
Di pagi hari. Gue baru bangun dari tidur yang singkat. Hari ini Gue masih saja berada di Rumah sakit.
Karna pagi ini cukup cerah, Gue memutuskan untuk berjalan-jalan di taman sebentar. Walaupun hanya taman dirumah sakit, itu sudah cukup membuat Gue bertenaga di pagi hari ini.
Saat Gue baru membuka pintu, tiba-tiba ada seorang perawat yang biasa mengecek kondisi Gue.
"Eh mba perawat. Mau cek harian ya, mba?" Tanya Gue tersenyum kecil.
"Iya adik... Kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Saya mau jalan-jalan, saja. Butuh udara segar di pagi hari, mba. Hahaha." Jawab Gue.
"Kita check-up dulu, ya. Setelah itu kamu boleh jalan-jalan." Balasnya.
"Oke, mba." Jawab Gue lalu masuk kembali dan diikut sang perawat.
Perawat itu pun mulai mengecek kesehatan tubuh Gue lagi.
"Sepertinya hari ini kamu sudah boleh pulang." Ucap sang perawat.
"Serius, mba?" Tanya Gue.
"Iya... Kesehatan mu sudah membaik, sudah biaa untuk kembali kerumah." Jawabnya lalu memrapikan alat medisnya.
"Makasih, mba. Akhirnya bisa keluar dari sini." Balas Gue sangat senang karna mendengar kalau Gue boleh pulang.
"Hahaha... Bukannya enak, ya? Gk sekolah seminggu, kerjaan cuma tidur dan makan. Kalau saya sih mau kayak gitu, yang penting duit nya lancar." Sambung sang perawat.
"Mba mah gitu... Kalau saya mau cepat-cepat ketemu seseorang. Hahaha." Balas Gue.
"Yaudah... Saya keluar ya, kamu silahkan jalan-jalan. Jangan jauh-jauhnya." Ucap sang perawat lalu pergi.
"Akhirnya bisa pulang... Jadi kangen sama ranjang di Hotel, kangen sama suasan di Hotel, dan tentu saja kangen sama my Love alias Reina. Hahaha." Gumam Gue.
Gue pun berjalan dengan santai menuju taman yang ada di belakang rumah sakit.
Saat di taman Gue hanya duduk di kursi tamam, sendirian. Tapi itu cukup nyaman untukku berfikir dan mencari ketenangan.
"Hah... Segar..." Gumam Gue.
*Kapan lagi bisa santai, kayak gini?* Batin Gue lalu memejamkan mata.
"Tidak-tidak!! Gue gak akan masuk rumah sakit lagi." Gerutu Gue yang sontak membuka mata.
"Gue harus bertemu dengan Reina hari ini, jika tidak... Semua nya akan berakhir menyedihkan." Gumam Gue.
"Tapi sekarang... Harus bersantai dulu." Lanjut Gue lalu menikmati pagi hari yang cerah ini.
***
Gue akhirnya kembali ke kamar untuk sarapan pagi.
Saat di kamar, Gue sudah melihat senampan makanan dan juga segelas susu yang di letakkan di atas meja mini yang ada si kasur Gue.
"Hah... Setiap pagi hanya itu? Gue kangen nasi goreng dan juga makanan lain yang ada di restoran Hotel." Gerutu Gue lalu duduk di kasur.
Dengan terpaksa Gue memakan sarapan yang telah di siapkan oleh pihak rumah sakit untuk Gue.
Tidak sampai habis makanan itu Gue santap. Gue langsung turun dari ranjang dan duduk di sofa.
"Ini baru jam 10." Gumam Gue setelah melihat jam dinding.
*Berarti 1 jam lagi Raisa pulang. Apa Gue kasih tau aja, ya. Kalau Gue boleh pulang hari ini.* Batin Gue lalu mengambil ponsel dari atas meja yang ada di depan Gue.
Saat ingin menekan nomor Raisa, Gue teringat dengan Orang Tua Gue.
"Seharusnya mereka yang Gue kasih tau lebih dulu." Gumam Gue lalu menelpon Mami.
"*Halo..." -Gue.
"Halo, sayang. Ada apa?" -Mami.
"Mi... Kata perawat Rasya sudah boleh pulang." -Gue.
"Oh ya? Kamu sudah sembuh total kan? Gak ada yang sakit atau pusing gitu?" -Mami.
__ADS_1
"Gak ada, Mi. Rasya sudah bear-benar sembuh." -Gue.
"Kalian gak ada niat mau jemput Rasya?" -Gue.
"Kita akan jemput kamu kok, sayang. Tapi..." -Mami.
"Tapi apa?" -Gue.
"Mami sama Papi bisa jemputnya sore, sayang. Gakpapa?" -Mami.
"Hm... Mami ada kerjaan?" -Gue.
"Maaf sayang... Mami sama Papi ada Klien penting." -Mami.
"Yaudah kalau memang gak bisa, Nanti biar Raisa yanh jemput Rasya." -Gue.
"Maaf sayang... Kami terlalu sibuk sekarang, setelah pekerjaan kami selesain. Kami akan langsung menjeguk kalian di Hotel." -Mami.
"Iya, Mi... Rasya tau kalau kalian sedang sibuk. Jika kalian sudah punya waktu, silahkan datang ke Hotel. Rasya sama Raisa akan menyambut kalian." - Gue.
