
RAISA POV*
Pagi-pagi sekali gue dan Rasya sudah sibuk dengan barang-barang yang akan kita bawa nantinya.
Gue pun kekamar Rasya untuk memastikan apa dia sudah selesai menyiapkan barang-barang nya karna supir dari Hotel sudah dalam perjalanan menuju kerumah.
"Sya!!" Panggil Gue.
"Napa?" Jawab Rasya yang sedang bersantai di atas ranjangnya sambil bermain ponsel.
"Lu udah beres-beres kan?" Tanya Gue.
"Menurut Lu?" Tanya-nya balik ke Gue.
"Emang Lu ada liat barang-barang di lantai, atau koper gue ada gak di lantai?" Sambungnya lagi dan masih asik dengan ponselnya.
"Rasya Putra!!!" Teriak Gue dengan nyaring sampai Mami dan Papi langsung menghampiri kami.
"Ada apa? Ada apa?" Tanya Mami yang masih terkejut.
"Iya, Ada apa ini? Kenapa kamu teriak, Sa?" Tanya Papi juga.
"Gak tau nih Pi, Raisa teriak-teriak. Sampai sakit kuping Rasya." Sambung Rasya.
"Gak tau apanya?!! Masa kan Pi, Rasya belum ada beresin barang-barangnya buat di bawa ke Hotel nanti. Terus dia malah santai-santai lagi. Kan supir Hotel kasian kalo nunggu dia doang." ucap Gue Geram.
"Sayang, barang-barang Rasya udah di antar tadi malam saat kamu udah tidur. Sebenarnya barang mu juga mau sekalian di antar, tapi saat kita liat di kamar kamu, kamu belum selesai nyiapin barang-barang mu. Di lantai kamar kamu kasih berantakan banget soalnya, jadi yang di antar cuma barang-barang punya abang kamu aja." Ucap Mami menjelaskan.
"Bener, Pi?" Tanya Gue sambil menatap Papi.
"Iya, Raisa Putri." Jawab Papi.
"Makanya jadi orang jangan langsung marah-marah dong, udah kayak huluk aja lu." Saut Rasya.
"Lu yang gak jelas, makanya langsung ngomong ke intinya. Gak usah banyak ngomong, bikin orang salah paham aja." Sambung gue.
"Sudah-sudah, Kalian siap-siap juga buat sekolah." Ucap Papi.
"Raisa, barang-barang mu langsung turunin aja ya. Kayak-nya supir Hotel udah ada di depan rumah deh." Saut Mami.
"Oke Mi." Balas gue.
"Rasya, bantuin adek nya angkatin barang ya." Sambung Papi.
"Tapi Pi–" Ucap Rasya yang di potong oleh Papi.
"Gak usah buat ulah lagi, gak salah kan bantuin adek sekali-sekali." saut Papi.
"Iya Pi." Jawab Rasya pasrah.
"Yaudah Mami Papi ke bawah dulu ya, kalian jangan bertengkar." Ucap Mami lalu mereka pun berjalan turun ke lantai satu.
"Bantuin bang." Ucap gue.
"Iya-iya." Jawab Rasya sambil turun dari ranjangnya.
Gue dan Rasya pun mengangkat barang-barang gue sampai di pintu utama yang di depan pintu itu sudah ada mobil Hotel yang sedang menunggu gue dan barang-barang gue.
"Lu bawa apa aja sih? Banyak bangat, gila!!" Tanya Rasya.
"Cuma Baju Dua koper, satu koper buku-buku gue, laptop, sepatu gue, dan hal yang unfaedah." Jawab Gue santai.
"Kita cuma tinggal sebulan, bukan seumur hidup woi!! Ngapain lu bawa buku satu koper, lu mau bikin gue bengek, hah?!!" Ucap Rasya geram.
"Astaga bang, buku itu sebagian dari hidup gue. Kalau gak ada buku, gue gak bisa hidup bang. Lagian kata Bibi Angel kan, bisa aja Bibi perginya lebih dari sebulan. Gue kan gak mau ribet bolak balik rumah." Jawab Gue.
