
Malam hari di kamar Hotel gue dan Rasya, seperti tidak ada kehidupan di kamar ini, gue seperti biasa hanya bermain medsos sedangkan Rasya dia bermain game di ponselnya. Kamar yang sangat luas dan mewah ini seperti kamar biasa yang tidak ada apa-apa nya, jadi gue memutuskan untuk mengganggu Rasya bermain game.
"Sya!!!" teriak gue tapi tidak dihiraukan olehnya.
"Woi Bab*!!" teriak gue lagi dan masih saja tidak ada jawaban.
Gue memutuskan untuk berdiri dari posisi tidur gue dan menghampiri Rasya dengan diam-diam lalu sontak mengambil ponselanya dari genggamannya.
"Balikin." saut Rasya yang berusaha tenang.
"Kagak!" jawab gue.
"Raisa Putri adek tersayang gue, balikin sini ya." ucapnya dengan senyum terpaksanya.
"Abang gue sayang, gue gak mau gimana dong?" jawab Gue dengan senyum manis andalan gue.
"Balikin gak!!!" teriak Rasya.
"Kagak, bleee." saut gue lalu menjuluran lidah sebagai ejekan.
"Adek gak guna lu!!" ucap Rasya dan sontak berdiri lalu berlari ke gue dan ingin menangkap gue.
Gue yang tau Rasya ingin menangkap gue, gue sontak menghindar dan berlari menjauh darinya.
"Sini lu!!" teriak Rasya dan kembali mengajar gue.
"Tangkap kalau lu bisa." ejek gue dan masih berlari agar Rasya tidak bisa menangkapku.
Kami berdua benar-benar berlari di satu ruangan itu, ruangan yang tadinya sunyi dan keliatan sempit sekarang sangat berisik dan sangat luas untuk kami berlari dan juga berteriak. Sudah lama kita tidak seperti ini, terlalu banyak kejadian aneh akhir-akhir ini yang menimpah kami. Terlalu lama berlari gue sampai lelah sendiri dan memutuskan berbaring di ranjang dan menyerahkan diriku kepada Rasya tentu saja ponselnya harus gue kembaliin.
"Gue nyerah bang, capek gue." ucap gue yang sudah berbaring di ranjang sambil melambaikan sebelah tangan gue.
Rasya yang terlihat cukup lelah, ia memutuskan berbaring disebalah gue juga dan mengambil ponselnya dari genggaman gue lalu meletakkan nya di atas meja di samping ranjang gue.
__ADS_1
"Ngapain... Lu-lu di ranjang gue?" tanya gue yang masih mengatur nafas karna kelelahan.
"Kenapa? gak boleh?" tanya Rasya kembali ke gue.
"Lu punya ranjang sendiri beg*, ngapain malah tidur di ranjang gue, pindah lu sana." jawab gue lalu mendorong-dorong Rasya agar ia pindah ke ranjangnya sendiri.
"Gue mau tidur sama adek kecil gue." saut Rasya lalu sontak memeluk pinggang gue.
Gue yang kaget sontak menampar pipinya dan berkata, "Geli Bab*."
"Berani lu ya nampar gue." ucap Rasya sambil memegang pipi yang tadi sempat gue tampar
"Ya maaf, kan gak segaja, lu sih tiba-tiba meluk gue." jawab gue.
"Lu alay banget gila, biasa juga lu yang meluk gue kalau tidur."
"Itu kan dulu bangke, sekarang kita udah gede, masa tidur berpelukan kayak teletubbies aja, lagian nanti dikira orang malah aneh-aneh anj*r."
"Bang."
"Hmm."
"Gue mau nanya boleh kagak?"
"Serah."
"Kalau lu punya pacar nanti, dan pacar lu malah gak suka kalau lu lebih milih gue dari pada dia dan lebih manjain gue dari pada dia, lu bakal kayak gimana?" tanya gue sambil melihat ke langit-langit dinding.
"Putusin lah kok ribet." jawab Rasya santai dengan masih memejamkan matanya.
"Kalau lu gitu terus, kapan lu nikah nya?"
"Ya ada saat nya lah, lagian kalau memang pada gak suka sama sifat gue yang lebih milih lu, mending gue gak nikah aja sekalian."
__ADS_1
"**** lu ya, kalau gue nikah terus suami gue gak suka sama lu karna lu meluk gue kayak gini, itu bukan salah suami gue sih."
"Lah emang kenapa sih, adek gue sendiri masa gue gak boleh meluk." jawab Rasya dan sontak membuka matanya.
"Ya lu pikirlah, cowok atau cewek mana yang suka ngeliat pacar nya di peluk sama orang lain dan lebih milih orang lain dari pada dia, walaupun itu saudara kandung lu."
"Ya gue gak peduli, gue bakal cari cewek yang bener-bener nerima gue apa ada nya begini, dan gak gampang cemburu sama lu, lagian dari sekian banyak cewek didunia cuma lu yang gue sayang."
"JIJI!!" teriak gue.
"Gue serius bangkee, lu yang paling gue sayang, terus Mami."
"Kenapa Mami yang kedua?"
"Karna lu yang paling cantik, kalau lu bukan saudara gue aja, lu yang bakal gue nikahin."
"Bang jangan bilang lu suka sama gue, ih serem."
"Ya gak gitu juga bambang, kan gue bilang KALAU, lagian gue masih nnormal kali, masa gue suka sama saudara sendiri, ya kagak lah, masalah pacar atau apapun itu biarlah nanti datang sendiri, lagian gue ini cowok idaman semua cewek siapa yang gak mau sama gue."
"Gue gak mau sama lu."
"Serah lu Bab*, dah lah tidur, besok kita sekolah." saut Rasya dan kembali memejamkan matanya dan kembali mengeratkan pelukannya ke gue.
Gue sontak memperbaiki posisi tidur gue, gue menghadap ke Rasya dan ikut memeluknya juga.
"Good night bang." ucap gue.
"Night sayang." jawab Rasya lalu mencium puncak kepala gue dan kembali tertidur.
Kami tidur bersama di satu ranjang dan saling berpelukan, mungkin jika orang yang tidak tau kalau kita adalah saudara mereka bakal mengira kalau kita sedang berpacaran atau melakukan hal-hal aneh. Tapi bagi Rasya berpelukan atau mencium pipi dan puncak kepala gue itu sudah biasa dilakukannya walaupun di tempat umum sekali pun. Aku berfikir siapa yang akan menjadi pasangan hidup Rasya Nantinya, pasti ia akan sangat beruntung mendapatkan Rasya, tapi pasti dia juga sering merasa iri atau cemburu ke gue karna sikap Rasya yang terlalu memanjakan gue. Tapi dari semua itu Rasya tau apa yang harus ia berikan kepada pasangannya dan jujur saja Rasya adalh seseorang yang romantis tapi dia juga bisa menjadi pasangan yang humoris. Bagi perempuan yang mendapat kan Rasya, ia benar-benar akan bahagia selamanya.
Bersambung
__ADS_1