Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Jenguk


__ADS_3

Pukul 06.45 Gue baru bangun. Biasanya Rasya yang bangunin Gue, tapi karna dia lagi di rumah sakit dan Gue di Hotel. Jdi terpaksa harus memasang alarm berkali-kali agar Gue bisa bangun pagi.


Karna tidak punya waktu banyak. Gue sampai tidak sempat sarapan dan langsung berlari ke parkiran mobil. Lalu menancapkan gas dengan kecepatan penuh agar tidaj telat.


Untung saja kemarin Gue sempat telpon wali kelas Rasya. Untuk memberitahu kalau Rasya sedang sakit dan tisak bisa turun ke sekolah untuk beberapa hari ini.


Tak lama kemudian, Gue pun sampai disekolah. Benar saja, saat turun dari mobil. Bel masuk langsung berbunyi, Gue sontak berlari menuju kelas Gue.


Akhirnya Gue sampai di kelas sebelum guru datang. Gue pun duduk dengan tenang. Tapi tiba-tiba saja ponsel Gue berdering menandakan ada telpon masuk.


"Loh...Rasya? Kenapa nelpon?" Gumam Gue bertanya-tanya.


"*Halo." -Gue.


"Lu udah bangun, kan?" -Rasya.


"Udah disekolah, kenapa?" -Gue.


"Hah... Gue kira belum. Kan biasa Lu kesiangan." -Rasya.


"Gue sampai pasang alarm berkali-kali, biar Gue bisa bangun." -Gue.


"Nah pintar. Seterusnya begitu ya, jangan pas Gue gak ada doang baru Lu pasang alarm." -Rasya.


"Kalau Lu udah sembuh, ngapain Gue pasang alarm lagi. Kan Lu alarm berjalan Gue." -Gue.


"Dasar adek gak guna." -Rasya.


"Terserah Gue, lah." -Gue.


"Sudah dulu, ya. Gue udah datang." -Gue*.


"Iya. Jangan lupa makan, suruh putra beliin Lu makan Nanti." -Rasya.


"Iya-iya. Bye." Ucap Gue lalu mematikan telponnya.


Gue pun menyimpan ponsel Gue di laci. Pelajaran pun di mulai.


***


Bel istirahat pun berbunyi. Gue menunggu teman-teman Rasya di depan kelas seperti biasa.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di kelas Gue.


"Yuk." Ajak Reyhan.


"Oke." Jawab Gue lalu kami berjalan bersama menuju kantin.


Kali ini kami hanya berlima saja, tidak ada Rasya dan juga Reina yang biasanya selalu Gue ajak untuk makan bersama.


Tapi karna masalah Rasya dan Reina, Gue memutuskan untuk tidak bersama Reina dalam beberapa hari kedepan.


Saat kami sampai di kantin. Agung duduk di samping Gue, sedangkan Putra duuk di depan Gue, Reyhan dan Rendi dudul di sampin Putra.


"Rasya kenapa gak turun, sih?" Tanya Putra.


"Bukannya dia udah ngasih tau kalian, ya?" Tanya Gue balik.


"Udah." Jawab Putra.


"Lah terus, ngapain nanya? Mending Lu pesan makan sana. Keburu tambah rame kantin." Sambung Gue.


"Iya-iya." Balas Putra.


Mereka pun memesan makanan. Seperti ucapan Rasya, Putra yang memesankan Gue makanan. Dia sudah tau apa yang akan Gue pesan.


Seperti sudah di beritahu oleh Rasya, kalau Gue mau makan apa hari ini.


"Hah... Sepi." Gumam Gue.


"Kenapa?" Tanya seseoranh yang tiba-tiba berdiri di belakang Gue.


"Astaga... Devan!!" Geram Gue karna dibuat terkejut olehnya.


"Maaf... Gak bermaksud buat kamu kaget, kok." Jawabnya lalu duduk di samping Gue.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanyanya.


"Gak papa." Jawab Gue.

__ADS_1


"Gak papa itu berarti ada apa-apa." Balasnya.


"Ada masalah apa? Sini cerita sama aku." Lanjutnya.


"Abang Gue sakit." Jawab Gue.


"Rasya? Sakit apa?" Tanyanya.


"DBD." Jawab Gue.


"Astaga, tapi kamu gak papa kan?" Tanyanya.


"Gue baik-baik aja. Cuma Rasya yang sakit." Jawab Gue.


"Hah... Untung." Balasnya.


"Untung apa?!! Abang Gue di rumah sakit sendirian. Gak bisa apa-apa." Geram Gue.


"Tenang-tenang. Siapa bilang dia gak bisa apa-apa? Paling sekarang dia lagi main game atau tidur dengan santai." Sambung Devan.


"Terserah!!" Geram Gue.


"Maaf... Aku gak seperti apa yang kamu pikirin, sayang. Aku cuma khawatir kalau kamu juga sakit." Ucapnya.


"Hm..." Dehem Gue.


"Bagaimana kalau pulang sekolah kita jenguk dia?" Tawa Devan.


"Jenguk?" Tanya Putra yang baru saja datang sambil membawa pesanan Gue.


"Lu ngapain disini, hah?!! Mau buat masalah lagi?!!" Geram Putra lalu meletakkan makanan dan minuman Gue di meja.


