
"Kita bertemu lagi." Ucapnya dengan tersenyum lebar.
"Sayang...sini duduk." Panggil wanita itu.
Ia pun sontak berjalan menghampiri wanita itu, lalu duduk di tengah-tengah pria dan wanita itu.
"Sayang duduk." Bisik Mami.
Gue dan Rasya pun duduk seperti perintah Mami.
Karna bingung, kenapa bisa Devan yang berada disini dan duduk dengan santai di tengah pasangan itu. Dengan memberanikan diri Gue pun bertanya kepada wanita itu.
"Apa dia Putra anda?" Tanya Gue.
"Iya...dia Leo putra kami." Jawabnya.
"Leo?!!" Sahut Gue dan Rasya bingung.
"Saya akan perkenalkan diri secara resmi." Ucapnya yang sontak berdiri.
"Perkenalkan saya Leo Adrean Willson, Putra dari Kevin Willson dan Kim Ae-Ra." Ucap Devan lalu membungkuk dan kembali duduk.
"Hah? Leo?" Sahut Gue yang bingung.
"Ada apa Raisa?" Tanya Devan yang menatap Gue dengan tersenyum kecil.
"Apa saya boleh bicara berdua dengan Putra anda?" Tanya Gue ke wanita itu.
"Oh...tentu saja boleh, kalian memang harus bicara berdua kan." Jawabnya.
Mendengar itu, Gue sontak berdiri dan menghampiri Devan lalu menarik tangannya.
"Saya pinjam sebentar putranya." Ucap Gue lalu menarik Devan ikut dengan Gue.
Gue menarik Devan sampai ke dapur. Bukannya ke tempat lain, malah pergi ke dapur dan menyuruh pelayan untuk pergi.
Saat di dapur, Gue sontak melepas tangan Devan lalu menatapnya tajam.
"Apa sih yang Lu pikirin?! Lu itu dikit-dikit buat masalah mulu, gak capek lu?!! Asal datang kerumah tanpa ngabarin Gue terus Lu malah bawa orang tua Lu?! Gak ngerti lagi Gue!!!" Geram Gue.
"Dengerin aku dulu sayang–"
"STOP!!" Teriak Gue memotong ucapannya.
"Jangan panggil Gue sayang, sekarang lagi serius bukan lagi bercanda. Ngomong seperti biasa tanpa kata Aku, Kamu, atau pun Sayang." Lanjut Gue
__ADS_1
"Baik." Jawabnya.
"Sudah 2 bulan Gue merencanakan ini, Gue ingin memberitahu Lu segalanya. Gue juga ingin mengajak Lu bertunangan." Lanjutnya.
"Lu gila?!! Tunangan lu bilang?!! Gila Lu!!!" Geram Gue.
"Gue tau Lu pasti kaget, tapi–"
"Ya iya lah!! tapi Lu malah tetap kesini tanpa tanpa memberitahu Gue?!!" Potong Gue.
"Kalau Lu selalu memotong ucapan Gue, gimana Gue bisa jelasin?" Sahutnya.
"Bodo...sekarang jelasin, sejelas-jelasnya." Ucap Gue.
"Iya...Gue hanya ingin bertungan dengan Lu, kalau Lu belum siap untuk nikah yaudah tunggu Lu udah siap aja. Gue gak peduli mau berapa lama Gue nunggu Lu siap, yang penting Lu udah sah jadi tunangan Gue. Gue mau berbuat apapun untuk Lu, apapun yang Lu mau Gue bakal turutin, asal Lu nerima pertunangan ini." Jelasnya.
"Dev...Gue tau Lu gak mau ngelepas Gue, Gue juga gitu. Tapi setidaknya di antara kita gak ada rahasia, gue gak bakal marah kayak sekarang kalau Lu ngejelasin lebih awal. Gue bakal nerima kok, karna Gue tau Lu akan berbuat apapun demi Gue. Tapi Gue cuma mau di antara kita gak ada rahasia sama sekali." Sambung Gue.
"Lu pikir Gue gak kaget? Tiba-tiba Lu datang kesini sama orang tua lu, terus Lu malah bilang nama Lu Leo? Berarti dari awal Gue bukn suka sama Lu? gue suka sama orang yang bernama Devan tapi itu bukan Lu kan?" Lanjut Gue.
