Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Penjelasan


__ADS_3

Sudah 2 hari kami di jogja, semuanya berjalan dengan baik dan cukup menyenangkan.


Walaupun gak ada mobil yang bisa di pakai untuk pergi sendirian, tapi terkadang Gue jalan-jalan sendiri tanpa kendaraan apapun.


Bus untuk berpergian memang sudah di siapkan oleh Devan, tapi karna Gue tipe orang yng lebih suka naik mobil pribadi dari pada bus seperti ini.


Walaupun bus yang di sediakan Devan memang sangat bagus dan juga sangat besar, sampai masih ada beberapa tempat yang kosong di dalam bus itu.


Sekarang waktunya untuk makan malam bersama di Hotel. Semua murid dan beberapa guru lebih dulu berkumpul di bawah. Sedangkan Gue, Devan, Rasya, Reina, dan 4 bocah itu, masih berkumpul bersama di kamar Rasya.


Ya kamar kami memang berada di lantai yang sama, Devan memesankan kami kamar VIP. Sebenarnya cukup tidak adil jika pembagian kamarnya seperti itu. Tapi, Devan yang membuat peraturan sendiri dengan kepala sekolah. Tentu saja kepala sekolah juga mendapatkan kamar VIP seperti kami.


"Kita nunggu apaan sih? Lama banget, Gue laper." Sahut Gue yang duduk di sofa.


"Bentar...tunggu game nya kelar." Ucap Rasya.


"Buruan...Gue laper banget." Jawab Gue.


"Iya...bentar lagi menang, kok." Balasnya.


"Hah...sempat-sempatnya mereka main game." Gumam Gue lalu bersandar di punggung sofa.


"NAH!!!" Teriak Rasya dan 4 bocah itu.


"Kenapa?" Tanya Gue.


"Dah...yuk makan." Ucap Rasya Lalu berdiri dan diikut 4 bocah itu.


"Udah selesai?" Tanya Gue.


"Udah, lah." Jawab Putra.


"Dari tadi, kek." Balas Gue lalu ikut berdiri juga.


Kami pun bersama-sama turun ke lantai bawah, untuk makan malam bersama.


Saat sampai di restoran, Gue terkejut karna tidak ada murid lainnya.


"Loh? Pada makan di restoran lain?" Tanya Gue bingung.


"Mungkin pada berpisah, kan jadwalnya kalau makan malam bisa bersama atau berpisah." Jawab Agung.


"Oh...yaudah, kita makan disini atau tempat lain?" Tanya Gue kepada mereka.


"Hm...Gue makan bareng Reina." Sahut Rasya.


"Serah lu, Bucin." Ejek Gue.

__ADS_1


"Lu pada? Mau makan di mana?" Tanya Gue kepada 4 bocah itu.


"Kita di sini aja." Jawab Putra.


"Lu, Dev?" Tanya Gue.


"Kita makan berdua, ditempat lain aja." Jawabnya.


"Hm...oke." Balas Gue.


"Yaudah kita berpisah di sini, sampai jumpa besok." Lanjut Gue.


"Oke." Jawab mereka serentak.


"Dah...yuk." Ajak Gue ke Devan sambil menarik tangannya.


Kami pun mulai berpisah, Rasya dengan Reina entah pergi ke restoran mana. Gue dan Devan mencari Restoran seafood.


Setelah kami sampai di restoran seafood, kami pun memilih meja di pojok. Kami mulai memesan beberapa hidangan utama di restoran itu.


Sambil menunggu, Gue hanya memainkan ponsel saja, tapi tiba-tiba Devan menunggur Gue.


"Sa..." Tegurnya.


"Hmm..." Dehem Gue sebagai jawaban.


Gue yang mendengar itu, sontak mematikan ponsel Gue dan meletakkannya di atas meja.


"Hm...Gue kira Lu lupa." Sahut Gue menatapnya serius.


"Gue harus jelasin dari mana?" Tanyanya.


"Dari awal." Jawab Gue lalu menyandar di punggung kursi.


"Dari awal? Itu terlalu panjang." Balasnya.


"Terus? Emang Gue peduli?" Sahut Gue.


"Baiklah...Gue akan menjelaskan semuanya." Ucapnya.