"Kenapa lu gak sekalian bawa buku lu satu rak itu, terus bawa alat gambar mu terus komputer mu juga sekalian." Ucap Rasya.
"Oh iya ya, kenapa gue gak bawa alat gambar gue juga. Makasih bang udah ingetin gue." Ucap gue lalu berjalan ke arah meja kerja gue.
"STOP!!" Teriak Rasya.
Gue pun berhenti dan berbalik. "Napa bang?" Tanya Gue.
"Adek Gue tersayang, kan Lu lagi Hiatus buat Komik. Ngapain Lu capek-capek bawa alat gambar lu kan. Mending kagak usah ya, dek." Bujuk Rasya.
"Hmm... Tapi kan bang, gue kan harus perbaiki gambar gue lagi. Biar para readers Gue tambah suka sama Komik Gue." Ejek Gue.
"Gak usah dek, kan gambar lu paling bagus di Dunia. Jadi jangan di bawa ya." Bujuk Rasya lagi.
"Hmm... Oke deh, gak usah di bawa, tapi abang bawa sendiri ya semua barang-barang aku ke bawa. Aku mau mandi dulu, mau siap-siap ke sekolah." Ucap Gue dengan senyum. Lebar.
"Serah Lu dah." Jawab Rasya pasrah.
Gue pun pergi ke kamar mandi. Sedangkan Rasya, ia masih bekerja keras untuk mengangkat semua barang bawaan gue turun ke mobil Hotel.
***
Setelah selesai bersiap dan sarapan. Kami pun berangkat kesekolah menggunakan mobil kami masing-masing.
Saat sampai di parkiran Sekolah, Rasya sudah menunggu Gue sambil memainkan ponselnya.
"Bang." Pangil Gue dari dalam mobil
"Buruan, entar lagi bel." Teriak Rasya.
Gue pun memarkirkan mobil gue di samping mobil Rasya, agar mudah untuk kami yang selalu pergi dan pulang bersama-sama.
Seperti biasa, gue diantar Rasya ke kelas Gue dulu. Setelah itu baru Rasya akan masuk ke kelasnya.
RASYA POV*
Saat didepan kelas, gue langsung fokus ke murid baru alias sih Reina.
"Ngapain gue ngurusin dia lagi sih, dah lah bodo amat gue." Gumam gue lalu masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi gue.
Seperti biasa, teman-teman gue berkumpul di tempat gue lagi.
"Soal semalam lu serius, Sya?" Tanya Agung.
"Emang Gue pernah becanda?" Jawab gue.
"Sering." Balas Putra.
"Kali ini gue gak becanda, ****." Jawab Gue.
"Emang Ortu Lu gak ngelarang gitu? Yakali sebulan Lu pindah ke hotel. Lu juga tau kan kalo kita udah kelas 12, kita lebih sering latihan untuk ujian loh." Saut Reyhan.
"Emang kalian pernah denger ortu gue ngelarang gue?" Tanya Gue.
"Pernah, pas lu lagi sakit terus lu nekat mau turun sekolah." Jawab Rendi.
"Diam lu!! Itu masa lalu." Balas Gue.
"Baru setahun yang lalu udah di lupain aja, hahaha." Saut Agung.
"Bodo!! Gue gak ingat." Ucap gue.
"Pergi lu sana, udah mau bel." Sambung Gue.
"Dasar tukang ngalihin pembicaraan." Saut Putra.
"Serah gue lah." Ucap Gue.
Mereka pun kembali ke meja masing-masing. Beberapa menit kemudian Bel masuk pun bunyi, dan tidak lama setelah bel berbunyi guru bahasa pun datang.
***
__ADS_1
Bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa gue dan teman-teman gue menjemput Raisa dulu, setelah itu kita ke kantin. Tapi saat di perjalanan ada yang menggajal, murid baru itu berjalan tepat di belakang gue.
Gue yang merasa seperti di ikuti, sontak berhenti dan berbalik menatap sih murid baru.
"Kenapa, Sya?" Tanya Rendi.
"Lu ngapain ngikutin Gue?" tanya gue ke murid baru yang tidak berhenti berjalan, ia malah melewati gue.
