
RAISA POV*
Malam hari di pertama pindah ke Hotel dan pertama kali bisa bareng teman Gue.
Karna Reina tinggal di kamar Hotel yang berada di depan kamar Gue dan Rasya, jadi Gue lebih memilih bermain di kamar Reina dari pada dengan Rasya yang hanya asik dengan Gamenya.
~Di Kamar Reina~
"Rei Lu gak bosan cuma duduk doang, sambil mandang keluar jendela?" Tanya Gue yang sedang berbaring diatas ranjang Reina dengan posisi Badan yang tengkurap sambil menopang dagu dengan kedua tangan Gue.
"Gak, aku jarang bisa melihat langit malam dengan santai seperti ini." Jawabnya santai.
"Emang Lu gak pernah santai, gitu?" Tanya Gue yang bingung maksud dari perkataan Reina.
"Bisa di bilang seperti itu. Terlalu banyak pengganggu yang selalu memantau ku." Jawabnya lagi-lagi dengan santai dan masih saja memandang keluar jendela.
"Pengganggu? Memantau? Maksud Lu apa?" Tanya Gue yang makin bingung dengan perkataan Reina.
"Terlalu panjang kalau di ceritakan." Jawab Reina.
"Singkatnya aja, atau inti dari cerita lu aja." Ucap Gue.
"Hmm... Intinya sih, keluarga ku terlalu aneh. Sampai Aku juga yang menjadi sasaran dari musuh-musuh mereka." Jawabnya singkat dan santai.
"Maksud Lu, keluarga Lu itu terlalu berbahaya sampai-sampai ada orang yang ingin melenyapkan Lu dan Keluarga Lu?" Sambung Gue.
"Bisa di bilang seperti itu, Tapi tidak juga. Keluarga dari Mami ku cukup Berbahaya dalam urusan bisnis, Tapi Keluarga Papi ku memang berbahaya." Ucap Reina yang membuat Gue tambah bingung.
"Urusan keluarga Lu beda-beda? Terus yang Lu bilang pengganggu dan memantau itu yang Lu maksud keluar dari Papi Lu?" Tanya Gue.
"Ya, Orang Tua ku sudah berpisah. Pengganggu itu terkadang dari musuh Papi ku, sedangkan memantau atau memata-matai itu dari Mami dan Papi ku." Jawabnya.
"Maaf, Gue gak tau kalau ortu Lu udah pisah." Ucap Gue merasa bersalah.
"Santai saja, itu hal yang wajar bagi 2 keluarga yang berbeda dalam urusan bisnis." Sambungnya dengan santai.
"Oh ya Rei, Ini udah waktunya makan malam." Ucap Gue mengalihkan topik.
"Kalau begitu, kita kebawa yuk. Aku memang lapar mulai tadi." Jawab Reina lalu mulai bangkit dari posisi duduknya tadi dan menghampiri lemari bajunya.
"Baju-baju Lu udah di antar?" Tanya Gue.
"Udah tadi sama pelayan Aku." Jawabnya sembari mengambil sebuah Cardigan rajut lalu langsung ia gunakan.
"Yuk." Ajak Reina.
Saat kami keluar dari kamar Reina, ternyata Rasya juga baru keluar dari kamar.
"Mau kemana Lu?" Tanya Rasya.
"Makan, Lu?" Tanya Gue balik.
"Sama." Jawabnya.
"Yaudah bareng." Saut Gue.
"Ngikut." Ucap Rasya.
Kami pun turun bersama-sama menuju Restoran. Saat keluar dari Lift kami tiba-tiba bertemu para Manajer yang sepertinya ingin kelantai atas.
"Selamat malam, Wakil Direktur." Sapa salah satu Manajer sambil menunduk.
"Malam, Kalian ingin kemana?" Tanya Gue.
"Kami ingin bertemu dengan, Anda." Jawab salah satu Manajer.
"Ada apa?" Tanya Gue lagi.
"Ada hal mendesak yang harus kami sampaikan. Jika Anda tidak sibuk, kami berniat mengajak Ibu dalam Rapat ini." Jawabnya.
"Hmm... Baiklah saya akan ikut rapat dengan kalian, sekarang persiapkan dulu ruang rapat dan berkas-berkas yang di butuhkan" Ucap Gue.
"Baik, Wakil Direktur." Jawab para Manajer sambil menunduk.
