
"Di-dia siapa?" Tanya Gue lagi sambil menujuk lelaki itu.
"Oh ini... Kenalin namanya Bran." Jawab Reina dengan tersenyum.
"Dia teman kamu?" Tanya cowok itu ke Reina.
"Hahaha... Iya dia teman aku." Jawab Reina sambil menatap cowok itu dengan tersenyum lebar.
"Akhirnya punya teman juga." Ucap cowok itu lalu mengacak-acak rambut Reina.
"Stop Bran... Jangan menghancurkan rambut ku lagi." Protes Reina.
*Gu-gue jadi nyamuk?* Batin Gue yang kesal melihat kemesraan mereka.
"Oh ya... Kenalin, dia Rasya kakak dari teman ku yang pertama di indonesi." Sambung Reina.
"Halo... Saya Bran." Sapa cowok itu sambil menyodorkan sebelah tangannya.
Gue hanya bisa menatap mereka, gue gak bisa mengeluarkan suara Gue. Bergerak saja rasanya tidak bisa.
"Sya?" Tegur Reina.
"Hah?" Gue yang baru tersadar.
"Ha-halo... Saya Rasya." Balas Gue sambil berjabat tangan dengan cowok itu.
Tanpa lama-lama Gue langsung melepaskan tangan Gue.
"Kamu lagi apa, Sya? Kok berdiri di depan pintu ku?" Tanya Reina.
"Hah? Oh... Gak ada kok, cuma mau nyapa doang." Jawab Gue.
"Oalah. Kamu udah se–"
"Rei... Aku kebelet." Potong Cowok itu.
"Oh... Iya, yaudah kita masuk dulu ya, Sya. Sampai jumpa." Jawab Reina lalu melewati Gue dan masuk ke kamarnya bersama cowok aneh itu.
*Si-siapa? Itu siapa?* Batin Gue.
Gue langsung masuk ke kamar dan duduk di depan Raisa dengan perasaan marah.
"Lu kenapa?" Tanya Raisa.
"Kenapa?" Tanya Gue malas.
"Aneh nih orang, baru sembuh udah sakit aja." Gumam Raisa.
"Sa!!" Teriak Gue sambil memukul meja dengan keras.
"A-apaan, sih?!!!" Teriaknya yang terkejut.
"Reina itu punya saudara?" Tanya Gue.
"Mana Gue tau. Gue kan ikan." Jawabnya.
"Serius, anjim!!" Geram Gue.
"Santai-santai." Balasnya.
"Setau Gue sih... Dia anak tunggal." Lanjutnya.
"Iya kan? Terus tuh cowok siapa? Masa pacarnya." Duga Gue.
"Atau jangan-jangan... Tunangannya?" Lanjut Gue.
Tiba-tiba Raisa memukul kepala Gue dengan bukunya.
"Sa-sakit..." Lirih Gue.
"Cowok siapa sih? Lu halu ya?" Tanyanya.
"Gue serius!! Tadi pas Gue lagi ngetuk pintunya Reina, awalnya gak ada orang. Terus pas Gue mau balik ke kamar, saat Gue berbalik ke lorong–" Jawab Gue.
__ADS_1
"Gak usah banyak bacot!! Lansung intinya." Potongnya.
" Tadi tuh, Reina datang bareng cowok. Entah dia dari mana, tapi tadi tuh cowok dekat banget sama Reina. Udah kayak pacaran aja." Lanjut Gue.
"Lah terus? Peduli apa Lu?" Tanyanya.
"Jangan becanda, anjim!! Gue serius!! Dari tadi becanda mulu!!!" Geram Gue.
"Ya maaf, abisnya lu aneh." Jawabnya.
"Jadi intinya... Tadi Lu liat cowok bareng Reina? Terua mereka mesra banget gitu?" Lanjutnya.
"Iya!!!" Teriak Gue.
"Lu kenapa sih?!! Teriak mulu!!" Murkanya.
"Ya ma-maaf. Habisnya gak suka Gue sama tuh cowok." Jawab Gue.
"Lu cemburu?" Tanyanya.
"Cemburu? Gue? Ma-mana mungkin." Jawab Gue lalu mengalihkan pandangan Gue.
"Yakin?" Tanyanya lagi.
"I-iya!" Jawab Gue yang takut menatap Raisa.
"Gak jujur. Gak gue bantu." Ancamnya.
"Hah?!! I-iya-iya. Gue cemburu, gue takut Reina di ambil orang!!" Teriak Gue setelah berbalik menatap Raisa.
"Cih... Dasar!" Gumamnya.
"Lu kira Reina barang, apa? Di ambil orang mata Lu." Sambungnya.
"Serius nah, Sa." Ucap Gue murung.
"Hah... Dasar!! Lu mau apa dari Gue?" Tanyanya.
"Nah... Gue mau loh tolongin Gue.' Jawab Gue.
"Jadi... Sebentar lagi kan makan siang tuh, Lu ajakin Reina makan bareng sama kita. Pasti dia bakal ajak tuh cowok." Jawab Gue.
