
Setelah sampai di Hotel bibi Angel gue dan Rasya langsung di sambut dengan hangat oleh para karyawan dan tentu saja bibi Angel juga ikut menyambut kita. Karna kita akhir-akhir ini sudah tidak pernah meluangkan waktu untuk membantu bibi Angel mengurus Hotel dan untuk bersenang-senang di hotel pun kita tidak ada waktu.
"Selamat datang 2 keponakan kembar bibi." sambut bibi lalu memeluk sekilas kami berdua.
"Makasih bi, masih mau menerima kita di sini, yakan Sya." saut gue sambil menyenggol Rasya dan ia hanya membalas dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Masa wakil Direktur Hotel gak diterima disini sih." ucap bibi Angel.
Sesuai dengan ucapan bibi Angel, gue dan Rasya itu punya posisi yang tinggi di Hotel mereka, posisi wakil Direktur siapa yang mengira akan mendapatkan nya semudah itu? Tapi posisi gue dan Rasya ini sama sekali gak di gaji, tapi setiap bulannya bibi Angel selalu mengirimi kami uang ke rekening kami masing-masing, bukan sebagai gaji tapi sebagai uang jajan bulanan doang. Tapi kenapa harus di kasih posisi wakil Direktur? Ya karna gue dan Rasya tuh sering ngebantu bibi buat ngurusin hotel dan untuk berjaga-jaga siapa tau ada seseorang yang meremehkan kami makanya posisi wakil diretur itu diberikan kepada kami dengan sangat mudah. Maka dari itu gue gak mau kalo sampai bibi Angel punya anak dan posisi gue sama Rasya malah di gantiin sama tuh orang, apalagi kalau sampai anak itu anak asuhan dari panti asuhan, itu yang paling gue gak suka karna kan di keluarga kami itu masalah jabatan atau warisan harus orang yang punya ikatan darah alias sekeluarga.
"Yakan siapa tau posisi kita berdua diganti karna kita udah gak pernah kesini." ucap gue santai.
"Ya gak lah sayang, posisi ini sudah bibi berikan ke kalian dan bibi sedang memproses bagian kalian di hotel ini." jawab bibi Angel yang bikin gue dan Rasya kaget lalu saling menatap.
Ini beneran? *batin gue.
Mana gue tau. *batin Rasya.
Tapi kalau beneran bakal nambah lagi kerjaan kita. *batin gue.
Ya gakpapa lah, yang penting duit lancar, ****. *batin Rasya.
Ais bener juga sih lu, lu pinter juga ya bang. *batin gue.
Lu yang *****, gue mah selalu pintar. *batin Rasya.
Bodo! *batin gue.
"Sayang duduk dulu ya." saut bibi Angel lalu kami ikut duduk dengannya.
"Tapi bi, kita kan jarang kesini, terus bibi tau kan kita sudah kelas 12 pasti sibuk dan kita juga punya kerjaan masing-masing." ucap gue yang bikin Rasya natap gue tajam.
Lu kok ***** sih *batin Rasya.
Yakan gue cuma nanya, salah gitu? *barin gue.
Ya salah lah *****, aduh kok punya adek kaya lu sih. *batin Rasya sambil menepuk jidat nya.
Siapa juga yang mau punya abang kaya lu. *Batin gue.
"Ya gak papa sayang, kalian kesini kalau ada waktu aja, dan masalah Hotel kan bibi bisa ngobrol dengan kalian saat pertemuan keluarga atau saat bibi kerumah kalian." jawab bibi Angel dengan santai.
"Baiklah bi, aku sama Rasya akan berusaha untuk membagi waktu kita ke hotel ini juga."
"Nah anak pintar, yasudah kalian kekamar saja, nanti kalau ingin sesuatu hubungi Manajer hotel saja." ucap bibi lalu berdiri dan kami pun ikut berdiri.
"Baik bi, kami pergi dulu." jawab gue dan Rasya serentak lalu pergi ke kamar hotel kita.
Saat sampai dikamar hotel, gue langsung melemparkan diri gue ke atas ranjang sedangkan Rasya langsung membuka lemari es dan mengambil minuman dingin.
__ADS_1
"Bang ambilin gue Sprite dong." ucap gue sambil duduk di ranjang.
Rasya hanya diam lalu menyodorkan gue sebotol sprite dan dia sontak menarik kursi kedepan gue dan duduk di kursi itu.
"Ngapain?" tanya gue sambil membuka botol sprite lalu meminum nya.
"Urusan kita belum selesai sayang." jawab Rasya.
****** gue. *batin gue.
"Iya lu bakal ******." saut Rasya yang bikin gue kaget.
"Hoooaaam!!" gue pura-pura ngantuk.