"Saya akan menyusul ke ruang rapat, 5 menit lagi. Kalian silahkan langsung ke ruang rapat." Perintah Gue.
"Baik, kalau begitu kami izin undur diri." Jawab salah satu Manajer.
"Silahkan." Balas gue.
Mereka pun pergi menujur ruang rapat. Sedangkan Rasya dan Reina hanya bisa menatap Gue, seperti ingin bertanya tapi tidak berani mengganggu perbincangan Gue dan para Manajer.
"Kalian makan berdua aja ya. Gue nitip Reina, Bang." Ucap Gue.
"Lu belum makan malam, masa langsung rapat. Setidaknya lu makan sedikit dulu." Saut Rasya.
"Gue gak terlalu lapar, Bang. Lagian kayaknya rapatnya penting banget, jadi mending gue ikut rapat dari pada ada masalah nantinya. Masalah makanan, nanti Gue suruh Pelayan Hotel bawain ke kamar." Jawab Gue.
"Rei, Lu makan berdua sama Abang Gue dulu ya. Jangan jauh-jauh dari dia, bahaya nanti Lu ada apa-apa lagi." Sambung Gue.
"Bahaya apanya, di Hotel ini keamanan terjamin. Ngapain juga Lu bilang gitu." Saut Rasya.
"Dah lah, bacot mulu lu. Gue sibuk, lain kali Lu harus ikut rapat juga, Bang." Jawab Gue.
"Yaelah, baru kali ini juga Lu rapat sendiri, biasa juga bareng Bibi atau Gue." Ucap Rasya.
"Bodo!! Dah Gue mau pergi, Gue nitip Reina. Jangan sampai Lu cuekin dia, Gue usir Lu dari kamar." Ancam Gue.
"Serah-serah, buru sana." Balas Rasya.
"Lu yang anteng ya, Rei. Walaupun Abang Gue aneh dia tetap Baik kok." Ucap Gue ke Reina.
__ADS_1
"Pergi Lu sana!!" Teriak Rasya mendorong Gue masuk ke dalam Lift.
"Bye!! sampai jumpa besok, Rei." Saut Gue.
Lift pun tertutup. Gue khawatir masalah apa yang sampai membuat para Manajer rapat saat jam makan malam seperti ini. Walaupun Gue sudah sering menghadiri rapat yang masalahnya cukup rumit, tapi karna ini Gue hadapi sendiri tanpa bantuan dari Rasya dan Bibi. Gue mulai khawatir.
Gue pun sampai di Ruang rapat, dan ya para Manajer sudah sibuk dengan kertas-kertas yang mereka genggam masing-masing dengan wajah yang pucat.
RASYA POV*
Gue baru kali ini berdua bareng anak baru. Jika saja Raisa tidak menyuruh Gue menjaga Reina, mungkin Gue sudah pergi ke kamar sendiri. Biar para pelayan yang mengirim kan makanan ke kamar Gue.
Kami pun sampai di salah satu Restoran di Hotel ini. Gue ingin memilih meja di pojok ruangan, tapi meja itu sudah terisi oleh tamu lain yang sedang bermesraan.
"Kita duduk di sana aja ya." Ucap Gue ke Reina sambil menunjuk Meja yang berada di tengah.
"Iya." Jawabnya.
Kami pun duduk dengan posisi yang berhadapan, tak. Lama kemudian pelayan pun datang.
Gue memesan makanan utama, yaitu Nasi goreng, sedangkan disert gue memesan sepotong cake coklat.
Reina memesan makanan utama, yaitu Sup, sedangkan disert nya ia memesan sepotong Ice Cream.
Setelah pesanan selesai di catat, kami pun menunggu pesanan kami sambil bermain ponsel. Tanpa berbicara satu sama lain.
Gue merasa aneh, karna di meja makan tidak ada Raisa yang selalu Gue ganggu. Seperti ada sesuatu yang kurang saat makan malam ini.
Rasanya, Gue ingin sekali menjemput Raisa di ruang rapat lalu menunda rapat itu. Agar Raisa bisa makan bareng Gue lagi.
"Ada yang berbeda ya? Karna tidak ada Raisa." Ucap Reina yang membuat Gue kaget. Karna ia seperti sedang membaca isi hati Gue.
"Hah? Bukan berbeda, malah lebih ke aneh. Kenapa Gue malah makan berdua bareng Lu?" Jawab Gue.
