Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Kemarahan Rasya


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan pintu itu membuatku  setengah terbangun dari tidur. Aku yang masih mengantuk sama sekali tidak menghiraukan seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Saat aku tidak menghiraukan orang itu, ia semakin keras mengetuk pintu dan juga meneriaki namaku. Kalian tau pasti siapa orang itu, ya dia Rasya yang selalu membangunkan ku setiap aku bangun telat.


"RAISA PUTRI!! bangun ini sudah jam berapa woi!! Bangun!!!!" teriaknya sambil mengetuk-ketuk pintu gue.


Tapi gue masih saja tidak menghiraukannya sampai pada dia berteriak dan menyebut nama Devan.


"Bangun woi!! Cowok jadi-jadian lu ada di luar tuh." ucapnya dan sontak membuatk gue terbangun dari tidur yang mulai tadi ia ganggu. Gue langsung turun dari ranjang dan membalas teriakannya.


"Iya bang!! Gue udah bangun!!!" ucap gue yang langsung masuk kekamar mandi untuk bersiap pergi kesekolah bersama Devan sesuai janji kita semalam.


Setelah 20 menit gue menghabiskan waktu untuk bersiap, akhirnya gue turun kebawah untuk sarapan bersama.


"Pagi Mi, pagi Pi." ucap gue sambil mencium pipi mereka satu persatu. Setelah itu aku langsung duduk disamping Mami.


"Kalian pergi kesekolah bersama?" saut Mami yang masih mengoleskan selai coklat diatas roti Papi.


"Iya Mi, kata Devan sekalian ngasih sesuatu ke Mami dari Maminya Devan." Ucap gue sambil mengambil buah yang ada di hadapan gue.


"Oh ya? Sesuatu apa?" tanya Mami dengan senyum lebarnya.


"Ini tante, kata Mami hadia sebagai calon keluarga baru." jawab Devan sambil memberikan sekotak perhiasan seperti yang ia ucapkan semalam saat di telpon.


"Wah, perhiasan dari Seoul? Ini perhiasan yang sangat terjamin kualitas dan desain yang sangat menawan." ucap Mami yang terlihat sangat senang saat menerima perhiasan itu.


"Tidak terlalu menawan tante, itu hanya buatan keluarga kami saja yang di desain khusus untuk tante seorang, seperti itu kata mami." ucap Devan dengan sopan tapi seperti ingin dipuji.


"Alah Caper banget sih lu!" saut Rasya yang langsung di pelototi oleh Mami.


"Rasya sayang, kamu masih mau laptop gaming kamu?" ucap Mami dengan senyum ingin membunuh.


"Apaan sih Mi, gak Mami gak Raisa sama-sama ngancem laptop Rasya terus, Pi ayolah bantu Rasya."

__ADS_1


"Rasya jangan seperti itu dengan tamu." saut Papi.


"Oke!! gak ada yang peduli sama Rasya." ucapnya yang langsung berdiri dengan raut wajah yang marah.


"Bang!" panggil ku dengan tenang.


"Apa lagi sih?!!" jawabnya dengan kesal.


"Jangan marah, aku ikutan gak mood nih." ucapku yang membuat Rasya duduk kembali karna dia paham situasi ku, saat ada salah satu dari kami yang merasa sedih, marah, atau bahagia pasti yang satunya juga merasakannya, ya seperti itu lah saudara kembar.


"Buruan makan, ntar pergi sama gue aja." sautnya yang membuat Devan terkejut.


"Tapi bang Devan gimana?" tanya gue dengan tenang.


"Biar dia sendiri pake mobilnya, lu sama gue." jawabnya dengan memalingkan pandangannya.


Gue bingung harus ikut dengan siapa, kalau gue ikut dengan Devan sama saja gue tidak menghargai Rasya sebagai saudara kembar gue, ya walaupun kami selalu bertengkar tapi disisi lain juga kami selalu mengerti situasi satu sama lain, dan jika gue ikut dengan Rasya sama saja gue tidak menghargai Devan sebagai pacar gue. Tapi gue harus memutuskan untuk memilih Rasya kembaran gue, karna sekarang suasana hatinya yang sedang tidak baik dan gue pun ikut merasakannya.


"Maaf ya Dev, kita ketemu di sekolah aja ya, bang sudah nih." ucap gue kepada devan dan langsung beralih ke Rasya.


Saat diperjalanan kami hanya diam satu sama lain, tak ada suara di dalam mobil hanya suara kendaraan dari luar saja. Gue sontak menyalakan musik di mobil melalui Bluetooth dari hp gue untuk mencairkan suasana yang bisa di bilang sunyi tanpa penghuni.


"Matikan!" ucap Rasya yang membuatku terkejut karna sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak ingin mendengar apapun termaksud musik.


"Gak!!" jawab gue.


"MATIKAN!!" sautnya dengan berteriak.


"GAK!!" teriak gue.


