Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Leo


__ADS_3

"Saya percaya hanya kamu yang bisa merubah Leo." Bisiknya.


Setelah itu ia pun menatap Gue sambil tersenyum lebar. Gue yang mendengar bisikannya, bingung dengan apa yang ia maksud.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi." Ucap wanita itu lalu berbalik dan diikuti Devan.


Mereka pun masuk ke mobil, lalu mulai pergi satu persatu dari rumah Gue.


"Raisa..." Tegur Mami.


*******...pasti mau nanya soal tadi.* Batin Gue yang baru teringat kalau Mami pasti punya banyak pertanyaan kenapa Gue gak langsung nerima tawaran Devan.


Sebelum Mami mulai bertanya, Gue pun mundur selangkah dan berkata. "Mi, Pi...Raisa ke kamar dulu ya...ma-mau tidur, bye."


Gue pun langsung berlari menuju kamar Gue agar terhindar dari pertanyaan mereka.


Tapi saat Gue ingin menutup pintu kamar Gue, teryata Rasya mengikuti Gue mulai tadi.


"Napa?" Tanya Gue yang masih memegang gagang pintu.


"Gue mau masuk juga." Jawabnya.


"Hah...buru." Balas Gue lalu memperbolehkannya masuk.


Setelah Rasya di dalam kamar Gue, Gue pun langsung menutup pintu dan juga mengunci pintu itu.


"Hah...akhirnya." Gumam Gue lalu berjalan menghampiri Rasya yang sedang duduk di ranjang Gue.


"Lu ngapain kesini?" Tanya Gue setelah duduk di sampingnya.


"Jangan bilang Lu juga mau nanya kayak Mami?" Duga Gue.


"Iya Gue mau nanya." Sahutnya.


"Nanya apa?" Tanya Gue.


"Lu yakin mau nerima Devan? Walaupun dia sudah membantu Gue keluar dari masalah perkelahian itu, tapi dia tetap saja pembohong. Bagaimana bisa dia menipu kita semua? Devan dan Leo, orang yang sama dengan nama yang berbeda. Benar-benar gila." Jelasnya.


"Bang...Gue tau Lu pasti kaget soal Devan tadi, Gue juga sama kayak Lu. Gue yang sudah berapa lama pacaran sama dia aja, baru tau kalau dia selama ini bohongin Gue. Tapi mau gimana lagi, ini sudah alur yang di berikan tuhan..." Jelas gue.


"Tadi Lu dengar sendiri kan, kalau Gue masih butuh waktu. Waktu yang Gue maksud itu, waktu dimana Devan harus ngejelasin semuanya." Lanjut Gue.


"Tapi Sa, masa Lu mau tunangan sama cowok yang gak jelas itu." Sahutnya.


"Lah? Lu juga nanti gitu, bambang." Ucap Gue tanpa sadar.


"Maksud Lu?" Tanyanya.


"Hah? Gak-gak." Jawab Gue cepat.


*Hampir Gue ngasih tau soal Reina.* Batin Gue.


"Gak jelas, Lu." Rajuknya.


"Gue asal ngomong aja, kali. Gue gak serius tadi. " Sambung Gue.

__ADS_1


"Sudah lah...mending Lu ambil Ice Cream di kulkas Gue, kita makan Ice Cream aja dari pada mikirin yang tadi. Pusing Gue." Lanjut Gue.


"Serah." Jawabnya lalu berdiri dan mengambil Ice Cream yang tadi ia beli.


"Oh ya, Bang...tadi Lu liat kan Mami nya Devan ada berbisik sesuatu ke Gue." Sahut Gue.


"Iya...emang dia ngomong apa?" Tanyanya sambil duduk di samping Gue lalu memberikan Gue satu Ice Cream dan Ice Cream lainnya di letakkan di atas lemari di sampingnya.


"Masa dia ngomong gini saya percaya hanya kamu yang bisa merubah Leo, aneh kan. Aneh banget, sumpah." Jawab Gue.


"Hah? Maksudnya? Gue gak paham." Tanyanya bingung sambil menyantap Ice Creamny.


"Ya mana Gue tau, Lu aja gak paham apalagi Gue. " Jawab Gue dan mulai menyendok Ice Cream itu.


"Tapi kan...yang lebih aneh itu Mami sama Papi, masa mereka kayak senang banget kalau Gue tunangan sama Devan. Terus Mami Papi itu kayak lagi ngomong sama atasan gitu." Lanjut Gue.


"Nah...Gue juga bingung, pokoknya Lu harus gali semua informasi dari Devan. Siapa dia, siapa orang tuanya, apa pekerjaan orang tuanya, dan kenapa dia harus berbohong ke kita." Ucap Rasya.


"Siap, Bang. Gue memang mau tau semuanya, kok." Jawab Gue.


