
Vano beranjak dari tempat duduknya lalu mencari di mana gadis itu berada. Kesana kemari dia tidak menemukan Siska, akhirnya dia menemukan gadis itu di dapur tengah mencari cari makanan di kulkas sendiri. Dia sangat kewalahan untuk mengambil beberapa buah dari kulkas pendingin dikarenakan lengannya.
Vano memperhatikannya sangat lama, reflek tubuhnya membawanya di belakang gadis itu dan mengambil buah yang di inginkan nya.
"Apakah kamu mau yang ini?"
"Emmm" Siska mengangguk tanpa penolakan bantuan dari Vano meski pun dia benci mengatakannya.
"Nah, lain kali jangan sok sok an udah bisa"
"Emmm"
"Dimana bi Lina? Biasanya pagi pagi udah datang" Vano melirik semua tempat dan sisi dapur
"Bi Lina tidak bisa ke apartemen hari ini"
"Kenapa?
"Katanya suaminya sedang sakit. Jadi dia ijin denganku tadi pagi di telfon" ucap siska dengan mulut yang sibuk mengunyah buah
"Aku yang memberinya job, kenapa dia malah minta ijin sama mu?!"
Siska menggeleng
"Baiklah, kamu segera siap siap. 15 menit lagi kita akan keluar dan bertemu dengan mommy"
Ukhrrr... Siska keselek buahnya "mommy? mommy mau ketemuan?"
"Iya. Ada masalah?"
"Enggak. Tapi..." Siska melihat lengannya. Vano menangkap gerakan bola mata Siska menuju ke mana, Vano mengerti tanpa Siska ngasih tau ke dia.
"Tidak usah khawatir, percaya dengan ku. Mommy akan ngerti jika aku memberi penjelasan nanti"
Siska mengangguk saja dan hendak pergi untuk ber siap siap
"Eitss tunggu dulu"
"Apa lagi!"
"Sejak kapan kamu memanggil mommy dengan sebutan yang tadi? Sejauh mana ke akraban kalian hah?"
Vano menggeleng saja dengan senyum smirk nya lalu pergi ke kamarnya untuk ber siap siap, meninggalkan Siska yang termangu dengan wajah yang ingin tahu.
"Kenapa masih mematung saja? Cepat siap siap, mommy telah menunggu kita"
"Emmm iya"
✨✨✨
"Hai mommy" kedua anak ibu itu berpelukan tak lupa cipika cipiki.
"Ehh anak mommy, nak Vano"
"Iya mommy" ucap Vano ikut melimpai
"Mommy mommy? Mommy mu siapa hah?!"
Vano tak menjawab
"Siska? Ga baik lho kayak gitu ke Vano" ucap mommy dengan nada lembut "tapi, lho tangan anak mommy kenapa? Kenapa di perban kayak gitu? Apa kamu..."
"Eh enggak mom, Siska enggakk apa apa. Siska cuma... cuma..."
"Siska kemarin terjatuh di kamar mandi mom"
"Vano!"
"Kan aku bilang yang iya saja, salah nya dimana?"
"Apa?! Bagaimana bisa dear, kenapa bisa seceroboh itu?"
"Mom, Siska ga apa apa, please... Jangan larang Siska buat ngapa ngapain. Siska ga mau kayak dulu lagi" pinta Siska memohon kepada mommy menunjukkan puppy eyes nya. Mommy menghela napas berat sambil memperhatikan lengan anaknya yang di perban putih.
"Tapi mommy...'
"Saya akan jaga Siska mom, tidak usah khawatir. Sekarang dia baik baik saja tinggal di apartemen ku" ucap Vano tiba tiba protektif dan membela Siska. Siska melirik dan menatap Vano "sejak kapan dia bersikap begitu ke aku cihh!" Lirihnya dalam hati lalu kembali menoleh ke arah mommy.
"Iyah Iyah, mommy akan mempercayai kata katamu Vano. Anak mommy satu satunya ini, mommy titipkan ke kamu. Jaga dia baik baik"
"Iya tante" Vano mengangguk
"Tante?"
