Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Saran Seorang Teman.


__ADS_3

"Gue ganggu? Maaf." Ucap Agung yang ingin menutup pintunya kembali.


"Jangan!!" Teriak Gue.


"Hah? Apa?" Tanya Agung yang tidak jadi menutup pintunya.


"Lu masuk." Perintah Gue.


"Gue? Masuk? Gak ah. Jadi nyamuk ntar." Jawabnya.


"Please..." Mohon Gue sambil menempelkan kedua tangan Gue.


"Oke... Kalau Lu memohon gitu, mana bisa Gue nolak." Ucapnya lalu masuk dan menutup pintunya kembali.


"Memang minta di tabok." Gumam Gue.


"Gue duduk disini, ya." Sahutnya lalu duduk di sofa.


"Silahkan di lanjutin, anggap aja Gue angin lewat. " Lanjutnya.


"Lu boleh pulang." Ucap Gue ke Reina.


"Ta-tapi–"


"Tolong!" Potong Gue.


"Makasih sudah anterin pesanan Gue." Lanjut Gue.


"Hm... Baiklah. Sampai jumpa." Jawabnya lalu keluar dari kamar Gue.


"Hah..." Gue hanya bisa menghela nafas setelah gadis itu pergi dari hadapan Gue.


"Jahat juga... Ngusir cewek yang gak salah." Gumam Agung.


"Gue lagi gak mood debat." Ucap Gue lalu turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Agung.


"Sana-sana." Perintah Gue menyuruhnya untuk bergeser agar Gue bisa duduk.


Setelah Gue duduk. Gue pun membuka satu persatu cake yang di berikan oleh Rasya.


"Gila... Banyak banget!" Sahut Agung setelah melihat semua cake yang Gue buka.


"Tapi kenapa semuanya cuma sepotong doang?" Tanya nya.


"Dimarahin kalau makan banyak-banyak. Ini pun kemarin Gue mohon-mohon sama dia biar di beliin." Jawab Gue.


"Ini kan banyak, maimunah. Ada 6 potong. Rasanya beda-beda lagi." Balasnya.


"Gak papa. Mungkin dia minta maaf, karna gak bisa jenguk Gue." Sambung Gue.


"Oh... Gue mau." Ucap Agung.


"Nih." Jawab Gue yang memberikannya sepotong Cake rasa Stroberi.


"Gue mau coklat." Sahutnya.


"Udah di kasih hati malah minta jantung. Mau kena tabok, hah?!" Ancam Gue.


"Dasar!!" Ucapnya lalu menerima sepotong cake stroberi itu.


"Loh itu apa?" Tanya Agung sambil menunjuk kresek yang berada di pojok meja.

__ADS_1


"Minuman." Jawab Gue santai lalu memakan cake.


"Minuman apa?" Tanyanya.


"Nanya mulu!! Liat sendiri napa." Protes Gue.


"Ya maaf." Jawabnya lalu meraih kresek itu.


"Lah? Starbucks? Ada dua, nih. Bagi ya." Ucapnya.


"Serah." Jawab Gue yang masih menikmati sepotong cake rasa coklat.


Saat suapan terakhir untuk cake rasa coklat. Tiba-tiba Agung melontarkan pertanyaan.


"Kenapa Lu menjauh dari Reina? Bukannya Lu suka sama dia?" Tanyanya.


"Hm...iya Gue suka sama dia, dan sampai sekarang Gue masih suka sama dia." Jawab Gue.


"Terus...kenapa Lu jauhin dia? dan tadi Lu kayak keliatan marah banget sama dia." Tanyanya.


"Gue gak marah sama dia. Gue marah sama diri Gue sendiri." Jawab Gue.


"Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Gue gak tau alasan Gue marah kenapa..." Jawab Gue.


"Yang Gue tau, gue baru aja di tolak." Lanjut Gue.


"Emang Lu udah pernah nyatain perasaan Lu ke dia?" Tanyanya.


"Belum pernah. " Jawab Gue.


"Waktu itu... Raisa pernah nanya ke Reina. Kalau ada cowok yang suka sama dia, gimana? Terus jawabannya Reina itu tidak seperti dugaan Gue." Ucap Gue.


"Dia bilang... Kalau dia gak tertarik menjalin hubungan sama siapapun. Karna ada suatu hal yang gak bisa dia jelasin waktu itu." Lanjut Gue.


"Hahahaha... Cuma karna itu, Rasya Putra yag selalu narsis langsung ciut karna jawaban cewek itu? Ngakak, hahahah..." Tawanya


"Gak lucu!!" Geram Gue.


"Ma-maaf... Habisnya Lu aneh. Belum nyatain perasaan tapi udah mundur duluan." Ucapnya.


"Dengerin ya, Sya." Lanjutnya.


"Gak selamanya cewek yang awalnya bilang dia gak mau menjalin hubungan sama siapapun, itu berujung Lu akan di tolak. Mungkin dia punya sesuatu yang harus di pikirkan lagi, atau saja dia takut pasangannya nanti gak mau nerima sisi dirinya yang lain." Sambungnya.