"Oh ya...besok kita gak belajar kan?" Tanyanya.


"Oh iya...Gue lupa ngasih tau. Setelah bagi rapor nanti, kita bakal liburan ke Jogja–"


"WHAT?!!!" Teriaknya.


"Gue belum selesai ngomong, Lu dah teriak-teriak." Protes Gue.


"Maaf-maaf refleks. Lanjut dah" Sambungnya.


"Jadi...yang liburan hanya kelas 12, anggota OSIS, dan juga para Guru. Tapi kita gak di pungut biaya dalam liburan ini." Lanjut Gue.


"Iya...yang bayar semuanya Devan." Jawab Gue ragu.


"Hah?!!! Devan?!! Dia yang bayar?!! Gi-gila." Sahut Rasya.


"Iya...tadi Gue di kasih tau kepsek, kita liburan selama seminggu. Biaya Pesawat dan Hotel sudah di tanggung Devan, dia malah sudah bayar semuanya." Ucap Gue.


"Lah? Tuh orang gila atau gimana sih? Tapi bagus juga sih...jadi Gue bisa liburan bareng Reina." Sambungnya.


"Bucin." Gumam Gue.


"Tapi kan...pembagian rapor 3 hari lagi." Lanjutnya.


"Nah itu...gue gak tau dah, gimana kelanjutannya. Tadi Gue sempat di suruh ikut rapat besok, tapi tiba-tiba gak jadi. Ada rasa senang, tapi malah aneh. Kok tiba-tiba Gue gak ikut rapat." Jawab Gue sambil meletakkan tempat Ice Cream sisa Gue di bawah, lalu mengambil Ice Cream lainnya.


"Yakan Lu bukan anggota OSIS lagi." Ejeknya.


"Gue malah senang kali, gak ribet, gak banyak pikiran, jadwal Gue gak padat. Ini namanya kebahagiaan dunia." Ucap Gue.


"Serah...Gue mau balik ke kamar." Sambungnya.


"Yaudah, balik sana." Jawab Gue.


"Nih mau balik, bye." Balasnya lalu keluar dari kamar Gue.

__ADS_1


"Jadi ngantuk." Gumam Gue lalu berdiri dan meletakkan kembali sisa Ice Cream yang belum termakan ke dalam Kulkas.


Setelah itu, Gue pun langsung berbaring di ranjang dan mulai menutup mata Gue.


***


Tak terasa malam pun tiba, sudah selesai makan malam bersama. Gue pun langsung naik ke kamar untuk menghibur diri dengan musik dan juga buku.


Tapi saat Gue lagi asik bersantai sambil mendengarkan musik. Gue yang belum mulai membaca, tiba-tiba saja ponsel Gue berdering dengan keras.


Gue pun langsung mengambil ponsel itu yang berada di atas meja belajar. Saat melihat siapa yang menelpon, ada rasa tidak ingin menerima telpon itu, tapi ada rasa penasaran juga yang mulai tadi menghantui Gue.


Akhirnya Gue pun memutuskan untuk mengangkat telpon itu.


"Halo...kenapa, Leo?" -Gue.


"Halo...sayang, jangan panggil aku dengan nama itu." -Devan.


"Kenapa? Itu kan nama Lu." -Gue.


Gue pun kembali duduk di kursi dengan santai.


"Lu gak suka?" -Gue.


"Jangan membuat aku merasa yang paling bersalah disini." -Devan.


"Oh..." -Gue.


"Hah...baiklah, terserah kamu akan memanggil ku apa." -Devan.


"Tapi...jangan terus-terusan marah kepada ku, aku lebih baik terluka dari pada harus menerima sikap dingin mu itu." -Devan.


"Terserah...lu ngapain nelpon?" -Gue.


"Aku ingin memberitahu mu, kalau aku akan menjelaskan semuanya saat kita liburan nanti." -Devan.


"Kurang lama." -Gue.


"Maaf...aku harus mengurus liburan itu dulu, setelah itu aku bisa menjelaskannya." -Devan.


"Terserah..." -Gue.


"Baiklah...hanya itu yang ingin ku sampaikan." -Devan.


"Ya...bye." -Gue.


"Jangan di tutup dulu!! Aku belum mengucapkan selamat malam." -Devan.


"Hmm..." -Gue


"Good night and Sweet dream, baby." -Devan.


"Too." Balas Gue lalu langsung menutup telponnya.


"Hah...memuakkan." Gumam Gue lalu meletakkan ponsel Gue di meja.

__ADS_1


Gue sontak menaikkan Volume lagu Gue, sampai memenuhi satu ruagan Gue. Bukannya mulai membaca, Gue malah memejamkan mata Gue dan menikmati lagu itu.


Bersambung


__ADS_2