"Hmm... Tidak tau, aku tidak bisa menolak perkataan Raisa tadi." Balasnya.
"Lu kok nurut banget sih sama dia? Emang Lu pelayannya gitu?" Oceh Gue.
"Mungkin karna dia teman pertama ku. Sedangkan kamu? Kenapa nurut juga dengan perkataan Raisa?" Tanyanya.
"Ya–ya karna dia adek Gue lah." Jawab Gue.
"Oh." Ucapnya.
*Disisi lain, Raisa yang sedang sibuk dengan Rapat. Tiba-tiba merasakan ada seseorang yang sedang membicarakannya.
Tidak lama kemudian, pesanan kami pun mulai di hidangkan di atas meja. Gue tanpa berbicara lagi, langsung memakan makanan yang ada di hadapan Gue.
"Pelan-pelan." Tegur Reina.
"Uhuk Uhuk." Gue yang tersedak karna kaget mendegar Reina yang berkata seperti itu.
"Udah aku bilang, pelan-pelan kan. Nih minum." Ucap Reina sambil memberikan Gue segelas Es teh miliknya.
"Thanks." Ucap Gue sambil memberikan kembali gelas es teh yang sudah habis setengah.
"Ya, No Problem." Jawabnya sambil menerima gelas itu.
Reina tiba-tiba memanggil pelayan, dan memesan segelas es teh lagi. Disitulah Gue tersadar bahwa yang tadi Gue minum adalah milik Reina.
*Bodoh banget, Gue.* Batin Gue sambil menepuk jidat Gue dengan pelan.
Gue ingin cepat menyelesaikan kekonyolan ini, lalu kembali kekamar sambil bersantai dan menunggu Raisa selesai dengan urusannya.
***
Gue dan Reina pun kembali ke kamar masing-masing.
Saat di kamar, Gue langsung melemparkan diri Gue ke Kasur sambil menghela nafas panjang.
"Hari ini memang sangat aneh, di tambah lagi sangat sial." Gerutu Gue lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana Gue.
"Raisa masih lama gak, ya?" Gumam Gue sambil bermain ponsel.
Karna abis makan, tiba-tiba Gue merasa ngantuk. Tapi karna harus menunggu Raisa kembali, Gue tetap bertahan untuk tetap terjaga sambil bermain ponsel.
Tapi tidak bertahan lama. Gue akhirnya ketiduran dengan ponsel yang masih menyala di samping Gue.
RAISA POV*
Pukul 22.23
Rapat yang mendesak dan cukup lama pun, akhirnya selesai dengan hasil rapat yabg sesuai dengan harapan para Manajer dan juga Gue.
Gue pun kembali ke kamar dengan perut yang masih lapar walaupun saat rapat tadi kami sempat makan malam bersama.
Tentu tak lupa Gue meminta salah satu pelayan yang Gue temui saat di jalan ingin ke kamar, untuk mengantar makan lama ke kamar gue.
Gue akhirnya sampai di kamar, saat di kamar Gue terkejut melihat Rasya yang tertidur dengan posisi terbalik.
"Astaga nih anak, tidur kok malah terbalik gini sih." Gerutu Gue.
"Pasti ketiduran nih, lain kali awas Lu tidur begini lagi." Geruti Gue sambil memasangkan nya selimut.
"Night, Bang." Ucap Gue sambil mengelus kepalanya.
"Karna besok libur, mending Gue baca Novel." Gumam Gue lalu mengambil 2 Novel lalu duduk di kursi.
Tak lama kemudian, pelayan pun datang membawa pesanan Gue.
"Masuk." Ucap Gue.
__ADS_1
Pelayan itu pun masuk sambil membawa pesanan Gue.
"Letakkan disini saja." Saut Gue sambil menunjuk meja yang ada di hadapan Gue.
"Baik." Jawabnya lalu langsung meletakkan makanan Gue di atas meja dengan rapi.
"Kamu boleh keluar." Ucap Gue setelah ia selesai menyiapkan hidangan Gue.
"Baik, selamat menikmati." Jawabnya lalu pergi.
"Wow, Cake coklat dan Ice Cream memang disert yang terbaik." Gumam Gue setelah melihat disert yang membuat rasa lelah hilang.
