Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Canggung


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Gue sudah terbangun lebih dulu sebelum 4 bocah itu dan Raisa.


Karna masih Jam 5 pagi, Gue gak mau ganggu mereka yang baru lelap dengan tidurnya.


Gue memutuskan untuk membersihkan separuh kekacauan karna pesta semalam. Membersihkan sampah-sampah yang ada di lantai dan di meja sendiri itu cukup melelahkan untuk Gue.


Setelah selesai, Gue ingin meminum segelas kopi panas di pagi hari dan cemilan ringan untuk mengganjal perut yang sedang kelaparan ini.


Sebelum itu, Gue memutuskan untuk mandi terlebih dulu. Karna Gue yakin restoran belum buka saat jam segini, tapi dapur di Hotel buka 24 jam. Jadi Gue hanya bisa menyuruh pelayan membawakan Kopi dan cemilan ke lantai paling atas untuk bersantai.


Walaupun lantai paling atas hotel tidak boleh di lewati oleh para tamu, tapi kalau Gue pasti boleh lah. Karna di lantai atas itu memang tempat paling nyaman untuk menghirup udara segar di pagi hari, dengan kursi dan meja yang akan gue minta untuk di siapkan oleh pelayan. Itu adalah hal yang lengkap untuk memulai hari ini.


Setelah Gue selesai mandi dan memakai baju santai. Gue pun langsubg maik ke lantai atas sendirian tanpa di temani oleh siapapun.


Saat sampai di atas, gue terkejut karna melihat pintunya terbuka. Padahal sebelumnya Gue menyuruh pelayan untuk menutup pintunya kembali, jika sudah selesai menyiapkan semuanya.


"Masa iya ada orang lain disini? Gak mungkin, lah." Gumam Gue.


"Apa Gue harus turun tangan buat ngajarin pelayan itu?" Gumam Gue lalu keluar lewat pintu yang sudah terbuka itu.


Gue terkejut saat ada seseorang yang berdiri sambil melihat ke bawah dari lantai yang sangat tinggi ini.


Gue langsung berlari menghampiri Gadis itu, dan langsung memeluknya dari belakang. Karna Gue berpikir jika dia ingin melompat dari sini.


"Jangan... bunuh diri itu dosa." Ucap Gue sambil memejamkan mata Gue dan masih memeluk gadis itu dengan erat.


"Siapa yang mau bunuh diri?" Tanya gadis itu yang menurut gue suaranya cukup familiar bagi gue.


Gue pun membuka mata Gue, lalu melihat wajah gadis itu yang sedang menatap Gue, aneh.


Lebih terkejutnya Gue, karna yang Gue peluk itu cewek yang membuat hidup Gue jadi serumit ini.


"Elu?!!" Teriak Gue lalu melepaskan pelukan Itu dan menjauh darinya.


"Ngapain, Lu disini?"  Tanya Gue.


"Cari angin segar, gak mungin aku bunuh diri." Jawabnya.


"Kok bisa Lu kesini? Kan ini tempat terlarang." Tanya Gue lagi.


"Ya bisa, lah. Pelayan Hotel bilang gakpapa, kok." Jawabnya santai lalu kembali melihat ke bawah.


"Bukannya peraturannya gak boleh, ya? Gue harus diskusi lagi ke Raisa." Gerutu Gue lalu duduk di kursi yang telah di siapkan oleh pelayan.


"Kok kopinya dua, sih?" Gumam Gue.


"Sudah lah, mungkin pelayan nya ngira Gue pergi sama Raisa." Gumam gue berusaha tidak memperdulikan masalah kopi.


Gue berusaha untuk tidak memperdulikan Reina. Tapi hati Gue semakin lama semakin ingin mengobrol berdua degannya.


"Hei ... " Panggil Gue.


"Kenapa?" Tanyanya sambil menatap Gue.


"Mau ngopi bareng?" Tanya Gue balik.


"Hmm... Tumben." Jawabnya.