Rasya sontak menghentikan mobilnya dan berteriak kepadaku, "GUE BILANG MATIKAN YA MATIKAN!!"


Gue benar-benar kaget mendengar Rasya berteriak seperti itu kepadaku, baru kali ini ia berteriak seperti itu kepadaku saat kita bertengkar pun ia tidak berani berteriak dan membentak gue seperti ini. Gue yang shock dan sontak  menangis dihadapan Rasya. Ia kaget melihat gue nangis, ia baru menyadari bahwa dia telah membentak gue dengan keras tadi.

__ADS_1


"Dek jangan Nangis, maafin abang, iya abang tau abang salah, maafin abang dek." ucapnya dan langsung memeluk gue.


"Abang kenapa sih hiks hiks... Raisa salah apa sampe abang bentak-bentak hiks hiks." ucap gue yang menangis terisak-isak.


"Lu gak salah dek, abang cuma gak mood aja, maaf ya, abang gak bakal bentak Lu kaya tadi lagi, abang janji dek, diam ya dek cup cup cup." ucapnya yang masih memeluk gue sambil mengelus-elus rambut gue.


Gue langsung melepaskan pelukannya dan berkata "Abang gak mood Raisa juga tau, abang marah Raisa juga ngerasain, abang sedih Raisa juga ngerasain, semua yang abang rasain Raisa juga rasain bang, abang gak suka Devan? Abang marah sama Mami Papi?"


"Abang gak marah sama Mami Papi, abang cuma gak suka kalo Mami Papi malah mentingin anak orang dari pada Abang, dan lu tau kan Abang gak suka kalo ada yang deketin lu, selama ini abang ngelakuin hal-hal diluar kebiasaan abang itu cuma buat ngejaga lu, abang sampe berani ngebully orang demi lu, dan sekarang lu malah dekat dengan cowok gak jelas itu, ya memang abang akui dia ganteng dia kaya dan dia populer, tapi lu tau gak sifat asli orang itu? Gak kan, abang gak suka sama dia dek, abang mau lu menjauh dari dia, dia itu Mafia dek, kalo sampe ada apa-apa sama lu abang bakal nyesel seumur hidup gak bisa jaga lu dengan aman, jadi tolong ngertiin abang dek." ucapnya dengan tenang tapi pasti.


"Abang tau dari mana dia mafia? Abang tau kan arti mafia itu apa, masa dia yang masih kelas 12 abang sebut dia mafia? Dan kenapa abang gak ngomong dari awal kalo abang diam-diam ngejaga Raisa? Kenapa abang gak ngomong langsung aja sama Raisa kalo abang gak bolehin Raisa pacaran? Abang itu ***** ya, sampe Raisa ngira kalo abang ini memang gak suka kalo Raisa senang dengan cowok lain, tapi abang tau kan kalo Raisa dekat sama cowok gak sembarangan, semua cowok yang Raisa terima buat jadi pacar Raisa itu anak terpandang dan gak mungkin mereka ngelakuin hal-hal aneh ke Raisa karna Papi dan paman juga pasti menyelidiki asal usul mereka dan keuntungan dari Raisa pacaran sama mereka tuh perusahaan keluarga kita makin meningkat bang, ya memang selama ini Raisa gak pernah serius cinta sama orang paling juga Raisa cuma suka kagum dan sebagainya. Jadi tolong jangan egois bang." ucapku berusaha menahan amarah sekaligus menahan air mata yang akan jatuh lagi.


"Oke abang minta maaf, abang akui kalo abang egois abang selalu mau lu aman, dan abang tuh gak tau kalo Papi dan Paman juga ngejaga lu, tapi dengerin sekali lagi ucapan abang, Devan itu seorang mafia, tapi dia gak pernah nunjukin sifat aslinya keorang-orang, dan tolong jangan benci sama abang kalo abang selaku posesif ke lu oke?"


"Oke gue percaya sama ucapan abang kalo Devan itu seorang mafia. Tapi kalo memang dia seorang mafia Raisa bakal buat dia nunduk di hadapan Raisa dan Raisa bakal ngebuat dia gak bisa menolak ucapan Raisa!" ucap gue dengan serius.


"Oke masalah ini kita sudahi dulu, sekarang kita gak usah kesekolah kita pergi bersenang-senang saja." saut Rasya dan langsung kembali berkendara.


"Kita mau kemana?" tanya gue bingung.


"Mall Bibi Cindy." jawabnya.


"Tapi mau ngapain?" tanya gue lagi.


"Suruh bibi kosongin mall nya baru kita bersenang-senang, makan, nonton, berbelanja, timezone, pokoknya terserah mau ngapain." ucapnya dengan santai tanpa berpikir.


"Emang bibi bolehin?"


"Boleh lah, keponakan kesayangan nih." jawabnya sombong.


"Sombong banget lu." ucap gue santai.


"Yadong." jawabnya dengan nada ngeselin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2