Gue pun langsung mulai memakan, makanan utama terlebih dulu. Setelah itu di sambung dengan Ice Cream dan di selingi Cake coklat.
Setelah selesai makan, gue kembali membaca novel yang tadi sempat Gue jeda karna sangat tergiur dengan disertnya.
Sampai pada pukul 02.53 pagi, akhirnya Gue selesai membaca kedua Novel itu.
Mata yang sangat lelah, serta tubuh yang sama lelahnya. Gue memutuskan untuk langsung tidur di ranjang Gue.
***
RASYA POV*
Pagi-pagi sekali, Gue terbangun dengan posisi yang sama saat Gue bermain ponsel sambil berbaring.
"Raisa udah kembali?" Pertanyaan yang pertama Gue lontarkan saat bangun.
Saat Gue melihat ke raisa yang tertidur lelap, ada rasa legah karna ia sempat untuk tidur malam ini setelah menyelesaikan rapat yang mendesak semalam.
Gue langsung turun dari ranjang, dan mencoba membangunkan Raisa.
"Sa, Raisa. Bangun." Ucap Gue sambil menarik-narik selimutnya.
"Entaran Bang, Gue semalam tidur jam 2. Lagian hari ini kan libur." Jawabnya.
"Sejam lagi, Gue bakal bangunin. Hari ini Gue mau ngerjain tugas kelompok bareng sih anak baru. Gue butuh bantuan Lu." Sambung Gue.
"Iya-iya." Jawabnya lalu kembali melanjutkan tidur.
Gue pun bersiap untuk mengerjakan tugas kelompok. Mulai dari mandi, memakai baju santai, dan menyiapkan apa saja yang akan di gunakan saat mengerjakan tugas.
Satu jam pun berlalu, Gue kembali membangunkan Raisa dari tidurnya.
"Sa, Raisa!!" Teriak Gue.
"Apaan, Bang!!" Teriaknya balik.
"Bangun, bantuin Gue cari tempat buat ngerjain tugas. Terus temenin Gue ke kamar Reina." Ucap Gue.
"Yatuhan, kenapa ganggu banget sih. Ya dah, tunggu dulu. Gue mau mandi." Jawabnya.
"Oke." Balas Gue lalu duduk di kursi dan memakan sarapan yang telah di siapkan pelayan untuk kami.
***
RAISA POV*
Tok tok tok
"Rei, ini Gue." Panggil Raisa.
"Tunggu bentar" Saut Reina.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan terpampang Reina di balik pintu itu.
"Masuk dulu, Sa." Ucap Reina.
"Gak usah, Kata Rasya Lu mau ngerjain tugas bareng kan? Gue udah siapin tempat untuk kalian di lantai 1." Saut Gue.
"Oh iya, kalau begitu. Tunggu sebentar Gue ambil buku." Jawabnya lalu masuk kembali kedalam untuk mengambil buku.
"Yuk." Ucap Reina setelah mengambil buku.
"Lu pergi bareng Rasya, Gue masih ada kerjaan. Rasya tau kok tempatnya dimana." Sambung Gue.
"Oh, oke." Jawab Reina yang terlihat kurang senang.
"Yaudah, kalian pergi deh." Ucap Gue.
"Oke, makan siang nanti tungguin Gue ya." Saut Rasya.
"Iya-iya. " Jawab Gue.
Mereka pun pergi berdua. Saat mereka berjalan bersama, masing-masing mereka saling menjaga jarak satu sama lain.
Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk lebih dekat lagi. Mereka memiliki pemikiran yang berbeda. Tapi tidak tau kedepannya akan seperti apa Nantinya.
Gue pun pergi menemui salah satu Manajer Hotel, untuk mengecek kamar-kamar yang masing kosong.
RASYA POV*
Gue dan Reina pun sampai di tempat yang telah di sedia kan oleh Raisa. Ruangan yang tidak terlalu luas, berisikan meja dan kursi serta buku-buku yang Gue butuhkan untuk tugas IPA ini.
Tidak ada percakapan yang keluar dari tugas kelompok, kami hanya fokus untuk menyelesaikan tugas ini dengan cepat.
Kami mulai membagi pekerjaan agar cepat terselesaikan. Dan kami mengerjakan masing-masing tugas yang telah Gue bagi.
Bersambung
*Jangan lupa support author dengan Like dan Commentnya :)
__ADS_1
Thanks*!!