
Gue berhasil mengejar anak baru itu dan mulai berjalan ke perpustakaan ditengah-tengah kesunyian di antara kami, gue mencoba untuk memecahkan kesunyian ini dengan memulai berbincangan.
"Nama lu siapa?" tanya gue yang berjalan tepat di sampingnya.
"Reina." jawabnya dingin.
"Lu pindahan dari mana?" tanya gue lagi.
"Amerika." jawabnya masih saja dingin.
"Tapi lu kok lancar banget ngomong bahasa Indonesia nya." sambung gue
"Mami saya yang mengajari." balas Reina.
"Oh bokap lu asli Indonesia ya."
"Yah." jawaanya dingin.
"Tapi lu kenapa–" ucap gue yang tiba-tiba terpotong karna seseorang yang berteriak memanggil nama gue.
"WOI!! RAISA PUTRI!!" teriak Jessica sih ketua geng Goodgirl.
"Shit." bisik gue.
"Reina mending kita lari aja yuk." ajak gue agar terhindar dari bacotan Jessica.
"Aku terlalu cape untuk lari." jawab Reina dan tetap berjalan dengan santai sambil Mendengarkan musiknya.
"Woi!!" teriak Jessica sambil memegang pundak Reina.
Reina yang merasa pundaknya disentuh ia hanya diam dan menatap Jessica tajam.
"Napa lu natap-natap gue, hah?!!" bentak Jessica.
"Lepasin woi!!" teriak gue ke Jessica dan Jessica sontak menatap gue tajam.
"Kenapa?!! lu mau buat ulah sama gue?" ancam gue.
"Lu diam aja ya! urusan gue bukan sama lu." jawab Jessica seperti di ambang amarah.
"Dan lu–" saut Jessica sambil mengalihkan tatapannya yang awalnya natap gue menjadi natap Reina.
__ADS_1
"Sampah!!!" ucap Reina lalu menepis tangan Jessica yang ada di pundaknya tadi, lalu Reina sontak menggenggam tangan gue dan menarik gue berjalan dengan cepat.
Gue yang kaget karna perkataan Reina sontak menatap wajah Jessica yang ternyata terkejut dan membeku sambil menatap Reina.
"Lu-lu kok bisa?" tanya gue bingung.
"Bisa apa?" tanya Reina santai lalu melepaskan genggamannya dan kembali berjalan dengan santai.
"Lu kok bisa buat Jessica diam gitu? dan gue denger-denger bukan cuma Jessica yang kayak gitu, abang gue–eh bukan maksudya Rasya lu juga buat dia terdiam kayak gitu." ucap gue yang masih kebingungan.
"Oh jadi itu abang kamu? Pantesan muka kalian kembar tapi sifat kalian berbeda." jawab Reina santai.
Beda? lu aja yang belum tau sifat gue sama Rasya gimana. *Batin gue.
"Iya dia abang gue, tapi kok lu bisa kayak gitu sih?" tanya gue lagi.
"Gak ada yang aku lakuin, cuma mereka doang yang tiba-tiba diam begitu." jawabnya santai.
"Ta-tapi–" ucap gue yang di potong oleh Reina.
"Sudah lah, cepat selesaikan berkeliling sekolah ini, aku cukup lelah." saut Reina.
"Oh, oke." jawab gue lalu memulai berjalanan kami kembali, mulai dari perpustakaan ruang kelas yang ada di sekolah, kantin sekolah, ruang guru/TU, semua lapangan yang ada di sekolah dan yang lainnya kita kelilingi sambil berbincang-bincang walaupun terkadang jawaban Reina hanya beberapa kata tapi saat ini kita sudah lumayan dekat dan dari yang gue liat dari tadi Reina tipe orang yang Bodoamat ke orang dan memiliki ekspresi wajah yang sangat datar.
"Raisa." panggil Reina.
"Hah? Iya kenapa?" tanya gue.
"Hm... karna aku masih baru, aku masih banyak pertanyaan a-apa aku boleh meminta no-nomor mu?" ucap Reina sangat kaku seperti pertama kali mendapatkan seorang teman yang cocok dengannya.
"Hah?! Oh tentu saja, sini hp lu." jawab gue senang dan Reina langsung memberikan ponselnya ke gue.
"Nih, nama gue di kontak lu Raisa Putri." ucap gue setelah menyimpan nomor gue di ponsel Reina.
"Terima kasih, gue masuk ya, bye." ucap Reina lalu masuk kekelas.
"Bye Reina!!" teriak gue dengan senang hati di depan kelasnya sambil melambaikan tangan tentu saja gue di liatin murid-murid kelas nya temaksud Rasya yang terkejut karna gue tiba-tiba menjadi dekat dengan Reina.
