Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Kecanduan kopi 2


__ADS_3

RASYA POV*


Malam hari tepat pada pukul 21.35, gue baru sampai di rumah karna takut Raisa curiga dengan gue jadi gue pulangnya agak lama dari dia dan gue yakin Raisa sedang berada di kamarnya. Gue pun memutuskan untuk melihatnya sebentar lalu masuk kekamar gue, saat gue ingin membuka pintunya gue benar-benar khawatir karna perkataan Putra tadi dan disisi lain gue merasa bersalah karna semua kopi miliknya gue buang dengan sia-sia. Gue pun membuka pintu kamarnya dan ternyata lampu kamarnya sudah ia matikan kecuali lampu tidur yang berada di sebelah ranjangnya, gue langsung mendekati Raisa dan mengelus-elus rambutnya dengan lembut.


Maaf ya dek, abang khawatir dengan kesehatan dan mental lu jadi tolong maafin abang ya. *Batin gue yang masih mengelus-elus rambutnya.


"Tidur nyenyak ya adek gue sayang, sweet dream and good night my little girl." bisik gue dan mencium puncak kepalanya lalu keluar dari kamarnya dan langsung masuk kekamar gue.


Saat di kamar gue mulai membersihkan diri gue dan mengganti pakaian santai gue lalu bersiap untuk tidur. Saat gue bersiap untuk tidur gue tiba-tiba merasa gelisa karna ucapan Putra tadi, gue benar-benar takut terjadi apa-apa dengan Raisa, anehnya kenapa selama ini gue gak tau soal itu dan selalu mengiyakan kalau dia ingin minum kopi dan kenapa juga orang tua gue gak tau soal itu, gue kira keluarga gue ini gak ada rahasia sedikitpun diantara kami dan Raisa dia adalah seseorang yang selalu terbuka dengan gue dan dia selalu ceria, gue kira gue abang yang paling ngertiin adek nya dan selalu paham apa yang Raisa mau tapi nyatanya gak.


"Argh!! Kenapa sih?!! gue gak paham sama situasi ini." gerutu gue.


"Bodo!! mau tidur, kita liat aja besok dah." gumam gue lalu memutuskan untuk tidur dengan paksa.


***


Minggu pagi yang cerah gue bangun pukul 11.02, bisa di bilang gue bangun telat karna semalam gue gak bisa tidur karna terlalu memikirkan perkataan Putra. Gue yang mengingat rencana kemarin sontak turun dari ranjang dan berlari ke kamar Raisa, saat di kamarnya gue sama sekali gak terkejut karna Raisa masih tertidur dengan nyenyak.


"Lu bikin gue gila Sa." gumam gue sambil mengelus-elus rambutnya.


Gue pun kembali kekamar gue untuk mandi dan mengganti pakaian gue, setelah itu gue turun kemeja makan untuk sarapan dan ya di meja makan tidak ada siapapun Nyokap Bokap gue belum pulang dari urusan bisnisnya.


"Bi!!" teriak gue.


"Ya Tuan." balas pembantu rumah tangga gue.


"Anda baru bangun, tuan?" tanyanya.


"Iya, tolong siapkan makan siang untuk saya, dan sekalian tolong ambilkan es krim di kulkas ya." ucap gue.


"Es krim yang biasa Tuan makan?" tanyanya lagi.


"Iya Bi." jawab gue.


"Baik tuan, segera saya siapkan." balasnya lalu pergi kedapur untuk menyiapkan makan siang gue dan tentu saja es krim.


.


.


Setelah gue selesai makan siang, gue langsung ke kamar untuk bermain game dan tanding bersama teman gue.


RAISA POV*


Minggu sore yang sangat segar, gue baru aja bangun tidur dan berniat untuk meminum secangkir kopi dulu baru gue mulai beraktivitas lagi. Gue pun keluar kamar dan berteriak dari lantai 2.

__ADS_1


"Bibi!! Tolong siapkan kopi panas untuk saya dan antar ke kamar saya saja. " teriak gue.


"Baik Non." balasnya.


Gue pun langsung masuk kekamar lalu mendengarkan lagu melalu speaker Bluetooth gue tapi saat gue ingin berbaring di ranjang dengan santai tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu gue dan gue pun langsung berdiri dan membukakannya pintu.


