Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Tipe Wanita yang di Sukai Rasya.


__ADS_3

"Reina?!!" Ucap Gue kaget saat melihat siapa yang mulai tadi mengganggu Gue.


"LU NGAPAIN?!" Teriak Gue.


"AKU JUGA INGIN BOLOS." Jawabnya.


"GUE GAK BOLOS, WOI!! NGAPAIN LU NGIKUT-NGIKUT GUE?" Tanya Gue.


"AKU INGIN MINTA MAAF." Jawabnya


"MINTA MAAF APA?" Tanya lagi.


"SOAL BRAN TADI." Jawabnya.


"Hah..." Gue hanya bisa menghelas nafas.


"LU MAU IKUT GUE GAK?" Tanya Gue.


"KEMANA?" Tanyanya.


"IKUT AJA. TAPI LU JANGAN DI SAMPING GUE, DI BELAKANG GUE." Jawab Gue.


"OKE." Jawabnya lalu tiba-tiba memelankan mobilnya dan berkendara di belakang mobil Gue.


"Hah...dasar!!" Gumam Gue.


*Bagusnya kemana ya?* Batin Gue.


"Mall!" Ucap Gue lalu mulai berkendara menuju mall Bibi Angel.


15 menit pun berlalu, akhirnya Gue pun sampai di Mall. Begitupun Rein yang mulai tadi mengikuti Gue dari belakang.


Setelah selesai memarkirkan mobil, Gue pun keluar dari mobil. Sedangkan Reina masih sibuk memarkirkan mobilnya.


"Gitu ya nasib orang yang punya mobil mahal, parkir aja milih-milih. Dasar!!" Gumam Gue sambil melihat ke Reina.


5 menit lamanya ia memarkirkan mobil, akhirnya Reina pu keluar dari mobilny dan menghampiri Gue.


"Kenapa ke sini?" Tanyanya.


"Mau shoping." Jawab Gue santai lalu mulai berjalan masuk ke dalam mall.


Saat di dalam mall, Gue bertemu dengan Bibi Angel dan sekretarisnya.


"Bibi..." Panggil Gue.


"Eh...Raisa?" Sahut Bibi lalu menghampiri Gue.


"Kok kamu bisa disini, sayang? Bukannya lagi sekolah, ya?" Tanyanya.


"Raisa udah izin, kok. Raisa hanya ingin membeli sesuatu." Jawab Gue.


"Mau beli apa? Bibi temanin, ya?" Sambungnya.


"Direktur...kita harus pergi sekarang." Sahut sekretaris Bibi.


"Oh ya? Hah...padahal Bibi mau bersama keponakan tersayang Bibi." Jawabnya.


"Raisa bisa sendiri kok, Bi. Lagian Raisa hanya ingin membeli sesuatu saja sambil berkeliling." Sambung Gue.


"Pasti kamu lelah, ya? Harus gantiin Cindy jadi pemimpin Hotel." Ucapnya.


"Lumayan, Bi. Hahaha." Jawab Gue.


"Yasudah...Bibi pergi dulu ya, kalau perlu apa-apa hubungi manajer saja ya." Sambungnya.


"Iya, Bi. Hati-hati ya." Balas Gue.


"Iya, sayang." Jawabnya lalu pergi bersama sekretarisnya.


"Itu Bibi mu?" Tanya Reina.


"Ya..." Jawab Gue.


"Yuk." Lanjut Gue lalu berjalan ke tempat dimana baju-baju bermerek di jual.


Tanpa basa basi Gue langsung memilih beberapa baju yang Gue suka. Gue sampai mengelilingi tempat itu, tapi anehnya Reina masih saja mengikuti Gue dari belakang.


Ia tidak memilih apapun, ataupun hanya sekedar melihat-lihat. Ia hanya membuntuti Gue seperti anak ayam yang membuntuti induknya.


Sampai 30 menit Gue memilih baju, akhirnya Gue pun ke kasir untuk membayarnya.


Gue cukup lelah karna terus berjalan, tapi Reina, ia sama sekali tidak kelihatan lelah mulai tadi. Ia tetap sama, berdiri dengan santai.


*Apa dia sudah biasa membuntuti orang?* Batin Gue sambil meliriknya.


"Hah...sudah lah." Gumam Gue lalu kembali menunggu barang Gue di hitung.


"Totalnya 6.578.999." Ucap sang kasir.


Setelah mendengar itu, Gue pun langsung mengeluarkan kartu kredit dari dompet Gue.


"Nih." Sambung Gue sambil. Memberikan kartu kredit.


"Mohon tunggu sebentar." Jawabnya.


"Tolong masukkan password anda." Ucap sang kasir.


Gue pun langsung memasukkan password kartu Gue. Setelah selesai gue sekali lagi menunggu barang gue.


Tidak butuh waktu lama, barang dam kartu kredit Gue pun di kembalikan.


"Terimakasih." Ucap sang kasir.


"Sama-sama." Jawab Gue santai lalu pergi sambil membawa tas yang berisikan barang yang gue beli tadi.