"Woi!!" Teriak gue tapi tidak ada balasan dari Murid baru itu.
"Sudah lah, mungkin dia memang searah sama kita. Lu jangan ke geeran napa." Saut Agung.
"Iya-iya, buruan dah kasian adek gue nungguin." Jawab gue lalu kembali melanjutkan jalan gue.
.
.
Saat sudah dekat dengan kelas Raisa, Gue melihat Rasya yang berdiri di depan pintu kelas. Saat gue ingin berteriak memanggil namanya, tiba-tina ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Mereka kelihatan begiu akrab dan saling bercanda tawa.
"Itu bukannya sih murid baru ya?" Tanya Putra.
"Eh iya." Jawab Reyhan.
"Kenapa selalu dia mulu sih." Gerutu Gue.
"Gue heran,Sya. Kenapa setiap ada Lu selalu ada sih murid baru juga?" Saut Agung.
"Iya ya, jangan-jangan kalian Jo–" Sambung Putra.
Plak!
Tamparan kecil Gue melayang ke punggung Putra.
"Iissshhh." Desis Putra kesakitan sambil memegangi punggungnya.
"Sakit ****, ngapain mukul-mukul. Gue belum kelar ngomong. Maksud gue tuh, JOMBLO." Gerutu Putra.
"Ya maap, abisnya lu bacot mulu. Dah lah yuk, biarin aia sih murid baru itu yang penting makan dulu. Gue lapar." Saut Gue.
"Setuju mah Gue." Sambung Reyhan.
Kami pun menghampiri Raisa.
"Sa, yuk buruan kekantin." Ajak Gue.
"Reina juga ikut ya, Bang." Ucap Raisa.
"Serah, buru napa. Gue laper." Jawab gue.
Kami pun pergi kekantin Bersama. Walaupun biasa nya kita hanya berenam kali ini bertambah satu orang yang sangat menyebalkan dan membuat gue tidak bisa fokus dengan apa yang gue lakuin.
Ya benar saja, setiap ada Gue sih murid baru juga selalu ada entah nongol dari mana. Tapi gue berharap, gue gak terlibat sama dia. Sudah cukup Gue dan dia selalu bertemu, itu saja sudah membuat Gue muak. Tapi aneh nya ini seperti takdir yang membuat Gue gak bisa jauh dari dia.
***
Di kelas saat pelajaran IPA. Gue seperti biasa hanya melihat ke luar jendela, tapi gue tetap mendengarkan apa yang guru sampaikan.
"Oke anak-anak, ibu akan memberikan tugas kelompok tentang materi hari ini. Kalian harus mempraktek kan nya di rumah dan membuat makalah apa saja yang kalian praktekkan dengan teman kelompok kalian." Ucap Bu Guru.
"Kelompok nya ibu yang bagi atau kita pilih sendiri?" Tanya salah satu murid di kelas Gue.
"Kalian akan berkelompok dengan teman sebangku kalian. Karna tugas itu tidak terlalu sulit, jadi tidak boleh lebih dari 2 orang dalan satu kelompok." Jawab Bu Guru.
Semua murid setuju dengan apa yang di bilang Bu Guru. Kecuali Gue, yang sama sekali tidak ingin sekelompok dengan murid baru yang sangat menyebalkan.
"Bu!" Pangil Gue sambil mengangkat satu tangan Gue.
"Ya, Kenapa Rasya?" Tanya-nya.
"Rasya, ini tugas kelompok bukan Individu. Jadi jangan protes." Balas Bu Guru.
"Tapi Bu, biasanya saya juga ngerjain sendiri kalo tugas kelompok. Kenapa kali ini gak boleh sih Bu." Protes Gue.
"Sebelumnya ibu memang memperbolehkan kamu untuk kerja sendiri, karna kamu menang tidak memiliki teman sebangku. Tapi sekarang kan kamu sudah punya teman sebangku, jadi gak ada alasan harus Individu lagi." Ucap Bu Guru.
"Tapi Bu, saya gak mau sekelompok sama sebelah saya, Bu." Saut Gue.
