
Di sore hari yang cerah dengan angin sepoi-sepoi sangat bagus untuk kami memulai pesta.
Semua pizza, burger, dan soda yang sudah di susun dengan rapi di atas meja.
Para cowok sudah mulai masuk ke dalam kolam renang bersama, sedangkan Gue masih sibuk di kamar mandi untuk mengganti pakaian renang.
Gue yang membawa 2 jenis pakaian renang, untuk di pakai. Satu pakaian renang yang sangat seksi, dan satu pakaian renang biasa yang menutupi tubuh Gue sampai paha.
*Hm...apa Gue coba yang ini aja, ya?* Batin Gue sambil memegang baju renang yang seksi itu.
*Tapi kalau Devan marah gimana?* Batin Gue lagi.
"Hm...oke! Itu lah yang Gue mau." Gumam Gue dengan tersenyum licik lalu langsung memakai pakaian renang itu.
Setelah selesai memakai pakaian renang itu, gue sontak mengambil baju mandi lalu memakainya untuk menutupi ke seksian yang membuat Gue benar-benar tidak nyaman.
"Uh...ini benar-benar menggelikan." Gumam Gue.
Gue pun keluar dari kamar mandi, dan berjalan menuju kolam renang.
Saat sampai, gue melihat jelas mereka sedang melakukan perlombaan yang Gue tidak tau siapa yang membuat perlombaan itu sampai-sampai Devan pun ikut dalam lomba itu.
"Lomba renang tapi kolamnya cuma 10 meter, haduh." Gumam Gue lalu menepuk jidat Gue.
Tiba-tiba Devan memanggil Gue. "Sayang!"
"Hah? Kenapa?" Tanya Gue menatapnya.
"Sini masuk ke kolam." Ajaknya.
"Hm...oke." Gumam Gue.
Gue sontak membuka baju mandi itu dengan perlahan. Mereka berenam yang tadi nya sedang sibuk berlomba, sedang mereka menatap Gue dengan mata bulatnya.
*Oh shit!! Tatapan mereja sangat nakal.* Batin Gue.
Baju mandi Gue pun sudah terlepas dari tubuh Gue dan terjatuh ke lantai.
"Oke!! Gue ikut masuk." Ucap Gue dan mulai melangkah ke kolam renang itu.
__ADS_1
Devan dan Rasya sontak berenang ke arah tangga dan naik lalu berlari menuju Gue dengan handuk yang mereka pegang masing-masing.
"Oh shit!! Gue bakal kena masalah nih." Guman Gue.
Devan lebih dulu menutupi tubuh Gue dengan handuk yang ia pegang, dan sontak memeluk tubuh Gue dengan erat.
"Ups...sepertinya aku salah pakai baju, sayang." Ucap Gue sambil menatap Devan dengan tersenyum manis.
"LU NAKAL SA!! MATA KITA JADI TERNODAI NIH, HAHAHA!!" Teriak Putra dengan tawa nakalnya.
"Lu mau Gue tabok!!!" Ancam Rasya sambil menatap Putra tajam.
"Sorry-sorry...Adek Lu tuh, masa gak tau kalau disini cowok semua, dia cewek sendiri." Ucap Putra.
"Gue tau kali!! Emang kalian berani nyentuh Gue? Gak kan!" Sahut Gue.
"Lu memang selalu cari masalah, Sa. Sana ganti baju" Sambung Rasya menatap Gue.
"Iya-iya." Jawab Gue.
"Aku temani." Ucap Devan.
"Awas Lu macam-macam sama adek Gue!! Habis lu!!" Ancam Rasya ke Devan.
"Dia tunangan Gue, jadi suka-suka Gue lah." Balas Devan.
Gue dan Devan pun masuk kedalam dapur, dan Devan megantar Gue sampai di depan kamar mandi.
"Thanks." Ucap Gue sambil memegang handuknya.
"Iya...lain kali jangan pernah pakai itu lagi, aku tidak suka milik ku di tatap orang lain." Jawabnya.
"Kok milik mu? Enak aja, ini masih punya aku kali." Balas Gue.
Devan sontak menarik tangan Gue yang sedang memegang handuk itu, dan memperlihatkan cincin pertunangan kami.
"Milik mu berarti milik ku juga." Ucapnya.
"Enak aja!! Ini punya–"
__ADS_1
Belum selesai Gue ngomong, tiba-tiba handuk yang Gue pakai itu jatuh dan tubuh Gue terlihat jelas.
Devan yang melihat itu, sontak mendorong Gue masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu kamar mandi.
"Kenapa Lu masuk juga, sih?!!" Sahut Gue.
"Siapa yang suruh pakai kata Lu lagi?" Tanya Devan.
"Iya-iya, maaf. Buruan lepasin Gue." Jawab Gue yang tidak tahan dengan posisi kami sekarang.
Gue yang bersandar di dinding dengan Devan yang menahan kedua tangan Gue di dinding, dan tubuhnya yang menempel dengan tubuh Gue.
"Le-lepas,Dev. I-ni gak boleh." Lanjut Gue yang memberontak agar bisa lepas dari Devan.
Tapi nihil, Gue sama sekali tidak bisa lpas dari Devan. Walaupun Gue sudah memberontak dengan sekuat tenaga, tapi Devan tetap saja tidak bergerak sedikit pun.
Devan yang memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Gue, badan yang beisi tadi tidak gemuk, dan juga otot-otonya yang kekar itu terlihat jelas karna ia tidak menggunakan baju sekarang, hanya celana yang ia gunakan.
"Dev...walaupun kita sudah tunangan, tapi ini gak boleh di lakukan." Ucap Gue.
"Memang apa yang ingin ku lakukan?" Tanyanya dengan tersenyum licik.
"Aku sangat tidak suka senyum itu." Ucap Gue.
Devan tiba-tiba mendekati wajah Gue, Gue yang melihat itu sontak menutup mata Gue dengan rapat.
Tapi tiba-tiba saja Devan berbisik di telinga Gue.
"Apa yang kamu harapkan, sayang~" Bisiknya dengan nada menggoda.
Gue yang kaget, sontak membuka mata Gue dan ternyata wajah Devan tepat di depan wajah Gue.
Ia sontak mencium bibir Gue, Gue yang terkejut hanya bisa membulatkan mata.
Devan sontak melepaskan tangan Gue dan memeluk pinggang Gue dengan erat dan juga menahan leher bagian belakang Gue.
Devan semakin lama semakin ******* bibir Gue, ia semakin ganas dalam hal ini. Gue gang berusaha untuk mendorongnya, ia malah semakin meengeratkan pelukannya. Tubuh kami benar-benar menempel, seperti tidak ada celah diantara kami.
3 menit lamanya kami berciuman, tapi tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar mandi itu.
__ADS_1
Bersambung