
Sudah waktunya untuk makan siang. Gue pun bersiap-siap untuk pergi ke Restoran. Yang biasanya, Gue tidak terlalu memperdulikan penampilan Gue sendiri karna tidak terlalu penting untukku yang sudah tampan dari lahir.
Tapi kali ini, penampilan untuk keluar dari kamar ini adalah yang utama. Karna Gue berharap bisa makan bersama Reina lagi.
*Perasaan macam apa, Ini? Terlalu aneh bagiku untuk merapikan rambut hanya untuk makan siang saja.* Batin Gue sambil menyisir rambut Gue dengan rapi di depan ruang rias Raisa.
"Ngapain, Lu?" Tanya Raisa yang heran melihat tingkah Gue.
"Menurut, Lu?" Tanya Gue balik.
"Seorang Rasya Putra, yang tidak peduli dengan penampilan rambutnya dengan alasan sudah tampan dari lahir. Sekarang sedang merapikan rambutnya dengan teliti? Apa sekarang sudah waktunya kiamat?" Oceh Raisa.
"Repot banget hidup, Lu. Terserah Gue lah mau di apain nih rambut." Jawab Gue.
"Bodo!!" Teriak Raisa.
"Ikut gak, Lu?" Sambungnya.
"Kemana?" Tanya Gue.
"Ngamen!! Ya makan, lah." Jawabnya lalu berjalan ke luar kamar.
"Ikut, lah!!" Teriak Gue berlari menghampirinya.
Saat di depan pintu, ternyata Reina juga sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Seperti sedang menunggu seseorang.
"Eh... Mau kemana, Rei?" Tanya Raisa.
"Mau makan siang, aku boleh ikut?" Jawabnya.
"Boleh dong." Jawab Raisa lalu langsung menggandeng lengan Reina.
"Yuk." Ucap Raisa lalu berjalan ke arah Lift bersama Reina.
*Seharusnya, Gue yang gandeng dia. Kok malah Raisa, sih? Ganggu banget!!* Batin Gue.
Gue pun menyusul mereka yang asik berjalan bersama. Sampai di dalam Lift, gue berusaha untuk berdiri di sampin Reina. Tapi Raisa tiba-tiba saja mendorong Gue dan berdiri di samping Reina.
*Nih anak memang ganggu banget, dah!!* Batin Gue kesal.
Tak lama kemudian kami pun sampai di Restoran. Ternyata 4 bocah pengganggu itu sudah duduk dengan nyaman di Restoran.
"Sya... Sini-sini." Panggil Putra sambil melambaikan tanganya.
"Dasar bocah-bocah." Gerutu Gue.
Kami pun menghampiri mereka.
"Duduk sini, Say." Ajak Reyhan yang menyuruh Gue duduk di sampingnya dan Putra.
"Ogah!!" Jawab gue.
Gue pun duduk di samping Agung, berharap Reina yang akan duduk bersama Gue. Tapi malah sebaliknya, Raisa lah yang duduk di samping Gue. Sedangkan Reina duduk di samping Raisa dan Rendi.
"Sial!" Gerutu Gue.
"Siapa?" Tanya Agung.
"Lu!!" Jawab Gue geram.
"Yaelah, di tanya baik-baik malah ngegas." Ucap Agung.
"Kalian udah pesan makanan?" Tanya Raisa sambil melihat-lihat menu.
"Sudah." Jawab Putra.
"Oh... Oke." Ucap Raisa lalu mulai memesan makanan nya.
"Elu, Rei? Pesan apa?" Tanya Raisa.
"Hidangan utamanya, samain aja. Kalau disert–" Jawab Reina yang tiba-tiba Gue potong.
"Disertnya, dia pesen cake stroberi." Saut Gue.
"Sok tau, Lu." Ucap Raisa.
"Iya, aku pesan itu." Sambung Reina dan membuat Raisa terkejut.
"Eh? Kok Lu tau, bang?" Tanya Raisa.
"Hah? Tebak aja." Jawab Gue.
"Oh." Jawab Raisa.
"Saya pesan yang sama dengan adik saya ini." Ucap Gue ke pelayan sambil nunjuk Raisa.
"Mohon di tunggu." Jawab pelayan lalu pergi begitu saja.
