
20 menit berlalu untuk kami menjawab soal ulangan Matematika dan guru pun menyuruh kami berhenti untuk menulis.
"Oke anak-anak, waktu kalian habis, angkat tangan jangan ada yang menulis lagi." ucap guru itu.
"Baik pak." jawab kami serentak sambil mengangkat kedua tangan kami dan guru itu pun mengambil semua kertas soal yang ada di atas meja.
"Oke, sekarang kalian bebas bapak akan memeriksa jawaban kalian, dan setelah itu kita akan menentukan siapa yang akan berlari keliling lapangan." sautnya.
"Oke pak." jawab kami.
Setelah mendengar kata Free gue langsung meletakkan kepala gue di atas meja lalu menghela nafas panjang.
"Kenapa Sya?" tanya Agung yang mendengar helaan nafas gue.
"Kayaknya gue bakal lari lapangan deh." jawab gue lalu mengangkat kepala gue dan menatap Agung.
"Udah di bilang, kalau mau merendah untuk meroket jauh-jauh lu sana." balas Agung.
"Yaelah gue serius kali." ucap gue.
"Alah serius mata lu, paling lagi-lagi lu yang dapat nilai tertinggi di kelas." saut Rendi yang ternyata berdiri di belakang gue bersama Reyhan.
"Itu cuma lagi beruntung kali." jawab gue santai.
"Beruntung mata lu!! Gue 3 tahun sekelas sama lu gak pernah tuh denger nilai lu di sebutin guru di bawah KKM, selalu di atas KKM dan selalu saja nama lu yang pertama di sebut yang mendapatkan nilai terbaik di kelas, apa gak bosan gue sekelas sama lu terus." sambung Agung.
"Lah gue pernah sekelas sama Raisa, selalu dia yang di banggain guru di kelas dan nilainya rata-rata 90 keatas semua gak pernah tuh di bawah 90, lu bayangin aja sekelas sama murid terpintar di sekolah terus paling di sayang guru, Serasa Rempahan rengginang gue di kelas." saut Reyhan.
"Kapan lu sekelas sama adek gue?" tanya gue.
"Pas kelas 11 gue sekelas sama adek lu, gue masih ingat jelas setiap hari dia selalu di panggil guru dan kadang juga di panggil keruang kepsek, gue kira dia lagi bermasalah eh ternyata, bikin minder anjerr, prestasi dimana-mana murid kesayangan sekolah lagi. " jawab Reyhan.
"Memang ya adek gue paling beda sendiri, apalah gue yang cuma dapat rempahan dari otaknya." ucap gue sombong.
"Kalau ngebunuh teman sendiri gak dosa kan." saut Putra.
"Bjir!! Parah sih masa mau ngebunuh teman sendiri." balas gue.
"Lu juga, udah dibilangin kalau mau merendah untuk meroket pergi lu sana." jawab Putra.
"Iya tau kan yang bisa mempertahankan peringkat ke-3 di sekolah, kembarannya peringkat ke-1 apa nda stres gue kalau jadi saudara lu." sambung Rendi.
"Siapa juga yang mau nerima lu jadi saudara gue." jawab gue.
"Oke, gue dukung lu Put kalau mau bunuh teman sendiri." balas Rendi.
__ADS_1
"Kenapa pada mau ngebunuh gue sih?" saut gue.
"Gak tau Sya, serah lu dah." ucap Agung.
"Pfft. " ketawa kecil sih murid baru yang gue denger dengan jelas walaupun ketawanya sangat kecil.
Gue sontak menatap Agung karna terkejut begitupun Agung juga tiba-tiba menatap gue heran.
Gak salah denger nih gue? *Batin gue dan tiba-tiba menyentuh pulpen yang ada di sebelah gue.
Oh,pulpennya. *Batin gue lalu mengambil pulpen yang ada di samping tangan gue.
Saat gue ingin mengembalikan Pulpen sih anak baru, tiba-tiba guru berdiri dan mulai berbicara.
"Oke anak-anak bapak akan menyebutkan siapa yang mendapatkan nilai tertinggi di kelas ini." ucapnya dan semua teman-teman gue langsung duduk kembali di tempat mereka masing-masing.