"Lah terus? Kalau udah di ajak makan mau ngapain? Suruh cuci piring?" Herannya.
"Ya gak, gitu. Pas kita sudah kumpul berempat, nanti Lu tanyain sih Reina. Cowok itu siapa sih? Terus dia ada hubungan apa sama Reina? Terus kenapa dia bisa ada di sini?" Sambung Gue.
"Yaelah... Langsung tanya aja kenapa sih, susah banget." Ucapnya.
"Tolong... Masa Lu mau Abang Lu galau lagi, gak kan?" Tawar Gue.
"Hah... Iya-iya." Jawabnya pasrah.
"Oke makasih, adek Gue tersayang." Balas Gue lalu berdiri dan memeluknya.
"Lepas, gak? Gue mau baca." Ancamnya.
"Iya-iya." Jawab Gue lalu melepaskan.
Gue pun berjalan ke arah ranjang Gue dan berbaring sebentar sambil menunggu waktu makan siang.
Tanpa sadar Gue malah memejamkan mata Gue dan tertidur.
RAISA POV*
Setelah membaca satu novel romance. Gue pun memutuskan untuk mengganti seragam sekolah yang mulai tadi gue pakai.
"Hah... Gara-gara Rasya, sampai lupa ganti baju." Gumam Gue lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Gue lebih dulu menyalakan musik untuk menghibur di siang hari yang sunyi ini.
Sebenarnya tidak baik untuk berendam di bathtub saat siang hari. Tapi Gue sangat ingin berendam walaupun hanya sebentar.
"Sekali aja gak papa, kali." Gumam Gue lalu masuk ke dalam bathtub.
__ADS_1
***
Tak lama kemudian Gue pun selesai berendam lalu keluar dari kamar mandi.
Saat Gue berjalan ke arah lemari pakaian, Gue baru sadar kalau Rasya sedang tertidur dengan sangat lelap.
"Dasar orang aneh." Gumam Gue lalu mengambil pakaian dari dalam lemari dan kembali lagi ke kamar mandi untuk memakainya.
Setelah Gue keluar dari kamar mandi. Gue memutuskan untuk membangun kan Rasya, karna sebentar lagi sudah waktunya makan siang.
"Sya... Bangun." Ucap Gue sambil mengelus kepalanya.
"Hm..." Dehemnya.
"Lu gak bangun, gak jadi gue tolongin." Ancam Gue.
Dia sontak terbangun dan duduk dengan mata yang masih setengah terbuka.
"Cuci muka dulu." Perintah Gue.
"Iya." Jawabnya tapi tidak bergerak sama sekali dari ranjangnya.
"Woi!!!" Teriak Gue.
"Hah?!! A-apaan?!!" Teriaknya yang membuka matanua dengan lebar.
"Bangun... Cuci muka, setelah itu kita ajak Reina makan siang." Ucap Gue.
"Iya-iya." Jawabnya lalu turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi.
Tak butuh waktu banyak untuk mencuci muka, Rasya pun keluar dari kamar mandi. Tapi anehnya dia malah menuju meja rias Gue.
"Lu ngapain?" Tanya Gue yang sedang duduk di kursi sambil menatapnya aneh.
"Mau ngaca, ngeliat muka orang paling tampan." Jawabnya narsis.
"Serah!" Balas Gue malas.
Tak lama kemudian, Rasya pun menghampiri Gue.
"Buruan!" Ucapnya.
"Dia yang lama, dia yang nyuruh orang buru-buru. Aneh!" Gumam Gue lalu berdiri.
Kami pun berjalan keluar kamar. Saat di depan kamar Reina, tentu saja Gue yang harus mengetuk pintunya. Gak mungkin Rasya yang mengetuk lagi.
Tak butuh waktu lama untuk Reina membuka pintunya. Reina yang berdiri di depan pintu dan masih menggenggam gagang pintu itu.
"Ada apa, Sa?" Tanyanya.
"Mau makan siang bareng, gak?" Ajak Gue.
"Iya mau. Tapi Aku boleh ajak orang lagi?" Tanyanya.
"Boleh kok, ajak aja." Jawab Gue sambil tersenyum lalu melirik Rasya.
"Tunggu bentar, ya. Aku panggil dia dulu." Ucap Reina lalu masuk tapi membiarkan pintunya tetap terbuka.
"Lu bisa santai, gak?" Tanya Gue ke Rasya.
"Hah? Gue?" Tayanya linglung sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi... Masa hantu." Jawab Gue.
"Gue udah santai, kali. Hahaha." Balasnya.
"Serah." Jawab Gue malas.
Reina pun menghampiri kami lagi, kali ini di belakangnya ada seseorang yang mengikutinya.
"Ayo." Ajak Reina dengan tersenyum.
Saat cowok itu berdiri di samping Reina, Gue terkejut dengan apa yang Gue lihat.
__ADS_1
"Bu-bukannya Lu..." Ucap Gue sambil menunjuk cowok itu.
Bersambung