
Tak terasa bel istirahat pun berbunyi, seperti biasa gue dan teman-teman gue langsung pergi menjemput Raisa lalu berjalan ke kantin bersama-sama.
"Yuk, Sa." ucap gue lalu merangkul Raisa dan kami pun berjalan ke kantin bersama.
Saat sampai di kantin seperti biasa kami selalu memilih meja di pojok.
"Terserah kan Sa?" tanya gue.
"Iya bang." jawabnya setelah duduk di kursi.
"Lu Put mau apa?" tanya Agung.
"Lah Putra gak ikut beli sama kalian?" tanya Raisa.
"Gak." jawab Putra.
"Kenapa?" tanya Raisa lagi.
"Dia habis di hukum tadi, kita sebagai temannya yang baik hati berniat untuk membelikannya makanan." jawab Agung.
"Alah alay juga." ejek Raisa.
"Jangan kayak gitu kek, gue beneran cape tau." saut Putra.
"Bodo! Paling di hukum sama pak gunawan kan gara-gara ulangan metik lu dibawah KKM." balas Raisa.
"Lah kok tau?" tanya Reyhan.
"Tadi sebelum bel istirahat di kelas gue pelajaran bapaknya, terus bapaknya cerita kalau di kelas kalian yang di hukum banyak banget, terus gue tanya ada nama kalian gak, bapaknya bilang ada sih Putra." jawab Raisa.
"Emang di kelas lu gak banyak yang di hukum?" tanya Rendi.
"Lumayan banyak sih, cuma 3 orang doang." jawab Raisa.
"Kan kelas gue kelas unggulan." sambung Raisa.
"Unggulan mata lu, kenapa gue gak masuk kelas lu kalau memang kelas lu unggulan." saut gue.
"Ya mana gue tau." balas Raisa.
"Dah lah yuk buruan beli makan, udah rame banget nih." saut Reyhan lalu kami pun pergi meninggalkan Raisa dan Putra di meja untuk membeli makanan.
RAISA POV*
Kali ini gue berdua dengan Putra menunggu Raysa dan yang lain membeli makanan, Putra duduk di depan gue sambil bermain ponsel dan kelihatan kelelahan karna dihukum oleh pak Gunawan.
"Put, dikelas Rasya gak buat masalah kan?" tanya gue memulai pembicaraan.
"Dia gak buat masalah di kelas tapi dia buat masalah sama kita(gengnya)." jawab Putra.
"Lah masalah apa? Kalian baik-baik aja tuh." balas gue.
"Abang lu tuh selalu merendah untuk meroket, bilang lah dia bakal di hukum padahal nilainya yang paling tinggi di kelas, selalu bangga-banggain lu lagi, apa gak kesel gue." sautnya kesel sendiri.
__ADS_1
"Yaelah kirain apaan, hahaha." ucap gue sembari tertawa.
"Lu juga udah tau sifatnya kayak gitu, tapi masih aja dengerin ocehannya gue aja kagak pernah tuh denger dia bangga-banggain lu ke gue, malah dia selalu bilang kalau lu pada gobl*k lah tol*l lah, hahaha." sambung gue dan masih tertawa keras.
"Kalau kita kagak dengerin dia nanti dia malah matahin tangan kaki kita, apa gak ****** tuh kalau ngelawan sama abang lu, kalau disuruh milih mending gue dengerin ocehannya berhari-hari dari pada harus nerima tangan kaki gue patah dengan sia-sia." jawabnya.
"Yaelah, sejahat apapun Rasya dia tuh gak bakal matahin tangan kaki lu pada, lagian dia juga sering kan kalian bully, bulshit tuh kalau kalian gak pernah bully dia, walaupun ujung-ujungnya lu pada yang ngalah sama dia, yakan?" balas gue.
"Ya tapi–" ucap Putra yang tiba-tiba terpotong.
"Raisa!" panggil seseorang yang ternyata itu adalah Reina.
"Eh Reina, lu mau makan di mana?" tanya gue yang melihat reina membawa makanannya.
"Gak tau nih, semua meja pada penuh." jawabnya.
"Yaudah makan sini aja, lu pindah Put." ucap gue beralih ke Putra.
