Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Kenapa Lu Bisa Disini?


__ADS_3

"Dari mana aja, sayang?" Tanya seseorang yang memeluk Reina itu.


*Sayang?!!!* Batin Gue lalu berbalik menatap laki-laki itu.


"Lu?!!" Teriak Gue.


"Eh Rasya?" Ucapnya sambil menatap Gue dengan posisi masih memeluk Reina dan dagu yang di legakkan di pundak Reina.


"Sayang...kamu dari mana?" Tanyanya ke Reina.


*Sayang? Lagi?!!!* Batin Gue.


Gue yang tidak bisa menahan amarah, sontak menggenggam bahu Bran lalu menariknya agar menjauh dari Reina.


"Eh? Kenapa?" Tanya Bran sambil menatap Gue.


"Jangan asal meluk cewek orang!!" Geram Gue.


"Cewek? Maksud mu Reina? Memang kenapa?" Tanyanya.


"Gue gak suka!!" Jawab Gue sambil menatapnya tajam.


"Hah?!! Memang kamu siapa?" Tanyanya dengan tersenyum sini lalu menepih tangan Gue.


Bran sontak mendekat ke Reina lalu merangkulnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Reina.


"Memang kenapa, kalau aku memeluk nya?" Lanjutnya dengan senyum sinisnya lagi.


Gue yang masih menahan amarah, karna tidak ingin melukai teman Reina. Tapi jika sikapnya seperti itu dengan cewek yang Gue suka, itu tidk bisa di ampuni.


"Menjauh darinya!!" Geram Gue lalu merenggangkan leher Gue dan juga jari-jari tangan Gue.


"Hah...konyol sekali." Ejeknya lalu berdiri di depan Gue.


"Apa kamu sedang menantang ku?" Lanjutnya.


Gue yang benar-benar tidak bisa menahan amarah, sontak menarik kera bajunya dan bersiap untuk memukulnya.


Tapi saat tangan Gue sudah dekat dengan wajahnya. Tiba-tiba saja ada yang teriak.


"Woi!!!" Teriak seseorang yang familiar.


Gue sontak menengok ke asal suara itu. Terlihat jelas Raisa yang sedang berjalan menghampiri kami.


Gue yang melihat itu langsung menurunkan tangan Gue dan melepas Bran.


"Lu kenapa lama banget sih?!!!" Teriak Raisa.


"Eh Bran." Lanjutnya.


"Kenapa Lu lama sih?" Tanyanya lagi.


"Ada urusan!" Jawab Gue.


"Hah...buruan, udah di tunggu dari tadi." Ucapnya.


"Iya." Jawab Gue.


"Urusan kita belum selesai." Bisik Gue ke Bran lalu pergi tanpa pamit dengan Reina.


Saat rapat di mulai. Gue sama sekali tidak bisa fokis dengan apa yang di sampaikan para Manajer dan juga Raisa.


Pikiran Gue malah memikirkan Reina yang bersama dengan cowok gila itu.


*Hah...mungkin kalau gak ada Raisa, Udah bonyok tuh muka nya. Biar kagak bisa jadi model lagi, sekalian ****** aja.* Batin Gue.


***


Rapat yang cukup lama itu, membuat ku lapar. Gue pun memutuskan untuk mencari cemilan di sore hari. Sedangkan Raisa lebih memilih beristirahat di kamar.


Saat sedang asik berjalan sendirian menuju restoran. Pemandangan yang sama sekali tidak ingin kulihat, malah terlihat jelas di depan mata Gue.


Ya benar saja, ada cowok gila itu yang sedang bersama dengan Reina. Yang tambah membuat Gue emosi adalah, Bran memeluk leher Reina dari belakang. Mereka juga sedang menuju ke restoran yang juga ingin  Gue kunjungi.


"Hah... Sudah lah, cari restoran lain aja." Gumam Gue lalu berbalik untuk pergi ke restoran yang lainnya.


Tapi saat Gue ingin melangkah, tiba-tiba saja ada cewek yang seharusnya tidak ku temui di saat-saat seperti ini.


"Rasya~" Panggil Jessica.