"Mau." Sambungnya lalu duduk di kursi depan Gue.


"Nih." Ucap Gue sambil memberikan segelas kopi.


"Thanks." Jawanya lalu menerima kopi itu.


Suasana kembali canggung. Gue ingin memulai pembicaraan, tapi gue bingung harus mulai dari mana. Dari Gue lahir sampai sekarang, Gue gak pernah basa basi duluan ke cewek.


*Canggung banget, Mau nangis rasanya!!* Batin Gue.


"Canggung banget, ya?" Tanya Reina yang membuat Gue kaget. Kenapa dia selalu berbicara seolah dia bisa mendengar isi hati Gue.


"Hah? I-iya ya." Jawab Gue kaku.


"Santai aja, Aku juga sama kayak Kamu. Gak pernah basa-basi duluan." Sambungnya.


"Hmm... Iya." Jawab Gue dan suasana pun kembali canggung.


"Kalian Pimpinan di Hotel ini, ya?" Tanya Reina.


"Cuma sementara doang. Tapi yang megang kendali disini Raisa." Jawab Gue.


"Kita berdua itu wakil doang, Pimpinan yang asli lagi ada urusan di luar Negri." Sambung Gue tanpa sadar menjelaskan.


"Oh begitu, hebat ya kalian. Masih SMA aja udah bisa pimpin Hotel yang gede ini. Jadi iri." Ucapnya dengan senyum kecilnya.


*Gak mimpi kan, Gue? Reina senyum?* Batin Gue.


"Cantik." Gumam Gue tanpa sadar dan terdengar oleh Reina.


"Siapa?" Tanyanya.


"Hah? La-langit nya cantik." Jawab Gue kaku.


Reina langsung berbalik dan melihat langit yang Gue bilang cantik itu.


"Iya ya, cantik banget." Ucapnya.

__ADS_1


"Eh... Lu sampai kapan mau di Hotel Ini?" Tanya Gue.


"Hah? Oh... Gak tau sampai kapan. Mungkin setelah masalah kemarin selesai." Jawabnya.


"Oh ya, makasih ya soal kemarin. Gara-gara aku, kamu jadi kena pukulan dari mereka." Sambungnya.


"Santai aja, lagian Gue sendiri yang mau bantu Lu." Ucap Gue.


*Padahal Raisa yang nyuruh Gue.* Batin Gue.


"Bukannya kemarin kamu bilang kalau Raisa yang nyuruh, ya?" Tanyanya yang lagi-lagi seperti membaca isi hati Gue.


"Iya ya, padahal Raisa yang nyuruh. Hahaha." Jawab Gue.


"Eh... Lu mau Kue ini?" Tanya Gue mengalihkan topik.


"Ini Rasa favorit Gue, coklat." Sambung Gue.


"Gak usah, kamu aja yang makan. Makasih." Jawabnya.


"Oh... Oke." Balas Gue tanpa sadar seperti kecewa dengan jawabannya.


"Aku gak suka coklat." Sautnya.


"Hah? Oh... Kalau ini, gimana? Ini cake rasa Ice Cream. Salah satau favorit Raisa." Tanya Gue


"Oke... Gue coba. Makasih." Jawabnya lalu mencoba cake itu.


"Gimana?" Tanya Gue setelah Reina memakan sesuap cake.


"Lumayan, makasih." Jawabnya.


"Emang Lu suka rasa, apa?" Tanya Gue.


"Vanila dan Strawberry, Aku gak suka yang ada rasa coklatnya." Jawabnya.


"Oh... Lain kali aku akan nyuruh pelayan siapin cake dengan rasa yang kamu suka." Saut Gue.


"Makasih." Balasnya.


Tiba-tiba saja Gue melihat Cream Cake di ujung bibir Reina.


"Itu." Ucap Gue sambil menunjuk ujung bibir Gue.


"Hah? Kenapa?" Tanyanya bingung.