"Iya, Sayang. Yaudah kamu yang sehat ya... Jangan sampaiĀ sakit lagi. Kamu satu-satunya anak Mami yang akan melanjutkan pekerjaan Papi." -Mami.
"Iya, Mi. Yasudah Rasya matiin ya. Rasya sayang Mami. Bye." -Gue.
"Mami sayang kamu juga, sayang. Bye." -Mami*.
Gue pun memutuskan telpon secara sepihak.
"Hah... Pewaris satu-satunya, ya. Cukup bagus." Gumam Gue lalu bersandar di sofa.
Gue tanpa sadar memejamkan mata dan membiarkan ponsel Gue yang masih ada di genggaman Gue tanpa meletakkannya di meja lagi.
Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 11.25.
"Gu-gue lupa telpon Rasya!!" Teriak Gue lalu duduk dengan baik dan menelpon Raisa.
"Lah kagak di angat." Gumam Gue lalu mencoba menelponnya lagi.
"*Halo..." -Gue.
"Lu dimana?" -Gue.
"Jalan." -Raisa.
"Lu mau ke Hotel?" -Gue.
"Gak... Mau jemput Lu." -Raisa.
"Lah? Kok lu bisa tau Gue pulang hari ini?" -Gue.
"Tadi Mami nelpon, terus dia bilang kalau Lu udah boleh pulang." -Raisa.
"Oalah... Yaudah buru." -Gue.
"Sabar... Lu mending beres-beres. Jadi tinggal pulang aja." -Raisa.
"Loh gak perlu ke bagian admin nya?" -Gue.
"Gak. Semua sudah di urus Papi." -Raisa.
"Oh... Oke." -Gue.
"Ya... Bye." -Raisa*.
Telpon pun terputus. Gue langsung berdiri dan membereskan semua barang Gue yang ada di kamar ini.
***
Raisa akhirnya sampai di kamar Gue.
"Udah?" Tanyanya.
"Iya." Jawab Gue.
"Yaudah.. Ayo." Ajaknya lalu bersiap keluar dari kamar.
__ADS_1
"Tunggu!!" Teriak Gue.
"Napa?" Tanyanya seteah berbalik ke Gue.
"Hm... Re-reina masih ada di Hotel kan?" Tanya Gue ragu.
"Masih... Buru!!" Jawabnya lalu bejaln keluar dari kamar.
Gue pun mengikutinya dengan perasaan yang senang karna akan bertemu dengan gadis itu.
Saat di perjalanan menuju Hotel. Kami berdua hanya diam saja, Gue hanya melihat keluar jendela saja. Raisa tentu saja fokus menyetir.
Tak lama kemudian, kami pun sampai. Saat turun dari mobil, Gue sudah di sambut oleh beberapa pelayan Hotel.
"Kok ada mereka?" Tanya Gue ke Raisa.
"Gue yang suruh." Jawabnya santai.
"Biar saya yang bawakan, Tuan." Ucap salah satu pelayan.
"Hah? I-iya." Jawab Gue lalu memberikan barang bawaan Gue.
Mereka pun pergi mengantar barang-barang Gue ke kamar dan ada beberapa pelayan yang mengikuti kami dari belakang.
"Ngapain di ikutin?" Bisik Gue.
"Ngejaga Lu, sapa tau tiba-tiba pingsan." Jawab Raisa santai tapi seperti mengejek.
"Gue udah sembuh. Hah... Terserah lah." Balas Gue pasrah.
Saat sampai di depan kamar. Gue melihat kearah kamar Reina. Tapi sepertinya tidak ada Reina di dalam kamarnya.
Gue akhirnya masuk ke kamar setelah Raisa. Saat di kamar Gue langsung berlari san melemparkan diri Gue ke atas Ranjang Gue.
"Hah... Akhirnya, ranjang kesayangan Gue." Gumam Gue sambil mengelus-elus kasur Gue.
"Yaelah... Kayak habis pergi sebulan aja." Sahut Raisa yang duduk di kursi.
"Suka-suka Gue lah." Balas gue.
"Oh ya, Sa." Lanjut Gue.
"Napa?" Tanyanya.
"Lu gak liat Reina?" Tanya Gue.
"Gak. Mungkin di kamarnya." Jawabnya.
"Tapi kayaknya gak deh." Balas Gue.
"Terus dimana, ya?" Lanjut Gue.
"Mana Gue tau. Gue bukan emak nya." Sahutnya.
"Yaelah... Yaudah lah Gue coba ke kamarnya." Ucap Gue lalu turun dari ranjang.
"Serah Lu." Jawab Raisa.
Gue pun keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu kamar Reina. Saat Gue mengetuk pintunya, tidak ada jawaban dari dalam kamarnya.
Setelah beberapa kali Gue mengetuk, masih saja tidak ada jawaban. Akhirnya Gue berhenti mengetuk pintunya.
"Mungkin gak ada orang." Gumam Gue.
Tapi saat Gue berbalik ke lorong. Gue melihat sepasang manusia yang sedang berjalan ke arah Gue.
Saat mereka sudah dekat, gadis itu tiba-tiba menyebut nama Gue.
"Rasya?!!" Ucapnya.
"Hah?!! Re-Reina?" Balas Gue sambil menunjuk nya.
"Kamu udah pulang?" Tanyanya.
"Di-dia siapa?!!" Tanya Gue yang melihat seorang laki-laki yang berdiri di samping Reina sambil merangkulnya dengan mesra.
__ADS_1
Bersambung