Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Bran.


__ADS_3

"Lu Bran, kan?" Tanya Gue yang masih menunjuk laki-laki itu.


"Hahaha, iya." Jawab nya.


"Lu gak tau Gue?" Tanya Gue sambil menujuk diri Gue sendiri.


"Maaf... Siapa?" Tanyanya bingung.


"Sumpah!! Lu gak tau Gue?" Tanya Gue.


"Hahaha, iya. Saya tidak tau anda siapa." Jawabnya.


"Emang dia siapa sih?" Sambung Rasya.


"Itu loh, Bang. Lu pernah baca komik Gue yang judulnya 'Love Story' kan?" Tanya Gue.


"Iya pernah." Jawabnya.


"Nah... Tokoh utama nya itu, dia. Dia juga yang selama ini jadi model cowok untuk komik Gue." Jelas Gue.


"Oh...anda penulis, itu?" Sambung Bran.


"Lu ingat? Iya itu Gue. Gue yang sampai ngirim E-mail ke manajer Lu, untuk bertemu. Tapi sampai sekarang tidak ada balasan dari E-mail Gue itu." Ucap Gue.


"Manajer?" Tanya Rasya.


"Iya manjernya. Dia itu model di amerika, Bang. Dari kecil dia udah jadi model, tau." Jawab Gue.


"Kok Lu tau?" Tanya Rasya lagi.


"Gue ini... Fans nomor satunya." Jawab Gue senang.


"Oh ya... Kenalin, Gue Raisa Putri." Lanjut Gue sambil menyodorkan tangan Gue ke Bran.


"Bran." Jawabnya sambil berjabat tangan.


Sangking senang nya, Gue sampai tidak sadar tangan Bran tidak berhenti Gue genggam.


"Ma-maaf." Ucap Bran yang melihat kearah tangan kami.


"Oh... Haha, sorry." Jawab Gue lalu melepas tangannya.


"Senang bisa bertemu dengan idola Gue." Lanjut Gue dengan tersenyum.


"Senang juga bisa bertemu dengan penulis terkenal seperti anda." Balasnya yang juga tersenyum ke Gue.


*Gue mau mati, gue mau mati. Tolong!!* Batin Gue.


"Jadi makan siang, kan?" Sahut Reina yang mulai tadi hanya diam.


"Hah?? Ja-jadi dong." Jawab Gue kaku.


"Yuk!" Ajak Gue.

__ADS_1


Kami pun pergi bersama ke restoran yang biasa kami tempati untuk makan siang ataupun malam.


Selama di perjalanan, Gue hanya bisa diam tapi pikiran Gue kacau balau. Bagaimana bisa, idola Gue ada di hadapan Gue sekarang.


*Senang banget... Gila!!!* Batin Gue.


Saat sampai di Restoran kami pun duduk bersama. Reina duduk bersampingan dengan Bran, sedangkan Gue dan Rasya duduk di hadapan mereka.


*Gue? Makan bareng bran? Gak kuat!!* Batin Gue.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Bran ke Reina.


"Terserah saja." Jawab Reina.


"Bagaimana dengan spageti? Kamu kan sangat suka itu." Tawar Bran.


"Terserah saja." Jawab Reina.


"Hm... Kalau begitu, aku pesan makanan yang biasa kita makan di amerika saja." Balas Bran lalu mulai memesan makanan.


"Bang... Lu mau makan apa? dari tadi diam mulu."  Tanya Gue.


"Samain aja kayak Lu." Jawabnya yang sedang menopang dagu dengan sebepah tangannya sambil melamun.


"Oke." Balas Gue lalu memesan makanan juga.


Sambil menunggu pesanan. Kami hanya bisa diam satu sama lain. Rasya yang biasanya selalu memulai pembicaraan, sekarang ia hanya diam saja.


Sedangkan Bran malah sibuk dengan Reina. Mulai dari memperhatikan Reina, mengajak Reina mengobrol, dan merangkul Reina. Semua itu ia lakukan, tapi Reina malah tidak memperdulikannya dan malah sibuk melirik Rasya.


Tak lama kemudian, pesanan kami pun datang. Semuanya di tata dengan baik di atas meja. Tapi ada yang membuat gue heran dengan pesanan Reina.


*Kenapa hanya spageti dan jus stroberi saja?* Batin Gue.


"Rei... Lu gakpapa cuma makan itu doang?" Tanya Gue.


"Gakpapa...dia selalu memakan itu bersamaku saat di Amerika." Jawab Bran.