"Mom! Kok malah bilang main titip titipan sih? Siska bukan barang mommy yang bisa di ambil dan di titip kapan saja huh. Dasar mommy..."
Perbincangan terus berlanjut dengan menyenangkan di antara ke tiganya walau kadang perdebatan Vano antara Siska kadang membuat ricuh, untung saja mommy ada untuk segera meleraikan mereka, bisa bisa mereka bertiga menjadi pusat perhatian orang orang yang ada dalam restoran.
"Oia, kita mau pesan apa? Mommy sendiri lupa memesan makanan dari tadi"
"Siska mau orange juice sama spaghetti aja deh mom" respon Siska cepat sambil menunjuk nunjukkan menu makanan.
"Iya, mama juga akan begitu, kamu nak Vano mau pesan apa?"
"Yang mana aja mom"
"Mbak..." mommy melambaikan tangannya ke salah satu pegawai restoran tersebut.
"Iya Bu, mau pesan apa?"
__ADS_1
"Saya mau pesan semua menu yang ada di sini"
"Ohh baik bu, silahkan di tunggu sebentar dulu. Mari bu, permisi"
"Mom... Siapa yang mau makan makanan itu semua nanti?"
"Ya kita bertiga dong dear"
"Tapi... tapi Siska cuma mau makan spaghetti sekarang mom"
"Setidaknya di cicipin semua dear, mom udah pesan lho. Masa di cancel balik pesanannya. Vano juga tidak keberatan sepertinya, bagaimana nak Vano?" Vano mengangguk saja
"Iyah Iyah deh, terserah mommy saja" nyali Siska untuk menolak men-cancel makanan ciut.
Keduanya makan sambil bercakap-cakap, terkekeh geli. Lain dengan Vano yang makanannya dalam diam.
"Oia, nak Vano... Mommy hampir lupa. Mommy langsung to the point aja. Besok mommy dan Dady mau rayain hari jadi pernikahan kami yang ke-42 tahun. So, mommy harap supaya kalian bisa datang. Mommy mau kenalkan calon menantu mommy ke teman teman mommy"
"Ihh mommy! Apaan calon menantu?!"
"Yaaa memang Vano calon menantu mommy dear. Iya kan nak Vano?" Vano mengiyakannya saja dengan gerakan kepala, dia tidak banyak bicara dan hanya mendengarkan percakapan anak ibu itu dalam diam (read : Ny. Jenita dan Siska).
"Serah mommy aja deh"
Ketiganya kembali tertawa lagi
"Tapi kenapa cuma mommy yang datang, dady mana?" Tanya Siska melirik ke sana ke mari
"Dady masih banyak urusan di perusahaan" Siska mengangguk saja lalu kembali dengan makanannya.
Vano yang banyak diam dari tadi menoleh dan mengambil ponselnya di atas meja.
"Iya David ada apa?"
"Tuan, meeting nya telah selesai. Semua notulen meeting udah saya siapkan di atas
meja ruangan tuan"
"Baiklah, terimakasih atas kerja kerasmu. Saya menghargainya, kamu boleh melanjutkan perkerjaanmu"
"Baik tuan" sambungan telfon terputus
Vano meletakkan ponselnya lagi di atas meja dan melanjutkan makan, lima menit, sepuluh menit, sampai tiga puluh menit, pertemuan kecil itu di sudahi.
"Mommy sangat berterima kasih nak Vano, udah mau menerima perjodohan kamu dengan Siska. Mommy harap kamu bisa menjaga Siska" Vano mengangguk saja dalam diam, sedangkan dari tadi Siska selalu mendengus mendengar nama Vano di sebut sebutin.
"Mbak, berapa semua total tagihannya?"
".... Semuanya 5 jt Bu"
"Biar saya aja yang bayar" Vano memberikan uang kes "selebihnya ambil saja, anggap itu uang TIP buat kamu"
"Terimakasih mas, permisi"
"Enggak apa apa mom, mau sampai berapa pun. Uang laki laki itu tidak akan habis" limpah Siska menyeringai dengan kekehan.
