
Di pagi hari yang cerah, Gue dan Raisa sudah selesai bersiap untuk pergi ke Sekolah. Hari ini Gue berharap bisa pergi bersama Reina. Tapi itu mustahil, karna Reina membawa mobilnya sendiri.
Saat Gue dan Raisa keluar dari kamar. Hal yang Gue harapkan untuk bisa bertemunya di pagi hari agar hati Gue bisa tenang. Tapi Reina tidak keluar dari kamarnya.
Di dalam Lift, Gue mencoba bertanya kepada Raisa.
"Sa... Reina gak pergi ke sekolah?" Tanya Gue.
"Hah? Siapa?" Tanya Raisa balik.
"R E I N A." Eja Gue.
"Tumben Lu sebut namanya. Biasa juga cuma sih murid baru atau anak baru." Ucap Raisa.
"Emang kenapa? Suka-suka Gue lah, kok Lu yang sibuk." Protes Gue.
"Jangan-jangan, Lu–"
"Apa, Hah?!!" Potong Gue.
"Apaansih, santai dong." Ucapnya.
"Serah dah, Gue duluan. Bye." Ucap Gue lalu keluar dari lift mendahului Reisa.
"Woi!! Tunggu!!" Teriaknya.
Gue pun pergi ke sekolah disusul oleh Raisa di belakang Gue.
Sesampainya Kami di sekolah. Due mencari-cari mobil Reina, dan berhasil menemukan nya. Tapi karna di samping kanan kiri mobilnya sudah penuh. Gue akhirnya mencari tempat lain, begitupun Raisa yang hanya membuntuti Gue.
***
Setelah mengantar Raisa ke kelasnya, Gue langsung berlari menuju kelas. Entah kenapa hati ini ingin sekali bertemu dengan Reina.
Saat sampai di depan kelas, dengan nafas yang ngos-ngosan dan badan yang agak membungkuk dengan tangan yang memegang lutut. Gue merasa lega setelah melihat Reina yang seperti biasa hanya mendengarkan lagu lewat earphonenya.
Gue pun masuk kekelas dengan senyum yang terpancar lebar di bibir Gue. Mungkin orang lain berpikir Gue aneh, karna tingkah Gue yang sedikit aneh dari biasanya.
"Kenapa Lu?" Tanya Putra setelah Gue duduk di kursi.
"Hah? Kenapa?" Jawab Gue yang tidak fokus dengan sekitar tapi masih memancarkan senyum yang lebar.
"Gila, Lu?" Sambung Putra.
"Gung... Temen Lu kenapa?" Tanya Reyhan yang sepertinya merasa aneh dengan tingkah Gue.
"Sehat, Lu?" Lanjut Reyhan.
"Sehat kok, sehat banget." Jawab Gue yang masih saja tersenyum lebar.
"Tolong... Teman Gue kenapa?" Sambung Rendi.
"Pagi, Reina." Sapa Gue dengan senyum lebar.
"HAH!!!" Teriak 4 bocah itu.
"Woi!! Kenapa teriak, sih!!!" Teriak Gue balik.
"Lu yang kenapa!! Tiba-tiba nyapa sih murid baru." Protes Putra.
__ADS_1
"Emang salah? Cuma nyapa doang, kok. Yakan, Reina." Jawab Gue sambil tersenyum kepada Reina.
"Lu ngomong ke dia? Sedangkan dia gak denger Lu ngomong apa. Kasian" Ejek Rendi.
"Bacot!! Lu mau Gue tabok, hah?" Geram Gue.
"Dasar Orang Gila." Saut Reyhan.
"Lu mau Gue–"
Tiba-tiba saja ucapan Gue terpotong karna Reina yang mulai tadi hanya diam, ia sontak berdiri.
Gue tanpa sadar meraih tangannya, menahannya untuk pergi. Reina pun berbalik menatap Gue dengan ekspresi bingung.
"Lu mau kemana?" Tanya Gue yang masih menggenggam tangannya.
"WC." Jawabnya santai.
"Gue ikut." Sambung Gue tanpa sadar dan membuat 4 bocah itu dan Reina terkejut.
"Lu gila?!!" Teriak Putra.
"Ngapain Lu ikut?" Sambung Rendi.
"Nda jelas nih anak." Saut Reyhan.
Sedangkan Agung, hanya diam tapi sama terkejutnya dengan mereka.
"Emang kenapa?" Tanya Gue seperti tidak sadar dengan apa yang Gue katakan tadi.
"Lu ngapain ikut ke WC sama, dia. Jangan-jangan Lu cowok mesem. Jadi selama ini Gue berteman sama cowok mesum?" Oceh Putra.
"Hah? Anu... Ma-maksud Gue, Gue ikut mau ke WC cowok juga. Ka-kan satu arah." Jawab Gue gagap karna baru sadar dengan apa yang Gue ucap tadi.
