Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Tuan?


__ADS_3

"Hust...jangan di tunjuk." Bisik Devan di samping Gue.


"Itu kan yang pernah mau nyulik Gue." Ucap Gue yang menatap Devan.


"Hahaha...maaf ya soal itu, mereka sudah di hukum kok." Jawab Devan sambil mengacak-acak rambut Gue dengan tersenyum lebar.


"Tuan..." Panggil salah satu orang itu.


"Tuan?" Ucap Gue bingung.


"Tidak usah di pikirkan." Jawab Gerry.


DEVAN POV*


*Hah...untung saja mereka tidak menyebut nama asli Gue.* Batin gue.


"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?" Tanya salah satu bawahan Gue.


"Hm...tunggu sebentar." Jawab Gue.


"Sayang...kamu tunggu sini ya, aku ada urusan sebentar." Lanjut Gue ke Raisa.


"Iya...jangan lama-lama." Jawabnya.


"Iya sayang~" Balas Gue dengan tersenyum lebar.


Gue pun pergi meninggalkan Raisa, dan menghampiri para bawahan Gue.


"Ikuti saya." Ucap Gue ke mereka lalu berjalan menghindari kerumunan orang-orang.


Setelah berhenti di dekat pintu masuk kantin, Gue pun berbalik dan menatap ke mereka.


"Apa kalian liat laki-laki yang terduduk di lantai tadi?" Tanya Gue.


"Iya, Tuan." Jawab mereka serentak.


"Aku ingin kalian membawanya, dan kirim dia kembali ke Amerika." Perintah Gue.


"Tapi Tuan, dia siapa?" Tanya salah satu dari mereka.


"Apa kalian tau satu-satunya pria remaja yang menjadi model terkenal di Amerika?" Tanya Gue.


"Ya tuan...kami tau." Jawabnya.


"Itulah dia, jadi aku ingin...kalian membawanya pergi dari sini, dan kirim dia kembali ke Amerika." Balas Gue.


"Lalu...bilang kepada Tuan Besar kalian, aku ingin model itu mendapat pelajaran." Lanjut Gue.


"Pelajaran apa itu, Tuan?" Tanyanya.


"Aku ingin...karirnya hancur dan begitupun dengan nama baiknya. Jangan sampai ada yang menerimanya untuk menjadi model, dimana pun itu!!!" Tegas Gue.


"Baik, Tuan." Jawab Mereka serentak.


"Lakukan sekarang!!" Perintah Gue.


"Baik, Tuan." Jawan mereka lalu brrbalik dan berjalan mengarah kerumunan orang itu lagi.


"Siapapun yang berani menyentuhnya, berarti siap untuk hancur atapun mati." Gumam Gue dengan tersenyum kecil.


Gue pun kembali ke kerumunan itu, dan menghampiri Raisa.


RAISA POV*


Cukup lama Devan pergi, tapi akhirnya ia pun kembali dan berdiri di samping Gue lagi.


"Ngapain aja?" Tanya Gue sambil menatapnya.


"Rahasia~" Jawabnya dengan tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.

__ADS_1


"Hah...dasar!" Gumam Gue lalu menatap ke Bran.


"Jangan marah dong." Sahut Devan yang tiba-tiba meletalkan dagunya di bahu Gue.


"Devan..." Tegur Gue.


"5 Menit aja, sayang." Ucapnya manja.


"Hah...kamu–" Sahut Gue yang tiba-tiba terpotong oleh teriakan Bran.


"NO!!!" teriak Bran.


"Kenapa?" Tanya Gue.


"DON'T TOUCH!!" Teriaknya lagi.


Ternyata segerombolan orang tadi, menarik Bran untuk berdiri.


"Itu kenapa?" Tanya Gue.


"Hanya hukuman untuk orang yang sudah menyentuh mu." Bisik Devan di telinga Gue.


"Hukuman? Hukuman apa, Dev?" Tanya Gue yang sontak menjauh dari Devan dan menatapnya tajam.


"Sayang...jangan seperti ini, itu memang pantas di dapatkannya." Ucapnya yang ingin memegang bahu Gue.


Gue sontak mundur agar Devan tidak bisa meraih Gue.


"Hukuman apa? Kenapa sampai orang-orang itu yang turun tangan?" Tanya Gue.


"Sayang...itu lebih baik mereka yang turun tangan dari pada aku." Jawabnya.


"Memang kamu kenapa? Kamu pembunuh? Kamu mau bunuh dia sebagai hukumannya?" Tanya Gue mulai muak.


"Sayang..." Sahutnya lalu melangkah maju ke Gue.


