Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Pimpinan?


__ADS_3

"Jangan-jangan siapa?" Tanya Putra.


Bukannya menjawab pertanyaan Putra, Gue malah lari menghampiri Reina.


"Rei..." Ucap Gue.


"Ya, kenapa?" Tanyanya.


"Apa Bran pindah sekolah juga?" Tanya Gue.


"Hah? Gak kok, dia bilang kalau dia cuma akan berlibur disini." Jawabnya.


"Dan lagi, dia sama sepertiku. Dia juga homeschool di amerika." Lanjutnya.


"Tapi..."


"Tapi apa?" Tanyanya.


"Hah...sudah lah." Jawab Gue lalu kembali duduk di kursi.


Bel masuk pun berbunyi. Semua murid kembali ke kursinya. Guru pun masuk kedalam kelas dan pelajaran di mulai.


Saat pelajaran, Gue berusaha untuk tidak memikirkan siapa murid baru itu. Akhirnya Gue hanya bisa meletakkan kepala Gue di atas tangan yang Gue letakkan di atas meja.


Gue melihat ke arah Reina yang sedang sibuk memperhatikan Guru.


"Hei..." Bisik Gue.


"Hm?" Dehemnya sambil menengok ke Gue.


"Gak jadi." Jawab Gue lalu berbalik menatap tembok.


Jujur saja, Gue masih kesal dengan kejadian kemarin. Bran yang selalu saja memanggilnya dengan sebutan 'sayang' tapi ia tidak marah sama sekali.


"Hah..." Gua hanya bisa menghela nafas karn memikirkan itu.


Tapi tiba-tiba saja, Gue merasakan ada yang mengelus Gue dengan tangan kecilnya. Gue pun sontak berbalik dan menatap Reina.


Ternyata Reina, mengelus kepala Gue degan lembut. Tapi ia masih memerhatikan guru sambil mencatat apa yang di sampaikan oleh Guru dengan tangan sebelahnya lagi.


*Nyaman.* Batin Gue dengan tersenyum kecil dan menatapnya.


*Cantik.* Batin Gue lagi.


Mau bagaimana pun ekspresu yang di keluarkan gadis itu, ia tetap terlihat cantik. Mau dari sudut mana pun melihatnya, ia tetap terlihat cantik.


*Dia cewek tercantik ke tiga setelah Raisa dan Mami.* Batin Gue.


Sangking tidak fokusnya, Gue tiba-tiba menggenggam tangan Reina yang ia pakai untuk mengelus kepala Gue.


Gue pun meletakkan tanggannya di bawah pipi Gue dengan posisi yabg masih Gue genggam.


Bukan hanya dingin, tangannya juga mungil. Itu sangat nyaman untuk di genggam.


Karna takut tanganya akan terasa sakit. Akhirnya Gue melepas tanggannya dan meletakkannya di meja.


Saat Gue ingin melipat tangan Gue kembali, ia tiba-tiba saja menggenggam tangan Gue lalu di letakkannya di atas meja.


Gue yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil. Gue pun menggunakan tangan yang satu lagi untuk jadi bantalan kepala Gue.


***


Tidak lama kemudian, bel pun berbunyi. Pelajaran pun berganti. Tapi karna Gurunya tidak ada, jadi kami bebas 2 jam sebelum waktu istirahat.


Di kelas, ada beberapa murid yang memilih belajar, atau pun tidur, dan ada juga yang lebih memilih berkumpul untuk bergosip.


Sedangkam Gue, hanya ingon ketenangan berdua dengan Reina. Tapi itu tidak bertahan lama, karana 4 bocah itu mulai mengganggu Gue.


"Sya...semalam lu gak ikut main, ya?" Tanya Reyhan yang berdiri di belakang Gue dengan Putra.

__ADS_1


"Gak tau, gak gak mood. Pergi sana." Jawab Gue.


"Gak usah ganggu orang lagi PDKT." Sahut Agung.


"Nah tuh..." Ucap Gue.


"SI-SIAPA YANG PDKT." Teriak Gue.


"Iya ya... Siapa sih." Ejek Agung.


"A-anu...Lu tadi nanya apa Put?" Sambung Gue.


"Dasar!" Gumam Agung yang terdengar jelas di telinga Gue.


"Lu semalam kok gak main?" Tanya Putra.


"Oh...cuma lagi malas." Jawab Gue.


"Tumben, biasanya Lu yang duluan ngajak kita main." Sambung Reyhan.


"Gue juga manusua, kali. Bisa bosan juga." Ucap Gue..


"Btw...Lu udah tau siapa anak baru i–" Lanjut Gue yang tiba-tiba terpotong, karna seseorang yang tiba-tiba membuka pintu dan masuk ke kelas Gue.


"Murid baru...murid baru." Ucap cewek-cewek di kelas Gue.


*Murid baru?* Batin Gue lalu menatap jelas siapa seseorang itu.


Gue terkejut setelah melihat siapa orang itu. Gue sontak berdiri dan menatapnya dengan mata yang membulat.


