Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Raisa di culik?


__ADS_3

**AUTHOR POV***


Di parkiran sekolah tepat pada pukul 07.00 ada sekumpulan Orang yang menunggu Raisa dengan pakaian yang sangat formal seperti seorang bodyguard dan menggunakan kacamata hitam, ia sontak menghampiri Raisa.


"Selamat pagi." Ucap salah satu orang itu dengan sedikit membungkuk.


"Pagi, anda siapa?" tanya Raisa berusaha tenang.


"Apa betul anda Nyonya Raisa Putri?" tanya salah satu orang itu tanpa menghiraukan pertanyaan Raisa tadi.


"Ya, dengan saya sendiri, ada keperluan apa anda mencari saya?" jawab Raisa.


"Mari Nyonya ikut kami, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nyonya." saut salah satu orang itu yang makin membuat Raisa bingung.


"Anda siapa? kenapa saya harus ikut dengan anda?" tanya Raisa yang menolak ikut dengan mereka.


Tanpa basa basi salah satu orang itu menggenggam tangan Raisa dan berniat membawa Raisa masuk kedalam mobil mereka, Raisa yang terkejut sontak berteriak dan membuat Rasya yang baru sampai di Parkiran berlari ke arahnya.


Buk buk buk...


Suara pukulan yang sangat keras membuat Raisa tau pasti itu adalah kembarannya Rasya, setelah Raisa berhasil terlepas dari genggaman seseorang itu ia sontak berlari ke belakang Raysa.


"Raisa lu gak papa kan?" tanya Rasya yang memegang bahu Raisa.


"Gak papa bang, cuma kaget doang." jawab Raisa dengan senyumannya agar Raisa percaya kalau dia baik-baik saja.


"Hey tuan, biarkan kami membawa Nyonya Raisa, kami tidak akan menyakitinya." saut salah satu orang itu yang membuat Rasya muak dan sontak memukul mereka tanpa ampun.


Karna keributan yang dibuat oleh Rasya dan orang-orang itu, semua siswa sontak berkumpul melihat keributan itu. Kejadian yang disaksikan oleh para siswa adalah kejadian yang sangat langkah bagi seorang ketua cluv taekwondo yang memakai ilmunya untuk mengkroyok sekumpulan orang dengan tangannya sendiri. Ditengah-tengah keributan Devan tiba-tiba datang dan melihat kejadian itu, ia terkejut karna yang berkelahi dengan Rasya adalah bawahan Papa nya. Ia sontak berlari dan melerai perkelahian mereka, para bawahan itu terkejut melihat tuan Muda nya yang langsung turun tangan menangani hal sekecil ini, mereka pun langsung berhenti dan tertunduk di hadapan Devan, Rasya yang melihat itu ia langsung tau siapa seseorang itu.


Rasya sontak menarik kera baju Devan dengan brutal dan berkata. "Lu kan yang nyuruh mereka celakain ade gue, lu mau mati hah!!!"


Para bawahan yang melihat itu, sontak ingin membantu Devan tapi Devan memberikan isyarat pada mereka untuk tidak ikut campur dengannya, para bawahan hanya bisa diam ditempat mereka berdiri dan menundukkan kepala mereka sambil menyilangkan tangan mereka di depan perut mereka.


"Gue gak pernah nyuruh seseorang buat nyakitin pacar gue sendiri." jawab Rasya santai dengan tatapan tajamnya dan senyum sinisnya.


"Lu kira gue ***** hah!!!" teriak Rasya dan bersiap ingin memukul wajah Devan tapi tiba-tiba ditahan oleh seseorang dari belakang Rasya.

__ADS_1


"Bang, jangan." ucap Raisa yang menahan tangan Rasya.


"Lu ngapain sih bela dia? lu hampir terluka gara-gara dia, kalau gue terlambat datang nyelamatin lu, gue gak bakal ampuni nih orang." ucap Rasya lalu bersiap kembali ingin memukul Devan tapi Raisa masih saja menahan tangan Rasya, sampai pada akhirnya Rasya melepaskan Devan dan menarik Raisa pergi bersamanya.


**DEVAN POV***


Setelah semua orang pergi termaksud Rasya dan Raisa gue langsung natap para bawahan Papi dengan tajam.


"Jelaskan!!!" ucap gue.


"Maaf Tuan muda, Tuan besar menyuruh kami untuk membawa Nyonya Raisa untuk pengecekan." ucap salah satu orang itu yang tertunduk ketakutan.


"Sudah saya beritahu jangan pernah menyentuh gadis itu, kalian tau sendiri apa yang akan kalian dapat kan jika kalian menyentuhnya."


