
Pagi hari di akhir pekan yang santai gue berniat untuk tidak beraktivitas sedikit pun satu hari full ini karna semalam gue benar-benar gak ada tidur sedikitpun karna harus mengejar deadline yang di berikan sama penerbit gue tapi saat gue sudah bersiap untuk tidur gue tiba-tiba menerima telpon dari seseorang, karna gue ngantuk berat gue sudah gak bisa fokus dan gak tau siapa sih penelpon itu, gue pun langsung mengangkat saja telpon itu.
"Halo, dengan siapa saya berbicara?" -Gue.
"Selamat pagi baby?" -Devan.
Astaga Devan? Malu banget gila!! *Batin gue yang terkejut karna si penelpon itu adalah Devan.
"Halo sayang!" -Devan.
"Ah iya, Kenapa Dev?" -Gue.
"Hari ini kamu sibuk gak? aku kangen, kita jalan bareng yuk." -Devan
"Anu Dev–" -Gue.
"Kita gak pernah ketemu lagi loh akhir-akhir ini, aku sering ngeliat kamu di parkiran atau di kantin tapi setiap aku mau manggil kamu, kamu malah pergi berdua sama Rasya dan lagi kamu akhir-akhir ini selalu makan siang bareng sama Rasya dan teman-temannya itu, aku pikir kalau kita sudah putus, status kita pacaran tapi seperti gak ada hubungan apa-apa." -Devan.
"Hmm, yasudah kita hari ini jalan, tapi kita gak bisa berdua aja, Rasya ikut kita tapi dia gak jalan bareng kita dia cuma ngikut kita dari belakang." -Gue.
"Tapi kenapa?" -Devan.
"Gue ada perjanjian sama dia, jadi ikutin aja dah lagian dia gak bakal macam-macam kecuali lu yang mulai duluan." -Gue.
"Oke sayang, Jam 10 nanti aku jemput ya." -Devan.
"Oke, bye." -Gue.
"Bye sayang." -Devan
Setelah gue mematikan telponnya gue langsung turun dari ranjang dan berjalan ke kamar Rasya.
Tok tok tok
"Bang!!" teriak gue.
"Masuk!!" balas Rasya setelah itu gue pun masuk ke kamarnya.
"Kenapa?" tanya Rasya yang masih berbaring di ranjang sambil bermain ponsel.
"Hari ini gue mau jalan sama Devan, lu ikut atau gak?" tanya gue lalu ikut berbaring di samping Rasya.
"Ikut lah, jamber? Biar gue ajak temen gue sekalian dari pada gue gabut sendirian cuma ngikutin kalian doang." jawabnya.
"Jam 10." balas gue.
"Yaelah masih lama, ini baru jam set 7 kali, lagian lu gak ngantuk? Semalam gue dengar lu gak ada tidur sama sekali buat ngejar deadline doang." saut Rasya.
"Ya ngantuk lah, lu pikir aja gak ada tidur seharian cuma bisa minum kopi doang biar gak ngantuk." jawab gue.
"Kali ini berapa botol kopi lagi lu habisin?" tanya Rasya yang tiba-tiba memeluk gue dari depan.
"Entah deh berapa botol, mungkin 3 atau 4 bisa aja lebih." jawab gue santai.
"Yaelah bisa-bisa lambung lu kenapa-kenapa kalo kebanyakan minuk kopi." balas Rasya sambil mengelus-elus rambut gue.
"Gak bakal kenapa-kenapa nih lambung." jawab gue.
"Dah lah lu tidur gin, nanti gue bangunin kalo udah jam 9 biar lu bisa siap-siap." ucap Rasya.
"Gue tidur sini ya." saut gue.
"Iya adek gue sayang, tidur sini aja sama gue." jawab Rasya yang masih memeluk gue dan mengelus-elus kepala gue.
Gue pun tidur di ranjang Rasya dengan nyaman dan seperti biasa Rasya selalu tau apa yang gue butuhin dan apa yang membuat gue nyaman.
RASYA POV*
Setelah Raisa tidur gue pun turun dari ranjang dan menelpon Agung.
"Halo Gung." -Gue.
"Kenapa Sya?" -Agung.
"Lu sibuk gak?" -Gue.
"Gak, kenapa?" -Agung.
"Jalan yuk." -Gue.
"Sya lu sehat? Lu ngajakin gue kencan?" -Agung.
__ADS_1
"Lu kalau mau mati bilang!!" -Gue.
"Gue masih mau hidup bjir, lu juga tiba-tiba ngomong JALAN YUK, lu kayak ngajakin gue kencan bjir." -Agung.
"Ya kagak gitu juga bambang, adek gue mau jalan bareng Devan nah gue harus ikutin mereka lah, kalau sih Devan itu tiba-tiba berbuat aneh-aneh ke adek gue gimana bambang, jadi gue ajakin lu sama anak-anaknya buat buntutin mereka dari pada gue sendiri keliatan banget kalau gue jomblo." -Gue.
