
Tak terisa hari sabtu pun sudah tiba. Waktu dimana Gue hanya berdiam diri di dalam kamar Hotel sambil bermain Game tanpa memerdulikan siapapun.
Tapi di hari ini, kesehatan Gue sedang menurun. Saat Gue bangun dari tidur, Gue sudah merasa tidak enak badan. Raisa yang tau kalau Gue sedang sakit, ia pun langsung menyuruh Dokter yang ada di Hotel untuk memeriksa Gue.
Raisa yang akan bekerja menyuruh Gue berdiam diri di atas ranjang sambil berbaring. Tapi karna terlalu bosan hanya bisa berbaring dan memakan cemilan doang, Gue pun bermain Game di laptop sambil duduk di atas ranjang.
Awalnya tidak ada siapapun dan tidak terjadi apapun di dalam kamar Gue. Tapi saat waktu makan siang tiba, semuanya berubah.
Saar ada yang mengetuk pintu, Gue kira itu hanya seorang pelayan yang membawakan Gue makanan atas perintah Raisa. Gue pun menyuruhnya masuk.
Saat pintu itu terbuka. Gue yang awalnya tidak menatap seseorang itu, dan hanya menyuruhnya meletakkan makanan Gue di meja makan. Gue terkejut saat seseorang itu mulai menyapa Gue.
"Siang, Rasya." Sapa seseorang itu yang suaranya sangat familiar bagi Gue.
Gue sontak menatapnya dan terkejut saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan Gue.
"Lu?" Ucap Gue terkejut.
"Kok Lu, sih?" Lanjut Gue.
"Iya... Aku hanya ingin menjenguk mu saja, setelah mendengar kalau kamu sedang sakit." Jawabnya.
"Siapa yang suruh?" Tanya Gue.
"Pasti Raisa." Lanjut Gue.
"Bukan-bukan. Aku sendiri yang mau menjenguk mu, aku hanya khawatir saja. Sudah berapa hari ini aku tidak pernah berbicara dengan mu lagi." Jawabnya.
"Gue gak peduli. Mending Lu keluar aja dari sini, Gue gak butuh Lu." Ucap Gue.
"Tapi–"
"Tidak ada kata tapi. Keluar!" Potong Gue.
"Tapi kalau aku gak mau, bagaimana?" Tanyanya yang membuat Gue bingung.
"Ma-maksud Lu?" Tanya Gue.
Reina tiba-tiba medekat ke Gue lalu berdiri di samping Gue.
"Ma-mau apa, Lu?" Tanya Gue.
Reina sontak mengangkat tangannya, Gue yang kaget sontak memejamkan mata Gue dengan rasa takut.
Gue mengira kalau Reina ingin memukul Gue karna telah mengusirnya. Tapi ia ternyata sedang menempelkan telapak tanganhya ke jidat Gue seperti sedang mengukur suhu tubuh Gue.
Gue sontak membuka mata Gue dan menatapnya yang sedang fokus dengan suhu tubuh Gue.
__ADS_1
"Nga-ngapain sih, Lu?" Tanya Gue.
"Lumayan panas ya." Ucapnya.
"Ja-jangan sentuh Gue, dong." Ucap Gue lalu menjauh darinya.
"Jangan banyak gerak, kamu lagi sakit." Sambungnya lalu mendekat ke Gue lagi.
"Ja-jangan dekat-dekat!!!" Teriak Gue.
"Iya-iya. Sekarang kamu makan dulu setelah itu minum obat." Ucapnya.
"Iya." Jawab Gue lalu menurunkan kaki Gue dari ranjang.
"Sini biar Aku bantu." Sambungnya sambil memegang lengan Gue.
"Ga-gak usah! Gu-gue bisa sendiri." Balas Gue lalu berjalan ke kursi.
Saat Gue duduk, tiba-tiba Reina juga duduk di hadapan Gue.
"Lu ngapain?" Tanya Gue.