__ADS_1


Setelah Gue keluar dari tempat tadi, gue berhenti melangkah karna bingung harus pergi kemana lagi. Tapi tiba-tiba saja Reina berdiri di samping Gue dan bertanya.


"Kita mau kemana?" Tanyanya.


"Hah? Oh...lu mau kemana?" Tanya Gue.


*Baru sekarang dia nanya?* Batin Gue.


"Terserah kamu saja...aku ikut dengan mu." Jawabnya.


*Lah?terus ngapain nanya?* Batin gue kesal.


"Hah...gimana kalau makan? Tadi kita gak sempat makan kan." Ucap Gue.


"Baiklah." Jawabnya dengan tersenyum.


Gue pun langsung melangkah ke salah satu restoran yang ada di mall itu.


Sesampainya kami di restoran, Gue langsung memilih meja yang di sekelilingnya tidak ada orang.


Saat Gue duduk, Reina juga ikut duduk di hadapan Gue. Karna tidak ingin berbicara sepata katapun, Gue akhirnya langsung melihat-lihat buku menu yang sudah di sediakan oleh pelayan.


Setelah selesai memesan makanan, pelayan itu pun pergi dan sekarang hanya tinggal Gue dan Reina berdua saja.


*Hah...canggung.* Batin Gue.


*Tapi...rada nyesal juga sudah jadi fansnya Bran, luar dan dalamnya sangat berbeda. Lain kali Gue gak akan buat Komik yang modelnya dia. Malas!* Batin Gue.


"Hah..." Gue tiba-tiba menghela nafas.


Reina yang mungkin merasa bingung karna Gue yang tiba-tiba menghela nafas, ia sontak menatap Gue.


"Kamu kenapa?" Tanyanya.


"Gue? Gak papa." Jawab Gue.


"Maaf..." Sahutnya.


Gue yang mendengar itu, sontak menatapnya dengan mata yang membulat karna terkejut.


"Maaf? Kenapa?" Tanya Gue bingung.


"Maaf atas perilaku Bran kepada mu." Jawabnya yang sontak tertunduk.


"Lah? Kenapa Lu yang mint maaf? Kan yang salah Bran, bukan Lu." Sambung Gue.


"Karna Bran adalah temanku, jadi aku juga harus meminta maaf kepada mu." Ucapnya.


"Lah? Hah...lupakan, gak usah di bahas lagi." Sahut Gue.


"Hah? Kenapa?" Tanyanya yang sontak menatap Gue.


"Bukan apa-apa, lupakan saja." Jawab Gue yang sudah malas mengingat masala tadi.


*Sudah cukup masalah yang di perbuatan oleh Rasya dan Devan, yang hampir membunuh Bran. Itu saja sudah membuat Gue pusing.* Batin Gue lalu menopang dagu dengan sebelah tangan Gue.


"Hah..." Sekali lagi Gue menghela nafas.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sampai menghela nafas." Tanyanya.


"Hah? Tidak ada." Jawab Gue.


Pelayan pun datang dengan membawakan pesanan kami.


*Penyelamat Gue.* Batin Gue dengan tersenyum kepada pelayan itu.


"Terima kasih." Ucap Gue.


"Terima kasih kembali Nyonya, selamat menikmati." Jawabnya lalu pergi.


Tanpa basa basi lagi, dan karna Gue juga lapar. Gue langsung menyantap hidangan Gue tanpa memerdulikan Reina.


15 menit lamanya Gue menghabisnya semua hidangan yang ada di depan Gue, akhirnya Gue pun duduk dengan santai sambil memainkan ponsel dan memakan dessert yang baru di antar oleh pelayan.


Tapi saat sedang asik melihat-lihat sosmed sambil menyantap dessert Gue. Reina tiba-tiba bertanya.


"Setelah ini kita kemana?" Tanyanya.


"Hah?" Tanya Gue yang terkejut.


"Setelah ini kita kemana?" Tanyanya lagi.


"Oh...entah deh. Ini baru jam 3 kurang. Masih 1 jam lagi Rasya pulang." Jawab Gue.


"Apa kamu ingin menjemput Rasya?" Tanyanya.


"Iya...kalau Gue gk jemput, entar dia pulang sama siapa?" Sambung Gue.


"Oh...apa aku boleh ikut?" Tanyanya.


"Lu? Mau ikut?" Tanya Gue.


"Iya...apa tidak boleh? " Jawabnya.


"Terserah Lu aja." Jawab Gue.


"Tapi...masa kita disini selama sejam? Gak mungkin kan." Lanjut Gue.


"Lalu?" Tanyanya.


"Hah...bagaimana kalau pergi ke cafe di dekat sekolah? Sambil menunggu bel pulang." Jawab Gue.


"Baiklah." Sahutnya.


"Hm...Kalau gitu, yuk." Sambung Gue lalu berdiri.

__ADS_1


"Kemana?" Tanyanya yang menatap Gue.


"Ke kasir, bayar." Jawab Gue lalu melangkah.


"Tunggu!!" Sahutnya.


"Kenapa?" Tanya Gue setelah berbalik melihatnya.