"Yasudah, kalau teman mu ada yang mau bertukar teman kelompok. Ibu memperbolehkan." Jawab Bu Guru.
"Anak-anak ada yang ingin bertukar teman kelompok dengan Rasya?" Tanya Bu Guru.
"TIDAK BU!!" Jawab semua murid di kelas Gue terkecuali Gue dan Reina.
"Dengar Rasya? Jadi gak ada alasan lagi buat protes ke Ibu." Ucap Bu Guru.
"Tapi, Bu–"
"Gak ada tapi-tapian, Rasya." Saut Bu Guru memotong ucapan Gue.
"Yaudah, kalian sekarang boleh berdiskusi dengan kelompok kalian masing-masing. Tapi jangan terlalu berisik." Sambu Bu guru.
"IYA BU!!" Ucap semua murid di kelas Gue kecuali Gue dan Reina.
"Semangat, Rasya." Bisik Putra sambil menghadap belakang ke mejad gue.
"Berisik Lu!!" Ucap Gue geram.
"Kenapa Lu mulu sih?" Gerutu Gue ke Murid baru.
Tidak ada jawaban Dari murid baru itu, iya hanya diam sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
"Argh!! Kalau ini bukan nilai, gue gak bakal mau berurusan sama Lu." Gerutu Gue lagi.
"Saya juga terpaksa." Saut sih murid baru dengan santai.
"Baru nyaut lu? Dari tadi gak ada ngomong sama sekali, giliran kayak gini baru lu nyaut. Dasar Gila!!" Ucap Gue geram.
"Oo!!" Jawabnya sangat singkat.
"O doang? Astaga, mimpi apa gue semalam sampai harus sekelompok sama lu." Gerutu gue.
"Pulang sekolah Nanti, Lu sama Gue bakal ngerjain tugas di Hotel Gue." Sambung Gue.
"Di hotel?? Gue mau ikut Sya." Saut Putra.
"Ogah!! Gue gak terima tamu macam Lu." Jawab Gue.
"Jahat banget lu." Balas Putra
"Serah Gue lah." Ucap Gue.
"Nanti Gue bilang sama Raisa, Kalau lu bakal ikut kita ke Hotel." Sambung Gue berbicara ke Reina.
"Ya." Jawabnya Santai.
"Oke, Nanti di parkiran Lu jangan langsung masuk mobil. Tungguin Gue sama Rasya dulu baru Lu masuk ke mobil Lu." Ucap Gue.
"Oke." Jawabnya selalu singkat.
"Bisa gila gue lama-lama, kalau sekelompok sama dia." Gumam Gue lalu kembali menatap ke luar jendela.
***
Bel pulang pun berbunyi. Gue pergi untuk menjemput Raisa.
Saat sudah bertemu Raisa, gue pun meminya izin ke Raisa. Kalau gue dengan sih murid baru mau ngerjain tugas di Hotel. Walaupun Gue Abang, mau bagaimana pun Gue tetap harus meminta Izin Raisa kalau menyangkut Hotel.
__ADS_1
Karna Bibi sudah memberi pesan, bahwa Raisa yang akan memegang kendali utama di Hotel. Sedangkan Gue harus tetap menuruti perintah dari Raisa dan jika terjadi sesuatu Gue harus melapor terlebih dulu ke Raisa.
"Sa, Gue mau ngerjain tugas." Ucap Gue.
"Dimana? Sama siapa?" Tanya-nya yang sudah seperti orang tua yang takut anaknya hilang.
"Di hotel, sama murid baru." Jawab Gue.
"Reina?" Tanya Raisa lagi.
"Iya, emang siapa lagi murid baru di sekolah ini." Jawab Gue.
"Banyak, anak kelas 10 kan semuanya murid baru." Sambung Raisa.
"Serah Lu dah. Intinya boleh gak?" Tanya Gue.
"Boleh, nanti gue suruh Manajer kosongkan tempat yang mau lu pake." Jawab nya santai.
"Oke adek gue sayang, yaudah yuk." Balas gue.
Kami pun berjalan menuju parkiran sekolah Tapi saat di parkiran tiba-tiba ada sekelompok orang yang sedang memaksa seorang murid untuk ikut dengannya.