*******!! Sial banget hari ini.* Batin Gue lalu sontak berbalik ingin menghindarinya.


Tapi bukannya menghindar darinya, Gue malah di rangkul olehnya yang tidak tau sejak kapan ia berada di samping Gue.


"Aduh, sayang kamu kok gak pernah bales pesan aku?" Tanyanya yang lebih mengeratkan lagi rangkulannya.

__ADS_1


"Wait-wait...kok Lu bisa disini?" Tanya Gue.


"Oh...Aku mau sewa hotel ini untuk acara ulang tahun ku nanti." Jawabnya.


"Jadi Lu yang mau buat acara ribet itu?" Tanya Gue karna merasa kesal dengan semua prosedur acaranya.


"Loh...kok kamu bisa tau, sayang? Kan aku belum ada ngasih tau kamu." Sambungnya.


"Sayang-sayang mulu, stop sebut Gue sayang." Ucap Gue.


"Dan ini...lepas!!" Lanjut Gue sambil menunjuk tangannya.


"Ih~ emang kenapa, sih?" Tanyanya.


*Shit!! Jangan ngomong degan nada begitu dong!! Kalau Lu Reina aja gakpapa.* Batin Gue.


"Gak boleh...Jessica." Ucap Gue sambil melepas tangannya.


"Sekarang jawab pertanyaan Gue." Lanjut Gue yang berdiri di hadapannya.


"Oke, baby." Jawabnya.


"Serah Lu, dah." Gumam Gue.


"Kenapa Lu harus sewa nih Hotel?" Tanya Gue.


"Emang kenapa? Aku suka sama Hotel ini." Jawabnya.


"Lagian aku udah kasih DP, kok." Lanjutnya.


"Nah itu maksudnya Gue...kenapa Lu mau nyewa Hotel yang mahal ini? Pakai sewa satu lantai kamar dari Hotel ini lagi." Sahut Gue.


"Hm...kenapa ya...mungkin karna suka, lagian kamar hotel itu buat para tamu VIP seperti kamu, baby." Jawabnya.


"Tapi Gue–"


"Mending kita ke restoran itu." Potong Jessica sambil menunjuk restoran yang tadinya Gue mau kunjingi.


"NO!!" Teriak Gue.


"Why, baby?" Tanyanya.


"Gue bilang tidak ya tidak!!" Tegas Gue.


"Tapi aku mau kesana, yuk." Sahutnya lalu menarik Gue dengan paksa masuk kedalam restoran itu.


Itu sudah biasa terjadi mulai pertama kali Gue bertemu dengannya, Jessica selalu memaksa Gue ikut dengannya. Maka dari itu Gue selalu tidak ingin bertemu dengannya.


Saat di dalam restoran, Gue hanya bisa tertunduk karna takut Reina melihat Gue dengan Jessica.


Karna tidak fokus, Gue baru sadar kalau Jessica memilih meja di belakang Reina.


"Kita pindah aja, ya." Ucap Gue.


"Gak!! Aku mau disini sama kamu, sekarang duduk." Perintah Reina.


"Tapi–"


"Duduk, sayang." Potong Jessica sambil menarik tangan Gue.


Dengan berat hati, Gue pun duduk. Untungnya Jessica tidak memilih meja yang di samping Reina.


*Kenapa Gue malah disini,sih?* Batin Gue lalu meletakkan kepala Gue di atas meja.


Tapi tiba-tiba saja Jessica malah mengelus pipi Gue dan juga rambut Gue secara bergantian. Karna terkejut, Gue sontak duduk dengan tegak dan menatap Jessica dengan mata yang membesar.


"Kamu kenapa, baby?" Tanyanya lalu menopang dagu dengan sebelah tangannya.


"Lu ngapain nyentuh-nyentuh pipi Gue?" Tanya Gue.


"Gak papa...suka aja, hehe." Jawabnya dengan tertawa kecil.


"Gi-gila Lu." Balas Gue.


"Iya aku gila, gila karna kamu." Ucapnya.


"Mending kita pesan makan." Lanjutnya.


"Gue gak lapar." Jawab Gue.


"Bagaimana dengan cake coklat?" Sambungnya.


*******!! Gue gak bisa nolak cake.* Batin Gue.


"Hah...oke, pesan cake dengan bermacam-macam rasa." Ucap Gue.