"Oalah, ngomong kek kalau kayak gitu jadi gue gak berpikir jauh kek tadi." -Agung.
"Pikiran lu memang gak genah goblk sama kayak orangnya."* -Gue.
*"Tapi lu mau juga beteman sama gue." -*Agung.
"Terpaksa!! dah lah ikut kagak?" -Gue.
"Ikut-ikut, nanti gue kabarin anak-anak yang lain, btw jamber sih?" -Agung.
"Set 9 lu udah otw rumah gue." -Gue.
"Okay deh, dah ya gue mau mandi." -Agung.
"Lah anjay ngapain lu ngomong ke gue kalau lu mau mandi, dah lah memang pada gak genah semua teman gue." -Gue.
Gue pun menutup telponnya dan langsung turun ke meja makan yang seharusnya gue mandi dulu sebelum makan tapi karna laper gue langsung turun aja ke meja makan.
"Pagi Tuan." sapa pembantu rumah tangga.
"Pagi bi" balas gue.
"Nona gak sarapan Tuan?" tanyanya.
"Tidak, dia sedang tidur, siapkan sarapan untuk saya saja." jawab gue lalu duduk di meja makan.
"Baik Tuan." balasnya lalu pergi untuk menyiapkan gue sarapan.
.
.
Setelah sarapan selesai gue langsung kembali kekamar untuk melihat apakah Raisa terbangun atau masih tertidur dengan pulas.
"Apa dia sangat lelah?" gumam gue sambil mengelus rambutnya.
"Tidur yang nyenyak ya, ntar lagi gue bangunin lu kok." gumam gue lalu mencium puncak kepalanya.
***
Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 9 pas, gue langsung berdiri dan membangunkan Raisa dengan lembut.
"Dek, bangun ini udah jam 9 loh." ucap gue.
"Dek, bangun!!" ucap gue sambil menggoyangkan badannya.
"Emmhh, ntar lagi." jawabnya.
"Ntar lagi kapan? Bisa-bisa sampe besok lu tidur, bangun cepat." saut gue lalu menarik Raisa agar duduk agar tidak berbaring lagi.
"Iya-iya Raisa bangun." balasnya dan melepaskan tangan gue lalu duduk sebentar sambil melamun.
"Yaelah kebiasaan banget bukannya langsung mandi malah melamun dulu." ucap gue lalu menarik Raisa ke kamar mandi.
"Cepat mandi gue tunggu dibawah." sambung gue lalu keluar dari kamar dan turun lalu duduk di ruang tamu untuk menunggu teman-teman gue.
"Yaelah lama banget sih mereka." gerutu gue. Dan tak lama kemudian mereka pun datang.
"Dari tadi Sya?" ucap Reyhan lalu duduk di sofa begitupun yang lainnya.
"Baru aja Rey." saut Agung.
"Kalian mau kena ini ya!" ancam gue sambil menyodorkan tinju gue ke Agung dan Reyhan.
"Becanda woi jangan baperan napa." balas Agung.
"Lu becanda waktunya gak tepat bangs*t." ucap gue geram.
"Ya kan kita kagak tau–" jawab Reyhan yang tiba-tiba terpotong karna teriakan Raisa.
"Bang!!!!" teriak Raisa sambil menuruni anak tangga.
"Kenapa?" jawab gue santai.
"Lu kan yang berantakin rak buku bagian komik gue?!!" ucap Raisa.
__ADS_1
"Gue tadi nyari komik doang kok Sa, lagian kan terserah gue mau ngapain aja di kamar gue." jawab gue.
"Iya terserah tapi jangan hampur rak buku gue dong!!! Itu gue susun sesuai sama daftar yang gue catat capek-capek dan lu dengan gampangnya berantakin, Rasya Putra!!!" teriak Raisa geram.
"Ya maap kan gue gak tau." jawab gue lalu tersenyum ke Raisa.
"Napa senyum-senyum, hah?!!!!" teriak Rasya yang bikin gue kaget dan tentu teman-teman gue juga kaget.
"Yaelah Sya, lu malah buat masalah sama adek lu." bisik Agung.
"Bac*t lu!!" teriak gue.
"Bang... gue kasih lu waktu 5 menit, naik keatas dan beresin rak buku gue, kalau kagak laptop gaming lu benar-benar gue rusakin." ancam Raisa.
"Ja-jangan, iya gue beresin." saut gue dan sontak berdiri.
"Kita tunggu di sini ya Sya." ucap Putra dan rendi serentak.
"Kalian... Ikut Rasya beresin rak gue, buruan!!!" teriak Raisa yang membuat teman-teman gue berdiri ketakutan dan ikut bersama gue ke kamar Rasya.
"Gila adek lu serem banget." ucap Rendi.
"Tapi dia cantik banget loh tadi." saut Putra.
"Yakan dia mau kencan sama cowoknya." sambung Agung.
"Sudah lah buruan ke kamarnya biar cepat beres kerjaan yang di buat Rasya." saut Reyhan.
