Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Pembuat Masalah 2


__ADS_3

"Siapa yang berani menyentuh cewek Gue?" Tanya seseorang itu.


Gue pun sontak berbalik begitupun Bran yang juga ikut melihat ke belakang.


"Devan?!!" Ucap Gue.


Devan sontak tersenyum ke Gue lalu kembali menatap ke Bran dengan tajam.


Tiba-tiba tangan Bran yang ada di bahu Gue sontak di angkat oleh Devan dan di genggamnya dengan sangat erat.


"Siapa yang berani menyentuh cewek Gue?" Tanya Devan lagi sambil menatap Bran dengan sangat tajam.


"Hah...siapa lagi ini?" Tanya Bran lalu mencoba menarik tangannya kembali.


Tapi percuma, Devan menggenggamnya dengan sangat erat sampai Bran tidak berhasil menggerakkan tangannya sedikitpun.


"Apa ini preman lainnya?" Tanya Bran lagi.


"Gue tanya sekali lagi...siapa yang berani menyentuh cewek Gue?" Sahut Devan.


"Sayang..." Panggil Gue sambil memegang tangan Devan yang satunya.


Devan tidak mengabaikan Gue, ia malah tersenyum ke Gue dan sontak mengelus kepala Gue dengan lembut.


"Kamu diam dulu ya, sayang." Ucapnya lembut lalu berhenti mengelus kepala Gue.


"Lu siapa?" Tanya Devan.


"Kamu tidak mengenalku? Wah...apa kamu tidak pernah membaca berita?" Ucap Bran Angkuh.


"Sepertinya kamu juga berasal dari Amerika." Lanjut Bran.


*Amerika?* Batin Gue.


"Bukan urusan Lu!!" Geram Devan lalu menarik tangan Bran sampai ia berdiri di hadapan Devan.


"Berani sekali kamu menarik ku. Aku bisa saja menuntutmu." Ancam Bran.


"Lu? Mau nuntut Gue? Gak kebalik?" Sahut Devan.


"Gue tanya sekali lagi...Lu siapa? Kenapa berani sekali menyentuh yang seharusnya tidak Lu sentuh." Lanjut Devan.


"Aku? Aku ini idolanya, kenapa aku tidak boleh menyentuhnya? Oh...aku tau...apa kamu sudah membayar wanita ini untuk tidur bersama–"


Sebelum Bran menyelesaikan ucapannya, Devan langsung memukul wajahnya dengan sangat keras sampai ia terjatuh.


"DEVAN!!BRAN!!!" Teriak Gue bersama Reina yang sontak berdiri bersama.


"Lu sudah berani menyentuhnya, dan sekarang Lu malah bilang kalau dia wanita murahan? Lu memang mau mati!!!" Raung Devan lalu memukul Bran lagi yang sudah terbaring di lantai.


"Dev...sudah...jangan di lanjutkan." Ucap Gue berusaha menahan Devan.


Tapi nihil, Devan sama sekali tidak bisa ditahan. Ia benar-benar marah besar dengan Bran, Reina juga tidak bisa menghentikan mereka.


Tiba-tiba saja Rasya dan 4 bocah itu pun datang dengan membawa nampan makanan.


"Ini kenapa?!!" Tanya Rasya yang bingung saat melihat pertengkaran Devan dan Bran.


Rasya dan 4 bocah itu pun sontak meletakkan makanan mereka di atas meja, dan mencoba untuk menghentikan Devan untuk memukul Bran.


"WOI!! STOP!!!" Teriak Rasya yang mencoba menarik Devan untuk berdiri.

__ADS_1


Putra dan Agung membantu Rasya, sedangkan Reyhan dan Rendi mencoba menarik Bran akan terhindar dari pukulan Devan.


Tapi bukannya berhasil menahan Devan, Rasya dan Putra malah terkena pukulan juga oleh mereka.


"GUE BILANG BERHENTI YA BERHENTI!!!" Teriak Rasya.


"WOI!! LU GILA?!!" Teriak Putra yang memegang wajahnya karna terkena pukulan Devan.


Suasana semakin kacau, Putra yang juga tidak bisa menahan emosi. Ia malah imut bertegkar, Agung pun berusaha untuk menahan Putra agar tidak memukul Devan. Tapi Putra benar-benar sudah di ambang amarah, ia langsung memukul Devan dari belakang.


"Pangil Guru...panggil Guru." Ucap salah satu murid yang juga melihat keributan itu.


*Apa-apaan ini?* Batin Gue.


Gue yang juga bingung harus berbuat apa, tiba-tiba melihat beberapa jus yang ada di atas meja Gue.


Gue pun langsung mengambil 2 gelas jus itu dan tanpa basa basi langsung menyiram mereka bertujuh.


Bukannya berhenti, mereka malah tidak menghiraukan jus yang telah Gue siram ke meraka. Karna emosi, Gue sontak melempar gelas kaca itu ke lantai dengan sangat keras.