"Gak usah belajar buat nipu abang lu."
"Salah gue apasih bang?"
"Salah lu?!"
"Iya-iya gue salah, gue salah tadi malah ngebela Devan dari pada lu." jawab gue lalu meletakkan botol sprite di meja samping ranjang gue.
"Bukan itu aja bangkee, lu tadi malah santai banget udah mau dibawa pergi sama orang, dan lu malah kek biasa aja, terus lu gak pernah dengerin gue dan percaya sama gue kalo Devan itu mafia, lu bener-bener gila dah."
"Bukan nya gue gak percaya nih bang, ya lu mikir lah masa anak SMA seorang mafia, ya gak mungkin lah, dan lagian kan tadi lu udah datang nih buktinya gue baik-baik aja, masa sih gue yang baik-baik aja malah nangis gak jelas, itu mah bukan gue."
"Aaaaakkhh!!!!" teriak gue.
"Gila lu!!!" teriak gue lagi.
"Lu yang gila, pokoknya kita harus buat perjanjian."
"Perjanjian apalagi sih bangke."
"Gue sambil rekam biar ada bukti dan lu gak bisa ngelak lagi." ucap Rasya lalu mengambil ponselnya dan merekam obrolan kita.
"Pertama, lu gak boleh terlalu dekat sama Devan..."
"Gila lu ya!!! Masa gue gak boleh dekat sama pacar gue sendiri." saut gue memotong ucapan Rasya.
"Lu itu ya memang lebih milih pacar lu dari pada abang lu."
"Ya bukan nya gitu tapi kan..."
"Memang gitu lu, abang sendiri gak mau di dengerin." ucap Rasya memotong ucapan gue dan sontak memalingkan pandangan nya dengan ekspresi wajah sedih nya.
"Argh!! Iya-iya apapun perjanjian nya gue ikutin." jawab gue yang tidak tahan dengan ekspresi Rasya.
"Lu gak bisa di percaya Sa." ucap Rasya yang tambah membuat ekspresi sedih nya.
__ADS_1
"Gue janji bakal ikutin perjanjian ini kalau gue melanggar perjanjiannya gue bakal biarin lu keluar masuk kamar gue."
"Itu doang?"
"Mau lu apasih bangkee!!"
"Kalau lu melanggar perjanjian ini, semua duit yang di kasih paman, bibi dan juga kakek harus lu kirim ke rekening gue dan gue bebas mau ngapain aja walaupun bikin lu marah." jawab nya sambil tersenyum miring.
"Iya-iya gue janji." jawab gue pasrah.
"Oke kita lanjut perjanjian nya."
"Kedua, lu gak boleh ngelarang-larang gue buat ikut kemana pun lu pergi."
"Astaga bang, masa gue jalan sama Devan lu juga ikut, gak romantis banget gila." saut gue.
"Gue ikutin lu dari belakang, yakali gue ikut lu di tengah-tengah, gak mau jadi nyamuk gue." jawab nya.
"Ya ya ya, Lanjut yang ke tiga." ucap gue.
"Ketiga, lu harus lapor ke gue apa aja yang lu lakuin, setiap 5 menit sekali gue harus terima laporan."
"Sumpah ini perjanjian atau apasih, gini amat dah sumpah." saut gue.
"Oke itu aja ya adek gue sayang, gue lapar suruh manajer siapin makanan buat kita, suruh antar kekamar aja." ucap Rasya lalu berdiri dan berbaring di ranjang milik nya.
"Ya ya ya." jawab gue pasrah.
Gue pun langsung pesan makanan yang gue mau dan Rasya mau. 10 menit kemudian manajer pun datang dengan pelayan dan membawa semua hidangan yang gue pesan. Tanpa basa basi, gue dan Rasya langsung memakan hidangan itu dengan lahap. Setelah itu gue dan Rasya cuma duduk sambil bermain ponsel masing-masing.
"Oy bang, bosan gue." saut gue.
"Apalagi gue." jawab nya.
"Berenang yuk."
"Baju ganti gak ada ******."
"Tinggal beli aja." jawab gue santai.
"Beli online aja, suruh antar sekarang, tambahin aja bayar ongkir nya biar mau di antar sekarang." saut Rasya.
"Oke deh." jawab gue lalu langsung memesan pakaian yang akan kita pakai terutama baju renang.
Beberapa menit kemudian baju yang kita pesan pun datang dan kita langsung mengganti baju renang dan berjalan ke kolom renang hotel khusus VIP.
Setelah berenang gue dan Rasya memutuskan untuk menginap di hotel dan bibi Angel sudah memberitahu mami papi kalau kita sekarang berada di hotel.
Bersambung
__ADS_1