
"Makasih untuk hari ini Dev." ucap gue yang berdiri didepan Devan.
"Sama-sama baby, kapan-kapan kita jalan lagi ya."
"Iya, tapi lain kali kalo jalan gue yang bayar ya."
"Gak boleh!! Cewek gak boleh keluarin uang sepeserpun kalo jalan sama Cowoknya."
"Tapi kan Dev..."
"Gak ada tapi-tapian, apapun yang terjadi lu jangan pernah keluarin uang sepeserpun kalo lagi jalan sama gue, oke?"
"Iya Devan sayang, yaudah ya gue masuk dulu, lu pulang gih kalo udah sampe rumah kabarin gue ya beb."
"Oke baby, gue pulang ya, babay." ucap Devan dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Saat gue masuk kerumah sambil membawa barang-barang yang dibeliin Devan, tiba-tiba ada yang nepuk mundak gue dari belakang.
"Aaaaa...." teriak gue dan menjatuhkan barang-barang yang ditangan gue.
"Kenapa sayang." ucap mami yang khawatir karna teriakan gue.
"Astaga mami, Raisa kira siapa, huft." jawab gue dan langsung memungut barang-barang yang gue jatuhin tadi.
"Habis jalan ya sayang, sama siapa."
"Kepo kan kepo."
"Pasti sama pacar baru kamu ya, dari keluarga mana lagi yang kamu dapat sayang, siapa tau bisa kerjasama dengan perusahaan papimu."
"Devan Mi, pasti Mami tau kan yang rumornya dia itu anak pengusaha terbesar di Korea."
"Oh ya? Bagus deh, tapi kok aneh? Kenapa abangmu gak macam-macam pas kalian lagi jalan begini? Biasa kan dia itu paling sibuk sendiri dengan urusanmu, tapi tadi Mami nanya ke bibi katanya Abangmu cuma duduk diam dikamar doang."
"Ya bagus lah Mi, Raisa bosan ganti-ganti pacar mulu gara-gara Rasya, mami tau lah kelakuan Rasya ke mantan-mantan aku?"
"Tau kok sayang, tapi abangmu pasti punya alasan tersendiri, jadi jangan marah sama dia, oke?"
"Oke-oke, yaudah Mi Raisa masuk kamar dulu ya, night Mi." ucap gue dan langsung melangkah kekamar gue.
"Night sayang."
.
.
Setelah gue selesai beresin barang-barang yang dibeliin Devan, gue baru ingat kalo gue beli sesuatu buat Rasya, jadi gue keluar kamar lagi dan ngetuk pintu Rasya.
Tok tok tok
"Sya, buka dong."
"Ntar." sautnya dan setelah itu pintunya pun terbuka.
"Kenapa?" tanya-nya yang berdiri didepan pintu.
"Nih buat lu." ucap gue sambil menyodorkan-nya barang yang gue beli.
"Apaan nih." sautnya sambil menerima barang tersebut.
__ADS_1
"Ada deh, sudahlah gue mau tidur bye." jawab gue dan langsung masuk ke kamar gue lagi.
RASYA POV*
"Apaan sih tuh anak." ucap gue dan langsung menutup pintu kamar gue.
Gue duduk di atas ranjang dan melihat apa yang diberikan Raisa, saat gue buka ternyata Raisa membelikan gue...
"Sumpah? Ini kan jaket yang gue impi-impikan itu, ngerti banget sih dia."
Gue langsung berdiri dan keluar dari kamar menuju kamar Raisa.
Tok tok tok
"Gue masuk ya." ucap gue dan langsung masuk kekamar Raisa.
"Napa?" saut Raisa yang fokus menggambar.
Gue langsung meluk Raisa dan berkata "Makasih ya adek tersayang gue."
"Yayaya, sudah kan? Keluar sana gue sibuk nih." ucapnya yang masih saja fokus dengan alat gambarnya.
"Kamu gak capek dek? Baru aja pulang langsung menggambar." saut gue sambil duduk di ranjangnya.
"Udah biasa."
"Bukannya kamu lagi gak ikut lomba ya dek?"
Raisa langsung memutar kursinya menghadap ke gue dan berkata "Bang, Raisa kayak gini ya buat penghasilan Raisa sendiri, Raisa buat komik dan novel bukan karna lomba aja, tapi karna Raisa suka, abang tau sendiri kan dari smp Raisa udah nerbitin buku dan dari buku pertama Raisa itu, Raisa makin semangat mengebuat komik ataupun novel, dan mungkin orang ngira itu gak ada gunanya, gak bakal dapat banyak uang, dan semua orang pasti bisa mengarang kan. Tapi dipikiran Raisa berbeda, Raisa terlahir dengan kelebihan seperti ini dan Tuhan sudah mengatur semuanya tinggal Raisa aja yang menjalankannya dan tentang apa yang dipikirkan orang lain, Raisa gak peduli ini hidup Raisa mereka gak berhak untuk ikut campur atau mengkritik hidup Raisa."
"Terserah mereka mau membenci atau gak suka sama Raisa, Raisa gak bakal peduli sama mereka karna Raisa hidup bukan untuk membuat mereka terkesan dan bukan untuk membuat mereka menyukai Raisa." sautnya lagi.