Prang!!


Mereka yang mendengar itu sontak berbalik menatap Gue.


"Kalian gak mau berhenti? Mau Gue lempar gelas?" Ancam Gue.


"JANGAN!!" Teriak Devan dan Rasya bersama.


"Bahaya...nanti kaki kamu kena, sayang." Lanjut Devan.


"Bodo amat!! Kalau kalian gak berhenti, Gue akan tetap melempar gelas ini dan juga gelas yang lainnya." Ucap Gue yang bersiap melepar Gelas yang ada di genggaman Gue.


"Menghina apa?" Tanya Rasya.


"Dia bilang adek Lu wanita murahan yang sudah di bayar untuk tidur bersama." Jawab Devan.


"Kenapa Lu jawab Deva? Aduh..." Sahut Gue lalu menepuk jidat Gue.


"Lu berani bilang adek Gue murahan? Lu memang mau mati!!!" Raung Rasya dan sontak mendorong Devan dengan keras lalu memukul Bran berkali-kali dengan kuat.


"WOI!! BERHENTI GAK?!!!" Teriak Gue yang ingin melempar gelas lagi.


"Bodo amat!!!" Jawab Rasya yang masih saja memukul Bran tanpa henti.


"Yang berani menghina adek Gue, memang pantas mati!!" Ucapnya.


Gue yang benar-benar marah karna Rasya tidak ingin berhenti, Gue pun melempar Gelas itu lagi.


Prang!!!


"SAYANG!!" Teriak Devan lalu berdiri dan menghampiri Gue.


"Sudah...jangan di lempar lagi, aku gak mau kamu sampai terluka." Ucapnya sambil memeluk Gue dengan erat.


"Gue juga gak mau lu terluka, jadi berhenti mukulin dia." Jawab Gue.


"Tapi...dia udah ngatain kamu murahan." Sambungnya.


"Terserah dia mau ngatain Gue apa...yang penting lu percaya kalau Gue gak murahan." Balas Gue.


"Hah...baiklah, tapi dia akan keluar dari sekolah ini. Begitupun dari Negri ini." Ucapnya lalu melepas pelukannya dan menggenggam bahu Gue.

__ADS_1


"Bagaimana Lu mau ngusir dia? Dia itu model terkenal di Amerika. Siapa yang berani melawannya, Lu bisa di tuntut." Jawab Gue.


"Gak ada yang akan nuntut aku, jadi kamu tenang saja." Balasnya lalu berbalik dan menarik Rasya dengan kuat sampai Rasya berdiri dari posisi duduknya.


"LEPAS!!" Teriak Rasya.


"Dia harus mati!!!" Lanjutnya.


"Woi!! Lu mau adek Lu kena masalah besar? Sudah cukup sampai sini." Ucap Devan.


"Bodo amat!! Mau di keluarin, Gue gak peduli." Geram Rasya.


"Guru udah datang...kalau Lu mau adek Lu juga keluar ya gakpapa sih." Sahut Devan.


"Mending Lu tenang, dan diam aja." Lanjut Devan lalu melepas baju Rasya yang ia tarik tadi.


Devan tiba-tiba saja mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo..." -Devan.


"Kesini sekarang!!" -Devan.


Devan pun mematikan telponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Lu nelpon siapa?" Tanya Gue.


"Seseorang." Jawabnya yang masih bisa tersenyum.


"Dasar..." Gumam Gue


"Ada apa ini?!!" Tanya Guru BK.


"Ketua OSIS, kenapa bisa ada disini?" Lanjut sang Guru.


"Maaf Pak...ada masalah yang seharusnya tidak pernah terjadi." Jawab Gue sambil menunduk.


"Hah...siapa yang memulai?" Tanya sang Guru.


"Orang itu!!" Sahut Bran yang memegangi wajahnya sambil menuniuk Devan.


"Gue? Salah kali, hahaha." Ucap Devan dengan tertawa kecil


"Dia pak...dia yang memulai!!" Sambung Bran yang masih menunjuk-nunjuk Devan.


Devan sontak menghampiri Bran lalu jongkok di hadapannya, dan mengangkat dagu Bran.


Devan tiba-tiba mendekati telinga Bran dan berbisik sesuatu, entah apa yang ia bisiki. Tapi ia membuat Bran membulatkan mata dan ketakutan seperti melihat hantu.


Setelah itu Devan pun berdiri dan berjalan menghampiri Gue.


"Lu ngomong apa?" Tanya Gue.


"Rahasia~" Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar!!" Gumam Gue.


Tapi tiba-tiba saja ada segerombolan orang yang mengenakan jas hitam.


Gue terkejut melihat segerombolan itu, Gue sontak menunjuk gerombolan orang itu lu berkata. "Loh? Bukannya itu..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2