"Siska..."
"Iya deh mom iyahh"
"Tidak apa apa mom, itu sudah kewajiban ku" Vano akhirnya merespon keduanya.
✨✨✨
Mobil melaju di atas jalan raya dengan kapasitas batas normal. Sembari menyetir, Vano melirik jam tangannya. Jam 13:06. Setir mobil di putarkan ke arah kiri berlawan jalan ke apartemen.
"Kita mau kemana? Kenapa kamu memutar arah? Bukannya ke apartemen ke arah sana?"
"Diam saja, jangan banyak tanya"
"Kita... Kita mau kemana? Hah! Putar balik mobilnya cepat!" Siska mencoba mengambil alih kemudi, tapi tangan Vano cepat menahan tangannya "ahhww"
"Kamu ga apa apa?" Vano membawa mobil hingga menepi ke samping jalan "lengan mu ga apa apa?"
"Sakit tau, kenapa masih nanya?" Kesal Siska sekaligus jengkel dengan Vano.
"Sini lengan mu, biar aku lihat"
"Ahww" Siska menjerit sakit lagi dan lagi "ih ga usah pegang pegang"
Vano mengacuhkan kata kata Siska, lalu kembali menyetir mobil "bagaimana dengan obat rumah sakit, apa sudah kau minum?"
Siska menggeleng "hei jangan coba menyuruh ku buat meminum obat, aku ga suka. Elo juga siapa ngatur ngatur hidup ku?!!!"
Vano kembali menatap sang pemilik wajah yang keras kepala itu sebelum beberapa saat kembali menoleh ke depan.
"Kita mau kemana sih?" Siska kembali bernyali untuk bertanya
"Duduk diam saja"
Setengah jam dalam keheningan, Vano memutarkan setir mobilnya lagi ke bagian kanan sisi bangunan yang menghadap langsung dengan jalan, yang jelas itu adalah RS (Rumah Sakit)
"Lho ngapain kita ke rumah sakit?"
"Ikuti saja apa yang ku bilang, cepat turun"
Siska menurut saja dengan arahan Vano dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Permisi pak, ada yang bisa kami bantu?"
__ADS_1
"Dimana dokter Ririn?"
"Oh dokter Ririn, beliau sedang dalam ruangannya pak"
"Kami mau bertemu dengannya, ada yang ingin kami konsultasi kan dengan beliau"
Suster itu mengangguk lalu mulai mengarahkan keduanya "mari pak, bu. Mari saya antar..."
"Van, Vano... Ngapain kita ke sini? Siapa yang sakit?"
"Berisik! Diam saja dulu"
"Tapi kita..."
"Selamat siang pak Vano, Bu Siska. Apa ada yang bisa saya bantu?" Sambut dr. Ririn "mari pak, bu silahkan duduk"
Siska menyunggikan senyum lebarnya lalu duduk
"Oia, bagaimana dengan lengan bu Siska. Apa sudah baikan?" Siska mengangguk
"Bagaimana cara agar perban di tangannya itu di awaskan secepat mungkin? Apa bisa dok?" Potong Vano langsung to the point
"Hah? Lo aneh aneh banget sih jadi orang. Jadi ini alasan membawa ku ke rumah sakit?"
"Diam, emang kamu mau pergi ke acara itu besok dengan tangan yang di perban kayak gini hah?" Vano menunjuk nunjuk lengan Siska yang di perban.
Seketika mulut Siska tertutup rapat rapat. Dia tidak pernah berpikir sampai ke situ, kalau Vano akan memikirkan keadaannya "cihh! Palingan dia melakukan ini agar dia tidak terganggu ketika aku bersamanya di acara besok" lirihnya dalam hati.
"Maaf pak, tapi tangan Bu Siska masih belum terlalu sembuh. Kalau nanti perban di paksa untuk di lepaskan. Lengan bu Siska akan terinfeksi dan semakin parah"
"Tidak ada cara lain dok?"
Dr. Ririn menggeleng "tidak bisa pak, tapi saya akan menggantikan perban lengannya Bu Siska, mari bu..."