"Semangat dek, Abang akan selalu mendukung lu, dan semua keluarga akan selalu mendukung lu, jangan pernah takut untuk berjalan didepan semua Haters lu, Abang akan selalu ada di belakang dan menjaga lu dari mereka semua." ucap gue sambil memeluk Raisa.
"Anjer lah, gak guna banget lu di belakang gue."
"Eit dah, iya-iya gue di samping lu terus, bawel banget dah."
"Makasih Bang." saut Raisa.
"Sama-sama dek, itu gunanya Abang jadi kembaran lu, ya walaupun kita selalu gak akur sih hahaha."
Raisa melepaskan pelukannya dan menatap gue yang tertawa dalam diamnya. Gue sontak berhenti tertawa karna tatapannya yang tajam itu dan tidak ada senyum yang muncul dibibirnya. Tapi tiba-tiba ujung bibirnya mulai tertarik kebelakang dan dia mulai tertawa.
"Hahahaha, itu lah kita Bang, saudara kembar yang tidak pernah akur."
"Yoi dek, kita ini Twins bar-bar, hahahaha"
Ditengah-tegah candaan kita, tiba-tiba ada suara hp berdering dan ternyata suara itu berasal dari hp Raisa.
"Eh Devan nelpon, Abang keluar gih." ucapnya yang siap-siap mengangkat telpon Devan.
"Ganggu aja tuh orang, yaudah lah Abang balik, kamu jangan tidur terlalu malam, besok sekolah ingat kan."
"Iya-iya Bang, sudah sana jangan lupa tutup pintunya bang."
"Iya, Night dek." ucap gue yang berdiri didepan pintunya.
"Night bang." jawab Raisa dan langsung mengangkat telpon Devan.
__ADS_1
RAISA POV*
"Halo Dev, udah sampe rumah?" -Gue.
"Udah beb, kamu lagi apa?" -Devan.
"Lagi ngegambar buat komik gus selanjutnya." -Gue.
"Gue ganggu ya?" -Devan.
"Gak kok, oh ya makasih ya udah bantu gue nyari jaket yang disuka Rasya." -Gue.
"Sama-sama sayang ku, itu jaket cuma ada 100 di Indonesia jadi susah banget dapatnya, si Rasya tuh lagi beruntung kita bisa dapat jaket di mall tadi." -Devan.
"Pantesan dia gak pernah dapat jaket itu dimana-mana, sudah lah yang penting dia senang." -Gue.
"Iya beb, oh ya besok mau gue jemput?" -Devan.
"Gak usah Devan, kasian kamu udah rumah jauh terus jemput aku yang rumahnya jauh banget dari rumahmu, terus kesekolah mutar lagi, cape tau." -Gue.
"Gak papa, gue yang mau jemput lu, sekalian mau ngasih sesuatu ke mami lu." -Devan.
"Tar kita omongin, gue mau rapiin meja gue dulu." -Gue.
"Jangan di matiin, loudspeaker aja biar tetap ngobrol bareng sambil lu rapiin meja." -Devan.
"Oke-oke." -Gue.
"Btw maksud lu ngasih sesuatu ke Mami gue apa?" -Gue.
"Ini Mami gue yang nyuruh gue ngasih sepaket perhiasan dari korea untuk Mami lu, katanya sih buat hadia kecil sebagai calon keluarga baru." -Devan.
"Hah? Mamimu tau kalo kita pacaran?" -Gue.
"Apasih yang dia gak tau, walaupun gue gak ngasih tau dia apapun, dia selalu punya cara sendiri biar tau tentang gue." -Devan.
"Sumpah dah Dev, makin penasaram gue sama keluarga lu." -Gue.
"Nanti juga lu bakal tau beb, lagian lu itu yang terakhir buat gue dan gue yang terakhir buat lu." -Devan.
"Baru juga berapa minggu pacaran udah begini, dasar Devano Pratama." -Gue.
"Udah selesai beres-beresnya?" -Devan.
"Udah kok, nih lagi baringan di ranjang." -Gue.
"Lu ngantuk gak?" -Devan.
"Lumayan, kenapa?" -Gue.
"Yaudah tidur gih, tapi jangan di matiin telponnya, tunggu lu udah gak ada jawaban baru gue yang matiin." -Devan.
"Yaudah iya." -Gue.
"Good night Devan, sweet dreams beb." -Gue.
"Night sayang, sweet dreams too baby." -Devan.
Gue langsung tidur dan seperti ucapan Devan dia masih nemenin gue sampai gue tidur nyenyak. Saat gue tidur gue samar-samar mendegar suaranya yang mengoceh tak karuan. Gue senang bersama Devan yang tulus banget mencintai gue tapi disisi lain gue penasaran dan juga takut tentang keluarganya yang gue gak tau jelas tentang keluarganya itu, tapi gue percaya dia gak bakal ngelakuin hal-hal yang bikin gue dapat masalah besar ataupun yang bikin gue tersakiti. Gue juga tulus dengan Devan dan gue berharap malam ini, besok malam ataupun sampai malam gue dan dia tidur bersama disatu atap, kita tetap seperti ini tulus mencintai satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung