Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Maaf...


__ADS_3

"De-devan?" Ucap Gue yang sontak melepaskan tangan Gue dari genggamannya.


Jordan yang mendengar nama Devan, ia sontak menatap ke arah Devan.


"Ha-halo kak." Sapanya yang seperti ketakutan.


Bukannya menjawan sapaan Jordan, dia malah sontak menarik kera baju Jordan dengan kuat sampai ia berdiri.


"Ma-maaf, kak. Sa-saya salah." Sahut Jordan yang benar-benar ketakutan.


Gue bisa melihat jelas tangannya yang gemetaran itu.


"Dev...lepas." Ucap Gue menatap tajamnya.


"Siapa yang menyuruh Lu, untuk dekat-dekat dengan cewek Gue?" Tanya Devan ke Jordan tanpa memerdulikan Ucapan Gue.


"Ma-maaf kak. Sa-saya bukan bermaksud seperti itu, sa-saya hanya ingin menemani kak Raisa saja–"


"Bacot!!!" Geram Devan yang sudah bersiap untuk memukul Jordan.


Jordan yang benar-benar takut, ia hanya bisa memejamkan matanya dengan kuat seperti akan menahan rasa sakit yang akan ia dapatkan.


Awalnya Gue mengira, Devan tidak akan memukul Jordan, karan ia masih menahan tangannya itu agar tidak memukul wajah Jordan.


Tapi pada akhirnya, Devan sontak memukul wajah Jordan dengan keras.


Buk!!!


Suara pukulan yang sangat keras itu benar-benar membuat para Guru dan juga murid lainnya, langsung berkumpul.


"DEVAN!!!" Teriak Gue yang sontak berdiri.


Karna Gue teriak, Devan sontak menatap Gue serius tapi tangannya tiba-tiba bersiap memukul Jordan lagi.


Sebelum ia memukul Jordan untuk kedua kalinya, Gue lebih dulu bertindak.


Plak!!!


Suara tamparan yang mengenai pipi kanan Devan itu, Gue yang telah membuatnya.


Devan yang terkejut begitupun dengan semua orang yang meyaksika itu, sontak menatap Gue.


Devan sontak melepaskan Jordan dan langsung berdiri di hadapan Gue dengan ekspresi yang datar.


"Apa? Lu mau nampar Gue juga? Silahkan...lu bolehin Lu nampar Gue." Sahut Gue.


Tapi ia tidak memerdulikan omongan Gue, ia masih saja terdiam dengan ekspresi yang sama.


Gue sontak meraih tangannya dan mengangkatnya sampai ke Pipi Gue.


"Tampar Gue!! Lu gak suka kan di tampar sama cewek?!! Balas Gue, DEVAN!!!" Geram Gue yang meletakkan tangan Jordan di dekat pipi Gue seperti ingin menampar Gue.


Tapi dia masih saja tidak menjawab apapun, ia masih terdiam tanpa kata dan juga tanpa ekspresi.


Gue yang muak, sontak menampar pipi Gue sendiri dengan tangannya. Tapi tamparan Gue tidak begitu keras, karna tangan Devan yang tidak berdaya untuk di goyangkan sekali pun.


Gue pun menampar Pipi Gue berkali-kali, walaupun tidak begitu keras tapi jika berkali-kali itu tetap saja terasa sakit.


Tiba-tiba saja Rasya datang bersama Reina.


"SA!!!" Teriaknya.


Gue sontak berbalik dan menatapnya, tapi tangan Devan tiba-tiba lepas dari genggaman Gue.


"Kenapa? Ada masalah apa?" Tanya Rasya.

__ADS_1


"Gue yang salah, Bang." Jawab Gue yang masih menatap Rasya.


Tapi tiba-tiba saja...


Bruk!!!


Suara seperti seseorang terjatuh di hadapan Gue, Gue sontak berbalik dan melihat ke bawah.


"Devan?!!!" Sahut Gue yang bingung.


Ya...Devan terduduk di lantai, dengan kepala yang tertunduk tapi masih saja terdiam.


"LU KENAPA SIH?!!" Teriak Gue.


Devan tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Gue dengan tatapan yang sedih.


"LU KENAPA SIH?" Teriak Gue lagi.


"Ma-maaf, aku salah...tangan ini seharusnya di potong saja. Ini memang tidak pantas digunakan lagi." Ocehnya sambil memegang tangannya sendiri yang tadi Guepakai untuk memukul pipi Gue sendiri.


"Lu kenapa sih? Ngapain Lu duduk di lantai? Terus kenapa sama tangan Lu?" Tanya Gue yang bingung.


"Ma-maaf...aku salah, sayang. Maaf...aku akan memotong tangan ku ini sekarang." Ucapnya menatap Gue.


"Lu gila? Tangan Lu mau dipotong sendiri? Gak jelas lu?" Protes Gue.


"Ma-maaf...a-aku salah." Sambungnya.


"Lu apain anak orang, sa?" Sahut Putra.


