Twins Bar-Bar (TAMAT)

Twins Bar-Bar (TAMAT)
Nangis?


__ADS_3

RAISA POV*


Gue yang lagi bersantai di dapur sambil memakan ice cream di siang hari yang cukup panas ini, dengan Bibi yang menemani ku mengobrol.


"Nona gak ada tugas? Biasa siang hari begini cuma di kamar doang, Non." Tanta Bibi.


"Tugas sih ada, Bi. Raisa cuma malas di kamar doang, pingin makan Ice cream juga. Emang kenapa, Bi? " Jawab Gue yang masih menyantap Ice Cream di hadapan Gue.


"Gak papa, Non. Cuma heran aja, biasa kan Nona, kalau ada tugas, pasti ngerjain tugas dulu baru santai kayak gini. Itu pun Nona bersantai hanya di kamar saja." Balasnya.


"Sekali-sekali tugas di belakangin dulu. Raisa butuh istirahat Bi, kan Ujian sebentar lagi." Ucap Gue.


"Semangat Non...Bibi pasti yakin Nona bisa dapat nilai tertinggi lagi, seperti saat SMP. " Sambungnya.


"Bibi bisa aja, Raisa mah gak perlu nilai tertinggi, yang penting bisa ke terima kuliah aja udah bangga." Sahut Gue.


"Nona pasti bisa. Emang Nona mau kuliah apa?" Tanyanya.


"Oh...Raisa mau ambil jurusan–" Jawab Gue yang tiba-tiba terpotong karna melihat Rasya yang berjalan menuju tangga.


"RASYA!!" Teriak Gue memanggilnya.


Bukannya menjawab Gue, ia malah terus berjalan dengan cepat.


"Dasar!!" Geram Gue.


"Mungkin dia gak dengar, Non." Sahut Bibi.

__ADS_1


BRAK!!!


Tiba-tiba saja ada suara hampasan pintu yang sangat keras, sampai-sampai terdengar ke seluruh penjuru rumah ini.


Gue dan Bibi yang kaget, sontak berdiri dan menengok ke lantai atas tepat di kamar Rasya.


"Kayaknya Tuan muda lagi marah besar." Ucap Bibi yang berdiri di samping Gue dan masih melihat ke kamar Rasya.


"Hah...pasti ada yang terjadi." Gumam Gue.


"Yaudah Bi, tolong beresin Ice Cream tadi ya, Bi. Saya ke atas dulu" Ucap Gue ke Bibi.


"Iya, Non." Jawabnya.


Gue pun mulai melangkah menuju kamar Rasya.


Gue melihat kamarnya yang masih tertata rapi, dan membuat Gue lega karna ia tidak sampai menghancurkan kamarnya sendiri.


Tapi ada satu hal yang membuat hati Gue ikut sakit juga. Ya, Rasya yang berbaring di atas ranjang dan membelakangi Gue, itu membuat Gue paham kalau dia sedang merasakan sakit lagi.


Gue pun masuk kekamarnya dan menutup pintunya kembali, Gue mulai melangkah ke arahnya.


Tapi gue terhenti saat sudah berada di samping ranjangnya, Gue melihat jelas ia yang menutupi wajahnya sendiri dengan selimut.


*Gak mungkin kan dia nangis.* Batin Gue.


"Hah...Gue jadi merasa bersalah juga." Gumam Gue.

__ADS_1


Gue pun sontak naik ke atas ranjangnya dan berbaring di sampingnya, Gue sontak memeluknya dari belakang.


"Lu cowok, Gak usah cengeng." Ucap Gue.


"Gue gak mau bercanda, pergi Lu." Sahutnya.


"Lu ngusir Gue?" Tanya Gue.


Tapi Rasya hanya diam, Gue pun sontak melepas pelukan Gue dan berkata. "Oke, Gue pergi."


Tapi tiba-tiba saja Rasya berbalik, dan memeluk Gue dari depan, dengan sangat erat.


"Sa-sakit, woi!!" Protes Gue yang tidak bisa bernafas karnanya.


Ia sontak melonggarkan pelukannya dan berkata. "Gue menyedihkan, ya?"


"Hah? Siapa bilang?" Tanya Gue.


Dia masih aja terdiam tapi tidak berani menatap Gue.


Gue sontak memegang kedua pipinya, dan memaksanya untuk menatap mata Gue.


"Abang Gue gak boleh nangis cuma karna satu cewek, lu masih punya Gue." Ucap Gue menatap matanya serius.


Tapi Rasya tiba-tiba saja meneteskan air mata. Gue yang melihat itu, benar-benar sakit, Gue gak suka air mata itu. Hanya karna satu cewek, ia sampai meneteskan air mata sedih nya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2