"Rasya Putra mendapatkan nilai yang tertinggi di kelas yaitu 99." sambungnya.
"Itu lu bilang bakal lari lapangan? Gue tampol lu gak lama." bisik Agung.
"Ya maap." bisik gue.
"Yang kedua Reina Jessica Glen mendapatkan nilai 96 untuk ulangan harian pertamanya." sambung guru itu.
"Lanjut pak!!" teriak Putra.
"Tapi yang dapat nilai tertinggi cuma 2 orang itu, yang lainnya 15 orang di bawah KKM dan yang lainnya pas KKM." jawabnya.
"Sebutin pak!!" teriak gue.
Guru pun mulai menyebutkan nama-nama murid yang nilainya di bawah KKM dan salah satu dari 15 murid itu ada teman satu geng gue alias sih Putra.
"Oke, kita akan ke lapangan, yang lari mohon persiapkan fisiknya dan yang tidak lari boleh ikut ke lapangan juga." ucap guru itu lalu keluar kelas dan disusul oleh anak-anak lain.
"****** lu Put." ejek Reyhan.
"Yaelah padahal nilai gue kurang 5 doang." ucap Putra.
"Sudah lah, selamat berolaraga Putra." ejek gue.
"Yuk turun." ajak Rendi.
"Kalian duluan aja." jawab gue.
"Kenapa?" tanya Agung.
__ADS_1
"Kepo amat lu! buruan sana." jawab gue lalu mereka pun ikut pergi kelapangan dengan murid-murid lainnya sedangkan gue tinggal di kelas berdua dengan sih anak baru.
"Lu gak kelapangan?" tanya gue ke murid baru.
"Gak." jawabnya dingin.
"Ooo oke– oh iya, ini pulpen lu, makasih ya." ucap gue sambil menyodorkan pulpen miliknya.
"Ambil aja aku masih banyak, lagian kamu gak bawa pulpen kan sedangkan pelajaran lainnya masih banyak." ucapnya santai tapi sambil menatap gue.
"Ehem, ga-gak usah gue nanti pinjem pulpen Raisa aja." balas gue sambil memalingkan pandangan gue dan masih menyodorkan pulpen miliknya.
"Yaudah buang aja pulpennya." ucapnya lalu kembali menatap kedepan.
"Ta–Tapi kan sayang kalau di buang." jawab gue.
"Yaudah terserah kamu mau diapain pulpennya." balasnya lalu tiba-tiba menatap gue lagi.
"A-Anu, argh!! Sudah lah gue buang aja pulpennya." ucap gue salah tingkah lalu pergi meninggalkan murid baru sendirian di kelas.
"Apaan sih gue, sama tuh orang aja salting, udah gila gue." gerutu gue di jalan menuju lapangan.
"Tapi nih pulpen sayang kalau dibuang." gumam gue sambil melihat pulpen yang ada di tangan gue.
"Dah lah simpan aja dulu, siapa tau nanti butuh." gumam gue lagi lalu memasukkan pulpennya ke saku baju gue dan gue langsung berlari menuju lapangan untuk melihat penderitaan Putra yang sedang di hukum.
"Lu dari mana aja sih Sya?" tanya Agung saat gue baru sampai di lapangan dan kita sekarang berdiri di pinggir lapangan untuk menghindari panasnya matahari.
"Dari kelas lah, mau dari mana lagi gue." jawab gue.
"Udah berapa kali putaran tuh?" sambung gue.
"Baru juga satu kali putaran." jawab Reyhan.
"SEMANGAT PUTRA, MAKANYA BELAJAR NAK KALAU DI RUMAH JANGAN MAEN GAME MULU!!" teriak gue mengejek Putra yang sedang berlari mengelilingi lapangan.
"Padahal lu yang ngajakin kita maen game." saut Rendi.
"Gue gak ada maen game semalam, gue sibuk sama Adek gue tersayang." jawab gue.
"Terserah lu dah." balas Rendi.
Kami pun lanjut melihat kegiatan anak-anak kelas gue yang sedang di hukum sedangkan yang tidak di hukum ada beberapa yang malah nongkrong ke kantin tapi geng gue tetap bertahan di samping lapangan menunggu Putra yang sedang menderita karna di hukum, hahaha.
Bersambung
__ADS_1