"Diam, Lu!!" Geram Gue sambil menatapnya tajam.


"Kok dia kayak gitu? Dia mabuk?" Tanya Reyhan.


"SERIUS WOI!!!" Teriak Rasya dan 4 bocah itu.


"Sorry-sorry, khilaf." Ucap Gue.


"Devan kenapa, Raisa?" Tanya kepala sekolah.


"Saya juga gak tau, pak. Saya juga bingung." Jawab Gue.


Gue sontak menatap Devan lagi, dan bertanya. "Lu kenapa? Sakit?"


"Maaf...aku salah...seharusnya aku tidak memukul wajah mu." Jawabnya yang menatap Gue sedih.


Gue yang mendengar itu, sontak menepuk jidat Gue kuat.


"Lu gak salah...Gue yang salah, Gue tadi bareng Jordan cuma ngobrol doang. Gue gak ada teman ngobrol tadi, Rasya pergi bareng Reina. Jadi hanya Jordan yang nemenin Gue, dan Lu Tiba-tiba datang terus mukul orang. Ya, Lu juga salah sih." Jelas Gue.


"Lah? Kenapa Gue di bawa-bawa?" Protes Rasya.


"Diam Lu!!" Ancam Gue sontak menatapnya tajam.


"Sudah lah...buruan berdiri, bikin Gue malu aja." Lanjut Gue.


"I-iya." Jawabnya lalu berdiri di hadapan Gue.


"Mending Lu minta maaf sama Jordan, lu mukul anak orang sembarangan." Perintah Gue.


"Ta-tapi–"


"Cepat!!" Potong Gue.


Devan pun sontak menghampiri Jordan lalu menyodorkan tangnnya ke jordan.

__ADS_1


Jordan yang masih ketakutan, sontak menatap Gue. Gue yang ditatap hany bisa mengangguk.


Mereka pun berjabatan tangan bersama, dan Devan sontak berkata. "Maaf."


"Hah? I-iya kak." Jawab Jordan kaget.


*Kenapa Gue bisa suka sama cowok cengeng begini?* Batin Gue melihat Devan sambil menepuk jidat Gue lagi.


Setelah itu, Devan pun menghampiri Gue lagi.


"Sudah?" Tanya Gue.


"I-iya." Jawabnya.


"Sekarang bubar-bubar, sekarang waktunya Check-in." Sahut Gue.


Mereka semua pun bubar. Kepala sekolah dan Guru pun membagikan tiket kami masing-masing.


Walaupun masih 30 menit lagi untuk penerbangan, kami lebih dulu check-in agar mudah nantinya.


Semua koper juga mulai di cek satu persatu. Koper Gue di bawa oleh Rasya dan juga Reina, sedangkan Gue hanya di suruh menunggu saja okeh mereka.


Kali ini Gue tidak menunggu sendiri, Gue bersama Devan yang baru saja membuat masalah aneh.


"Hah..." Gue hanya bisa menghela nafas karnanya.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Apanya?" Tanya Gue balik.


"Kenapa menghela nafas?" Tanyanya.


"Lu pikir dong...masa Lu buat Gue malu di depan umum? dan lagi, kenapa Lu bersikap kayak cowok cengeng?" Sahut Gue.


"Maaf...aku tidak ingin melukai mu, aku memukulnu sedikit saja itu sudah tidak pantas. Aku rela bersujud di depanmu, kalau aku berbuat seperti tadi lagi." Ucapnya.


"Lah? Kan yang mukul Gue sendiri, kenapa Lu yang merasa bersalah?" Tanya Gue bingung.


"Karna kamu memakai tangan Ku untuk memukul diriku sendiri, orang lain saja jika melukai mu sedikit pun, aku berjanji akan membunuh orang itu. Termaksud aku, aku tidak ingin membuat mu terluka." Jelasnya.


*Tipe bucin akut* Batin Gue.


"Hah...terserah Lu saja, sekarang siapkan diri Lu untuk menjelaskan segalanya." Sambung Gue.


"Aku sudah menyiapkan segalanya." Jawabnya.


"Sayang...apa aku boleh memohon sesuatu?" Sahutnya.


"Apa?" Tanya Gue.


"Aku mohon, jangan menatap laki-laki lain selain aku. Aku tidak ingin itu, begitu pun aku, aku juga tidak akan menatap cewek lain." Jawabnya.


"Lah? Terus buat apa Gue punya mata?" Sambung Gue.


"Maksud ku bukan seperti itu, aku ingin kamu tidak menatap laki-laki lain seperti kamu menatap ku. Perhatian mu hanya untuk ku." Ucapnya.


"Ya ya ya...apapun itu, yang penting jangan bersika gegabah seperti tadi." Jawab Gue.


"Iya." Balasnya.


"Anak baik." Ucap Gue lalu mengelus ya sekilas.


Karna kepalanya yang Gue elus, ia songak tersenyum ke Gue. Gue hanya bisa membalas senyumannya dan tidak bisa memarahinya lagi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2