__ADS_1


"Apapun untukmu, baby." Jawabnya.


Selagi Jessica sibuk memesan cake, Gue hanya bisa diam sambil menopang dagu dengan kedua tangan.


"Kamu kenapa, sih?" Tanya Jessica yang sudah selesai berbicara dengan pelayan.


"Gak papa." Jawab Gue dengan posisi yang sama.


"Tapi kok dari tadi gak mood?" Tanyanya.


"Gak papa, sumpah." Jawab Gue lalu mengganti posisi dengan menyandarkan punggung Gue di kursi.


"Oh ya...kamu nanti datang kan ke pesat aku?" Sambungnya.


"Gak." Jawab Gue cepat.


"Kok gitu? Aku udah siapin kamar loh buat kamu." Ucapnya.


"Gue gak mau tidur di kamar biasa." Ucap Gue.


"Yaudah...aku ganti dengan kamar VIP,  gimana?" Tawarnya.


"Gak!" Tolak Gue cepat.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Gue udah punya kamar di Hotel ini." Jawab Gue tanpa sadar.


"What?!! Kamu tinggal disini? Kenapa?" Tanyanya.


"Ya...itu...cu-cuma mau nginep doang." Jawab Gue ragu.


"Bohong!! Aku tahu kalau kamu gak bisa bohong, Sya." Sambungnya.


"Kamu sama siapa disini?" Tanyanya lagi dan lagi.


"Hah...Gue sama Raisa tinggal di sini selama sebulan–"


"Kok bisa?" Potongnya.


"Gue belum selesai ngomong, lu udah potong aja." Protes Gue.


"Ya maaf." Jawabnya.


"Gue sama Raisa sementara yang bertanggung jawab di Hotel ini. Makanya Gue bisa tau kalau Lu sewa Hotel degan prosedur yang ribetnya minta ampun." Jelas Gue.


"Jadi kamu pimpinan disini? Kenapa gak ngomong? Kalau begitu kan aku langsung ngomong berdua aja sama kamu." Sambungnya.


"Bukan pimpinan, hanya wakil. Lu mau ngomong sama Gue aja? Mau kena tabok, hah? Udah ribet gini malah ditambah ribet lagi." Protes Gue.


"Lagian aku kan ngasih bayaran yang tinggi, Papa aku juga udah setuju kok. Kan tadi sekretaris papa aku ikut rapat sama kalian." Ucapnya.


"Jadi itu utusan papa Lu?" Sahut Gue.


"Pantesan kepala batu, satu server toh." Gumam Gue.


"Intinya jangan terlalu lama lu buat pesta ulang tahun doang. Lu gak ingat pesta lu tahun lalu? Rempongnya minta ampun." Lanjut Gue.


"Kan aku cuma sehari, doang." Jawannya.


"Ya sehari, jangan seharian juga kali. Masa dari jam 11 pagi sampai jam 11 malam. Lu sehat?" Protes Gue.


"Ya makanya aku buat susunan acara yang tidak akan membuat orang bosan. Jadi bohon bantuannya pimpinan Rasya." Ucapnya.


"Hah...dasar" Gumam Gue.


Pesanan yang di pesan oleh Jessica pun datang. Semuanya benar-benar cake favorit Gue, beraneka ragam rasa cake yang ada di hadapan Gue.


"Aduh perut ku, harus ngeGYM nih." Gumam Gue.


"Kita makan aja, yuk." Ajaknya.


"Lu gak ajak pun, gua mau langsung makan." Ucap Gue dan bersiap mencoba cake coklat.


Tapi saat Gue ingin memotong cake itu, tiba-tiba Jessica menyodorkan Gue garpu yang sudah ada cakenya.


"Apa?" Tanya Gue.


"Aku suapin." Jawabnya.


"Kagak per–" Sebelum menyelesaikan ucapan Gue, Jessica langsung memasukkan cake itu ke dalam mulut Gue.


Karna tidak bisa menolak dengan cake itu, Gue akhirnya pasrah dengannya. Bukan hanya sekali doang dia menyuapi Gue, ia menyuapi sampai berkali-kali.


Tapi saat suapan yang ke 5 tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan tangan Jessica.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2