"Tapi Tuan muda, Tuan besar memerintahkan kami untuk membawa Nyonya Raisa."


"Apa kalian lupa sekarang siapa yang memegang kekuasaan?!!!!"


"Maaf kan kami Tuan muda Leon." jawab seluruh bawahan serentak sambil membungkuk 90 busur derajat.


"Kalian saya maafkan, tapi sekali lagi kalian berbuat seperti itu tanpa perintah dari saya, kalian tidak akan selamat. Sekarang Pergi dari sini, cepat!!!"


Setelah mereka pergi gue langsung cari Raisa untuk meminta maaf, gue mencari ke kelas, kantin dan ruang osis tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan nya, aku sudah bertanya kepada para guru tapi tidak ada juga yang melihatnya. Gue baru sadar kalau Raisa pasti di bawah Rasya pergi entah kemana yang pasti jauh dari gue.


"Ah shit!! Lagi-lagi seperti ini, memuakkan!!" ucap gue.


**RAISA POV***


Gue kaget Rasya tiba-tiba narik gue dan nyuruh gue masuk ke mobilnya, gue bener-bener gak tau dia mau mau gue kemana, gue beraniin diri buat nanya kedia.


"Sya, kita mau kemana? Aku gak mau bolos sekolah lagi." tanya gue tapi gak ada jawaban dari Rasya, ia malah menambah kecepatan mobilnya.


"Sya!! Kita mau kemana sih?! Mau bolos lagi?! Lu gila ya?!!" teriak gue dan benar saja Rasya sontak menghentikan mobilnya dan natap gue tajam banget, gue kaget dan juga takut.


"Aaarrgh!!!!" teriak Rasya yang bikin gue kaget setengah mati.


"Lu tu ya, bisa gak sih sehari aja dengerin gue, lu tadi hampir aja di bawa orang gak jelas dan lu malah santai kayak gini? Lu bikin gue stres tau!!!" ucap Rasya.

__ADS_1


"Terus gue harus gimana? Gue harus nangis gitu karna hampir di bawa pergi sama orang gak jelas? Ya gak kan." jawab gue.


"Lu tau gak?"


"Gak tau tuh." saut gue yang memotong ucapan rasya.


"Gue belom selesai ngomong *****, aaarrgh!!!! Kenapa gue punya adek kayak lu sih."


"Mana gue tau kalau lu belom selesai ngomong, ya kenapa juga gue punya abang kayak lu sih."


"Bacot!! Pokoknya hari ini lu gak sekolah, ikut gue ke hotel bibi Angel, gue mau ngomong serius sama lu dan lu awas aja banyak bacot kaya tadi, gue tapak mulut lu." ucap Rasya lalu langsung mengendarai mobilnya lagi.


"Gue gak mau ke hotel bibi Angel kalo kamar favorit gue ada yang pakai." saut gue malas sambil memalingkan pandangan gue.


"Apasih bangke, kamar lu dari mana itu juga kamar gue ya."


"Bodo amat, kan sudah ada perbatasan nya, awas aja lu pegang barang-barang gue lagi, gue lempar laptop lu ke bak mandi."


"Yayaya, serah, masalah kamar hotel kita, itu gak akan di sewakan ke orang lain, karna kamar itu sudah di khususin buat kita doang dan itu kan kamar udah dari kecil kita tidur disana kalau lagi ada masalah."


"Udah lama banget kita gak main kesana, Bibi Angel gimana ya kabarnya."


"Ya masih sama, belum punya anak juga, tapi gue denger-deger ya katanya mau proses anak tabung aja atau mau ngasuh anak yatim piatu aja sih."


"***** lah kalau beneran gitu, terus kamar kita? Posisi kita di hotel bibi Angel? Dan kasih sayang bibi Angel dan paman? Hilang dong? Gue gak mau itu titik."


"Ya masalah itu pasti gak bakal hilang lah, kita dari kecil udah di oper-oper ke rumah bibi Angel lah, bibi Cindy lah, paman Rey, dan juga kakek, mereka udah anggap kita kayak anak mereka dan kamu lupa apa aja yang sudah diberikan mereka mulai kita kecil sampai sekarang?"


"Iya sih, tapi kan... Argh, Yasudah lah, dan btw Rasya Putra masa lu nyuruh gue bolos terus sih bangke, gue juga sibuk dan lagi kita sudah kelas 12 bangke masa bolos ogah gue kalo gak lulus karna bolos."


"Tenang aja, gue udah izin sama kepsek lewat bibi Angel." ucap Rasya deng senyum miringnya.


"Gila lu."


"Bukan gila sayang, tapi cerdik."


"Bodo!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2