
Saat sampai di kamar setelah makan malam bersama. Gue hanya bisa berbaring di atas ranjang Gue sambil menghela nafas panjang.
Jawaban Reina tadi, lebih sakit dari pada sebelumnya. Ia menjawab dengan sangat santai dan tanpa ekspresi.
"Sakit, woi!!" Teriak Gue di kamar.
"Apaan sih teriak-teriak!!" Balas Raisa sambil melempar dirinya ke atas ranjang Gue dan berbaring di samping Gue.
"Sudah, Bang. Mungkin dia bukan jodoh, Lu." Lanjutnya.
"Lu jahat, Sa!!" Teriak Gue lagi.
"Jangan teriak-teriak, bambang. Sakit kuping, Gue." Ucap Raisa.
"Ya maap." Jawab Gue.
"Sudah ya, Bang. Kalau Reina memang bukan jodoh, Lu. Lu gak bisa apa-apa sama takdir, Tuhan." Sambungnya.
"Tapi, Sa–"
"Udah lah, Bang. Masih ada cewek lain di luar sana, Lu gak perlu maksain kehendak Tuhan." Potong nya sambil memeluk Gue.
"Fuh... Thanks, Sa." Ucap Gue lalu memeluk Raisa Juga.
"Sama-sama Abang Gue, sayang." Jawabnya.
"Tidur, yuk. Pulang sekolah besok kita jalan-jalan. Mau, gak?" Lanjutnya.
"Mau... Lu pindah sana, ke ranjang Lu." Jawab Gue.
"Gue tidur disini. Ada yang harus di temani malam ini." Ucapnya.
"Dasar... Yasudah, yuk tidur." Jawab Gue lalu menarik selimut dan menutupi badan kita berdua.
Malam yang awalnya aku kira akan menjadi malam yang sangat panjang, karna rasa sakit yang muncul malam ini. Tapi Gue punya adek yang selalu paham apa yang Gue rasain, dan selalu ada disisi Gue.
Akhirnya malam ini berjalan seperti malam biasanya.
***
Pagi hari, Gue dan Raisa sudah dalam perjalanan untuk ke sekolah.
Tak lama kemudian, kami pun sampai di sekolah. Seperti biasa, Gue selalu mengantar Raisa terlebih dulu ke kelasnya. Setelah itu Gue berjalan ke kelas dengan santai.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Gue yang berlari dari kelas Raisa menuju kelas Gue, hanya untuk melihat Reina di pagi hari. Dan selalu bertingkah aneh sambil tersenyum lebar, saat di kelas.
Tapi hari ini, Gue kembali seperti diri Gue yang sebelumnya. Tidak ada senyum dibibir Gue yang terpancarkan, dan tidak ada rasa lelah karna habis berlari.
Saat sampai dikelas, Gue langsung duduk di kursi Gue. Tanpa mengucapkan selamat pagi di kelas lagi.
"Pagi, Rasya." Sapa Putra.
"Hm..." Dehem Gue lalu melihat ke arah luar jendela.
"Lu kenapa? Kok diam aja?" Tanya Reyhan.
__ADS_1
"Lu kok beda sih, Sya?" Sambung Rendi.
Gue pun berbalik menatap mereka dan berkata. "Gue memang kayak gini."
"Dia cuma kembali ke dirinya yang biasa." Lanjut Agung.
"Lah? Kok bisa? Terus kemana diri Lu yang selalu tersenyum lebar kayak, kemarin?" Tanya Putra.
"Hilang." Jawab Gue santai.
"Sudah, lah. Biarin aja, mungkin lagi gak mood." Sambung Agung.
Mereka pun kembali diam dan duduk di kursi mereka masing-masing. Sedangkan Gue seperti biasa hanya melihat keluar jendela.
Reina yang duduk di samping Gue, seperti biasa hanya diam sambil mendengarkan musik sampai guru masuk dan memulai pelajaran.
Mungkin karna semalam, Gue mulai biasa saja. Gue gak mau ngobrol dengannya. Gue hanya ingin cepat-cepat pulang sekolah dan jalan bersama Raisa.
***
Tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Gue langsung keluar dari kelas diikuti 4 bocah itu. Kami pun berjalan ke kelas Raisa.
Tapi saat di perjalanan, Reyhan tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak ingin Gue dengar.
"Lu kok gak ajak Reina?" Tanya Reyhan.
"Hanya tidak ingin." Jawab Gue santai.