"Oh baik dok" Siska mengikuti arahan dari dr. Ririn lagi sedangkam Vano duduk menunggu keduanya selesai.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, penggantian perban selesai. Siska dan Vano bisa pulang "Oia bu, obatnya yang kemarin jangan lupa di minum ya. Dan kalau boleh pak Vano, silahkan mampir nanti ke apoteker untuk membeli obat oles ini, supaya tangan bu Siska cepat kering"
Vano mengangguk dan menerima secarik kertas resep obat tersebut, keduanya langsung pulang setelah itu.
✨✨✨
Siska merebahkan tubuhnya lagi ke atas sofa setelah sampai ke dalam apartemen di ikuti oleh Vano.
"Kamu dalam apartemen saja, jangan ke mana mana"
Siska menoleh Vano dengan tatapan bingung, melihat laki laki itu mengatur ngatur nya seenaknya saja
"Kau kenapa sih, gitu gituan ga jelass!"
"Ini perintah bukan permintaan. Jadi nurut saja"
"Hello, emang lo siapanya gue hah?!"
"Saya tunanganmu" jelas Vano dengan nada tinggi, membuat Siska tertegun menatap laki laki itu
"Tunanganmu? Lah elo kok jadi posesif banget sih? Ini kan cuma tunangan..."
"Tunangan apa?"
"Yahh ga tau lah, pokoknya kita ga akan pernah menikah. Itu aja"
"Menurut mu begitu?"
"Hee'emm" Siska mengangguk begitu saja "kita bertunangan kan karena orangtua kita. Bukan karena kemauan kita"
"Jika aku mau merubah alasan itu bagaimana?"
"Maksud mu?" Tatapan Siska dengan Vano makin bingung
CUP
Satu ciuman mendarat di bibir Siska dengan cepat membuat Siska tak bisa menghindar
Degggkkk hati Siska jadi panas dan ingin mau mati rasanya
"Apa yang kamu lakukan?!" Siska mendorong tubuh Vano lalu menyibukkan tangannya untuk menghapus bekas ciuman itu dari bibirnya
"Apa itu yang kau mau?"
"Apaan maksudmu, main cium..." Siska menggigit bibirnya
"Hahaha tenang sayang, aku akan melakukannya untukmu tiap hari kalau mau" bisik Vano mendekatinya.
Siska merinding asli melihat tingkah Vano yang ga seperti biasanya dengan dirinya. Dimana sikap Vano yang selalu membenci dirinya? Seperti dirinya membenci laki laki itu juga?
"Argghhhh apa apaan sih? Siska Siska... Jangan terpengaruh dengan laki laki gila itu, dia hanya mencoba mengelabui dirimu. Ok!" Desisnya dalam hati lalu berdiri (*intinya dia was wa saja dengan sikap Vano) .
"Hei ingat, jangan kemana mana. Jangan berani keluar apartemen" Vano dengan cepat menangkap tangan Siska. Siska menatap mata itu dengan menyidik.
"Jangan berani keluar apartemen, dan jangan pernah berencana untuk pergi ke kelab malam ini"
"Apa apaan sih kamu! Lepaskan tangan ku"
"Aku ada urusan di kantor segera. Aku akan keluar"
"Yaudah lepasin, pergi saja"
Vano menatap Siska dingin, ke dua bola mata itu terlihat jernih tapi tidak dengan hal ini. Siska menggigit bibir bawahnya lagi dan lagi melihat sikap Vano yang posesif berlebihan dengan nya. Sebenarnya apa sih tujuan dengan sikap Vano yang seperti ini? Apakah dia benar benar menunjukkan sikap yang posesif sungguhan terhadap nya? Bagaimana itu mungkin? Mereka sama sama tidak suka dengan diri satu sama lain.
__ADS_1
Pelan pelan Vano melepaskan genggaman tangannya, membiarkan gadis itu duduk kembali di atas sofa.
"Kamu sedang sakit, lengan mu sakit. Kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi ke luar sesukamu" nada ucapan Vano sengaja di buat lembut lalu pergi kembali membuka kenop pintu.