"STOP!!!" Teriak Gue.


"Bang...Gue mau pulang." Jawab Gue.


"Tapi kenapa?" Tanyanya.


"GUE MAU PULANG!!" Teriak Gue lagi.


"Raisa kamu kenapa?" Tanya Guru BK.


"Pak...saya izin pulang, saya tiba-tiba tidak enak badan." Jawab Gue seteah berbalik menatap Guru ity


"Tapi masalah ini? Kamu juga harus membantu sebagai ketua OSIS." Sambung Guru itu.


"Biar saya yang mengganti kan Ketua OSIS." Sahut seseorang.


"Jordan?" Ucap Gue.


"Iya kak Raisa...saya akan menggantikan kakak." Jawabnya.


"Tapi...kamu kan punya tugas yang baru aku berikan tadi pagi." Balas Gue.


"Gak papa, kak. Sebagai wakil ketua OSIS, itu sudah kewajiban saya membantu kakak." Sambungnya.


"Baiklah. Jordan...aku memberikanmu tugas untuk membantu Guru BK menyelesaikan masalah ini." Ucap Gue.


"Baik, kak." Jawabnya dengan tersenyum.


"Sekarang saya boleh pulang kan, Pak?" Sambung Gue.


"Hah...ya, kamu boleh pulang." Jawab Guru itu.


"Kembaran saya juga pulang, ya pak." Sahut Gue.

__ADS_1


"Tidak boleh!!" Larang Guru itu.


"Kenapa?" Tanya Gue.


"Karna Rasya juga terlibat atas kekerasan ini." Jawabnya.


"Tapi pak...Rasya gak bersalah." Balas Gue.


"Sudah lah, Sa. Lu pulang sendiri aja, nih kunci mobil Gue." Sambung Rasya lalu memberikan Gue kunci mobilnya.


"Tapi, Bang–"


"Gak papa...Gue gak akan dapat masalah besar, kok. Kayaknya..." Potongnya.


"Abang..." Rajuk Gue.


"Hahaha...iya-iya, dah Lu sana pulang." Ucapnya.


"Yaudah Gue pulang, Lu jaga diri. Bye." Jawab Gue lalu melangkah keluar dari kerumunan itu.


Tapi tanpa Gue sadari, ternyata Devan mengikuti Gue dari belakang. Gue akhirnya berhenti melangkah saat sudah keluar dari kantin.


"Lu ngapain ikutin Gue?" Tanya Gue sambil berbalik.


"Kamu marah sama aku?" Tanyanya.


"Gak!" Jawab Gue.


"Sayang...maaf." Sambungnya sambil memasang ekspresi wajah sedih.


"Hah...jangan membodohi Gue dengan ekspresi lu, itu." Sahut Gue.


"Tapi–"


"Lu mending balik, ada yang harus Lu selesaikan dengan Guru BK." Potong Gue.


"Gue punya permohonan." Lanjut Gue.


"Apa itu?" Tanyanya.


"Gue mohon...tolong bantuin Rasya keluar dari masalah ini, karna Gue gak bisa ada di sampingnya sekarang. Jadi Gue mau Lu yang gantiin Gue untuk bantuin dia." Jawab Gue.


Gue sontak mendekati Devan, lalu memegang bahu kanannya.


"Gue percaya sama, Lu." Ucap Gue.


"Sekarang Gue pergi." Lanjut Gue lalu melepas bahunya.


"Sayang...kamu marah karna aku tidak bisa jujur dengan mu?" Tanyanya.


"Hah...sudah lah, bye." Jawab Gue lalu pergi dan berjalan ke kelas untuk mengambil tas.


***


Tidak lama kemudian, Gue pun sampao di parkiran dengan membawa tas Gue.


Semuanya terlihat tidak ada yang aneh, hanya saja sekarang parkiran sekolah sedang sangat sepi.


Karna di luar cuaca yang panas banget, Gue pun masuk ke dalam Mobil Rasya.


Gue pun mulai menyalakan mobilnya lalu berkendara dengan pelan.


Tapi saat di perjalanan, tiba-tiba saja dari belakang mobil Rasya ada yang membunyokan klakson dengan sangat keras sampai berkali-kali.


*Apa gue terlalu lambat bawa mobilnya?* Batin Gue.


Gue pun memutuskan untuk menaikkan kecepatan. Tapi mobil yang ada di belakang Gue malah melaju dan sekarang ia tepat di samping mobil Rasya.


*Gue ada salah?* Batin Gue yang bingung kenapa mobil ini mengganggu Gue.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba saja kaca mobilnya terbuka, dan...


Bersambung


__ADS_2