Gue gak tau pasti siapa Murid itu karna tertutup oleh murid-murid lain yang sedang melihat kejadian itu.
"TOLONG!!!" Teriak seseorang yang membuat Gue dan Raisa terkejut.
"Siapa Bang?" Tanya Raisa.
"Gue gak tau, tapi itu suara cewek yang familiar bagi gue." Jawab Gue.
"Yaudah tolongin, gak usah bacot lu. Buru sana!!" Ucap Raisa lalu mendorong Gue pergi untuk menolong Cewek itu.
Saat gue melewati murid-murid yang menghalang jalan. Gue di buat terkejut saat melihat siapa cewek yang sedang dalam masalah itu.
Gue pun mendekati orang-orang itu dan berdiri pas di depan cewek itu.
"Permisi Bang, Gue bukannya mau ganggu kalian. Tapi disini sekolah bukan tempat ribut bang. Lagian ngapain juga abang maksa-maksa tuh cewek." Ucap Gue santai.
"Siapa Lu?? Banyak bacot Lu!!" Teriak salah satu orang itu yang memegang cewek itu.
"Maaf nih Bang, mending Abang lepasin dia ya. Gue ada tugas yang harus di kerjakan sama tuh cewek. Jadi tolong Bang lepasin aja, gak ada gunanya abang bawa dia." Ucap Gue.
"Nih bocah memang mau kena ya." Saut salah satu orang itu sambil merenggangkan badannya seperti bersiap akan memukul Gue.
"Maaf nih Bang, mending selesaikan baik-baik. Gue gak mau buat onar lagi di sekolah Gue–" Ucap Gue yang tiba-tiba terpotong.
"Bacot lu!!" Teriak orang itu sambil mengayunkan tangannya dan ingin menonjok muka Gue.
Gue pun menahan tangan orang itu dengan santai. Karna Gue sudah biasa melawan orang yang lebih gede dari gue jadi gak ada rasa takut sama sekali di diri Gue. Kecuali yang Gue lawan Raisa, bisa di bilang itu hal yang lebih menakutkan ketimbang mereka atau pun hantu.
"Kenapa Gue harus berurusan sama Lu mulu sih." Ucap Gue ke Reina.
"Aku gak tau kenapa, tapi kali ini aku minta bantuin sama kamu. Tolong bantu aku lepas dari para pembunuh ini." Jawab Reina yang masih saja santai walaupun dalam keadaan darurat.
Tiba-tiba saja dari samping salah satu orang itu ingin memukul gue pakai kayu. Dan untung nya gue berhasil menahan kayu itu.
"Abang-abang, gue kan udah bilang mending bicarain baik-baik. Kalian malah ngeyel, gue udah janji nih sama adek Gue kalau Gue gak bakal berantem lagi. Tapi kalau begini sih mungkin dia bolehin gue ingkar janji sekali." Saut gue lalu memutar tangan salah satu orang itu sampai ia teriak dan terduduk.
"Serang!!" Teriak salah satu orang itu dan masih menahan Reina.
Gue pun melawan orang-orang itu sendiri. Gue berusaha untuk tidak terluka sedikit pun. Tapi mustahil kalau gue melawan lebih dari 10 orang dewasa dan gue gak terluka sama sekali.
Beberapa orang yang gue lawan di depan gue berhasil gue kalahkan, tapi yang di belakang gue mengambil kesempatan dan memukul kepala gue dengan kayu sekali.
Gue cukup pusing dengan pukulan itu, tapi itu tidak membuat gue nyerah dengan orang-orang itu. Gue merampas kayu yang tadinya di pukulkan ke gue dan gue langsung memukul orang-orang itu tanpa ampun.
Beberapa menit gue berkelahi, semua orang yang melawan gue pun kalah. Dan hanya tinggal satu orang lagi yang haru Gue lawan. Tapi kepala gue tiba-tiba saja bereaksi di saat-saat darurat ini.
Pandangan gue mulai kabur, dan membuat gue tidak bisa berdiri dengan baik.