"Rei..." Panggil Gue.


"Kenapa?" Tanyanya lalu menatap Gue.


"Coba liat, itu." Jawab Gue sambil menunjuk seseorang yang sedang berdiri di dekat pintu.


"Sayang..." Panggil cowok itu.


"Sayang?" Ucap semua murid sambil menatap Reina kaget.


Cowok itu sontak menghampiri kami dan memeluk Reina dengan sangat erat.


Gue tambah di buat terkejut dengan itu, mata Gue rasanya ingin keluar karna sangking kagetnya.


"Kamu kok bisa disini?" Tanya Reina.


"Aku akan menemanimu disini." Jawabnya yang masih tidak melepas pelukannya.


Karna sudah terlalu emosi, Gue sontak menarik Reina kasar. Dan membuatnya berdiri di belakang Gue.


"Loh? Rasya? Ternyata satu kelas dengan Reina, ya?" Ucapnya dengan senyum sinisnya yang tambah membuat Gue emosi.


"Iya!! Kenapa?!! Gak suka?!!!" Geram Gue.


"Hah...yang benar saja, hanya satu kelas saja sudah sombong. Hahaha." Ejeknya dengan tertawa.


"Lu siapa? Berani banget bicara seperti itu dengan Rasya?" Sahut Putra.


"Hah...ada serangga lainnya." Ucapnya.


"Lu bilang apa? Serangga? Lu mau kena–"


"Stop, Put." Potong Gue.


"Kenapa Lu ngebela dia, sih?!!" Geram Putra.


"Siapa juga yang mau ngebela dia? Gue cuma gak mau lu kena masalah lagi." Ucap Gue.


"Reina...buat apa kamu berteman dengan preman seperti mereka? Menurunkan dejarat mu saja, hahaha." Sahut Cowok gila itu.

__ADS_1


"Preman? Lu nyebut kita preman?!!"Geram Reyhan.


"Lu mau kena, hah!!!" Lanjut Rendi.


"Rey, Ren...menjauh dari dia, jangan sentuh dia. Gue gak mau kalian kena masalah." Perintah Gue.


"Tapi, Sya–"


"Ini perintah." Potong Gue.


"Lucu sekali...seorang preman ingin dekat dengan Reina yang seorang–"


"BRAN!!!" Teriak Reina memotong ucapan Bran.


"Hah...memang kenapa? Mereka harus tau siapa kamu sebenarnya. Kami tidak cocok bergaul dengan mereka." Sambung Bran.


"Memang siapa, Reina?" Tanya Gue.


"Hah...Hahaha...dia itu–"


"STOP BRAN!!" Teriak Reina lagi-lagi memotong jawaban Bran.


"Stop there, don't continue your words. (berhenti di situ, jangan lanjutkan kata-katamu.)" Lanjut Reina yang tiba-tiba menggunakan bahasas inggris


"Why, dear? they must know that you are different from them. (Kenapa sayang? mereka harus tahu kalau kamu berbeda dari mereka.)" Jawab Bran.


"Not!! now you are out. this is an order!! (Tidak!! sekarang kamu keluar. ini adalah perintah!!)" Sambung Reina.


"You can't rule me. (Kamu tisak bisa memerintah ku.)" Ucapnya.


"Of course I can, in the future I am your leader. (Tentu saya bisa, di masa depan saya adalah pemimpin mu.)" Jawab Reina.


"But–"


"GO!!" Teriak Reina memotong ucapan Bran.


Setelah Reina teriak, Bran pun keluar dari kelas kami. Gue baru sadar, semua murid menatap kami terkejut.


*Pimpinan? Reina pimpinannya? Bagaimana bisa?* Batin Gue bertanya-tanya.


"Hah..." Reina hanya bisa menghelas nafas lalu duduk di kursi Gue.


"Bubar-bubar, gak ada tontonan lagi." Ucap Gue.


Setelah semua murid kembali ke tempatnya, terkecuali 4 bocah itu yang masih berkumpul di meja Gue.


"Dia siapa?" Tanya Putra.


"Bran...teman masa kecil Reina." Jawab Gue.


"Tapi kenapa dia menyebutnya 'sayang'?" sahut Rendi.


"Mana Gue tau, Gue juga bingung." Jawab Gue.


"Tapi yang membuat Gue bingung, adalah kata-kata Reina tadi." Sambung Agung.


"Lu bisa ngartiin ucapan mereka tadi?" Tanya Gue.


"Lu kira teman Lu ini gak bisa bahasa inggris? Kita gk sebodok itu kali." Sahut Reyhan.


"Ya maaf." Jawab Gue.


"Tapi yang bikin Gue tambah bingung, adalah kata 'pimpinan' maksudnya Reina pimpinannya di masa depan, gitu?" Bisik Agung.


"Hm..." Dehem Gue lalu melirik Reina yang masih terdiam dengan kepala yang di topang dengan kedua tangannya.


*Pimpinan? Lu siapa, sih Rei?* Batin Gue.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2