
"Loh? Papi?" Ucap Gue yang kaget karna yang Gue lempar bantal adalah Papi.
"Raisa...apa kamu punya dendam dengan Papi?!!" Geram Papi.
"Gak Pi...Raisa minta maaf, Raisa kira Papi abang. Habisnya dari tadi Rasya mau tidur di ganggu mulu, Pi." Jelas Gue.
"Hah...sudah lah." Sambung Papi.
"Maaf Pi." Ucap Gue sambil menunduk.
"Iya." Jawabnya.
"Papi ngapain kesini?" Tanya Gue.
"Mami dimana Pi?" Tanya Gue lagi.
"Mami ada di bawah, Papi kesini mau memberitahu kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu." Jawab Papi.
"Siapa? Raisa gak punya janji sama siapa-siapa." Sambung Gue bingung.
"Lihat saja dibawah." Ucap Papi.
"Oke." Jawab Gue lalu turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Papi.
"Stop! Masa kamu mau pakai baju sekolah? Ganti baju dulu." Sahut Papi.
"Raisa malas, Pi. Nanti aja ganti bajunya." Ucap Gue.
"Gak ada nanti-nanti. Sekarang ganti baju." Perintahnya.
"Tapi Pi-"
"Cepat Raisa." Potong Papi.
"Oke." Jawab Gue lalu berbalik dan berjalan ke arah lemari.
"Yaudah...Papi turun duluan, ya." Sahut Papi lalu menutup pintu Gue kembali.
"Hah...di ganggu mulu." Gumam Gue.
Gue pun mulai memilih baju dan mulai melepas seragam Gue. Tapi saat seragam Gue sudah terlepas, tiba-tiba saja pintu Gue ada yang buka.
"AAA...." Teriak Gue sambil menutupi tubuh Gue dengan baju yang belum terpakai.
"APAAN WOI!!" Teriaknya.
"Lu ngapain masuk bambang?!!! Gue lagi pakai baju." Protes Gue.
"Oh...yaudah cepat." Jawabnya.
Bukannya keluar dari kamar Gue, ia malah masuk ke kamar dan menutup pintu Gue. Ia berjalan kearah ranjang Gue dengan mata yang tertutup.
"Ranjang Lu mana sih?" Tanyanya yang bingung karna tidak bisa melihat apapun.
"Kanan-kanan...jangan lurus bambang!! Lu malah ke Gue." Jawab Gue.
"Ya maaf...nah dapat juga." Sambungnya yang sudah memegang ranjang Gue, lalu duduk dengan kresek yang di letakkan di atas ranjang Gue juga.
"WOI!!NANTI KOTOR!!" Teriak Gue.
"Apanya?" Tanyanya yang sontak berbalik menatap Gue.
"Pakai baju dulu napa!!mata Gue!!" Ucapnya lalu berbalik membelakangi Gue.
"Iya-iya." Ucap Gue yang buru-buru memakai baju dan juga celana Gue.
Setelah itu, Gue pun menghampirinya dan berdiri di hadapannya.
"Udah woi!!" Sahut Gue.
Ia pun membuka matanya dan menatap Gue.
"Ku ngapain pakai baju kayak gitu? Mau jalan?" Tanyanya.
__ADS_1
"Gak lah, Gue dari tadi mau tidur. Lu malah ganggu Gue terus." Jawab Gue lalu duduk di sampingnya.
"Lah terus? Ngapain?" Tanyanya lagi.
"Gak tau...Papi nyuruh ganti baju, katanya ada yang mau ketemu Gue. Jadi, yaudah siapa tau penting, Gue pakai kemeja, deh" Jawab Gue.
"Terserah dah...nih Ice Cream lu." Sambung.
"Thanks." Ucap gue.
"Ya." Balasnya.
"Yaudah Gue balik ke kamar." Lanjutnya lalu berdiri.
Gue sontak menahan tangannya, dan menariknya untuk duduk kembali.
"Kenapa lagi?" Tanyanya.
"Lu gak ngeliat siapa yang ada di bawah?" Tanya Gue.
"Gak sih, Gue langsun lari naik ke kamar Lu." Jawabnya.
"Lah? Masa gak ngeliat." Sahut Gue.
"Gak Raisa...dah Gue mau balik, bye." Smabungnya Lalu berdiri dan berjalan pergi.
*Siapa, ya?*Batin Gue.
"Bodo lah." Gumam Gue lalu berdiri dan mengambil kresek yang berisikan Ice Cream itu, lalu berjalan ke rah kulkas Gue.
Gue pun menyusun rapi Ice Cream itu, lalu kembali berdiri dengan Rapi.
"Oke kita pergi." Ucap Gue lalu berjalan keluar kamar tanpa mengganti sendal Gue.
Saat Gue melangkah turun ke bawah. Gue melihat jelas ada 2 pasang kekasih, dan salah satu diantaranya tentu saja orang Tua Gue.
