Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Amarah Rasya


__ADS_3

Gue sontak menghapus air matanya dan berkata. "Lu jangan nangis, Gue gak suka abang Gue nangis."


"Masalah cewek, biar Gue yang cariin. Siapa sih yang gak mau sama abang Gue? Lu gak perlu nangis cuma karna dia." Lanjut Gue.


"Lu gak ngerti Gue, Sa." Ucapnya.


Mendengar itu, Gue benar-benar seperti adik yang tidak berguna.


"Bagaimana bisa Gue tidak mengerti apa yang Lu rasakan? Gue ini saudara kembar Lu, apa yang Lu rasakan, Gue juga bisa merasakan itu." Sahut Gue.


"Tapi Sa, Gue gak mau keluarga kita hancur, hanya karna ke egoisan Gue yang menginginkannya." Jawabnya.


"Ya Gue tau, Gue udah tau semuanya. Reina sudah cerita ke Gue." Balas Gue.


"Lu udah tau? Tapi kenapa Lu gak ngasih tau Gue?!! Lu sama aja kayak dia!! Lu gak paham Gue!!" Geramnya yang sontak melepaskan pelukannya.


"Hah...dia memang penuh dengan emosi." Gumam Gue.


"Hei...dengerin Gue dulu, Bang." Sahut Gue.


"Gue awalnya mau ngasih tau Lu, tapi Reina bilang, dia sendiri yang akan memberitahukan segalanya ke Lu..." Ucap Gue.


"Dan Gue, Gue gak bisa berbuat apapun. Kalau Gue ngasih tau Lu, pasti Lu juga gak akan langsung percaya sama Gue, dan akhirnya Gue percaya ke Reina, kalau dia yang akan menjelaskannya." Lanjut Gue.


Tapi sepertinya, Rasya tidak peduli dengan penjelasan Gue. Dia sama sekali tidak menatap Gue atau pun melirik Gue sedikit pun.


"Bang? Lu marah sama Gue?" Tanya Gue.


Tapi ia masih saja diam, dan membuat Gue tambah merasa bersalah.


"Bang? Lu marah?" Tanya Gue lagi.


"Jawab Gue, Bang." Ucap Gue


"IYA!! GUE MARAH!! PUAS LU?!!" Bentaknya.


"Tapi, Bang. Gue gak sepenuhnya bersalah, masa Lu gak mau maafin Gue."  Sahut gue.


"GAK!! SEKARANG KELUAR!!" Bentaknya lagi sambil menatap Gue tajam.


"Oke-oke...lu sekarang gak bisa berfikir jernih. Tapi sekali lagi, disini Gue gak sepenuhnya bersalah, Gue memang salah karna tidak membertahu lu tentang Reina, Gue minta maaf atas kesalahan Gue." Jelas Gue lalu turun dari ranjang dan membelakanginya.

__ADS_1


"Gue pergi, kalau Lu butuh Gue, datang aja ke kamar Gue, Gue selalu ada di saat Lu butuh Gue." Ucap Gue lalu pergi meninggalkannya sendiri di kamarnya.


Gue pun masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa di kunci, agar jika Rasya membutuhkan Gue, ia tinggal masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu atau pun harus menghubungi Gue dulu.


Di kamar, Gue langsung mencari ponsel Gue dan menelpon seseorang.


"Halo..." -??


"Halo...Rei, lu dimana?" -Gue.


"Raisa...maaf...maaf, seharusnya aku memberitahu nya lebih dulu." -Reina.


"Ya...Gue juga sama kayak Lu, sekarang Rasya gak mau di ganggu, dia juga marah sama Gue. Gue sekarang gak bisa berbuat apapun." -Gue.


"Tapi, sekarang Lu dimana?" -Gue.


"Aku masih di cafe." -Reina.


"Rasya ninggalin Lu? Hah...benar-benar." -Gue.


"Raisa..." -Reina.


"Ya? Kenapa?" -Gue.


"Lu nangis?" -Gue.


"A-aku sangat takut jika tidak akan bertemu dengan nya lagi, hiks hiks hiks..." -Reina.


*Gue kira cuma Rasya yang nangis.* Batin Gue.


"Oke-oke...sekarang Lu harus menjauh darinya dulu, jangan pernah muncul di hadapannya dulu, apalagi sampai mengajaknya mengobrol, jangan pernah." -Gue.


"Tapi–" -Reina


"Sekarang Gue tanya ke Lu, apa Lu benar-benar mencintai Rasya?" -Gue.


"Ya...aku sangat mencintainya, hanya dia yang ku cintai." -Reina.


"Nah...maka dari itu, Lu harus berbuat apapun agar Lu bisa bersamanya. Lu harus cari jalan keluar untuk masalah kalian." -Gue.


"Tapi, bagaimana caranya?" -Reina.

__ADS_1


"Lu harus bertemu dengan kedua orang tua, Lu. Bagaimana pun caranya Lu harus bertemu dengan mereka, dan beri tahu pilihan mu tetang masalah pewaris." -Gue.


"Lu harus memberi syarat kepada mereka, jika Lu menerima salah satu di antara mereka, mereka harus menerima semua perkataan Lu, tanpa terkecuali. Dan jika mereka setuju, disitu Lu harus mengubah syarat seseorang yang akan menjadi pewaris, Rasya harus bisa di terima di antara mereka. Bukan hanya Rasya, keluarga Gue juga harus di terima oleh kedua keluarga Lu." -Gue.


"Ta-tapi...aku takut, aku yang akan di singkirkan oleh mereka." -Reina.


"Gak mungkin, mau bagaimana pun, hanya Lu yang bisa mewarisi Perusahaan Mereka. Karna Lu satu-satunya putri mereka." -Gue.


"Lu harus mencoba melawan keputusan mereka, Lu harus lebih unggul dari mereka. Hanya itu satu-satunya cara agar Lu bisa bersama dengan Rasya." -Gue.


"Baik...aku akan melakukan apapun, aku akan mencoba segala cara. Tapi..." -Reina.


"Tapi apa?" -Gue.


"Aku harus pergi ke Amerika lebih dulu, agar bisa bertemu dengan mereka. Karna kedua orang tua ku sedang berada di amerika." -Reina.


"Berapa lama yang Lu butuhkan?" -Gue.


"Satu minggu, tapi bisa juga sampai dua minggu." -Reina.


"Selama itu?!!" - Gue.


"Tapi kita sebentar lagi Ujian, kalau Lu gak ikut Ujian, Lu gak bisa lulus." -Gue.


"Ya...aku tau, aku akan mengatur segalanya, tenang saja." -Reina.


"Baiklah, Gue percaya sama Lu." -Gue.


"Aku titip Rasya bersama mu. Aku akan kembali dengan kabar baik." -Reina.


"Ya...Gue akan menjaganya." -Gue.


"Kalau begitu, aku matikan telponnya. Bye." -Reina.


"Bye." -Gue.


Setelah telpon terputus, Gue pun duduk di kursi depan meja belajar Gue dan meletakkan ponsel Gue di atas meja.


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar." Gumam Gue.


Gue pun mengerjakan beberapa tugas yang harus di selesaikan sebelum Ujian tiba.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2