"Gue terlahir dari keluarga yang berbeda, Nyokap Gue berasal dari Korea dan memiliki perusahaan perhiasan ternama di Korea, sedangkan Bokap Gue, dia berasal dari Amerika. Gue di lahirin di Korea, bukan di Indonesia. Tapi Gue di didik di Amerika, Gue di didik layaknya seorang penerus keluarga..." Jelasnya.


"Sebenarnga Gue punya 2 nama yang berbeda, nama yang berbeda itu memiliki marga yang berbeda. Nama Gue yang satu lagi, adalah Kim Hyun Jin. Kim berasal dari marga Nyokap Gue, dan nama Leo Adrean Willson, Willson berasal dari marga Bokap Gue." Lanjutnya.


"Terus...Devano Pratama itu?" Tanya Gue.


"Itu hanya nama biasa yang tidak ada artinya, itu Gue gunakan saat di indonesia saja." Jawabnya.

__ADS_1


"Oh...oke, lanjut gih." Balas Gue.


"Lalu soal pertunangan kemarin itu, Gue yang lebih dulu maksa orang tua Gue datang ke Indonesia. Karna mereka bersikeras untuk menikahkan Gue, Gue di suruh menghadiri kencan buta dengan orang yang sama sekali Gue gak kenal. Akhirnya karna lelah dengan sikap mereka, Gue memberitahu tentang Lu, semuanya Gue beritahu. Gue hanya ingin menikah dengan Lu, dan Gue percaya hanya Lu yang bisa merubah hidup Gue." Jelasnya.


"Merubah? Maksudnya? Lu dan Nyokap Lu berbicara hal yang sama, tapi Gue gak tau maksud kalian." Sahut Gue.


"Gue itu–" Ucap Devan yang tiba-tiba terpotong karna pelayan datang membawa pesanan kami.


"Selamat menikmati, Tuan dan Nyonya." Ucap sang pelayan setelah selesai menyusun semua hidangan di atas meja, lalu pergi.


"Kita makan dulu, setelah itu Gue akan menjelaskan." Sambung Devan.


"Hm...baiklah." Jawab Gue.


Kami pun mulai menyantap hidangan kami, tanpa berbicara sepatah kata pun.


Gue benar-benar penasaran, apa yang di maksud Devan dan juga Nyokapnya. Mereka berbicara seolah-olah Devan adalah pembuat masalah besar, sampai orang Tua nya sendiri tidak mampu menangani nya.


15 meni pun berlalu, kami selesai dengan makan malam kami. Karna tidak nyaman untuk melanjut pembicaraan tadi di restoran, Gue pun memutuskan untuk berbicara di kamar Gue, sambil duduk di balkon kamar dengan memandang langi malam.


Kami pun sampai di kamar Gue, setelah menutup pintu, Gue pun berjalan ke balkon kamar dan di ikuti Devan. Saat sampai di balkon, kami duduk bersampingan dengan meja yang menjadi batas di antara kami.


"Bisa lanjutkan?" Sahut Gue.


"Oke." Jawabnya.


"Hm...tapi, berjanji lah untuk tidak marah dengan ku, sayang." Ucapnya.


"Memang kenapa? Apa yang bisa membuat Gue marah?" Tanya Gue bingung sambil menatapnya.


"Itu...aku takut, setelah kamu mendengar tentang masa lalu ku, kamu akan menjauhi ku." Jawabnya.


"Memang kenapa? Apa Lu pernah membunuh orang? Sampai Lu berbica seperti itu?" Balas Gue.


Gu terkejut melihat ekspresi Devan, saat Gue berkata kalau Dia telah membunuh orang. Ia berekspresi terkejut dengan mata yang membulat.


"Kenapa Lu kaget? Apa Lu beneran sudah membunuh orang?" Sahut Gue.


Dia tidak menjawab pertanyaan Gue, ia masih menatap Gue dengan mata bulatnya itu.


"Sudah lah...lupain kata-kata Gue tadi, mending Lu jelasin sekarang, Gue gak suka nunggu lama." Ucap Gue lalu berbalik dan menatap Kedepan.


"Hm...baiklah." Jawabnya.


"Seperti yang Gue bilang tadi, Gue dari kecil di didik di Amerika oleh bokap Gue. Gue di didik..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2