"Biar aku saja yang bayar." Jawabnya.


"Hah?!! Gak usah...gue bisa bayar sendiri." Balas Gue.


"Tidak apa...ini hanya sebagai tanda permintaan maaf ku." Ucapnya lalu melangkah dan melewati Gue.


"Astaga!! Gak ngerti lagi Gue." Gumam Gue lalu berjalan menghampirinya.


Saat sampai di kasir, ternyata Reina sudah membayarnya.


*Nih orang kenapa sih?* Batin Gue sambil menatapnya aneh.


"Yuk." Ajaknya lalu melangkah keluar dengan tersenyum kecil.


"Lah? Nih orang kenapa sih?" Ucap Gue lalu menghampirinya.


***


Sudah 30 menit kami berada di Cafe yang ada di dekat sekolah. Tapi bel tak kunjung berbunyi.


*Begini ya rasanya gak sekolah tanpa Rasya, gak ada yang hibur Gue.* Batin Gue sambil menopang dagu dengan sebelah tangan Gue.


"Raisa..." Tegur Reina.


"Hah? Ya? Kenapa?" Tanya Gue yang sontak duduk dengan tegak.


"Apa aku boleh bertanya?" Tanyanya.


"Hah...kira kenapa, tanya aja kali." Jawab Gue lalu kembali menopang dagu dengan sebelah tangan Gue dan menatap Reina.


"Apa kamu tau tipe wanita yang di sukai oleh Rasya?" Tanyanya yang benar-benar membuat Gue terkejut.


"WHAT?!!!" Teriak Gue yang membuat orang-orang yang ada di dalam cafe itu sontak menatap Gue aneh.


"Hahaha...maaf-maaf." Ucap Gue kepada mereka sambil menunduk karna malu.


"Lu tadi bilang apa?" Tanya Gue ke Reina setelah menenggakan kepala.


"Itu...anu...tipe wanita yang Raisa sukai seperti apa?" Tanyanya.


"Kenapa? Lu suka sama dia?" Tanya Gue.


"Hah?? Ti-tidak...a-aku hanya ber-bertanya." Jawabnya gagap.


"Oh...bertanya, ya? Menurut Gue sih tipe idealnya, yang mau nerima dia apa adanya." Sambung Gue.


"Hanya itu?" Sahutnya.


"Dia juga suka sama cewek yang cuek, tapi perhatian sama dia. Suka cewek yang jujur, tampil sederhana, dan tentu saja tidak boros." Jawab Gue.


"Lalu?" Tanyanya.


"Dia juga mau ceweknya nanti bisa nerima Gue sebagai adeknya, karna Rasya itu lebih milih Gue dari pada apapun. Rasya juga mau ceweknya bisa ngertiin dia, kalau Gue juga prioritasnya bukan cuma ceweknya." Lanjut Gue.


"Maksud mu, Rasya tidak akan memperdulikan wanitanya?" Sambungnya.


"Hah? Bukan itu maksud Gue, Rasya tentu saja akan memperdulikan ceweknya. Tapi jika dia harus memilih, antara ceweknya dan Gue. Pasti ia akan memilih Gue, itu sudah prinsipnya dari awal." Jawab Gue.


"Oh...baiklah." Balasnya.


"Apa Lu tertarik denganya?" Tanya Gue.


"Iya." Jawabnya.


"Hah...Ti-tidak kok!!! aku hanya bertanya saja." Lanjutnya.


"Oh...oke." Jawab Gue lalu bersandar ke dinding.


"Apa aku boleh bertanya lagi?" Sambungnya.


"Silahkan." Jawab Gue.


"Apa Rasya akan menerima wanita yang sibuk dengan pekerjaannya?" Tanyanya.


"Ya iya lah, dia malah suka sama cewek yang pekerja keras. Mungkin saja ia akan membantu cewek itu untuk menyelesaikan pekerjaannya." Jawab Gue.


"Ta-tapi...kalau wanita yang akan memimpin perusahaan, bagaimana?" Tanyanya lagi.


Sangking anehnya pertanyaan yang si ajukan oleh Reina, Gue sontak menegangkan badan Gue lalu menatapnya serius.


"Maksud Lu? Memang perusahaan apa yang sampai Rasya tidak menyukainya?" Tanya Gue serius.


"Pe-perusahaan yang kerjaannya hanya bisa membuat perusahaan lain bangkrut." Jawabnya.


"Maksud Lu? Perusahaan Papi Lu? Yang selama ini Lu sembunyikan?" Tanya Gue.


"Sumpah...Gue gak ngerti sama apa yang Lu bilang, Gue benar-benar gak tau apa yang Lu maksud." Sambung Gue yang mulai bingung dengan semua yang di jelaskannya.


"Aku sudah pernah bilang kepadamu, kalau Papi ku memiliki musuh yang banyak karna masalah bisnis." Ucapnya.


"Jadi?" Sahut Gue.


"Aku akan menjelaskannya, tapi kamu berjanji untuk tidak memberitahu siapapun." Sambungnya .


"Baiklah." Jawab Gue serius.


"Papi Ku adalah..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2