Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Rumah Sakit


__ADS_3

"Anak anda terkena Demam berdara. Itu sudah terjadi dari kemarin. Tapi kenapa tidak ada yang menyadarinya?" Jawab Dokter.


"Tidak mungkin, Dok. Kemarin saat di periksa oleh Dokter Hotel. Ia hanya terkena Demam biasa saja." Sambung Gue.


"Hah... Sekarang Putra anda akan di pindahkan keruang rawat." Ucap Dokter.


"Kalian silahkan urus administrasinya." Lanjut Dokter itu lalu pergi.


"Apa kami boleh melihat pasien?" Tanya Gue ke perawat.


"Maaf, masih tidak boleh. Tunggu pasien sudah di pindahkan ke ruang rawat inap." Jawabnya.


"Yasudah sayang, kamu duduk saja dulu disini. Mami Papi ingin mengurus administrasi nya dulu." Sambung Mami.


"Iya, Mi." Jawab Gue lalu duduk.


Mami Papi pun pergi untuk mengurus administrasi. Sedangkan Gue hanya bisa duduk sendiri sambil menunggu Rasya di pindahkan.


***


Setelah Rasya di pindahkan di ruang rawat inap VIP. Gue dan orang tua Gue hanya bisa duduk dan menunggu Rasya sadar.


Gue duduk di sebelah Rasya, sedangkan Mami dan Papi duduk di sofa yang telah tersedia di ruangan itu.


"Sya... Bangun, lu belum makan dari pagi." Ucap Gue sambil menggenggam tangan Rasya.


"Sya... Gue bilang bangun. Kalau Lu gak bangun, Gue gak bakal traktir Lu lagi. Jadi bangun, Bang." Lanjut Gue memohon.


"Sudah, sayang... Abang kamu lagi istirahat. Dia baik-baik aja kok." Ucap Mami yang ternyata ada di belakang Gue sambil memegang pundak Gue.


"Iya, Mi." Jawan Gue.


"Kamu belum makan, kan. Kita keluar yuk, cari makan." Ajak Mami.


"Tapi, Mi. Masa Abang di tinggsl sediri. Kalau dia tiba-tiba bangun gimana?" Jawab Gue.


"Gak papa, kan ada perawat." Balas Mami.


"Gk, Mi. Raisa mau nemenin Bang Rasya disini." Tolak Gue.


"Tapi kamu belum makan, sayang. Gimana kalau kamu juga ikut sakit? Mami gak mau kedua anak mami sakit. Sudah cukup Abang kamu yang sakit." Ucap Mami.


"Sudah lah, sayang. Biarkan dia menemani Abangnya. Kita berdua saja yang cari makan." Sambung Papi.


"Kamu mau makan apa? Biar Papi yang beliin." Lanjutnya.


"Terserah aja, Pi." Jawab Gue.

__ADS_1


"Yaudah, kamu tunggu sini ya. Jangan kemana-mana, Mami Papi pergi dulu." Ucapnya lalu mengelus kepala Gue.


"Kita pergi ya, sayang." Pamit Papi lalu mengajak Mami ikut bersamanya.


Sekarang hanya ada Gue dan Rasya di ruangan itu, ruanganyang cukup dingin ini dan tentu saja sangat sunyi.


"Dingin... AC nya mending dimatiin, deh." Gumam Guelalu berdiri dan mengambil remot AC yang tertempel di dinding.


Gue pun menaiki suhu ruangan ini, sampai ke 25 celsius. Setelah itu Gue kembali duduk dan menopang dagu dengan satu tangan Gue dan menatap Rasya yang masih memejamkan matanya.


"Jangan kelamaan tidurnya, Gue capek nungguin Lu." Ucap Gue sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


Karna terlalu lelah, Gue pun meletakkan kepala Gue di sebelah Rasya. Gue memejamkan mata dengan posis yang masih terduduk.


RASYA POV*


Gue yang mencium aroma yang sangat Gue benci, alias aroma rumah sakit yang sangat familiar di hidung orang-orang. Gue sontak membuka mata Gue.


Gue terkejut dengan apa yang Gue lihat.


*Ini bukan kamar Hotel. Dimana ini?* Batin Gue.


Saat Gue ingin menggerakkan tangan kanan Gue, Gue merasa seperti ada yang menggenggam nya. Saat melihat siapa orang itu. Ternyata itu adalah Raisa.