"Lah? Gue udah nyaman di sini." jawab Putra.
"Putra, lu mau pindah atau kagak?" ancam gue.
"Iya-iya." jawabnya lalu berdiri dan pindah duduk di samping kursi Rasya.
"Gak adek, gak abang sama aja." gerutu Putra.
"Bilang apa lu?" tanya gue.
"Gak-gak, eh buruan lu duduk." jawab Putra lalu menyuruh Reina duduk.
"Thanks Raisa." ucap Reina.
"Lu makan gih, gue masih nunggu Rasya." saut gue menyuruh Reina memakan makanannya.
"Rasya?" tanya Reina kaget.
"Iya–" ucap gue yang terpotong.
"Elu!!!" teriak Rasya kaget karna ada Reina yang duduk di depan gue.
"Apaan sih bang teriak-teriak." ucap gue.
"Lu ngapain ada disini?" tanya Rasya ke Reina dan mengabaikan ucapan gue.
"Gue yang suruh, kenapa lu gak suka?!!" bentak gue.
"Lu tau gue gak suka kalau ada dia, kenapa juga lu nyuruh dia disini sih!!" ucap Rasya kesal.
"Suka-suka gue lah, lagian dia kasian mau makan tapi gk ada meja kosong lagi." ucap Gue.
"Tapi–" saut Rasya yang gu e potong.
"Tapi apa, hah!! Lu kalau gak mau duduk disini, lu aja yang pergi ribet banget sih!!!" teriak gue.
__ADS_1
Rasya tiba-tiba duduk di samping gue begitupun teman-temannya yang lain walaupun gak ada dari mereka yang mau duduk berdampingan dengan Reina, jadi di kursi yang di samping Reina terpaksa kosong.
"Nih punya lu." ucap Rasya sambil menyodorkan gue makanan dan Minuman gue.
"Thanks." jawab gue.
"Buruan makan." sambung gue dan mereka pun makan kecuali Reina.
"Lu kenapa gak makan Rei?" tanya gue.
"Hmm." dehem Reina.
"Gak usah peduliin mereka, makan aja dengan santai." ucap gue.
"Alay juga." gumam Rasya yang terdengar oleh gue dan gue sontak menginjak kakinya.
"Issh." desis Rasya kesakitan.
"Buruan makan Rei, gue juga makan kok." ucap gue yang di balas dengan anggukan oleh Reina dan kami pun mulai memakan makanan kami masing-masing.
.
.
Setelah kami selesai makan, Rasya dan teman-temannya mengantar gue ke kelas sedangkan Reina, ia pergi ke kelas seorang diri, awalnya gue nyuruh Putra dan Agung untuk mengantar Reina, tapi mereka nolak dan Reina juga tidak ingin di antar ke kelas jadi Reina berjalan ke kelasnya sendiri.
RASYA POV*
Setelah mengantar Raisa gue dan lain langsung kembali kekelas tapi daat di perjalanan gue kebelit mau ke toilet
"Kalian duluan aja, gue kebelit mau ke toilet nih." ucap gue.
"Oke." jawab Agung lalu mereka pun pergi ke kelas sedangkan gue putar balik ke toilet putra.
Karna toilet putra dan toilet putri berdekatan gue tiba-tiba ketemu dengan seseorang yang tidak ingin ku temui lagi dan lagi.
"Elu?!!" teriak gue saat melihat sih murid baru.
"Hmm" dehemnya.
"Kenapa lu lagi sih?!! Lu ngikutin gue kan?!" tanya gu kesal.
"Gak penting!" jawabnya rese.
"Sesempit apasih sekolah ini? Kenapa gue ketemu lu terus sih?!!" saut gue tambah kesal.
"Hmm." dehemnya lagi.
"Argh!!! Bisa gila gue, pokoknya awas gue ketemu lu lagi, kalau ketemu lagi berarti lu ngikutin gue–" ucap gue terpotong.
"Crazy!" ucapnya yang memotong ucapan gue lalu berjalan melewati gue dengan begitu saja.
"Crazy?? Lagi?? Gue di bilang Crazy?!! Dasar orang gila!!!" teriak gue lalu gue pun langsung berlari ke toilet karna sudah tidak bisa menahan lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG