Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Telpon dari Reina


__ADS_3

Malam hari di kamar Gue, Gue yang sibuk bermain game di laptop, dengan headphone yang terpasang di telinga Gue.


Tiba-tiba Gue menerima telpon masuk dari seseorang, awalnya Gue sama sekali tidak memperdulikannya, tapi semakin lama, orang itu semakin mengganggu ku.


Dengan terpaksa, dan perasaan yang cukup marah, Gue pun mengambil ponsel yang ada di samping laptop Gue, lalu menerima telpon itu.


"Ini siapa?" -Gue.


"Halo..." -??


*Loh? Kok familiar?* Batin Gue.


"Ya, Halo...ini siapa?" -Gue.


"Re-Reina." -Reina.


"Hah? Serius?" -Gue.


"I-iya, ini aku." -Reina.


"Gue gak mimpi kan? Ini beneran Lu? Reina?" -Gue.


"Iya Rasya...ini aku, Reina." -Reina.


"Oke-oke...tapi kok lu bisa punya nomor Gue?" -Gue.


"Aku minta nomor mu sama Raisa." -Reina.


"Oh...btw, lu ngapain nelpon? Lu kangen Gue ya?" -Gue.


"Iya...aku merindukan mu." -Reina.


*Shit...blak-blakan banget, tapi Gue suka.* Batin Gue.


Gue sontak menutup laptop Gue, dan berdiri dari posisi duduk Gue, lalu berjalan menuju ranjang Gue.


"Lu nelpon cuma buat ngomong itu doang?" -Gue.


"Tidak...aku ingin mengacak mu bertemu." -Reina.


"Malam ini?" -Gue.


"Iya." -Reina.

__ADS_1


"Tapi ini udah malam banget, mending besok aja." -Gue.


"Lagian besok kan minggu." -Gue.


"Hm...tapi aku ingin menjelaskan sesuatu yang penting." -Reina.


"Emang sepenting apa sih? Sepenting diri lu?" -Gue.


"I-ini mengenai penolakan ku sebulan yang lalu." -Reina.


"Hm...oh, udah sebulan aja ya? Gue gak tau sudah selama ini Gue di tolak." -Gue.


"Maaf...maka dari itu aku akan menjelaskan semuanya, tapi..." -Reina.


"Tapi apa?" -Gue.


"Aku mohon...setelah kamu mendengar penjelasan ku, jangan menjauh dari ku, apalagi sampai membenci ku." -Reina.


"Hah...sudah berapa kali Gue bilang, mau bagaimana pun Lu, Gue tetap bakal nerima Lu apa adanya." -Gue.


"Gue sampai bosan ngomong itu berkali-kali. Sedangkan Lu, malah seperti melakukan kesalahan besar saja." -Gue.


"Hm...maaf." -Reina.


"Ba-baik." -Reina.


"Kalau begitu, Gue matikan telponnya. Night." -Gue.


"Too." -Reina.


Telpon pun terputus, Gue sontak melepar ponsel ke belakang Gue, tepat di atas kasur.


"Hah...benar-benar melelahkan." Gumam Gue dan sontak berbaring di ranjang dengan posisi telentang.


Gue yang melihat kelangit-langit kamar, hanya bisa terdiam dan sesekali menghela nafas.


*Sebulan? Setelah di hitung-hitung, itu sudah hampir 2 bulan, Rei.* Batin Gue.


"Dua bulan Gue gak di beri kepastian, dan hanya Gue yang bersikap berlebihan. Sedangkan dia, hanya bersikap seperti biasa nya." Gumam Gue.


"Lu benar-benar gila, Sya." Ucap Gue ke diri Gue sendiri.


Gue pun berusaha untuk tidur, tanpa memikirkan Reina sedikitpun.

__ADS_1


***


Pagi hari pun tiba, kali ini Gue bagun agak siang saat pukul 10.25.


Karna sarapan pagi yang Gue lewati, Gue pun hanya bisa makan beberapa roti lapis dan juga susu yang di berikan oleh Bibi.


Tapi saat lagi santai sambil memakan roti lapis, tiba-tiba ada seseorang yang menerobos masuk ke kamar Gue.


"RASYA!!" Teriaknya.


"Apaan?" Tanya Gue.


"Lu ngapain?" Tanyanya yang menghampiri Gue.


"Menurut Lu?" Tanya Gue balik.


"Makan lah." Jawabnya.


"Nah udah tau masih aja nanya, dasar." Protes Gue.


"Santai dong, kok ngegas." Sahutnya.


"Lu mau Gue tabok atau gimana? Gue udah santai Lu bilang ngegas." -Geram Gue.


"Ya maaf, Gue kan becanda." Ucapnya.


"Serah." Jawab Gue.


"Btw...Gue denger Lu hari ini bakal ketemu sama Reina." Sahutnya.


"Iya...kenapa?" Tanya Gue.


"Gak sih...cuma mau bilang, Kalau Lu udah denger semuanya, jangan langsung jauhin dia apalagi langsung pergi. Gak baik tuh." Jawabnya.


"Maksud Lu?" Tanya Gue bingung sambil menatapnya.


"Pikir sendiri, dah Gue mo ke kamar. Babay." Jawabnya lalu pergi dari hadapan Gue tanpa menutup pintu Gue kembali.


"RAISA!! TUTUP PINTU GUE, WOI!!" Teriak Gue.


"Awas Lu!" Gumam Gue lalu berdiri dan menutup pintu Gue.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2