*Siapa?* Batin Gue yang bingung melihat orang itu.
Gue pun sontak menghampiri mereka. Mami yang melihat Gue sontak berdiri.
"Iya." Jawab Gue.
"Sini-sini." Sambung Mami menyuruh Gue duduk di sampingnya.
Gue pun hanya bisa menuruti mereka. Gue duduk di tengah-tengah di antara Mami dan Papi Gue.
"Sayang...kok pakai sendal?" Bisik Mami.
"Hah? Oh...lupa ganti." Ucap Gue setelah melihat kebawah kaki Gue.
"Memang siapa sih?" Tanya Gue.
"Dia orang yang kamu kenal." Jawab Mami.
"Oh...jadi ini yang namanya Raisa? Cantik ya, sayang...sesuai sama yang Mami mau." Sahut wanita itu.
*Hah? Kok dia tau?* Batin Gue dengan tersenyum ke mereka.
"Tapi apa dia bisa menemani Putra mu?" Tanya pria itu.
"Sayang...pilihan Putra mu tidak mungkin salah." Jawab wanita itu.
*Lah? Gue gak paham!! Tolong!!* Batin Gue.
"Kapan Putra anda sampai disini?" Tanya Mami.
"Mami..." Bisik Gue sambil menatap Mami.
"Mungkin sebentar lagi, ia masih dalam perjalanan." Jawab Wanita itu.
"Mending kita bicarakan sekarang saja." Sambungnya.
"Bicarakan apa?" Tanya Gue bingung.
__ADS_1
"Jadi mereka kesini untuk membicarakan hubungan kalian." Jawab Mami.
"Hubungan apa?" Tanya Gue.
"Aduh...Putri anda sangat polos, hahahaha." Sahut Wanita itu.
"Jadi nak...kami kesini untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan keluargamu." Sambung pria itu.
"Maksudnya?" Tanya Gue lagi.
"Putra mereka ingin mengajak mu bertunangan, sayang." Sahut Papi.
"WHAT?!!TUNANGAN?!!" Teriak Gue bersama Rasya yang ternyata juga ikut dalam pertemuan ini.
"Loh? Bang? Ngapain?" Tanya Gue bingung.
"Gue juga disuruh turun sama Papi." Jawabnya lalu menghampiri kami.
Ia pun duduk di samping Gue dan Papi.
"Siapa yang mau tunangan?" Tanya Rasya.
"Adik kamu..." Jawab Mami.
"Lah? Rasya aja belum lulus. Kok malah main ngajak tunagan aja?" Sambung Rasya.
"Itu lebih baik, sayang." Ucap Mami.
"Tapi, Mi-"
"Rasya...gak pakai tapi-tapian, kamu juga akan setuju kalau melihat siapa yang akan bertunangan dengan adik mu." Bisik Papi.
"Oke, Pi." Jawab Rasya.
"Bang...gimana?" Bisik Gue.
"Tenang aja...kita liat dulu siapa yang akan bertunangan sama Lu." Bisik Rasya.
Gue hanya menjawab dengan anggukan.
"Apa anda langsung terbang ke indonesia bersama?" Tanya Papi.
"Tidak...kami berpisah, saya dari Amerika dan Istri saya dari Korea." Jawabnya.
*Korea?* Batin Gue.
"Wah...terima kasih sekali, karna telah meluangkan waktu anda." Sambung Mami.
"Tidak apa...kami begini juga untuk Putra kami yang sangat bersikeras untuk mendapatkan Putri anda." Jawab wanita itu.
"Hahaha...anak itu memang penuh dengan kejutan." Ucap Mami.
"Tapi dia sangat keras kepala." Sahut pria itu.
"Sayang...jangan mengejek Putra mu." Ucap wanita itu.
"Maaf ya...suami saya memang seperti itu, dia dan Putra nya memang sering sekali bertengkar." Lanjutnya.
"Hahaha...tidak apa, memang wajar seorang ayah dan Putranya sering bertengkar." Jawab Mami.
Tiba-tiba saja ponsel dari wanita itu berbunyi.
"Pemisi sebentar." Ucapnya lalu mengangkat telponnya.
Gue tidak mendengar jelas apa yang ia bicarakan dengan sih penelpon itu. Setelah menelpon ia kembali meletakkan ponselnya di dalan tasnya.
"Putra saya sudah sampai." Sahut wanita itu.
"Oh...bagus sekali." Jawab Mami.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk ke dalam rumah Gue dengan pakaian yang sangat rapi seperti Pria yang ada di hadapan Gue ini.
"Selamat Pagi." Sapa seseorang itu yang awalnya menunduk dan tiba-tiba menengakkan kepalanya lalu menatap kami.
__ADS_1
"LU?!!" Teriak Gue dan Rasya sambil berdiri bersama.
Bersambung