"Gak-gak...itu Gue, Devan hanya nama samaran saja. Itu hanya nama kedua Gus saja, Gue ering menggunakan nama itu kok, tapi nama asli Gue Leo." Sahutnya.
"Nah...dari awal di antara kita itu hanya kebohongan kan? Gue gak suka itu, Dev." Ucap Gue.
"Maaf...bukan maksudnya Gue mau berbohong ke Lu, Gue hanya butuh waktu buat ngejelasin semuanya. Gue takut Lu gak nerima Gue." Jawabnya.
Tapi sebelum Gue melangkahkan kaki Gue, Devan lebih dulu menahan tangan Gue.
"Jangan pergi..." Lirihnya.
"Hah...Gue gak pergi, Gue hanya ingin kembali ke orang tua kita. Gue ingin memberitahu mereka tuangan ini akan di–"
Sebelum Gue menyelesaikan ucapan Gue, Devan sontak menarik Gue ke dalam pelukannya.
"Dev..." Ucap Gue.
"Tolong...jangan nolak Gue, Gue gak mau bertunangan sama cewek selain Lu. Gue cuma sayang sama Lu, Gue mohon." Pintanya yang memeluk Gue dengan sangat erat.
"Hah...Gue tidak ingin menolak Lu, Gue hanya ingin mengundur pertunangan ini. Gue harus berpikir lagi, dan Gue mau Lu harus ngejelasin segalanya. Segalanya tanpa ada yang tersisa sedikit pun, Gue gak mau ada rahasia lagi." Jelas Gue.
"Ta-tapi–"
"Dev..." Potong Gue lalu melepas pelukan Devan dan menatapnya.
"Tenang...Gue gak akan nolak Lu, Gue percaya sama Lu. Gue yakin Lu akan menjadi tunangan yang baik." Lanjut Gue.
__ADS_1
"Ba-baik." Jawabnya.
"Yaudah kita pergi sekarang?" Ajak Gue.
"Iya." Balasnya.
Kami pun bersama-sama kembali ke ruang tamu. Saat kami berjalan menghampiri mereka, mereka sontak menatap kami.
Gue pun duduk di tempat Gue tadi, begitupun Devan. Gue mencoba memberanikan diri dan berbicara kepada orang tua Devan.
"Maaf...saya masih tidak siap untuk ini, saya butuh waktu untuk kembali membicarakan pertunangan ini." Ucap Gue sambil menunduk.
"Tapi sayang–"Sahut Mami yang terpotong karna Gue sontak menatapnya.
"Tolong...hargai keputusan Raisa, Mi." Sambung Gue lalu sontak menatap ke arah Devan.
"Saya juga ingin mengundur pertunangan ini, saya membutuhkan waktu untuk menjelaskan segalanya kepada Raisa." Ucap Devan.
"Tapi kenapa, sayang?" Tanya Wanita itu.
"Kan sudah Papi bilang untuk tidak terburu-buru." Sahut Pria itu yang sontak di tatap tajam oleh wanita itu.
"Ma-maaf." Ucapnya kepada sang Istri.
"Hm...baiklah, kalau memang kalian maunya seperti itu, kami tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hubungi kami jika kamu sudah siap untuk pertunangan ini." Jelas Wanita itu.
"Ba-baik...maaf kan saya." Ucap Gue.
"Kalau begitu kam akan langsung pergi." Sambung wanita itu lalu berdiri.
Pria itu dan Devan pun ikut berdiri juga. Begitupun Gue dan Keluarga Gue, kami juga ikut berdiri.
"Mari kami antar." Ucap Papi.
"Baik." Jawab wanita itu.
Kami pun berjalan bersama-sama sampai ke mobil mereka. Gue terkejut saat melihat di luar. Ada beberapa mobil hitam dan segerombolan orang yang pernah Gue temui saat di sekolah.
*Itu bodyguard atau apa?* Batin Gue bingung.
"Sampai jumpa nanti, ya sayang." Ucap wanita itu ke Gue.
"I-iya, Nyonya." Jawab Gue.
Pria itu lebih dulu masuk kemobilnya dengan satu orang yang membukakan pintu mobil untuknya. Sedangkan Devan dan wanita itu masih berdiri di hadapan kami.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba saja wanita itu menyuruh Gue maju selangkah ke dia. Gue pun menuruti apa yang ia perintahkan, tapi tiba-tiba saja ia mendekat dan berbisik sesuatu di telinga Gue.
Bersambung