Ia yang sedang tertidur sambil menggenggam tangan Gue dengan ekspresi takut dan sedihnya itu. Karna takut membangunkan nya akhinya Gue hanya bisa diam saja.


*Emang Gue kenapa? Kok sampai di infus?* Batin Gue setelah melihat tangan Gue di infus.


"Pusing..." Lirih Gue dan tanpa sadar menggerakkan tangan kanan Gue.


Raisa yang mungkin merasakan pergerakan Gue, sontak terbangun dari tidurnya tapi menutup matanya karna sinar matahari yang mengenainya.


"Bang?" Ucapnya setelah melihat Gue.


"Hmm..." Dehem Gue.


Ia sontak memeluk Gue dan berkata. "Akhirnya Lu bangun juga. Gue capek nunggu lu dari tadi gak bangun-bangun."


"Sesak." Lirih Gue.


"Ma-maaf." Ucapnya lalu melepas pelukannya.


"Kenapa Gue bisa disini?" Tanya Gue.


"Kenapa? Lu pakai nanya kenapa? Seharusnya Gue yang nanya kenapa Lu gak pernah bilang kalau Lu demam tinggi!!" Geramnya.


"Ya maaf. Kan biasanya juga langsung sembuh kalau udah istirahat." Jawab Gue.

__ADS_1


"Lu kira ini demam biasa, hah?!! Ini DBD, Lu malah santai kayak gak punya beban aja. Gue yang khawatir setengah mati, takut Lu kenapa-napa." Geramnya.


"Siapa yang bilang Gue DBD? Gue baik-baik aja tuh. Mending kita pulang, Gue gak mau disini." Ucap Gue.


"Jangan mentang-mentang Lu gak suka Rumah sakit, terus Lu mau nipu Gue biar bisa pulang? Lu mau Gue tabok, hah?" Ancamnya.


"Gak-gak. Lagian ini cuma DBD, bukan penyakit yang berbahaya kan." Sambung Gue.


"Mata Lu!!! Lu kira DBD bukan penyakit yang berbahaya, hah?!!" Geramnya.


"Ya-ya maaf." Jawab Gue yang takut dengannya.


"Hah... Dasar. Kenapa juga Lu bisa kena DBD? di Hotel kan gak pernah ada nyamuk masuk. Gak mungkin juga Lu kena DBD karna Reina." Sindirnya.


"Ma-mana mungkin, Gue juga gak tau kenapa bisa kena DBD. Kalau Gue tau, gue udah ke rumah sakit duluan kali." Elak Gue.


"Mustahil Lu kerumah sakit sendiri. Sudah lah, sekarang Lu gak boleh kemana-mana gak bakal ada kata pulang sebelun dokter nyatain Lu sembuh total." Sambungnya.


"Ta-tapi sekolah?" Tanya Gue.


"Gue yang ngomong keguru. Nanti Lu pinjem catatan Agung aja." Jawabnya santai.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk keruangan Gue. Ternyata itu adalah Mami dan Papi.


"Kok ada Mami Papi, sih?" Tanya Gue heran.


"Kenapa? Gak suka?" Tanya Papi.


"Bu-bukanny gitu, kan Rasya gak aakit parah. Masa sampai kalian kesini." Jawab Gue.


"Dasar kamu, ya. Sudah bikin adek kamu khawatir takut kamu kenapa-napa." Sambung Mami yang membawa kresek makanan.


"Ya maaf. Rasya kan gak tau kalau dia sampai khawatir gitu." Balas Gue.


"Lu kira Gue adek yang jahat sama abangnya, gitu?" Sahut Raisa.


"Yakan memang." Ejek Gue.


"Lu memang mau gue tabok ya." Ucapnya bersiap memukul Gue.


"Sudah-sudah, ayo makan. Mami udah beliin makanan favorit kalian." Sambung Mami.


"Awas Lu." Ancam Raisa lalu berdiri dan duduk di sofa.


Mami pun menyiapkan makanan untuk kami. Gue yang tidak bisa meninggalkan ranjang Gue, jadi Mami menyiapkan meja makan mini untuk Gue yang ada di ruangan itu.


Kami pun makan bersama, walaupun Gue tidak duduk bersama dengan mereka. Tapi kami tetap tertawa bersama. Bercerita tetang masalah Hotel. Ataupun kegiatan Gue dan Raisa selama berada di hotel.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2