Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Bicara Berdua part 2


__ADS_3

"Bentar-bentar, jangan di lanjutin." Potong Gue.


"Gue tarik nafas dulu ya, biar gak emosi pas dengar." Lanjut Gue lalu menarik nafas dalam-dalam lalu menghebuskannya.


"Hah...oke lu sekarang boleh ngomong." Ucap Gue.


"Itu...Bran itu sebenarnya teman masa kecil ku. Dia ke indonesia hanya untuk berlibur dan menemaniku saat ada masalah keluarga." Jelasnya.


"Lah terus...kenapa dia tidur di kamar Lu?" Tanya Gue heran.


"Karna sudah kebiasaan kita tidur bersama. Dari umur 5 tahun aku sudah kenal dengannya, dam sering tidur bersama saat di Amerika." Jawabnya.


"Reina..." Sahut Gue.


"Ya, kenapa?" Tanyanya.


"Kalian itu udah gede, masa tidue bersama di satu ranjang? Kalau tuh cowok sampai macam-macam gimana? Gue juga yang susah." Jawab Gue.


"Memang kenapa? Bukannya kamu dan Raisa sering tidur bersama?" Sambungnya.


"What the..." Gumam Gue.


"Reina, dengerin ya... Gue dan Raisa itu saudara kembar, mau gimana pun Gue gak bakal ngelakuin macam-macam sama adek Gue sendiri. Dan lu sama si Bran, gak ada ikatan darah sama sekali. Hanya sekedar teman masa kecil, dan sekarang Lu malah tidur bareng dia di satu ranjang. Itu gak boleh, Reina." Jelas Gue dengan tersenyum paksa.


"Oh...tapi kenapa Papi ku bilang itu tidak apa-apa." Ucapnya.


"Nih cewek terlalu polos atau gimana sih." Gumam Gue.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Hah? Gak papa." Jawab Gue.


"Pokoknya, jangan biarkan Bran tidur dengan mu di satu ranjang." Lanjut Gue.


"Lalu, bagaimana dengan Bran?" Tanyanya.


"Rei... Ini kan Hotel, masih banyak kamar kosong di Hotel ini. Lu suruh Bran pesan satu kamar lagi." Jawab Gue.


"Tapi...Bran tidak boleh jauh dengan ku." Sambungnya.


*******!!kenapa Gue bisa suka sama cewek kayak gini sih?* Batin Gue.


"Hah...oke-oke. Nanti Gue minta tolong sama Raisa, cariin kamar yang dekat dengan kamar kita." Jawab Gue.


"Hm...baiklah. Terima kasih, Sya." Balasnya dengan tersenyum lebar.


*Gimana Gue mau marah sama cewek se manis dia.* Batin Gue.


"Iya...sekarang kita makan cake dulu ya, dari tadi kebanyakan ngobrol." Ucap Gue.


"Oke...tapi setelah ini kita kembali ke kamar kan?" Tanyanya.


"Langsung kembali ke kamar? Hah... Rei, apa Lu punya waktu untuk Gue lagi setelah ini?" Tanya Gue lembut.


"Maaf...sepertinya tidak, aku harus bersama Bran setelah ini." Jawabnya.


"Hah...baiklah." Ucap Gue murung.


Reina tiba-tiba saja mengelus kepala Gue dan berkata. "Jangan sedih, kita akan bertemu lagi saat makan malam."


"Iya~" Jawab Gue.


"Btw, Lu punya kebiasaan ngelus kepala orang ya?" Tanya Gue.


"Hah? Eng-gak kok." Jawabnya dan sontak menarik tangannya kembali.


Gue yang melihatnya salah tingkah, sontak tersenyum kecil. Lalu menggenggam tangannya sambil menatap matanya.

__ADS_1


"Hei...aku hanya bercanda." Ucap Gue.


"Lanjutkan makan mu, setelah itu kita akan kembali ke kamar." Lanjut Gue.


"Ba-baik." Jawabnya lalu memegang kembali garpunya.


Begitu pun Gue, Gue langsung melepas tangannya dan kembali menyantap cake Gue. Tapi saat asik menyantap cake Gue, tiba-tiba saja Reina bergumam.


"Hanya kamu yang ku perlakukan seperti itu." Gumamnya yang membuat Gue tersenyum kecil.


***


Kami pun kembali ke kamar. Saat di dalam Lift, kami hanya diam saja tapi berdiri dengan sangat dekat.


Tapi, tiba-tiba saja ada tangan yang menggenggam tangan Gue. Gue pun sontak melihat ke bawah dan melirik tangan Gue.


Benar-benar membuat Gue terkejut, tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia malah tiba-tiba menggenggam tangan Gue.


Gue sontak melirik ke arah Reina, ternyata ia sedang mengalihkan pandangannya. Tapi terlihat jelas kalau dia sedang malu dengan tingkahnya sendiri.