"Ada apa, bi?" tanya Gue.


"Non, stok kopi dirumah habis." jawabnya.


"Kenapa gak beli stok dari kemarin-kemarin sih bi? Kan saya sudah bilang kalau stoknya udah menipis bibi atau pembantu lainnya harus beli stok lagi." jelas gue.


"Maaf Non." balasnya.


"Argh!! Sudah lah bibi sekarang pergi saja, besok semua stok kopi harus lengkap lagi, ingat bi." ucap gue.


"Ba-baik Non." jawab nya lalu pergi


Gue pun masuk kembali ke kamar dan berniat untuk meminum kopi botol saja yang masih tersisa di kulkas gue atau di lemari stok minuman dan snack gue, saat gue membuka kulkas, gue sama sekali gak terkejut kalau kopi di kulkas pada habis karna gue lebih sering ambil kopi di kulkas dari pada di lemari. Gue pun berjalan ke lemari dan langsung membuka lemari itu, tapi saat melihat isi lemari gue, gue benar-benar terkejut karna semua stok kopi gue habis tanpa sisa, kopi botol atau kaleng dan juga kopi sachet yang gue beli buat cadangan doang gak ada yang tersisa di lemari gue.


"Kemana?" gumam gue.


"Hilang, semuanya hilang!" gumam gue lagi.


"Gakpapa Sa, lu tahan sehari aja gak minum kopi, lu bisa kok semenjak lu gak ngerjain tugas atau cerita lu." gumam gue ke diri gue sendiri.


RASYA POV*


Karna gue keasikan ngegame gue sampe lupa soal Raisa, gak mungkin kan dia belum bangun karna ini udah malam masa iya dia tidur 24jam, malam ketemu malam kayak habis minum obat  tidur aja. Gue pun memutuskan untuk ke kamar Raisa.


Tok tok tok


"Sa!!" teriak gue.


"Masuk bang." jawabnya


Gue pun masuk dan benar saja gue terkejut dengan apa yang gue liat, Raisa kelihatan baik-baik saja tidak seperti apa yang di pikirkan Putra tapi disisi lain gue merasa terganggu dengan suara musik yang sangat keras sperti membuat gendang telinga gue pecah. Gue pun mematikan musik itu lalu menghampiri Raisa.


"Sa, lu gakpapa?" tanya gue.


"Gak bang, cuma haus." jawabnya yang masih terbungkus selimutnya.


Gue pun sontak menarik selimutnya dan duduk di sampingnya yang sedang berbaring.


"Kenapa bang?" tanyanya.

__ADS_1


"Lu yang kenapa!!" teriak gue yabg membuat Raisa terkejut dan terduduk.


"Lah, gue kenapa?" tanyanya lagi.


"Sa, gue mau lu terbuka sama gue, kita ini saudara kembar dan gue juga gak pernah tuh tertutup sama lu, mau gue dalam keadaan depresi, senang atau sedih gue gak pernah tuh tertutup sama lu, malah lu kadang yang ngajakin gue bicara sampe gue benar-benar gak sedih lah atau gak depresi lagi, iya gue tau semua orang bisa depresi atau stres tapi jangan kayak gini Sa, jangan buat gue khawatir." jelas gue.


"Lah bang? Kenapa sih?" tanyanya.


"Lu kenapa sih gak peka banget!!" teriak gue.


"Gak peka gimana sih? Gue gak konek, sumpah! Gue haus banget, butuh kopi." ucapnya.


"Sa lu jawab pertanyaan gue dengan jujur, lu kemarin minum kopi berapa botol?" tanya gue.


"Hmm, kan gue udah bilang gak tau, paling 3 atau 4 botol bisa aja lebih." jawabnya santai.


"Lu bohong Sa!! Lu minum sampe belasan botol kan, sangka lu kopi itu air putih dan sangkah lu kopi itu b*r apa?!!  Gila lu, gak ngerti lagi gue." bentak gue.