"Oh... Oke, ayo Gung." Ucap Gue lalu berdiri dan melepas genggaman Gue lalu pergi bersama Putra.
Di perjalanan ke WC, awalnya kami hanya diam. Tapi tiba-tiba saja Agung bertanya sesuatu yanh membuat Gue kaget.
"Lu suka sama dia?" Tanya Agung yang membuat Gue berhenti melangkah.
"Hah? Si-siapa?" Tanya Gue.
"Ya siapa lagi kalau bukan Reina." Jawabnya.
"Gue? suka? Gue suka sama Reina?" Ucap Gue sambil menunjuk diri gue sendiri.
"Gak mungkin lah. Mustahil gue suka sama dia, hahaha." Lanjut Gue sambil tertawa kecil.
"Oh... oke." Jawab Agung dengan santai lalu lanjut berjalan seperti tidak ingin mendengarkan ucapan Gue lagi.
"Gue beneran!! Gak mungkin Gue suka sama dia." Teriak Gue sambil menyusul Agung.
Tapi Agung tidak memperdulikan ucapan Gue. Ia tetap melanjutkan perjalanan dengan santai tapi ekspresi nya seperti berkata kalau gue sedang berbohong.
***
Selama pelajaran di mulai, Gue yang biasanya melihat keluar jendela sekarang malah melihat ke arah Reina.
Gue gak tau, dia merasa ada yang menatapnya atau tidak. Tapi yang Gue, tau tatap Gue gak mau lepas darinya.
__ADS_1
*Cantik... Cantik banget.* Batin Gue.
Sangking tidak fokusnya Gue. Tiba-tiba Gue mengelus kepala Reina, dan reaksi Reina tentu saja ia terkejut sambil menatap Gue yang tadinya ia fokus dengan materi Guru. Tapi karna kelakuan Gue dia malah tidak fokus dengan materi lagi.
Gue yang melihat tatapan Reina sontak tersadar dengan letak tangan Gue yang berada di atas kepala Reina.
Gue tiba-tiba berdiri dan menjauh dengan ekspresi terkejut. Dan tentu saja guru dan murid lainnya sontak menatap Gue dengan aneh.
"Ada apa, Rasya?" Tanya Pak Guru.
"Hah? A-anu pak... Sa-saya mau izin ke Wc sebentar." Jawab Gue dengan gagap.
"Silahkan, jangan lama-lama." Balasnya.
Gue pun langsung berlari ke luar kelas menuju WC. Saat sampai di Wc, Gue berdiri di depan wastafel yang terdapat kaca di atasnya.
"Lu gila, Sya." Gumam Gue di depan kaca.
"Tambah lama gue tambah aneh." Gumam Gue lagi.
"Lu kenapa sih salting mulu kalau di dekat Reina." Gumam Gue sambil menunjuk bayangan Gue di cermin.
"Dasar gila!!" Teriak Gue dan tiba-tiba saja ada murid yang masuk ke dalam Wc.
Gue pun hanya bisa diam dan membasahi wajah Gue dengan air. Berharap Gue bisa sadar dari keanehan yang menimpah Gue dari kemarin.
Akhirnya Gue kembali kekelas dalam keadaan wajah dan kera baju yang basah.
Saat di kelas, teryata tidak ada guru sama sekali. Murid di kelas Gue hanya berbincang dan ada juga yang mengerjakan tugas.
"Gurunya mana?" Tanya Gue lalu duduk.
"Katanya ada rapat dadakan." Jawab Agung.
"Rapat apa?" Tanya Gue lagi.
"Paling juga tentang ujian nanti." Jawabnya lagi.
"Oh." Balas Gue lalu kembali diam.
"Lu habis ngapain? Kok baju Lu basah?" Tanya Putra.
"Mandi." Canda Gue.
"Serius, anjim!!" Geramnya.
"Abis cuci muka lah." Jawab Gue.
"Cuci muka yang basah itu cuma muka sama tangan. Bukan kera baju, Lu. Kayak habis nyemplung ke dalam air aja." Ocehnya.
"Suka-suka hati Lu, dah. Gue gak mood bedebat." Sambung Gue lalu melihat ke luar jendela.
Di jam kosong ini, Gue hanya diam sambil menatap keluar jendela. Tidak seperti biasanya, Gue yang selalu bergosip dengan 4 bocah itu. Tapi kali ini Gue benar-benar merasa diri Gue aneh.
Gue gak mau sampai menengok ke kanan Gue, dan melihat Reina lagi. Tapi hati Gue selalu membuat Gue bimbang. Gue ingin melihatnya, tapi makin lama gue melihatnya gue makin aneh.
*Yatuhan, Gue kenapa sih?* Batin Gue.
Bersambung
__ADS_1
*Bantu support author dengan Like dan Commentnya :)
thanks*!!