"Masalah? Bukannya Lu yang selalu buat masalah, ya?" Ucap Devan sambil menatap Putra.


"Lu memang mau–"


"Gak usah macam-macam." Potong Gue.


"Mending duduk, Gue laper." Lanjut Gue.


"Terus Lu, Dev. Ngapain kesini? Kalau mau makan sana pesan makanan. Gak usah ganggu-ganggu." Sambung Gue.


"De...van" Potong Gue dengan tersenyum paksa.


"Oke, Gue pergi. Tapi pulangan Nanti kita sama-sama jenguk dia ya, sayang" Ucapnya lalu berdiri.


"Iya." Jawab Gue.


"Gue pergi, Bye." Sambungnya lalu pergi.


Agung pun duduk di samping Gue, dan 3 bocah itu duduk di kursinya tadi.


"Emang beneran mau jenguk Rasya?" Tanya Rendi.


"Kalau Gue sih beneran. Gak tau kalau Devan." Jawab Gue santai dan bersiap menyantap makanan Gue.


"Kalau gitu kita ikut." Sambung Reyhan yang membuat Gue berhenti memasukkan makanan ke mulut Gue.


"Kalian? Gak usah, nanti Rasya marah." Jawab Gue.


"Gak papa. Dia suka kejutan." Balas Putra.


"Ta-tapi–"


"Pulangan nanti kita jenguk dia." Potong Putra.


"Hah...terserah Lu dah, Gue gak ikut-ikutan kalau sampai di marah." Ucap Gue pasrah.


"Siap." Jawab Putra.


Kami pun memakan makanan kami masing-masing. Dengan santai tanpa ada yang ganggu lagi.


***


Tak terasa waktu pulang sekolah pun tiba. Benar saja seperti yang mereka katakan tadi.


Mereka bertekad untuk menjenguk Rasya, begitu pun Devan yang sudah menunggu Gue di parkiran sekokah.


Saat di parkiran kami memutuskan berkumpul dulu.

__ADS_1


"Kalian yakin mau jenguk dia?" Tanya Gue memastikan.


"Yakin." Jawab mereka serentak kecuali Agung.


"Gung..." Ucap Gue menatap Agung.


"Gue ngikut." Jawabnya yang langsung membuang muka.


"Hah... Dasar... Yasudah kita langsung ke Rumah sakit. Gue yang mimpin." Sambung Gue.


"Gak beli sesuatu dulu nih? Masa jenguk orang sakit tanpa bawa buah tangan." Sahut Reyhan.


"Yaelah... Gak usah macam-macam." Ancam Gue.


"Yaudah, kita beli buah aja dulu." Sambung Putra.


"Kalian–"


"Oke, pergi." Potong Rendi.


Mereka pun masuk kemobil mereka masing-masing. Gue yang hanya bisa pasrah, akhirnya mengikuti mobil mereka untuk membeli buah.


***


Saat sampai di Rumah sakit dengan membawa buah-buah dan juga beberapa cemilan untuk Rasya. Kami akhirnya berjalan menuju kamar Rasya.


Walaupun awalnya kami tidak diperbolehkan untuk menjenguk bersama-sama. Tapi karna ada Devan, kami akhirnua di perbolehkan.


*Entah apa yang di bilang tadi ke perawatnya.* Batin Gue.


Saat didepan kamar Rasya. Gue pun mengetuk pintu itu lalu masuk.


Awalnya hanya Gue yang masuk, Rasya yang melihat Gue datang dia tersenyum kecil. Tapi saat pintu itu terbuka lebar, dan Rasya sontak melihat 5 bocah itu.


Senyuk yang tadinya terpancar di bibirnya, tiba-tiba hilang entah kemana.


*******, Gue.* Batin Gue.


"Kalian ngapain?!!" Geram Rasya.


"Surprise!!!" Teriak mereka kecuali Devan dan Agung.


"Ribut!!" Geram Rasya.


"Gue gak ikut-ikutan." Gumam Gue lalu duduk di samping ranjangnya.


Mereka pun masuk dan menutup pintunya kembali.


"Kalian ngapain, sih?" Tanya Rasya.


"Ya jenguk orang sakit lah. Lu kira mau melayat, apa?" Jawab Putra.


"Lu memang mau di tabok, hah!!?" Geramnya.


"Orang sakit diam aja." Ejek Putra.


"Awas Lu!!" Ancam Rasya.


"Sudah-sudah. Mending diam, dari pada Gue usir kalian." Sahut Gue.


"Kenapa Lu bawa mereka, sih?" Tanya Rasya ke Gue.


"Gue juga gak mau bawa mereka, kali. Tapi mereka ngeyel, yaudah lah. Gue mah bisa apa." Jawan Gue.


"Hah... Selalu ada mereka mulu." Gumam Rasya lalu berbaring.


"Sudah lah, Bang. Mereka tuh temen Lu, untung-untung mereka mau jenguk Lu. Dari pada punya teman yang gak punya hati gimana?" Ucap Gue.


"Dah, lah. Lu sama aja." Jawabnya.


"Nih Gue kasih Buah." Sahut Devan.


"Lah?? Lu ngapain juga disini?" Tanya Rasya.


"Dia juga ikut. Lu baru nyadar?" Jawab Gue.


"Yatuhan..." Lirih Rasya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2