
Waktu makan malam pun tiba. Karna Mami dan Papi yang belum pulang, Gue pun hanya bisa makan di kamar doang.
Bibi mengantar Gue makan malam ke kamar, Gue yang masih sibuk dengan tugas-tugas sekolah, karna Tugas Rasya yang juga Gue kerjakan, akhirnya semua tugas Gue menumpuk.
"Non..." Panggil Bibi yang ternyata masih berdiri di dkt ranjang.
"Loh? Kenapa, Bi?" Tanya Gue.
"I-itu, Non. Tadi saya antar makanan ke kamar Tuan Rasya, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamarnya, Non. Saya sudah ketuk berkali-kali tapi tidak ada jawaban juga." Jelasnya.
"Loh? Tapi Rasya ada di kamar kan, Bi?" Tanya Gue lagi yang khawatir.
Gue yang lagi di meja belajar, sontak berdiri dan menghampiri Bibi.
"Sepertinya ada, Non. Karna kamarnya di kunci dari dalam, Non." Jawab Bibi.
"Baiklah...antarkan ke saya saja makanan Rasya,biar saya saja yang memberikannya ke Rasya." Balas Gue.
"Tapi makanan Nona gimana? Nanti dingin, Non." Sahut Bibi.
"Tidak apa, saya malam ini tidak usah makan dulu." Jawab Gue.
"Tapi, Non. Nanti Nyonya dan Tuan besar marah kepada saya." Ucapnya.
"Bilang saja saya makan berdua dengan , Rasya." Sambung Gue.
"Ba-baik, Non." Jawabnya lalu keluar dari kamar Gue.
Setelah bibi keluar dari kamar, Gue pun langsung kembali ke meja belajar dan merapikan semua buku-buka yang ada di atas meja, dan juga mematikan komputer Gue.
Setelah selesai merapikan meja belajar Gue, Bibi pun datang dengan nampan makanan untuk Rasya.
"Ini, Non." Ucapnya sambil memberikan Gue nampan makanan itu.
"Terima kasih, Bi. Bibi bisa kembali ke dapur." Jawab Gue setelah menerima nampan makanan itu.
"Baik, Non." Balasnya lalu pergi.
Gue pun keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu kamar Rasya.
Tok tok tok
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari ketukan pintu yang Gue buat.
"WOI!!BUKA!!!" Teriak Gue.
Karna kesal, Gue pun memukul-mukul pintunya dengan keras agar Rasya membukakan Gue pintu.
"WOI!! KALAU LU KAGAK BUKA SEKARANG, GUE–"
Belum selesai Gue ngomong, tiba-tiba pintunya pun terbuka dan terlihat Rasya yang berdiri di depan pintu itu dengan kepala yang ia tundukkan.
"Lu kenapa gak bu-"
Lagi-lagi ucapan Gue terputus karna Rasya yang tiba-tiba pergi dari hadapan Gue.
"Untuk Gue lagi baik, kalau gak...gue tabok Lu." Gerutu Gue.
Gue pun masuk ke kamarnya lalu menutup pintunya kembali. Gue pun meletakkan makanannya di atas meja yang memang di gunakan untuk makan di kamar dengan 2 kursi.
Gue sontak berbalik dan menatap Rasya yang sedang berbaring di ranjang.
"Yaelah...malah tidur lagi." Gumam Gue.
Gue pun menghampiri Rasya lalu duduk di atas ranjangnya.
*Gue udah kayak ngomong sendiri.* Batin Gue.
"Bang...Gue tau Lu cinta banget sama dia, tapi kalau dia bukan takdir Lu. Lu gak bisa berbuat apapun bang." Ucap Gue sambil memegang punggungnya.
"Lu gak bisa melawan takdir, Bang. Tapi kalau tuhan memang menakdirkan Lu dan Reina bersama, mau bagaimana pun masalah yang lu dapatkan, itu semua bakal bisa lu lewati bang. Percaya aja sama Gue." Lanjut Gue.
Rasya tiba-tiba berbalik dan menatap Gue degan mata yang sudah membengkak karna menangis.
"Astaga!! Bang!! mata lu kok kayak gitu!!" Sahut Gue yang kaget karna melihat mata Rasya.
"Raisa..." Lirihnya yang mencoba bangun dari posisi tidurnya.
Gue sontak membantunya dan berkata. "Lu udah kayak orang sekarat aja."
"Hm..." Dehemnya yang tidak memerdulikan ejekan Gue.
"Awas Lu nangis lagi, Gue tabok Lu!" Ancam Gue hanya sebagai hiburan agar ia tidak memikirkan Reina lagi.
__ADS_1
"Lu gak ngerti perasaan Gue, Sa. Lu enak, Lu udah tunangan sama Devan, beda sama Gue yang masih di gantung." Ucapnya dan lagi-lagi membuat hati Gue sakit.
"Bang...walaupun kita kembar, bukan berarti takdir yang di buat tuhan juga kembar. Lu gak boleh ngomong gitu, Lu harus sabar sama apa yang lu hadapin sekarang." Sambung Gue.
"Lagian Gue gak bakal biarin Lu hadapin masalah Lu sendiri, bagaimama pun Gue bakal bantu Lu. Gue gak mau abang Gue nangis kayak gini." Lanjut Gue dan sontak memeluk nya.
"Tapi–"
"Bang...Gue mohon, jangan pernah bilang kalau Gue gak ngerti perasaan Lu. Gue ngerti bang, lu sedih, Gue pasti ngerasin itu juga. Kita ini twins, semua yang Lu rasain, paati gue ngerasain juga, jadi stop bilang kalau Gue gak ngertiin Lu." Potong Gue yang masih memeluknya.
"Thanks...karna sudah terlahir sebagai saudara kembar Gue. Dan maaf, karna Gue yang egois ini." Sahutnya yang membalas pelukan Gue.
"Gue beruntung terlahir bareng Lu." Lanjutnya.
"Ya...Gue Juga beruntung punya abang kayak Lu." Jawab Gue.
"Sekarang berhenti mikirin Reina, lu fokus aja ke ujian nanti." Lanjut Gue lalu melepas pelukan Gue.
"TUGAS-TUGAS GUE!!" Teriaknya yang terlejut dan menatap Gue dengan mata bulatnya.
"Dasar!!" Geram Gue.
"Gue udah selesaiin tugas Lu tadi, tinggal tugas Gue yang belum selesai." Ucap Gue.
"Beneran?" Tanyanya.
"Iya Rasya..." Jawab Gue.
"Makasih...sayang banget deh sama adik aku ini." Balasnya lalu mencium pipi Gue.
"Idih...giliran kayak gini aja baru nyium Gue, untuk Lu abang Gue." Protes Gue tapi langsung membalas mencium Pipinya juga.
"Yaudah, mending Lu sekarang makan. Gue ada kerjaan di kamar." Lanjut Gue.
"Loh...Lu udah makan?" Tanyanya.
"Hm...udah tadi." Jawab Gue terpaksa bohong.
"Yakin?" Tanyanya lagi.
"Iya bang...dah lah, gue mau balik. Bye." Jawab Gue lalu turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Gue pun kembali ke kamar Gue dan melanjutkan mengerjakan tugas yang belum terselesaikan.
Bersambung