
Gue pun membuka pintu, dan ternyata Devan lah yang mengetuk pintu itu.
"Selamat malam, sayang." Sapanya lalu menyodorkan Gue sebuket bunga mawar.
"Malam...buat apa?" Tanya Gue.
"Buat kamu, terima aja ya." Jawabnya lalu memberikan Gue buket itu.
Dengan terpaksa Gue pun menerima buketnya, lalu meletakankannya di atas lemari yang ada di dekat pintu.
"Thanks." Ucap Gue.
"Iya sayang..." Jawabnya yang tiba-tiba murung.
"Mau pergi sekarang?" Tanya Gue.
"Iya." Jawabnya.
"RASYA!!GUE PERGI DULUAN, LU MAKAN BARENG REINA." Teriak Gue ke Rasya yang ternyata berada di dalam kamar mandi.
"Yuk." Ajak Gue setelah menutup pintu.
Gue dan Devan pun pergi ke restoran yang biasa Gue tempati untuk makan. Saat di perjalanan, kami hanya diam saja. Gue tidak ingin memulai percakapan lebih dulu.
Saat sampai di restoran, Gue memilih meja di pojok ruangan, karna di bagian pojok itu jarang ada orang yang akan duduk disana.
Saat gue ingin menarik kursi Gue keluar, Devan lebih dulu yang menarik kursi Gue, lalu berkata. "Silahkan duduk, sayang."
"Thanks." Jawab Gue lalu duduk.
Devan pun duduk di hadapan Gue, lalu ia melambaikan tangan untuk memanggil pelayan. Pelayan itu pun langsung menghampiri kami.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang pelayan.
"Saya ingin memesan menu utama di restoran ini, untuk 2 orang." Jawab Devan tanpa melihat-lihat menu terlebih dulu.
"Kok lu asal pesan? Emang Gue bakal suka sama pesanan lu?" Protes Gue.
"Ma-maaf...lain kali aku tidak akan seperti itu lagi, sayang." Ucapnya.
"Hah...bawakan makanan utama di restoran ini, dan dessert yang biasa saya pesan. Masing-masing 2 porsi" Sahut Gue ke pelayan.
"Baik, Nyonya." Jawab sang pelayan lalu pergi.
"Berhenti bersikap seperti orang yang bersalah." Ucap Gue ke Devan.
"Hah...kamu memang selalu membuatku seperti ini." Jawabnya lalu menatap Gue serius.
"Gue gak suka basa basi...apa yang lu inginkan." Sahut Gue lalu menyandar di punggung kursi dengan tangan yang di lipat di depan dada.
"Bukan aku...tapi kamu. Aku tau kalau kamu memiliki banyak pertanyaan untuk ku." Sambungnya.
"Stop...stop pakai aku kamu. Bicara seperti biasa, seperti Lu bicara sama orang lain." Ucap Gue.
"Oke-oke...Gue gak bisa protes apapun lagi sama Lu, sekarang tanya apa yang lu mau tau dari Gue." Sahutnya.
"Gus akan tanya...kalau Lu berjanji untuk tidak berbohong." Jawab Gue.
"Baiklah...Gue janji gak akan bohong sama Lu." Balasnya.
"Lu punya hubungan apa sama orang-orang berjas hitam itu? Apa yang Lu katakan dengan Bran, sampai ia ketakutan seperti tadi? Hukuman apa yang Lu berikan ke Bran? dan bagaimana caranya Lu bisa membantu Rasya keluar dari masalah tadi tanpa ada hukuman apapun?" Tanya Gue.
__ADS_1
"Pertanyaan Lu banyak juga, ya. Tapi...yaudah Gue bantu jawab." Ucapnya.
"Hubungan Gue dengan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan doang. Hukuman yang Gue berikan ke dia cukup sederhana, hanya membawanya kembali ke amerika, menghancurkan karirnya dan juga nama baiknya, dan tentu saja ia tidak akan di terima sebagai model dimanapun." Jawabnya.
"What?!!! Lu gila? Masa lu buat dia kayak gitu? Lalu bagaimana ia akan mendapatkan uang untuk menjalani hidupnya? Dan kenapa orang-orang itu yang membawanya pergi?" Sahut Gue.
"Raisa...itu sudah hukuman yang sederhana untuk orang sepertinya, lagian orang-orang itu hanya menerima perintah dari atasannya. Mereka tidak akan berani bertindak jika atasannya belum memberi perintah. Dia itu masih beruntung hanya bawahan Gue yang turun tangan, kalau Gue sendiri yang turun tangan...mungkin Lu tidak bisa melihat wajahnya lagi di dunia ini." Ucapnya yang tiba-tiba tersenyum miring.
*What?!!* Batin Gue yang membulatkan mata.
"Tentang bagaimana aku membebaskan Rasya dan temannya itu sari masalah tadi, aku hanya membayar dan berbincang sedikit dengan kepala sekolah." Sambungnya.
"Sudah Gue jawab, kan? Mending kita makan, tuh pelayan udah datang." Lanjutnya yang melirik ke arah pelayan.
Pelayan pun langsung meletakkan pesanan kami di atas meja dengan rapi.
"Selamat menikmati." Ucap sang pelayan lalu pergi.