"Tangan Lu dingin?" Tanya Gue sambil menatapnya.


"Hah?!! I-iya dingin." Jawabnya yang masih saja tidak berani menatap Gue.


*Tolong... Kenapa dia cute banget sih. Mau nangis rasanya.* Batin Gue.


Lift pun terbuka. Kami pun keluar dari Lift dan berjalan di lurung yang sepi menuju kamar kami.


Tapi tiba-tiba saja ponsel Gue berdering menandakan ada telpon masuk. Gue sontak menahan Reina untuk berhenti.


"Kenapa?" Tanyanya


"Tunggu sebentar, ada telpon masuk." Jawab Gue.


"Baiklah...aku akan menunggu di samping mu, sampai kamu selesai menelpon." Ucapnya.


"*Halo... Kenapa?" -Gue.


"Lu dimana?" -Raisa.


"Udah di lorong kamar." -Gue.


"Kenapa?" -Gue.


"Ada rapat, woi!! Lu gak baca grup?!!" -Raisa.


"Hah? Sekarang?" -Gue.


"Tahun depan... Ya sekarang lah!!!" -Raisa.


"Yaelah...ntar Gue kesana." -Gue.


"Sekarang!!! Gak ada entar-entar." -Raisa.


"Iya bentar...setelah antar Reina, Gue langsung kesana." -Gue.


"Lu masih sama Reina?" -Raisa.


"Iya, anjim!! Lu udah tau masih aja ganggu." -Gue.


"Ya maaf, siapa suruh pacaran pas hari minggu? Kan ada rapat." -Raisa.


"Seharusnya Lu bilang tuh sama para Manajer. Rapat kok hari minggu, pakai dadakan mulu lagi. Sekali-sekali di rencanain dulu, dong." -Gue.


"Siapa sih yang ngatur rapat. Bikin pusing aja." -Gue.


"Gue yang ngatur rapat, kenapa?!! Mau marah?!! Sini-sini kalau berani." -Raisa.

__ADS_1


"Lu mah gitu, kebanyakan uang. Gaji lembur mulu." -Gue.


"Kenapa? Suka-suka Gue, lah. Gak mungkin rapatnya besok di siang hari. Besok kan sekolah, ****!!" -Raisa.


"Hadeh...terserah dah." -Gue.


"Buruan kesini!! Udah di tungguin, nda usah banyak bacot." -Raisa.


"Lu yang banyak bacot, kok Gue yang di marahin." -Gue.


"Lu bilang, apa?!!!!" -Raisa.


"Gak ada...dah Gue matiin, bye." -Gue*.


Gue pun memutuskan telpon secara sepihak. Lalu meletakkan kembali ponsel Gue di saku celana.


"Yuk." Ajak Gue ke Reina yang masih menunggu Gue.


"Sudah?" Tanyanya.


"Sudah, maaf lama." Jawab Gue.


"Gak papa, yuk." Balasnya.


"Iya." Jawab Gue lalu kami pun berjalan dengan santai ke kamar.


Walaupun ada rapat dadakan yang menanti Gue, Gue tetap stay cool saat di samping Reina.


Saat di perjalanan, Reina sontak bertanya Ke Gue.


"Kamu ada rapat, ya?" Tanyanya.


"Hah? Oh...iya." Jawab Gue.


"Kenapa gak pergi?" Tanyanya lagi.


"Lu ngusir Gue?" Tanya Gue sambil menatapnya.


Reina juga sontak menatap Gue. Walaupun tinggi kami tidak terlalu jauh, tapi bagi Gue dia tetap kecil saat berdiri di samping Gue.


"Hah? Gak kok...maksud ku bukan seperti itu." Jawabnya yang sontak mengalihkan pandangannya.


"Hei..." Panggil Gue yang berhenti melangkah.


Reina yang mendengar Gue, ia juga berhenti melanglah dan berbalik menatap Gue.


"Ke-kenapa?" Tanyanya.


"Jangan seperti itu." Jawab Gue.


"Hah? Maksudnya?" Tanyanya bingung.


"Jangan mengalihkan pandangan Lu dari Gue." Jawab Gue.


"Gue gak suka." Lanjut Gue.


"Ma-maaf...aku tidak akan seperti itu lagi. Tadi aku hanya tidak berani menatap mu." Jawabnya yang sontak tertunduk.


Gue sontak menghampirinya dan mengelus kepalanya lembut.


"Tidak apa, Gue hanya tidak ingin Lu memperhatikan yang lain selain Gue." Ucap Gue dengan tersenyum.


"Yaudah...yuk." Ajak Gue lalu menarik tangannya lembut.


Kami pun melanjutkan perjalanan sampai ke kamar Reina. Tapi saat sudah di depan kamarnya, tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Reina dari belakang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2