Gue tiba-tiba terjatuh dan mulai kehilangan separuh kesadaran gue. Saat itu tiba-tiba saja pria yang menahan Reina mengeluarkan senjata dari sakunya.
Dia mulai menyodorkan pistol itu ke gue, saat pria itu ingin menempakkan peluru. Tiba-tiba saja ada seseorang yang lebih dulu menembakkan peluru ke pria itu dan alhasil tembakan pria itu meleset dan ia pun terjatuh.
Gue berusaha melihat siapa seseorang yang menembakkan peluru itu, saat gue berhasil melihat orang itu. Gue terkejut dengan siapa seseorang itu, dia ternyata Devan dan di sampingnya ada Raisa yang langsung berlari kearah Gue.
"Bang, bangun!!" teriak Raisa di depan gue sambil menopang Kepala gue diatas pahanya.
"Gue gak mati, ****. Ngapain lu sama tuh orang." Jawab Gue.
"Ini lagi serius bang, gak usah becanda. Gue tabok lu nda lama." Ucap Raisa yang sangat khawatir dengan Gue.
"Kamu gak papa?" Tanya Reina.
"Lu pikir sendiri lah. Kenapa sih Gue selalu berurusan sama Lu? Tiap hari Lu mulu. Heran Gue." Gerutu Gue.
"Lagi sekarat malah becanda, gila lu?" Saut Devan.
"Gue gak sekarat nyet. Dah lah buru bawa gue ke Hotel. Gue ngantuk–" Ucap gue yang terpotong karna kesadaran gue yang mulai hilang.
"Bang!!!" Teriak Raisa yang masih bisa gue dengar tapi setelah itu Gue sudah tidak kedengar dan melihat Apapun.
***
Gue tiba-tiba terbangun di Kamar Hotel Gue dan Raisa.
"Bang!!" Teriak Raisa sembari berlari menghampiri Gue.
"Lu gak papa bang? Ada yang sakit gak? Lu gak hilang ingat kan? Lu masih sehat kan bang? Lu ingat Gue kan Bang?" Tanya Raisa yang sudah seperti kereta api tidak ada titik dan koma.
"Gue cuma di pukul Kayu, beg*. Lu kira ini sinetron, langsung hilang ingatan." Jawab Gue.
"Kepala Gue gak papa kan?" Tanya Gue.
"Kepala Lu habis di belah." Jawab Devan.
"Lu minta di tabok ya?" Ucap Gue geram.
"Lu bedua minta gue usir, hah?!" Saut Raisa yang geram karna tingkah kami yang becanda dalam keadaan serius seperti ini.
"Ya maap, cowok Lu tuh yang duluan." Jawab Gue.
"Maaf sayang, gak bakal becanda lagi deh." Balas Devan.
"Dah lah, oh iya kata Dokter kepala lu gak papa. Cuma bengkak doang, tapi gak sakit kan Bang?" Ucap Raisa.
"Udah gak. Btw, ngapain tuh orang berdiri doang." Jawab Gue lalu melirik Reina yang berdiri di belakang Raisa.
"Oh iya, karna masalah Reina yang hampir di culik sama musuh keluarganya. Jadi gue memutuskan agar Reina tinggal di hotel ini sementara." Ucap Raisa yang membuat Gue kaget.
"Apa!!!" Teriak gue.
"Apaan sih teriak-teriak." Saut Devan.
"Diam Lu!! Lu serius Sa? Masa iya dia tinggal di Hotel. Terus lu kasih Gratis gitu??" Tanya Gue.
"Serius lah, awalnya Gue bilang gak usah bayar, tapi Reina ngotot bakal nyewa kamar yang di depan kamar kita. Dia juga udah lunasin pembayarannya langsung." Jawab Raisa.
"Kan sekalian, lu juga mau kerja kelompok bareng dia. Jadi ya sekalian lah, gak perlu repot lagi." Sambubg Raisa.
"Yatuhan, kenapa lu mulu sih!! Heran gue." Ucap gue pasrah dengan keadaan.
Bersambung
*Jangan lupa support author dengan Like dan Commentnya :)
Thanks*!!
__ADS_1