"Nunggu kamu selesai makan." Jawabnya santai.
"Gak usah, Lu kembali kekamar Lu aja. Gue bisa sendiri." Tolak Gue.
"Tidak usah memperdulikan ku. Kamu makan saja, aku hanya akan diam di sini." Sambungnya.
Gue pun langsung memakan makanan Gue dan berusaha tidak memperdulikannya.
Hari ini aneh. Gue tiba-tiba sakit dan cewek yang sedang Gue jauhi malah muncul dan merawat Gue.
*Tidak mungkin kebetulan.* Batin Gue sambil melirik Reina sekilas.
***
Setelah Gue selesai makan dan juga meminum obat. Gue pun kembali ke ranjang lalu duduk dengan bersandar di dinding.
Tiba-tiba Gue tersadar. Ternyata Reina masih ada di sini. Dan dia sekarang duduk di kursi samping ranjang Gue.
"Lu ngapain disini?" Tanya Gue.
"Tunggu kamu tidur." jawabnya.
"Kenapa sih?!Kenapa Lu dari tadi gak mau pergi?" Geram Gue.
"Maaf... aku cuma mau rawat kamu aja, kok." Balasnya murung.
__ADS_1
"Rawat? Gue? Gue gak butuh." Ucap Gue.
"Gue gak butuh, Lu. Gue sama sekali gak butuh Lu!!" Lanjut Gue.
"Aku ada salah sama kamu? Sampai kamu marah kayak gini." Tanyanya.
"Salah? Lu gak salah, Gue yang salah. Gue yang bodoh. Berharap sama cewek yang gak akan pernah jadi milik Gue." Jawab Gue.
"Gu-gue gak mau berharap lagi." Lanjut Gue lalu menatapnya serius.
"Jadi jangan buat Gue makin berharap sama Lu. Jangan perhatian sama Gue. Jangan sok care sama Gue." Sambung Gue.
"Tapi aku tidak sedang berpura-oura peduli dengan mu. Aku memang peduli dengan mu, Rasya." Ucapnya yang membuat Gue muak.
Gue sontak menggenggam tangannya lalu menariknya ke atas pangkuan Gue.
Ia yang terkejut hanya bisa diam dan membulatkan mata menatap Gue.
"Dengerin Gue." Ucap Gue.
"Gue mohon sama Lu. Jangan peduli sama Gue, jangan perhatian ke Gue, dan jangan muncul di hadapan Gue." Lanjut Gue.
"Lu cuma bikin Gue salah paham, dan bikin Gue sakit. Gue gak mau berharap sama cewek yang gak suka sama gue dan gak mau menjalin hubungan sama Gue." Sambung gue.
"Jadi tolong... Tolong keluar dari sini, jangan pernah muncul di hadapan Gue lagi. Gue mohon." Ucap Gue.
"Ta-tapi–"
"Gue mohon." Potong Gue.
Gue pun melepas tangannya dan membiarkannya berdiri dari pangkuan Gue. Gue sontak berbaring dan menutup wajah Gue dengan selimut.
"Maaf." Ucapnya lalu keluar dari kamar Gue
*Maaf? Akhirnya hanya itu yang Gue dengar.* Batin Gue.
"Gue memang egois. Gue memang gak pantas buat siapapun!!" Teriak Gue.
Janji yang pernah Gue ucapkan di pantai, akhirnya hanya sia-sia saja. Itu hanya sebagai kenangan yang membuat Gue tampak aneh.
Dari awal, semuanya memang akan berakhir seperti ini. Menjauh dari seseorang yang dicintai itu memang sakit.
Rasa sakit yang sama sekali tidak pernah Gue rasain. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir untukku mengejar cewek aneh sepertinya.
"Tuhan memang tidak bisa di tebak." Gumam Gue.
Bersambung
__ADS_1
*Bantu support authoe dengan Like dan Comment :)
Thanks*!!