"Masih ada satu pertanyaan yang belum Lu jawab." Sahut Gue.
"Hah? Oh...satu pertanyaan itu? Sayangnya itu tidak bisa di jawab sekarang." Jawabnya lalu tersenyum kecil ke Gue.
"Kenapa? Apa itu rahasia mu? Apa itu rahasia dari keluargamu?" Tanya Gue.
"Hah...kamu terlalu memaksaku...aku hany bilang kepadanya, kalau dia salah mengganggu orang." Jawabnya santai.
"Tidak!! Lu bohong...tidak mungkin hanya dengan kata itu, ia langsung ketakutan seperti itu." Sahut Gue.
"Ayo lah...jangan memaksaku untuk memberitahu mu semuanya, itu belum saatnya sayang." Ucapnya.
"Baiklah!!" Tegas gue dan sontak berdiri.
"Kenapa? Kamu ingin apa?" Tanyanya bingung yang menatap Gue.
"Ta-tapi...kenapa? Hanya karna itu Kamu tidak ingin bertemu dengan ku?" Sambungnya.
"Hanya? Lu bilang hanya? Gue gak mau punya hubungan yang di dalamnya hanya penuh dengan kebohongan." Balas Gue lalu melangkah pergi.
" RAISA!!" Teriaknya.
"STOP!! BERHENTI DISITU!!" Teriaknya lagi tapi tidak membuat Gue berhenti selangkah mu.
"Hah...melelahkan." Gumam Gue lalu berjalan cepat ke dalan lift.
Saat Gue masuk ke dalam Lift, dan ingin menutup pintu Lift itu. Ternyata Devan mengejar Gue, saat tangannya ingin meraih pintu lift. Pintunya lebih dulu tertutup sebelum ia sempat menghentikan lift itu.
"Hah...gue lapar." Gumam Gue di dalam lift sendiri.
*Rasya sedang apa ya? Apa dia sekarang sedang asik berkencan dengan Reina?* Batin Gue.
Tak lama kemudian, pintu Lift pun terbuka. Gue langsung keluar dari lift itu dan berjalan dengan cepat menuju kamar.
Tapi saat Gue membuka pintu kamar, Gue terkejut melihat Rasya yang ternyata sedang makan malam sediri di kamar.
Gue pun menutup pintunya, lalu menghampirinya.
"Kok Lu disini? Bukannya lagi bareng Reina?" Tanya Gue lalu duduk di depannya.
"Loh? Seharusnya Gue yang nanya, kok Lu cepat banget baliknya? Kan tadi barenh Devan." Tanyanya balik.
"Gue belum makan, ada masalah di antara kami." Jawab Gue.
__ADS_1
"Gue suruh pelayan anterin makanan aja, ya?" Tawarnya.
"Boleh-boleh." Jawab Gue.
"Oke tunggu bentar." Balasnya lalu berdiri dan menelpon pelayan.
Tidak butuh waktu lama untuknya menelepon pelayan, ia pun kembali dan duduk di hadapan Gue.
"Tunggu bentar." Ucapnya.
"Iya." Jawab Gue.
"Btw...kok Lu gak bareng Reina?" Tanya gue.
"Hm...gak papa, cuma malas aja." Jawabnya lalu kembali menyantap hidangannya.
"Lu ada masalah sama dia?" Tanya Gue.
"Gak...cuma pengen nenangin diri doang." Jawabnya.
"Oh...mau tidur bareng?" Ajak Gue.
"Kenapa? Tumben?" Tanyanya.
"Lagi butuh pelukan seorang abang." Jawab Gue.
"Dasar...iya...nanti tidur di ranjang Lu aja." Balasnya.
"Makasih, bang." Ucap Gue.
"Ya." Jawabnya.
8 menit berlalu, pelayan pun datang dengan makanan Gue. Rasya yang lebih dulu selesai makan, ia memutuskan untuk menghirup udara segar dari balkon kamar.
Sedangkan Gue, tentu saja menyantap makan malam Gue dengan damai tanpa memikirkan apapun.
15 menit berlalu, Gue selesai makan. Gue pun menghampiri Rasya yang lebih dulu duduk di ranjang Gue.
"Lu mau langsung tidur? Buncit perut Lu nanti." Ucapnya.
"Biar aja...gak peduli." Jawab Gue lalu duduk di sampingnya.
"Aduh...adek Gue ini kenapa sih?" Sahutnya lalu mengelus rambut Gue.
"Gue capek." Sambung Gue lalu berbaring di atas pahanya.
"Manja banget." Ejeknya.
"Napa? Gak suka?" Protes Gue.
"Dasar...dah lah, perbaiki posisi Lu. Gue juga mau tidur." Ucapnya.
Gue pun memperbaiki posisi tidur Gue, Rasya pun sontak berbaring di samping Gue dan memasang selimut untuk menutupi setengah badan kami.
"Dah tidur-tidur." Sahutnya lalu memeluk Gue dan mengelus kepala Gue.
"Iya, bang." Jawab Gue.
"Night adek Gue sayang." Ucapnya.
"Night juga bang." Jawab Gue lalu memjamkan mata Gue.
__ADS_1
Bersambung