"Kalian dari mana aja tadi?" Tanya Gue ke 4 bocah itu.
"Dari berenang, terus nge-Gym. Habis itu kesini setelah ganti baju." Jawab Reyhan.
"Emang kalian bawa baju?" Tanya gue.
"Bawa lah, ada di mobil Gue." Jawab Reyhan.
"Oh... Pantesan." Balas Gue.
__ADS_1
Gue tiba-tiba menopang dagu dengan tangan sebelah kiri Gue. Dan dengan segaja gue melihat ke arah Reina yang bingung ingin berbicara apa.
*Ngapain sih, Lu? Kaku banget sih cantik ini.* Batin Gue.
Reina tiba-tiba melihat kearah Gue dan tersenyum Kecil. Gue yang kaget sontak menegakkan kepala Gue dengan cepat.
"Kenapa, Lu?" Tanya Putra.
"Hah? Gak-gak papa." Jawab Gue kaku.
"Nih anak tambah lama tambah aneh aja." Saur Rendi.
"Sok tau, Lu." Jawab Gue.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang dan di tata rapi di atas meja sesuai dengan yang kami pesan masing-masing.
.
.
Setelah kami selesai makan. Kami memutuskan untuk kembali kekamar.
Saat di dalam lift, lagi-lagi Gue gak ada kesempatan untuk berdiri di samping Reina.
*Kenapa jadi gini, sih? Seharusnya kan Gue di samping Reina.* Batin Gue.
Kami pun sampai di lantai kamar kami. Dan seperti tadi, Raisa selalu megandeng Reina dengan paksa. Sedangkan Reina hanya paksa dengan perlakuan Raisa, tapi seperti merasa senang karna ada Raisa di samping.
Kami Pun masuk ke kamar masing-masing, dan tentu saja 4 bocah itu ikut bersama Gue masuk ke dalan kamar.
"Kalian kapan pulangnya, sih?" Tanya Gue lalu baring di atas Ranjang.
"Mungkin sebentar lagi." Jawab Agung.
"Sebentar lagi, kapan?" Tanya Gue lagi.
"Lu ngusir kita, Ya?" Tanya Putra balik.
"Iya, kenapa? Habisnya Lu dari kemarin ganggu mulu." Protes Gue.
"Dasar teman laknat!! Jahat banget, Lu!!" Teriak Putra.
"Teman laknat apanya? Kalau Gue jahat, mungkin Lu udah Gue usir dari kemarin kali." Protes Gue lagi.
"Sudah-sudah." Saut Rendi.
"Tumben Lu, ngelerai kita." Ucap Gue.
"Dari pada kalian debat yang gak guna, mending kita tidur. Gue masih ngantuk, sumpah." Sambung Reyhan.
"BACOT!!" Teriak kami bersama.
"Dah lah, Gue mau tidur." Sambung Reyhan lalu tidur diatas ranjang yang semalam ia tempati.
"Ikut" Saut Rendi dan ikut tidur bersama Reyhan.
Sedangkan Agung dan Putra malah ke balkon kamar sambil duduk-duk menikmati siang hari yang panas.
Tiba-tiba saja Gue ingin keluar dari kamar, berharap Reina juga keluar dari kamarnya.
Gue pun berdiri dan mengarah pintu keluar, tapi tiba-tiba saja Raisa berteriak memanggil Gue.
"Bang!!" Teriaknya.
"Kenapa?" Tanya Gue.
"Entar ada rapat lagi." Jawabnya.
"Rapat apaan?" Tanya Gue lagi.
"Katanya sih, rapat tentang penyediaan barang Hotel." Jawabnya.
"Lah? Bukannya penyediaan Hotel 3 Bulan sekali, ya?" Tanya Gue bingung.
"Iya, 3 Bulan ini Bibi belum ada nambah atau ngurangi penyediaan yang di butuhkan di Hotel." Jawabnya.
"Yaelah, Bibi mah kebiasaan." Ucap Gue
"Yaudah, kabarin aja nanti. Gue mau keluar dulu." Sambung Gue.
"Kemana?" Tanyanya.
"Jalan-jalan doang, bete di kamar mulu." Jawab Gue lalu pergi begitu saja.
Saat Gue di luar kamar, harapan Gue hancur berkeping-keping. Reina gak ada keluar dari kamarnya.