"Gue gak bohong bang, gue kan bilang gue gak tau, gue gak ingat berapa botol yang gue minum gue juga bilang kan 3 atau 4 botol BISA AJA LEBIH, orang ngomong tuh di cerna dulu baru marah-marah gak jelas, lagian lu juga tau gue itu suka kopi dan cuma kopi yang bisa buat gue happy bisa buat gue tenang walaupun gue banyak masalah atau banyak kerjaan cuma kopi yang bisa bantu gue." jelasnya.


"Tapi Putra bilang lu kecanduan kopi." ucap gue.


"Iya gue kecanduan kopi, tapi kecanduan gue itu bukan yang kayak kalian pikirin, ya kalau gue gak mau minum kopi ya gue gak minum walaupun gue setiap hari minum kopi tapi kan lu juga pernah liat gue gak minum kopi dalam sehari itu, dan Mami Papi juga selalu batasin Raisa minum kopi tapi kalau gue bener-bener lelah dengan kerjaan gue atau apapun itu yang bisa buat gue lelah ya pasti gue langsung minum kopi, ya karna enak bukan berarti kopi itu obat penenang gue." jawabnya.


"Tapi lambung lu? kesehatan lu? Mental lu?" tanya gue.


"Abang ngira gue gila ya? Gue gak gila dan gue gak depresi juga, tapi sejujurnya gue memang pernah depresi dan gue gak pernah ngomong ke lu karna gue gak mau lu juga ngerasain apa yang gue rasain, gue depresi ya cuma karna kerjaan gue cuma karna para netizen yang menghina-hina karya gue ya walaupun itu bagi orang lain biasa aja tapi komentar netizen itu benar-benar buat gue sakit hati bener-bener buat gue gila, tapi setelah gue berhasil nguatin diri gue dan gue selalu mendengar lagu sambil minum kopi dan melihat pemandangan yang buat gue tenang dan gue selalu berusaha buat gak ngehirauin komentar para netizen itu. Dan bang masalah lambung gue itu gakpapa, gue juga selalu jaga kesehatan gue kok dan lu juga kayak gak tau Mami Papi aja, kita tiap bulan selalu chek up ke dokter kan dan kalau kita ada apa-apa selalu waspada duluan." jelasnya yang bikin gue benar-benar merasa bersalah karna kopinya yang gue buang.


"Sa." panggil gue.


"Kenapa lagi?" tanyanya.


"Maaf ya, sebenarnya semua stok kopi yang ada di dapur gue buang dan stok kopi yang ada di kamar lu juga gue buang sia-sia, maaf Sa." ucap gue merasa bersalah.


"Rasya Putra!!" teriak Raisa dan mengangkat tangannya seperti ingin memukul gue, gue langsung menutup mata gue agar rasa sakit yang akan gue rasakan berkurang sedikit.


Tapi yang gue pikirkan salah, Raisa gak mukul gue dia malah ngelus kepala gue sambil tersenyum.


"Gue paham kok, lu takut gue kenapa-kenapa tapi lain kali jangan sampai kayak gini lagi, kopi yang ada di kamar gue mahal semua Sya, lu malah buang sia-sia kan sayang banget duit gue, tapi kali ini gue mafin lu." ucapnya yang masih mengelus-elus kepala gue.


"Iya lain kali gue gak mau percaya omongan anak-anak lagi, apalagi sih Putra gak mau lagi dah nyesel gue." jawab gue.


"Tapi karna hari ini gue baik hati, lu harus traktir gue di restoran mewah ditambah lagi lu harus traktir gue di Caffe yang mewah banget." ucapnya sambil terseyum lebar.


"Oke bos, kita pergi sekarang." jawab gue san tentu saja membalas senyum lebar Raisa.

__ADS_1


Setelah itu kami pun langsung bersiap untuk pergi ke Restoran dan Caffe yang Raisa mau, dan tentu saja gue yang traktir dia. Hari ini benar-benar penuh dengan keanehan dan kebodohan yang gue lakuin, tapi disisi lain gue bersyukur gue jadi bisa lebih paham apa yang Raisa mau dan apa yang Raisa inginkan, gue janji bakal jadi abang yang baik untuknya ya walaupun kita selalu bertengkar tapi gue sayang banget sama dia hahaha.


Bersambung


__ADS_2