"Lu kenapa sih? Kemarin-kemarin Lu bersikap aneh. Sekarang kok malah kembali seperti biasa?" Tanyanya lagi.
"Mungkin Gue baru sadar diri." Jawab Gue santai.
"Yuk." Ajak Gue.
"Oke." Jawabnya lalu kami pun berjalan menuju kantin.
Hari ini berjalan tanpa ada Reina, tanpa ada pikiran ingin bersamanya. Mungkin memang benar, Gue baru sadar diri sekarang.
Gue tidak ingin berada di dekatnya, atau mengambil perhatiannya. Gue hanya ingin menjauh darinya, dan menghilangkan rasa suka ini.
Saat di kantin tidak ada hal yang terjadi. Semuanya berjalan biasa saja, tanpa ada gadis itu.
***
Saat di kelas pun tidak ada yang terjadi. Semua berjalan seperti hari-hari Gue yang biasa saja. Gue yang hanya melihat keluar jendela tapi tetap mendengarkan materi yang di sampaikan Guru.
Walaupun Gue tau, ada seorang gadis yang Gue suka sedang duduk di samping Gue sambil memahami materi yang diberika oleh Guru. Gue berusaha untuk biasa saja.
Tanpa ada rasa ingin menatapnya, tanpa ada rasa ingin menggenggam tangannya yang dingin itu, dan tanpa ada rasa ingin berbicara dengannya.
Tak terasa waktu pulang sekolah pun sudah tiba. Gue langsung menjemput Raisa di kelasnya. Setelah itu kami berjalan menuju parkiran sekolah.
Hari ini hanya Raisa yang membawa mobil, Gue sedang tidak ingin berkendara. Dan karna kita akan pergi berjalan-jalan entah kemana, jadi hanya 1 mobil saja dan Raisa lah yang berkendara.
Saat di di dalam mobil, Gue hanya diam sambil menatap keluar jendela mobil.
__ADS_1
"Kita mau kemana, Bang?" Tanya Raisa.
"Terserah." Jawab Gue.
"Mau makan, gak?" Tanyanya lagi.
"Terserah." Jawab Gue.
"Atau mau ke mall Bibi Angel?" Tanyanya lagi dan lagi.
"Terserah." Jawab Gue masih sama.
"Lu kenapa sih?!! Terserah mulu!! Lu kira Gue cowok yang lagi nanya sama cewek pms, apa?" Geramnya.
"Hm..." Dehem Gue.
"Rasya Putra!!!" Teriak Raisa.
"Apaan sih?" Tanya Gue.
"Lu kenapa sih?!!" Tanyanya lagi.
"Dari tadi gak jelas mulu. Lu kalau lagi galau jangan gini juga, kali. Lu kayak orang aneh." Lanjutnya.
"Ya maaf, Gue juga gak tau Gue kenapa. Dari kemarin-kemarin Gue memang orang aneh." Jawab Gue.
"Sudah lah. Sekarang kita kemana?" Tanyanya.
"Mall aja." Jawab Gue.
"Oke, menuju ke mall Bibi Angel." Balasnya lalu menaju menuju mall.
Saat sampai di Mall, ternyata Bibi Angel sedang tidak ada di tempat. Jadi kami hanya berjalan-jalan biasa.
Raisa yang ingin menghibur Gue, memutuskan untuk mengkosongkan Timezone atas nama Bibi Angel. Dia menghibur Gue dengan semua permainan yang ada di sana.
Karna terlalu asik bermain, kami sampai tidak menyadari kalau sekarang sudah waktunya makan malam. Kami pun pergi kesalah satu cafe yang ada si dalam mall itu.
Semua yang di pesan Raisa adalah makanan yang manis-manis kecuali makanan utama. Ia berkata kalau makanan manis itu bisa menghilangkan rasa galau.
Tentu saja Gue tidak percaya dengan itu, tapi Gue cukup senang karna semua yang di pesannya adalah makanan dan minuman favorit Gue.
Setelah kami selesai bersenang-senang dan juga makan malam. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Hotel.
"Thanks, Sa." Ucap Gue.
"Thanks udah ngertiin Gue." Lanjut Gue.
"Ya... Sama-sama, Bang. Itu gunanya Gue jadi adek Lu." Jawabnya.
"Biarkan rasa sedih dan galau Lu itu hilang, dan pergi jauh dari lu." Lanjutnya.
"Ya... Gue bakal berusaha buat lupain dia." Balas Gue.
Bersambung
__ADS_1
*Bantu support author dengan Like dan Commentnya :)
Thanks*!!