"Sial banget." Gerutu Gue.
"Kenapa?" Tanya seseorang yang familiar.
Gue pun sontak melihat ke samping dan menatap seseorang itu.
"Reina?" Tanya Gue.
"Iya, Kenapa?" Tanyanya balik.
"Akhirnya." Gumam Gue yang lega karna ada Reina.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
"Gakpapa." Jawab Gue.
"Lu dari mana?" Sambung Gue.
"Dari bawah." Jawabnya lalu berjalan ke arah pintu kamarnya.
"Eh!! Sebentar." Ucap gue menghentikan Reina yang ingin membuka pintu kamarnya.
"Kenapa?" Tanyanya setelah berbalik menatap Gue.
"Gu-Gue mau... Gue mau ajak Lu makan." Ucap Gue kaku.
"Kan tadi udah." Jawabnya.
"Hah? Oh iya... Kalau gitu mau ke atas lagi?" Tanya Gue.
"Hmm... Oke." Jawabnya Lalu gue langsung menghampirinya.
"Gue bo-boleh genggam tangan Lu?" Tanya Gue.
"Tangan Aku gak dingin. Tapi kalau mau, genggam aja." Jawabnya.
Gue pun langsung menggenggam tangannya pelan-pelan. Lalu kami pun jalan bersama menuju lantai paling atas lagi.
Saat sampai di atas, Reina Tiba-tiba melepas genggaman Gue dan berlari ke arah pinggir dan melihat kebawah.
"Ada apa?" Tanya Gue lalu menghampirinya.
"Gak ada apa-apa, kok." Jawabnya.
*Tapi kenapa di lepas tangan Gue?* Batin Gue.
"Oh ya...kamu pakai parfum mereka apa?" Tanya Gue.
"Parfum? Aku gak pakai parfum kok." Jawabnya yang membuat gue kaget.
"Loh? Terus wangi dari tangan kamu?" Tanya Gue tanpa sadar.
"Oh, itu wangi handbody." Jawabnya.
"Handbody Lu wangi Vanila bercampur stroberi?" Tanpa sadar gue bertanya hal yang seharusnya gue gak tanyain.
"Hah? Gak kok. Wangi handbody ku itu cuma Stroberi." Jawabnya.
*Lah? Berarti Vanila itu wangi dari tubuhnya?* Batin Gue.
"Oh...Gue salah berarti, haha." Sambung Gue.
"Iya." Jawabnya.
Seperti biasa, suasan kembali menjadi canggung. Dan Gue bingung mau nanya apa lagi.
"Panas juga ya disini." Ucap Reina.
"Iya ya." Jawab Gue lalu melihat kearah Reina.
Gue baru sadar kalau wajah Reina terkena matahari itu semakin cantik. Seperti Dewi matahari yang turun ke bumi ini.
"Cantik." Gumam Gue sambil memandanginya.
"Langit?" Tanyanya.
"Haha...iya." Jawab Guelalu mengalihkan pandangan Gue ke langit.
Tiba-tiba saja ponsel Gue berbunyi dengan sangat keras.
"Gue permisi angkat telpon dulu ya." Izin Gue.
"Silahkan." Jawabnya.
Gue pun pergi menjauh sedikit dari Reina dan mengambil ponsel dari saku celana Gue lalu melihat siapa yang menelpon.
"Ngapain nih anak telpon-telpon. Ganggu banget, sumpah!!" Gerutu Gue.
"*Halo... Kenapa?" -Gue.
"Lu dimana? rapatnya mau di mulai." - Raisa.
"Yaelah, sumpah ganggu banget. Sebetar gue kesana" -Gue.
"Sekarang, bambang!!" -Raisa.
"Iya-iya, bawel." -Gue.
Gue pun mematikan telponnya*, dan menghampiri Reina.
"Gue ada rapat. Kita turun sekarang ya." Ucap Gue.
"Oke." Jawabnya.
Kita pun masuk ke dalam hotel, dan turun ke lantai kamar Reina. Gue lebih dulu mengantar Reina sampai ke kamarnya. Setelah itu gue langsung lari menuju ruang rapat.
Bersambung
*Bantu support author dengan Like dan Commentnya :)
__ADS_1
thanks*!!