Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Psikopat?


__ADS_3

"Seperti yang Gue bilang tadi, Gue dari kecil di didik di Amerika oleh bokap Gue. Gue di didik dengan sangat keras, mulai dari umur 9 tahun saja, Gue sudah di ajarkan untuk membunuh orang." Jelasnya yang benar-berarnya membuat Gue terkejut setengah mati.


"Saat Gue duduk di bangku SMP, bukannya seperti murid baru biasanya. Gue malah berani melawan kakak kelas yang berani menatap Gue, entah itu tatapam benci ataupun tatapan suka, Gue tetap akan memukul orang itu sampai pingsan. Itu kasus pertama Gue di sekolah, tapi Gue sama sekali gak di hukum. Ya karna bokap Gue orang yang berpengaruh di sekolah itu." Lanjutnya.


"Itu diri Gue saat siang hari, tapi saat malam hari. Gue ikut bersama bokap Gue ke suatu tempat yang memang cukup berbahaya, Gue di suruh melakukan hal yang seharusnya tidak Gue lakukan. Gue minum, Gue memukul orang, Gue terkadang juga bermain dengan wanita bersama bokap Gue." Ucapnya yang tambah membuat Gue terkejut.


"Itu memang tidak layak di lakukan oleh anak yang baru berumur 12 tahun, tapi itu memang menyenangkan pada masanya. Tapi saat Gue berumur 13 tahun, Gue ada masalah besar lagi disekolah. Gue melakukan sex di gudang sekolah, bukan itu saja, cewek yang sudah Gue pakai itu...Gue langsung membunuhnya dengan sekali tembakan. Memang aneh...bagaimana bisa anak sekolah melakukan itu? dan juga membawa senjata ke sekolah? Tapi begitulah Gue, Gue benar-benar gila saat itu. Karna sikap Gue yang sudah tidak bisa di maafkan, Gue langsung di keluarkan dari sekolah..." Jelasnya.


"Saat itu juga, Nyokap Gue langsung menemui Gue. Karna sangat marah dengan didikan yang di berikan Bokap Gue, Nyokap Gue sampai menahan semua yang di miliki Bokap Gue. Bokap Gue tidak bisa melakukan apapun, karna memang pada dasarnya bokap Gue mencintai Nyokap Gue, dan dia jadi sangat tunduk dengan apa yang di katakan Nyokap Gue." Lanjutnya.


"Pada akhinya, Gue di pindahkan di Korea. Agar Gue di terima, Nyokap Gue sampai mengeluarkan uang banyak untuk Gue. Tapi semuanya tidak bertahan lama, 2 bulan Gue bertahan tanpa melakukan apapun di sekolah, dengan sikap dingin Gue, akhirnya semuanya sia-sia. Ada sekelompok laki-laki yang selalu mengganggu murid lain. Karna tidak tahan dengan itu, Gue langsung membunuh ketua geng itu dengan gunting yang Gue tusuk berkali-kali di tubuhnya." Sambung nya.


"Karna masalah itu, Gue langsung di keluarkan lagi dari sekolah. Nyokap Gue yang benar-benar bingung akan menyekolahkan Gue dimana, akhirnya selama setahun itu Gue di kurung di rumah dengan fasilitas lengkap. Tapi di rumah itu tidak ada benda-benda tajam, gak ada senjata apapun di rumah itu." Ucapnya.


"Dan pada akhirnya setelah setahun itu, Gue pindah ke indonesia dengan sikap yang dingin, dengan keahlian bermain basket dan kepintaran yang cukup baik untuk Gue." Lanjutnya.


"Sa?" Panggilnya ke Gue.


"SA!!!" Teriaknya.

__ADS_1


"Hah? Su-sudah selesai?" Tanya Gue yang masih tidak menyangka dengan masa lalu Devan.


"Ya sudah...apa kamu terkejut?" Jawabnya.


"Ya...sangat terkejut, Gue gak nyangka kalau Lu dulunya seorang psikopat. Jadi maksud Lu dan Nyokap Lu itu...Gue bisa bantu Lu merubah sikap lu yang seorang psikopat itu?" Tanya Gue.


"Hm...sebenarnya, dari awal Gue masuk ke sekolah itu, Gue sudah berusah merubah sikap Gue. Tapi masih belum sepenuhnya, terkadang Gue dirumah masih sering memukul pelayan. Tapi saat Gue ketemu Lu, Gue benar-benar seperti terhipnotes dengan sikap Lu. Lu yang tekadang bodo amat sama perkataan orang, selalu membantu orang, bersikap ramah dengan orang yang juga ramah ke Lu. Terkadang juga Gue terkejut dengan sikap pemarah Lu, walaupun Lu marah, Lu gak pernah ada rasa ingin membunuh orang, tidak seperti Gue." Jelasnya.


"Ya jelas lah Gue gak ada rasa mau membunuh orang, karna Gue bukan psikopat. Tidak seperti Lu." Sahut Gue.


"Maaf...Gue memang sangat bodoh. Tapi dari awal Gue gak mau bersikap seperti itu, tapi Gue memang di didik seperti itu dari kecil." Ucapnya.


Gue benar-benar tidak menyangka dengan diri Devan yang sebenarnya.


*Bagaimana bisa Gue menyukai seorang pembunuh? Ini benar-benar gila.* Batin Gue.


"Apa kamu tidak akan menerima ku? Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku hanya ingin bersamamu. Membangun keluarga kecil kita, aku hanya ingin itu." Sahutnya.


"Hah...sudah lah. Tidak usah membicarakan itu lagi." Sambung Gue.

__ADS_1


"Tapi–"


"Setelah liburan ini, ajak orang tua mu ke rumah Gue." Potong Gue lalu berdiri.


"Kenapa? Apa kamu akn langsung menolak ku?" Tanyanya.


Gue sontak melangkah, dan berhenti di hadapannya. Devan hanya bisa menatap Gue dengan bingung dan juga sedih.


Gue sontak mengelus kepalanya dan berkata. "Kita akan membicarakan pertunangan itu."


Setelah itu, Gue pun kembali masuk ke kamar Gue dan duduk di atas ranjang. Devan mengikuti Gue masuk ke dalam, tapi ia hanya bisa berdiri di hadapan Gue dengan terdiam.


"Ini sudah malam...kembali lah, Gue ingin tidur." Sahut Gue.


"Hah? Ba-baik, aku akan keluar. Good night ans Sweet dream, baby." Ucapnya lalu melangkah keluar kamar Gue.


Setelah ia keluar Gue pun sontak berbaring sambil menatap langit-langit kamar.


"Hah...ini sudah takdir ku." Gumam Gue lalu mulai menutup mata dan mencoba untuk tidur.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2