"Itu, ada Cream." Jawab Gue samb menunjuk bibir Reina.


Reina pun mencoba mebersihkan bibirnya, tapi ia tidak membersihkan Cream yang ada di ujung bibirnya.


"Dimana?" Tanyanya.


"Disini." Tanpa sadar tangan Gue malah membersihkan Cream yang ada di ujung bibir Reina.


"Sudah." Ucap Gue masih tidak sadar dengan apa yang Gue lakukan.


Reina tiba-tiba terdiam seperti batu, karna sangking shock nya dengan perilaku Gue.


"Hah?! Ma-maaf... Gu-Gue tanpa sadar... Maaf!!" Teriak Gue yang baru sadar dengan tingkah Gue tadi lalu menundukkan kepala Gue di depan Reina dengan rasa malu yang meluap-luap.


Tidak ada jawaban dari Reina, Gue tidak berani mengangkat kepala Gue. Tapi tiba-tiba saja Gue merasakan ada tangan di atas kepala Gue.


"Gak papa... Makasih." Ucap Reina yang ternyata sambil mengelus-elus kepala Gue.


Gue mulai melirik Reina. Dia tersenyum lebar dengan satu tangan yang menopang dagunya dan yang satu lagi sambil mengelus kepala Gue.


Gue gak bisa ngangkat kepala Gue, ada rasa senang bercampur malu di dalam diri Gue. Andai saja waktu bisa berhenti sekarang, Gue hanya berharap hal itu di saat-saat seperti ini.


Tapi di saat-saat Gue lagi menikmati suasana ini, tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu itu lagi.


Reina sontak terdiam sambil menatap pintu itu. Gue penasaran siapa orang itu, Gue pun memegang tangan Reina dan memindahkannya di atas meja dengan posisi yang masih Gue genggam.


Gue pun mengangkat kepala Gue, dan menengok ke arah pintu. Seseorang yang tiba-tina datang itu adalah Raisa dan 4 bocah pengganggu.


"Kalian ngapain?" Tanya Gue.


"Yang seharusnya nanya itu kita, ngapain Lu pegang tanga Reina." Jawab Raisa.


"Hah? Ga-gak kok." Jawab Gue lalu sontak melepaskan genggaman Gue.


"Sangka Lu kita buta,apa?" Protes Raisa lalu menghampiri Kami dan diikuti oleh 4 bocah pengganggu.


"Lu ngapain disini?" Tanya Raisa.


"Siapa?" Tanya Gue balik.


"Lu berdua lah!! Emang siapa lagi?!!" Geram Raisa.


"Gue kesini ya cari angin, lah." Jawab Gue.


"Aku juga." Sambung Reina.


"Kenapa Lu gak bilang, Bang? Pagi-pagi buta Lu udah ilang aja. Di cariin sama Putra gak ketemu-ketemu. Lu kira kita gak khawatir, apa?? " Oceh Raisa.


"Ya maap. Lagian kalau Gue bangunin kalian, mana ada satu dari kalian yang bakal bangub pagi-pagi begitu. Yang ada malah Gue yang kena marah." Protes Gue balik.

__ADS_1


"Ya setidaknya nitip pesan sama pelayan kek, atau tulis di Hp gue. Jangan kayak gini, Lu malah kayak kabur." Oceh Raisa.


"Iya-iya, gak gitu lagi Gue. Terus, kok bisa kalian tau kita disini?" Tanya Gue.


"Dari pelayan, lah." Jawab Raisa.


"Nah berarti Gue udah ada nitip pesan sama tuh pelayan." Ucap Gue.


"MATA LU!!!" Teriak Raisa dan 4 bocah lainnya.


"Astaga... kaget Gue. Santai-santai, becanda aja Gue mah." Saut Gue.


"Abang Lu, kalau kita lempar dari atas sini gakpapa kan, Sa?" Tanya Agung.


"Jahat, Lu. Gue cuma bercanda kali. Jangan di masukin ke hati, gak enak." Canda Gue.


