Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Ini Beneran Lu?


__ADS_3

Tapi ketukan pintu itu tidak menghentikan Devan untuk ******* bibir Gue. Tapi ketukan pintu itu semakin keras dan sepertinya bukan hanya satu orang yang mengetuk pintu.


Devan yang sepertinya muak karna di ganggu, ia pun melepaskan Gue lalu membuka pintu kamar mandi itu.


"Hah...selamat." Gumam Gue.


Pintu pun terbuka dan terlihat jelas Rasya, Agung, dan juga Reyhan di depan pintu itu.


"Apa?" Tanya Devan.


"Apa? Lu bilang apa?!!! Lu gila ya?!! Ngapain Lu didalam sana sama adek Gue? Lu apain dia, hah?!!!" Geram Rasya.


Devan sontak melipat kedua tangannya lalu di letakkan di depan dada dan berkata. "Cuma melakukan sesuatu yang spesial." dengan tersenyum miring.


"Wah!! Lu benar-benar mau di–"


Sebelum Rasya menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja ada suara telpon yang berbunyi sangat keras.


Rasya sontak melihat ke ponsel yang ia genggam lalu sontak menyodorkannya ke Gue.


"Loh? Ponsel Gue kok bisa ada di Lu, Bang?" Tanya Gue.


"Tadi ada yang nelpon, terus pas Gue angkat gak ada suara sama sekali. Jadi Gue mau ngasih tau Lu, eh tuh orang malah nelpon lagi. Nih." Jelasnya laku memberikan Gue ponsel itu.


"Oh...oke." Jawab Gue lalu menerima telpon itu.


Gue pun mengangkat telpon itu dengan santai.


"Halo, selamat sore. Dengan siapa ini?" -Gue.


"Halo...Raisa." -??


"Iya...boleh tau ini dengan siapa?" -Gue.


"Ini aku...Reina." -??

__ADS_1


Setelah mendengar nama itu, Gue sontak membulatkan mata karna terkejut.


"Kenapa?" Tanya Rasya dengan wajah yang bingung.


"Hah? Oh...gakpapa." Jawab Gue setelah menjauhkan ponsel Gue dari telinga Gue


"Lu pada, keluar Gih. Gue ada perlu sama orang." Perintah Gue.


"Loh? Kenapa? Siapa yang nelpon?" Tanya Rasya.


"Bukan siapa-siapa, buruan keluar!!" Jawab Gue.


Gue pun mendorong Devan keluar dari kamar mandi itu, lalu menutup pintu dan juga menguncinya.


Gue pun kembali melanjutkan telpon itu.


"Halo...ini benaran Lu, Rei?" -Gue.


"Iya, ini aku." -Reina.


"Lu ganti nomor, ya?" -Gue.


"Btw, Lu kenapa gak ikut ujian? Selama ujian Gue gak pernah ngeliat Lu sekali pun, lu masih di Amerika?" -Gue.


"Aku ikut Ujian kok, cuma aku gak ikut bersama kalian. Seperti yang aku bilang, aku akan mengurus segalanya." -Reina.


"Oke-oke, itu sekarang gak penting. Sekarang Lu dimana? dan tentang masalah keluarga Lu gimana?" -Gue.


"Aku sudah di Indonesia, aku juga sudah menyelesaukan masalah keluarga ku. Aku berhasil melawan mereka, tapi dengan satu syarat." -Reina.


"Syarat? Apa?" -Gue.


"Aku harus menjalani pelatihan untuk menjadi pewaris mereka." -Reina.


"Terus? Lu harus balik lagi ke Amerika?" -Gue.

__ADS_1


"Tidak...aku sudah selesai menjalani pelatihan itu minggu lalu, aku berhasil menyelesaikannya dalam seminggu. Karna waktu yang singkat itu, orang tua ku memberikan ku kekuasaan untuk melakukan apapun yang ku inginkan. Jadi...Rasya sekarang bisa di terima di keluarga ku." -Reina.


"Serius? Lu gak bohong kan?" -Gue.


"Ya...aku sangat serius." -Reina.


"Tapi...pelatihan apa yang Lu maksud?" -Gue.


"Hm...maaf aku tidak bisa memberitahu mu, karna itu rahasia keluarga ku. Tapi aku akan memberitahu Rasya nanti saat kami sudah menikah." -Reina.


"Menikah? Lu gila? Rasya aja masih mau kuliah, dan Lu malah mau nikah langsung?" -Gue.


"Tidak mungkin kami akan langsung menikah, Rasya saja tidak ingin menemu ku sekarang." -Reina.


"Hm...masalah itu biar Gue yang bantu, sekarang Lu ke rumah Gue dulu. Nanti Gue shareloc ke Lu, tapi sebelum Lu kesini, Gue saran lu harus membawa sesuatu." -Gue.


"Apa itu?" -Reina.


"Aku akan memberitahumu lewat pesan nanti, sekarang bersiap lah untuk bertemu dengan Rasya." -Gue.


"Baiklah." -Reina.


"Yaudah Gue matiin ya, bye." -Gue.


Gue pun memutuskan kan telpon itu, lalu mengirimkan Reina pesan yang berisi alamat rumah Gue dan rencana kecil untuk mengejutkan Rasya nanti.


Setelah itu, Gue pun mengganti pakaian renang lainnya dan tentu saja tidak seseksi sebelumnya.


Setelah selesai mengganti pakaian, Gue pun langsung berjalan ke kolam renang, dan ikut masuk ke dalam kolam bersama yang lain


Mereka berenam terkadang berlomba dan Gue yang menjadi wasit di antara mereka, kami juga mengambil beberapa belampung besar untuk di pakai bersama.


Karna pelampung nya hanya ada 2 saja, dan 1 pelampung hanya bisa 2 sampai 3 orang, jadi di antara kami harus ada yang mengalah.


Tapi Gue termaksud yang tidak ingin mengalah, Gue pun memanfaatkan Devan dan Tasya agar Gue bisa naik ke atas pelampung itu sendiri tanpa ada siapapun yang ikut naik bersama Gue.

__ADS_1


Di saat berenang, kami sesekali naik dan mengambil burger atau pizza untuk di makan bersama, dan tentu saja di tanpa minuman berdosa di sore hari ini.


Bersambung


__ADS_2