Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Bicara Berdua


__ADS_3

"Rasya... Apa aku juga boleh pertanya?" Tanya Reina.


"Hah? I-iya." Jawab Gue.


"Apa aku juga boleh memperjuangkan mu?" Tanyanya.


"A-apa?!!" Teriak Gue.


"Hey... Kenapa teriak?" Tanya seseorang dari belakang Gue.


"Reina... Aku ingin beristirahat." Sambung laki-laki itu.


"Kok kalian udah kembali?" Tanya Gue heran.


"Itu...Bran ingin kembali." Jawab Raisa.


**Kecepatan!!* Batin Gue menatap Raisa.


*Ya maaf, dia maksa mau sama Reina.* Batin Raisa yang juga menatap Gue*.


"Dasar!!" Gumam Gue.


"Ki-kita balik aja, yuk." Ajak Raisa.


"Tapi!!" Sahut Gue dan Reina bersama.


"Kenapa?" Tanya cowok itu.


"Gak, kok. Yaudah kita balik." Jawab Reina lalu berdiri.


"Belum selesai ngomongnya." Gumam Gue.


Kami pun kembali ke kamar masing-masing. Dengan perasaan yang sedih karna Gue gak tau apa maksud dari perkataan Reina tadi, akhirnya Gue masuk ke kamar lalu melemparkan diri Gue ke atas ranjang.


"Lu kenapa lagi sih?" Tanya Raisa.


"Gue belum selesai ngomong sama dia. Tapi lu udah datang aja." Jawab Gue.


"Sudah lah...masih ada waktu lain." Sambungnya.


"Tapi Gue mau kelarin sekarang." Ucap Gue lalu duduk dan menatap Raisa yang sedang duduk di kursi.


"Yaudah, ajak Reina ketemu. Gampang kan." Jawabnya.


"Masalahnya...gimana Gue ajak dia ketemu? Kontaknya pun gak punya. Masa Gue haru ke kamarnya, terus ketemu sama model itu? Ogah!!" Balas Gue.


"Terus adek Lu ini gak ada gunanya, ya?" Tanya Raisa.


"Gue punya nomornya Reina." Lanjutnya.


"Nah!!" Ucap Gue lalu menghampirinya.


"Tolong telpon dia." Lanjut Gue.


"Lu yang telpon sendiri, nih..." Jawabnya lalu memberikan ponselnya.


Gue pun langsung mengambil ponselnya dan menelpon Reina.


"Di angkat?" Tanya Raisa.


"Berdering." Jawab Gue.


Tiba-tiba telpon Gue pun di angkat. Tapi gue terkejut karna bukan suara Reina yang Gue dengar.


"*Halo...dengan siapa saya berbicara? " -Seseorang.


"Halo...apa Reina nya ada?" -Gue.


"Oh... Temannya Reina ya? Maaf ya Reinanya lagi di kamar mandi." -Seseorang.


"Oh...kalau boleh tau ini siapa ya?" -Gue.


"Saya Bran." -Bran*.


"Oh..." -Gue.

__ADS_1


"Bran!! Siapa yang menelpon?" Teriak Reina dari dalam telpon.


"Teman kamu, sayang." Jawab Bran.


*Sayang?* Batin Gue.


"Halo..." -Reina.


"*Ha-halo." -Gue.


"Eh? Rasya?" -Reina*.


"*Iya... Ini Gue." -Gue.


"Ada apa?" -Reina*.


"A-anu... Apa kita bisa bertemu di lantai atas?" -Gue.


"Untuk apa?" -Reina.


"Melanjutkan pembicaraan kita tadi." -Gue.


"Oh...tapi, di atas kan sedang panas." -Reina.


"Hm...bagaimana kalau kita ke taman?" -Gue.


"Aku tidak bisa pergi telalu jauh. Aku harus menemani Bran selama dia di Indonesia." -Reina.


"Oh..." -Gue.


"Sayang...aku akan beristirahat sekarang. Bangunkan aku saat pukul 5 sore." Ucap Bran dari dalam telpon.


*Sayang? Lagi?* Batin Gue.


"Bran sedang beristirahat sekarang, bagaimana kalau kita bertemu di restoran? Aku ingin makan cake." -Reina.


"Hah? Ba-baiklah." -Gue.


"Oke...sanpai jumpa di lift." -Reina.


"Gimana?" Tanya Raisa.


"Restoran." Jawab Gue.


"Lah terus kenapa muka Lu gitu? Gak enak banget di liat." Sambung Raisa.


"Tadi Bran manggil Reina dengan sebutan 'Sayang' Bukan sekali doang, tapi 2 kali." Jawab Gue.


"Jangan-jangan Bran itu pacarnya Reina? atau malah tunangannya?" Ucap Raisa.


"Lu jangan buat Gue tambah gila, dong." Sambung Gue.


"Haha...canda, gak mungkin Reina punya tunangan kan." Sahutnya.


"Semoga..." Gumam Gue.