"BACOT!!!" Teriak mereka lagi.


"Yaelah, serentak banget kalau ngatain Gue." Gerutu Gue.


"Dah lah Rei, ayo kita masuk. Dingin lama-lama di luar sini." Ajak Gue lalu menggenggam tangan Reina dan menariknya berjalan bersama Gue.


"Dasar Abag gak Genah!!!" Teriak Raisa.


Gue masuk dengan Reina dan turun ke lantai kamar kami. Tentu saja 5 bocah pengganggu itu Gue tinggal.


*Lagi mesra-mesra nya eh malah di ganggu, dasar adek sama teman gak guna.* Batin Gue.


"Sya." Panggil Reina yang ada di sebelah Gue.


"Kenapa?" Tanya Gue.


"Itu." Jawab Reina sambil menatap tangannya yang dari tadi Gue genggam.


"Hah? Anu... Ma-maaf." Ucap Gue kaku setelah melepas tangan Reina.


"Gak papa." Jawab Reina.


Suasana di dalam lift tiba-tiba canggung.


"Tangan kamu hangat, ya." Ucap Reina.


"Hah? Iya, tangan Lu dingin." Jawab Gue.


"Oh ya? Aku gak ngerasa dingin. Mungkin karna tagan mu." Sambungnya.


"Boleh Gue genggam tangan Lu lagi? Biar gak dingin." Tanya Gue ragu.


"Boleh." Jawab Reina dengan senyumnya.


Gue pun pelan-pelan menggenggam tangan Reina. Tiba-tiba Reina juga menggenggam tangan Gue sambil menatap Gue dengan senyumnya.


Gue sontak mengalihkan pandangan Gue.


*******, gak bisa tenang di jantung.* Batin Gue.


Lift pun berhenti. Kamu langsung keluar dan berjalan sampe ke kamar kami. Dan tentu saja sambil bergenggaman tangan.


Tak terasa, kami pun sampai di depan kamar Masing-masing. Karna kamar Gue dan Reina hanya di batasi lorong, alias kamar kami saling berdepanan. Jadi kami berdiri di tengah-tengah lorong.


*Gue gak rela lepasin tangannya.* Batin Gue.


"Hmm... Aku masuk ya." Ucap Reina.


"I-iya." Jawab Gue kaku lalu melepaskan genggaman gue begitupun Reina.


Gue yang tiba-tiba tertunduk karna merasa kecewa harus berpisah sekarang.


"Gak papa. Nanti kita ketemu lagi kok." Ucap Reina dengan tangannya di atas kepala Gue lalu mengelusnya dengan lembut.


Walaupun Gue lebih tinggi dari dia, dia tetap berusaha untuk meraih kepala Gue.


Gue langsung mengangkat kepala Gue dan sontak memegang tangan Reina lagi.


"Iya, Gue bakal nungguin Lu, kok." Jawab Gue.


"Lu masuk gih." Sambung Gue lalu melepaskan tangan nya.


"Iya, Bye." Ucapnya lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Huu... Mau copot nih jantung." Gumam Gue.


"Seneng bangett gila!!!" Teriak Gue kegirangan.


Gue pun masuk kekamar dengan hati yang sangat senang. Gue langsung melemparkan badan Gue ke atas kasur dan memandangi tangan yang tadi gue pakai untuk menggenggam tangan Reina.


Gue mencoba mencium tangan Gue, berharap ada aroma khas Reina yabg tertinggal di tangan Gue.


"Gila!!! Wangi banget!!!" Teriak Gue setelah mencium tangan Gue yang tercium Wangi Vanila yang bercampur dengan rasa stroberi.


"Wangi khas orang cantik memang beda,ya." Gumam Gue makin gila karna mencium wangi tangan Reina.


Bersambung


*Bantu support authot dengan Like dan Comment nya :)

__ADS_1


Thanks*!!


__ADS_2