"Oh...oke." Balas Gue.


Saat kami mulai makan. Gue berusaha untuk tidak memerdulikan Bran dan Reina. Bran sangat memperhatikan Reina, sesekali juga Bran menyuapi Reina steak yang di pesannya.


Reina seperti tidak bisa menolak dengan perilaku Bran. Ia hanya bisa menuruti Bran saja.


Sedangkan Rasya, ia berusaha untuk tidak melihat mereka. Ia makan sambil menunduk, tapi sesekali juga ia melirik Reina.


*Ada yang harus Gue bantu nih.* Batin Gue lalu tersenyum miring dan lanjut memakan hidangan Gue.


Setelah kami selesai makan, Gue berniat untuk mengajak Bran keluar sebentar. Agar Rein dan Rasya hanya berdua saja. Gue yakin ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh mereka.


"Bran... Apa bisa membantu Gue sebentar?" Tanya Gue.


"Membantu apa?" Tanyanya.

__ADS_1


"Saya ingin pergi ke meja resepsionis, ada yang harus Gue ambil." Jawab Gue.


"Tapi Reina, bagaimana?" Tanyanya.


"Biarkan saja. Dia akan tetap disini sambil menunggu kita. Yakan Rei." Jawab Gue.


"Hah? Iya-iya." Jawabnya.


"Hm... Baik, ayo." Sambung Bran.


Gue dan Bran pun pergi ke luar restoran menuju meja Resepsionis. Gue berusaha untuk berjalan pelan agar cukup waktu untuk mereka berbicara.


RASYA POV*


Saat Raisa dan cowok itu pergi, Gue awalnya hanya diam saja. Gue berfikir mereka hanya pergi sebentar saja, dan Raisa benar-benar ada yang harus ia urus dengan resepsionis.


Tapi setelah 5 menit. Mereka belum. Juga kembali-kembali, Gue baru menyadari kalau sekarang Gue hanya berdua dengan Reina.


*Lu segaja, Sa?* Batin Gue.


Memang ada yang harus Gue bicarakan dengan Reina. Gue pun mencoba menegurnya.


"Rei/Sya." Tegur kami bersama.


"Lu duluan aja." Ucap Gue.


"Kamu saja." Jawabnya.


"Hah... Gue minta maaf sama lu. Maaf karna sudah ngusir lu kemarin. Maaf juga karna menyuruh lu untuk pergi dari kamar Gue. Maaf karna selalu marah sama Lu." Jelas Gue.


"Hm... Seharusnya aku yang minta maaf. Maaf karna telah mengganggu mu." Sambungnya.


"Bu-bukan itu... Gue salah, seharusnya gue gak bilang kayak gitu ke, Lu. Gu-gue gak bermaksud nyuruh Lu jauhin Gue." Sahut Gue.


"Tapi... Bukannya kamu bilang kepada ku untuk tidak muncul di hapadan mu lagi? Dan jangan perhatian ke kamu." Ucapnya.


"A-anu... Itu... Gu-gue salah,  saat Gue ngomong kayak gitu ke lu. Itu gue sedang tidak sehat, gue benar-benar ****. Maaf." Jawab Gue lalu menopang kepala Gue dengan kedua tangan Gue.


"Kamu tidak salah... Aku memang seharusny tidak bersikap seperti itu dengan mu. Maaf karna telah membuat mu bingung seperti ini. Aku hanya–"


"Tidak-tidak." Potong Gue.


"Tolong jangan berhenti bersikap seperti itu ke Gue. Jangan berhenti untuk menemui Gue, jangan berhenti untuk menegur gue, jangan berhenti untuk perhatian ke gue, dan tolong jangan berhenti untuk berada di samping Gue." Lanjut Gue.


"Gue tidak ingin Lu berhenti melakukan itu." Sambung Gue.


"Maksud mu?" Tanya Reina.


"Hm... Reina... Apa Lu ngebolehin Gue untuk selalu berada di samping Lu?" Tanya Gue.


"Bu-bukan hanya itu, apa Lu ngebolehin Gue suka sama Lu? Apa gue boleh berharap sama lu? Apa Gue boleh berjuang demi lu? dan apa Gue boleh percaya kalau Lu juga akan suka sama Gue?" Lanjut Gue sambil menatap Reina dalam.


Setelah Gue berbicara seperti itu, Reina hanya diam dan membalas tatapan Gue dengan tatapan yang terkejut. Ia pun mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Gue.

__ADS_1


"Rasya..."


Bersambung


__ADS_2