Setelah itu gue pun kembali kekelas gue dengan tenang dan tentu saja dengan suasana hati yang happy karna telah mendapatkan satu teman baru dan sepertinya ia tidak seperti teman-teman lain yang hanya mendekati gue hanya karna ingin mengenal Rasya atau ingin poluler juga seperti gue, semoga apa yang aku pikirkan tentang Reina memang benar.
***
__ADS_1
Bel pulang pun berbunyi seperti biasa gue di jemput Rasya di kelas lalu kami berjalan ke parkiran bersama, saat di parkiran gue terkejut karna tiba-tiba ada keributan lagi di parkiran dan kali ini gue gak mau ketinggalan berita alhasil gue yang tadi di rangkul Rasya tiba-tiba melepas rangkulannya dan berlari ke kerumunan orang itu. Saat gue berhasil masuk ke kerumunan orang itu gue di buat terkejut karna yang menjadi alasan keributan itu adalah Reina.
Reina? Tapi kenapa? *Batin gue.
"Kan sudah ku bilang jangan jemput aku!!!" teriak Reina sampai membuat wajahnya memerah.
"Tapi sayang, jika mami tidak menjemput mu pasti orang itu yang akan membawamu pergi." ucap seorang wanita yang berdiri di hadapan Reina sambil melirik seorang pria di sampingnya.
"Sudah ku bilang tidak ya tidak!!!" teriak Reina lagi.
"You can't be like that, Reina. (Kamu tidak boleh seperti itu, Reina) " ucap Seorang pria yang berdiri di samping wanita yang sepertinya itu adalah ayah Reina.
"I Can!! this is my life, you have no right to interfere in my life!!! (Aku bisa!! ini hidupku, kamu tidak berhak ikut campur dalam hidupku!!!)" teriak Reina.
"Tapi sayang, kami orang tua mu kami tidak bisa membiarkan mu seperti ini, kamu adalah pewaris satu-satunya dari keluarga Mami." saut Wanita itu.
"Oh shit!! Aku hanya pewaris dari 2 keluarga yang tidak bisa bersatu, kenapa kalian tidak melahirkan anak lain untuk pewaris kalian sendiri?!!! Harta? Tahta? Hanya itu yang kalian bisa berikan, aku muak, pergi lah selagi aku berbicara baik kepada kalian aku punya tempat tinggal sendiri walaupun itu dari uang kalian." ucap Reina yang awalnya berteriak menjadi santai.
Dua keluarga? Maksudnya? Reina sebenarnya berasal dari keluarga ternama mana? *Batin gue.
Saat gue fokus melihat pertengkaran Reina dengan orang tuanya gue tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan ternyata orang itu adalah Rasya. Rasya menarik gue masuk kedalam mobil dan tanpa basi-basi dia langsung mengendarai mobilnya dengan cepat.
"Lah bang? Kenapa sih?" tanya gue bingung.
"Apanya?" tanya Rasya lalu mulai mengendarai dengan stabil.
"Lu tiba-tiba narik gue, orang juga lagi fokus ngeliatin." jawab gue.
"Lu mulai belajar ikut campur urusan orang yah?" ucap Rasya.
"Ya bukannya mau ikut campur juga kali bang, gue cuma penasaran tapi anehnya kan bang yang dari kemarin bikin tmepat parkir rame tuh ternyata sih anak baru itu eh maksudnya sih Reina." balas gue.
"Gue udah bilang di orang gila, terus ngapain lu tadi dekat banget sama dia?" tanya Rasya.
"Gakpapa sih, orangnya asik jadi gue mau beteman sama dia." jawab gue santai.
"Gila lu ya? bisa-bisa lu malah diikut campurin sama masalah nya." saut Rasya.
"Serah gue lah, mau gue beteman sama dia atau gak suka-suka gue lah, dan lagi gue yakin dia orangnya gak bakal kayak gitu." balas gue.
"Bodo." gerutu Rasya.
__ADS_1
Kami pun kembali diam sampai kami tiba di rumah dan yah tentu Mami Papi belum pulang dari urusan bisnisnya jadi gue dan Rasya masuk kekamar masing-masing dan mengerjakan apa yang harus kami kerjakan, seperti gue yang melanjut kan cerita gue dan tentu tak lupa mengerjakan tugas yang di berikan guru sedangkan Rasya gue tau pasti dia pasti hanya bermain game dengan temannya, dia sama sekali gak pernah ngerjain tugas sekolah paling juga dia ngerjain disekolah ya walaupun Rasya pemalas tapi bisa di bilang dia pintar di kelas. Setelah kami selesai mengerjakan apa yang kami kerjakan kami langsung tidur, malam ini sama seperti malam kemarin tidak ada makan malam bersama tapi pembantu rumah kami selalu memasak kan kami makanan lalu mengantarkan ke kamar kami masing-masing ya tentu saja makanan itu di antarkan saat gue sedang mengerjakan novel gue dan saat Rasya masih fokus dengan gamenya.
Bersambung