, maaf" David mengubah posisi kepalanya kembali menghadap jalan "Oia, kita sama sekali belum berkenalan. Nama nona siapa?"


"Hmmm"


"NAMA?"


"namaku?"


"Iyaa"


Dina ragu untuk memberi tahu namanya sesaat. Tapi apa salahnya jika pria itu tau namanya. Dengan senyum yang di sunggingkan walau wajahnya masih kusut akibat air matanya "Di ... Dina, nama ku DINA"


"oh Dina" David menggaruk kepalanya "nama yang cantik.


Sedangkan Dina hanya terpaku mematung saja dan kembali menoleh ke arah David seakan mau bertanya juga nama pria itu. David mengerti maksud gadis itu menatapnya.


"Aku hampir lupa hehehe" terkekeh "David" mengulurkan tangannya ke arah Dina walau sebenarnya sudah sangat terlambat, yaa setidaknya itu tidak apa apa. Ye kannn?

__ADS_1


Dina menyambut uluran tangan itu dan keduanya pun saling tersenyum setelah melepaskan tangannya masing masing.


"Aku harus mengantar mu kemana? Rumah mu dimana?"


"Aaa" Dina kebingungan harus mau jawab apa. "Turunkan saja aku di sini"


"Di sini?"


"Iya"


"Tapi ini sepertinya kos Dina" oupss ... David sepertinya memanggilnya terlalu cepat untuk akrab "maaf"


"Tidak apa apa kok. Makasih sekali lagi" pelan pelan Dina membuka pintu mobil itu


"Emm non ... Aaaa Dina?" Lantas Dina kembali menoleh ke belakang dengan menaikkan alisnya.


"Iyaa?"


"Tangan mu kemarin apa tidak apa apa?"


'duhh! Pria macam apa ini? Dia masih saja mengingat hal itu'


"Ohw" melirik tangannya "tidak apa apa kok, hampir sembuh"


"Okay" 'apa aku meminta saja nomor kontaknya?' sepertinya David akan berpikir begitu.


"Dina? Bolehkah kita berbagi kontak. Siapa tau ... Maksudku jika ada apa apa dengan tangan mu, kamu bisa menghubungi ku kapan saja"


"Maaf?"


"Maaf kalo terlalu lancang meminta kontak ponsel mu. Tapi, setidaknya aku masih bisa bertanggung jawab dengan kesalahan ku" David masih merasa bersalah sekali, karenanya tangan gadis itu tersiram air panas. Ouhhh David!!!


Dina menggigit bibir bawahnya hampir tak percaya, ternyata di dunia ini masih ada pria yang seperti David. Pria yang berbaik hati yang ada tepat di depannya saat ini.


"Tapi tidak apa apa kok pak" masih menggunakan panggilan yang formal.


"Pak? Panggil saja David"


"Ha?"


"Iya David"


"Baiklah" Dina mengangguk, dan kemudia men-share kontaknya ke ponsel David.


"Thanks"


Wajah Dina tidak lagi memancarkan aura yang kusut karena air mata dan beralih ke sebuah senyuman. Perlahan tubuhnya keluar dari mobil yang di naikinya saat ini.


KUP!!! Pintu mobil kembali tertutup.


"terimakasih pak, maksudnya David"


David terkekeh dari dalam mobil dan membalas ucapan terimakasih itu dengan senyuman.


"Ingat! Calling saja jika terjadi apa apa dengan tangan mu" menunjuk nunjuk tangan Dina dari dalam mobil.


"Emm baik"


Setelahnya, David memutar gang gang setir mobilnya lalu menancap gas melaju di atas jalan raya. Meninggalkan Dina yang berdiri mematung di tempat, bingung entah dimana dia harus tidur malam ini. Tidak mungkin harus pergi ke rumah utama milik pria itu (*Rafael).


Apa lagi karena kejadian yang barusan terjadi, dia nekat untuk pergi bersama seorang pria asing. Pasti para pengawal bayarannya telah memberi tahu hal itu kepadanya. "huahhhhh!!!" berjalan setapak demi setapak hingga dirinya sampai di salah satu teras kos kosan yang ada di kawasan tersebut. "Baiklah, aku akan istrahat di sini. Hanya malam ini saja"


✨✨✨


Bersambung ...


Happy reading^•^

__ADS_1


.


__ADS_2