Gue hanya diam dan saat di depan kamar Raisa gue pun membuka pintunya dan masuk kekamar di susul teman-teman gue. Saat kami masuk teman-teman gue kaget melihat kamar Raisa yang sangat rapi dipenuhi dengan buku-buku karyanya sendiri dan juga dengan penghargaan yang di dapatkannya dengan jerih payahnya sendiri.
"Adek lu hebat banget Sya." ucap Agung.
"Makanya gue sering bilang gak ada cewek yang bisa nandingin adek gue, udah cantik prestasi dimana-mana, apa coba kurangnya." jawab gue sambil merapikan rak bukunya.
"Tapi sayang dia pemarahan dan lebih sayangnya lagi yang jadian sama dia malah sih Devan brengsek itu." balas Agung.
"Sya." panggil Putra.
"Kenapa?" tanya gue yang masih fokus merapikan rak bukunya.
"Adek lu sehari minum kopi berapa kali?" tanya Putra.
"Lah lu kok nanya kopi sih?" tanya gue balik sambil berbalik melihat ke arah Putra.
"Coba lu sini." jawab Putra lalu gue berjalan kearah Putra.
"Kenapa sih–" ucap gue yang tiba-tiba terkejut karna melihat tumpukan botol kopi yang sangat banyak.
"Adek lu kecanduan kopi ya sya?" tanya Putra.
"Gak tau, gue baru tau sekarang tadi gue masuk kekamarnya gak liat tumpukan botol kopi ini dan sebelum-sebelumnya gue juga gak pernah liat tumpukan kopi sebanyak ini biasanya yang gue liat paling 3 botol atau 5 botol doang." jelas gue.
"Tapi ini bukan 3 botol atau 5 botol Sya, ini belasan botol dan kayanya ini baru kemarin dia minum deh, botolnya seperti baru dibuka." Jawab Putra.
"Tapi kalau benar adek lu kecanduan kopi itu berarti ada alasannya kan." sambung Putra.
"Dia biasa minum kopi banyak ya karna lagi ngerjain ceritanya, dan tadi pagi dia bilang dia cuma minum kopi 3 botol atau 4 botol doang." ucap gue mulai khawatir.
"Gue punya rencana." saut Reyhan yang ternyata ia berdiri di belakang kami bersama Agung dan Rendi.
"Apa?" tanya gue.
"Gimana kalau lu sembunyiin semua stok kopi miliknya termaksud kopi yang ada di dapur lu, dan lu liat reaksinya sehari gak minum kopi, kalau dia bertingkah layaknya seseorang yang membutuhkan obat penenang berarti dugaan Putra benar, kalau adek lu itu kecanduan kopi." jelas Reyhan.
"Tapi gimana? Itu butuh waktu buat sembunyiin semua stok kopi yang ada di rumah ini." tanya gue bingung dan juga khawatir.
"Tenang ada kita, Nanti kalau kita sudah ngikutin mereka sampe ke tempat tujuan mereka ya kita cuma ngawasin sampe setengah kencan mereka doang gak usah sampe mereka selesai kencan, nah nanti lu Pc Raisa aja kalau lu tiba-tiba ada sesuatu mendesak sama guru taekwondo lu atau apa kek yang penting jangan sampai buat dia curiga, nah setelah itu baru kita kembali kerumah lu buat jalanin rencana ini." jelas Agung.
"Hmm... Oke gue ikutin rencana kalian, kita selesaikan dulu pekerjaan yang belum terselesaikan." jawab gue lalu melirik rak buku yang masih setengah tersusun rapi.
"Hadeh, makanya jangan buat ulah, buruan yuk." balas Agung lalu kami pun merapikan rak buku itu.
Setelah kami selesai merapikan semuanya, gue dan yang lain langsung turun bawah dan ternyata di ruang tamu sudah ada Devan yang sedang mengobrol dengan Raisa.
"Sa." panggil gue.
"Udah bang?" tanyanya.
"Udah, yuk buruan." jawab gue lalu berjalan ke garasi mobil bersama Agung dan Putra sedangkan Reyhan dan Rendi memakai mobil Reyhan untuk pergi, dan Raisa tentu saja bersama Devan.
Setelah itu gue dan Reyhan megikuti mobil Devan dari belakang, dan sesuai yang di rencanakan Agung kita mulai menjalankan rencana itu mulai dari mengikuti Raisa dan Devan sampai mereka makan bersama gue langsung mengirim pesan ke Rasya kalau gue tiba-tiba ada urusan mendadak dengan ketua kumpulan Taekwondo gue setelah itu gue dan yang langsung kembali kerumah dan menjalankan rencana untuk menyembunyikan semua kopinya sebenarnya kami tidak menyembunyikannya kami malah membuangnya jauh dari rumah gue karna di rumah gue gak ada tempat Rahasia yang gak di tau sama Raisa jadi satu-satunya cara adalah membuang semua kopinya dan setelah rencana gue selesai gue dan yang lain langsung pergi lagi agar Raisa tidak curiga kalau kita sebelumnya kembali kerumah.
__ADS_1
Bersambung