"Yaudah...Gue pergi, ya." Lanjut Gue lalu berdiri.


"Oke... Semangat!!" Ucapnya.


Gue pun keluar dari kamar dan berjalan ke lift. Benar saja saat di depan lift, sudah ada Reina yang menunggu sambil bermain ponsel.


"Rei..." Panggil Gue lalu menghampirinya.


"Udah lama?" Tanya Gue.


"Gak, kok. Baru aja." Jawabnya.


"Yaudah... Yuk." Ajak Gue lalu masuk kedalam lift.


Di dalam lift, kami hanya diam saja. Sampai di restoran tadi. Kamu pun memesan beberapa cake dan juga minuman.


Sambil menunggu pesanan datang. Gue pun memulai obrolan yang terpotong tadi.


"Maksud Lu tadi apa, Rei?" Tanya Gue.

__ADS_1


"Oh...a-aku juga ingin memperjuangkan mu." Jawabnya.


"Berarti Gue boleh selalu ada di sisi Lu? Semua yang Gue mau lakuin, Lu bolehin?" Tanya Gue.


"I-iya." Jawabnya.


"Thanks...thanks, Rei." Balas Gue.


"Tapi..." Sahutnya.


"Tapi apa?" Tanya Gue.


"Tapi... Jangan ngelarang aku untuk selalu memperhatikan mu." Jawabnya.


"Gak...gak bakal. Terserah apa yang mau Lu lakuin, Gue gak akan ngelarang Lu. Yang penting jangan buat Gue sakit, itu doang." Sambung Gue.


"Tenang..." Ucapnya lalu mengelus kepala Gue.


"Aku gak akan membuat mu sakit. Aku tidak ingin melihat mu sakit lagi." Lanjutnya yang masih mengelus kepala Gue sambil tersenyum.


"Mari kita sama-sama berjuang." Sambung nya lalu berhenti mengelus kepala Gue dan mengajak Gue untuk berjabat tangan.


"Hm...ya. Mari berjuang bersama sampai akhir." Jawab Gue lalu kami pun berjabat tangan dengan tersenyum.


"Tapi..." Ucap Reina yang sontak melepas tangan Gue.


"Tapi apa?" Tanya Gue.


"Maaf... Aku tidak yakin kita bisa menjalin hubungan serius, seperti yang kamu bayangkan." Jawabnya.


"Kenapa?" Tanya Gue.


"Aku takut...kamu belum mengenal ku. Aku takut jika kamu akan pergi jika tau yang sebenarnya." Jawabnya.


"Apa yang Lu maksud? Gue gak ngerti, tolong jangan buat Gue bingung seperti ini." Ucap Gue.


"Mau bagaimana pun Lu, gue akan menerima Lu. Tapi kenapa? Dengan alasan yang tidak jelas, Lu malah bilang kalau kita gak bisa bersama?" Lanjut Gue.


"Bu-bukan... Bukan itu maksud Ku, aku... Hanya takut kalau kamu tidak akan menerima ku nantinya." Jawabnya lalu sontak menunduk.


Gue yang melihat itu, sontak menggenggam kedua tangannya.


"Hei...Gue sudah bilang akan memperjuangkan Lu bagaimana pun caranya. Terus, kenapa Gue tidak bisa menerima Lu?"  Ucap Gue.


"Mau bagaimana pun nantinya. Tolong... Jangan berfikir seperti itu, sekarang saja kita belum memulai apa-apa. Dan lu malah seperti ini? Hah... Lupakan masalah yang sedang Lu pikirkan, sekarang fokus saja dengan apa yang lu hadapi ini." Lanjut Gue.


"Ma-maaf." Ucapnya setelah mengangkat kepalanya.


Gue sontak menempelkan kedua tangan Gue ke pipinya.


"Hei... Gue kira Lu cewek yang kuat. Tapi kenapa sekarang Lu malah lemah di hadapan Gue? Cukup Gue yang lemah saat di depan lu, kalau Lu jangan." Sahut Gue.


"Sekarang senyum... Jangan berpikir yang tidak-tidak. Seperti sebelumnya Gue akan menjaga Lu, walaupun taruhannya nyawa Gue sendiri." Lanjut  Gue.


Reina sontak tersenyum dan menatap gue dengan mata abu-abunya itu.


"Hah...jangan senyum seperti itu, Lu malah buat jantung Gue berhenti berdetak." Sambung Gue.


"Hahaha." Tawanya.


"Nah...gini dong ketawa lebih baik dari pada sedih." Ucap Gue lalu melepaskan tangan Gue.


"Oh ya... Apa Gue boleh betanya?" Lanjut Gue.


"Boleh." Jawabnya.


"Bran...ada hubungan apa Lu dengan Bran?" Tanya Gue.


"Hah?" Tanyanya bingung.


"Kenapa Bran memanggil Lu dengan sebutan 'sayang'? dan kenapa dia tidur di kamar Lu?" Tanya Gue.


"Maaf..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2