"Dan Lu... Kalau Lu memang cinta sama dia, dan akan menerima dia apa adanya. Jangan asal mundur aja, dong. Semua cewek itu butuh proses untuk menerima orang yang akan menjalin hubungan dengannya. Gak mungkin kan ada cewek yang baru kenal sama cowok terus mau langsung pacaran atau menjalin hubungan yang lebih serius." Ucapnya.


"Semua pasti ingin mengenal pasangannya terlebih dulu. Apalagi tipe cewek kayak Reina, yang tertutup dan sangat cuek dengan orang yang tidak di kenalnya." Lanjutnya.


"Tapi Lu pernah berpikir,gak? Kenapa Reina tetap ingin bertemu dengan Lu atau sekedar sapa menyapa dengan Lu. Gak pernah mikir kan?" Tanyanya.


"Dia itu sedang mencoba untuk mendekati Lu dan mencoba untuk menghancurkan tembok penghalang di antar kalian." Lanjutnya.


"Jadi... Kalau Lu beneran cowok, jangan menyerah dengan cinta Lu. Perjuangkan yang harus Lu dapatkan. Tidak peduli dengan apa yang Lu punya atau rasa ragu yang selalu menghantui Lu." Sambungnya.


"Cewek itu hanya minta untuk di perjuangkan. Tapi jangan sampai lu hanya berjuang di awal dan akhirnya melepas apa yang sudah lu perjuangkan itu." Lanjutnya.


"Lagian Lu juga tipe cowok idaman para cewek kan. Tapi Lu nya aja yang gak ngerti apa-apa tetang percintaan." Ejeknya.


"Yaelah... Gue kan gak mikirin tentang itu, lagian ada Raisa yang harus Gue jaga." Ucap Gue.

__ADS_1


"Iya Gue tau, memang kewajiban Lu sebagai abang harus menjaga adek Lu satu-satunya. Tapi masa iya, Lu mau ngejomblo seumur hidup? Gak mungkin kan." Balasnnya.


"Hm... Ta-tapi–"


"Gue gak terima tapi-tapian. Pikirin aja baik-baik ucapan Gue tadi. Gue gak akan ulangi ucapan Gue lagi, capek!!" Potongnya.


"Gue ambil Cake lagi, ya. Makasih." Lanjutnya lalu mengambil sepotong cake rasa mocca.


"Hah... Gue gak bisa berpikir." Jawab Gue.


"Ya... Terserah... Lu." Balasnya yang asik menikmati cake gue.


"Thanks, Gung. Memang Lu teman yang paling berguna." Sambung Gue lalu menepuk pundaknya dengan keras.


"Sa-sakit, anjim!!" Lirihnya.


"Maaf-maaf, segaja." Jawab Gue.


"Serah Lu." Balasnya lalu lanjut memakan cake.


Gue juga lanjut memakan cake Gue yang lainnya.


*Berjuang? Hm... Apa boleh Gue coba lagi?* Batin Gue.


*Besok aja dipikirin. Sekarang waktunya habisin cake favorit Gue.* Batin Gue.


Gue pun menghabiskan semua cake yang tersisa, dan tentu saja minuman yang di berikan oleh Raisa juga Habisin.


***


"Gue udah lama banget disini. Gue pulang ya." Sahut Agung lalu berdiri.


"Cepat banget." Ucap Gue.


"Cepat? Udah 2 jam lebih Gue disini. Gue izin cuma sejam doang loh." Protesnya.


"Yaelah... Yasudah, makasih ya udah temenin Gue, dan makasih juga udah ngasih gue saran." Jawab Gue.


"Sama-sama. Ingat!! Pikirin lagi yang Gue bilang tadi, jangan sampai Lu jadi cowok pengecut!" Tegasnya.


"Siap, bro!! Thanks ya." Balas Gue.


"Gue pergi, bye." Jawabnya lalu pergi.


Gue akhirya hanya sendiri di kamar ini. Kamar yang lumayan besar dan lampu yang tidak terlalu terang. Cukup sepi untuknya beristirahat.


Gue pun kembali ke ranjang setelah membersihkan meja dan sampah-sampah bekas Cake dan minuman tadi.


Gue yang berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba teringat dengan ucapan Agung tadi.


"Memang benar sih yang dia bilang. Lagian Reina juga cinta pertama Gue. Dan Gue gak boleh menyerah begitu saja." Gumam Gue.


"Hah... Bodoh sekali... sudah marah gak jelas dengannya, padahal dia gak salah." Gumam Gue lagi.


"Sepertinya... Janji yang di pantai akan tumbuh lagi agar bisa mendapatkan cinta pertama itu." Gumam Gue lagi.


"Semangat!!" Teriak Gue.


"Sampai jumpa lagi, Reina!!" Lanjut Gue lalu memperbaiki posisi tidur Gue.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2